BAB III KAPTEN PASUKAN BERTOMBAK

Senja hari riuh terdengar derap kaki kuda, menandakan
bahwa pasukan bertombak sedang datang. Hanya para
perwira dibolehkan tinggal di rumah, para prajurit
terpaksa harus tidur di kolong langit. Kapten Verdoja
bersama para perwira diterima di ruang tamu. Setelah
disambut dengan segelas minuman, maka Hermoyes yang
berusia lanjut itu mengantarkan tuan-tuan itu ke kamar
mereka. Emma Arbellez telah meninggalkan tempat tidur
kekasihnya untuk mempersiapkan kamar-kamar tamu.
Gadis itu sedang berada dalam kamar yang diperuntukkan
bagi Kapten, ketika ia mendengar orang itu datang. Gadis
itu tidak ada waktu lagi untuk menghindar. Verdoja
membuka pintu dan melihat Emma di tengah-tengah
kamar. Gadis itu sedianya sudah cantik dan karena kini
kecemasannya memikirkan keadaan tunangannya itu
sudah berkurang, ia tampak lebih cantik lagi.
Matahari sedang terbenam dan cahayanya yang
penghabisan yang masuk ke dalam melalui jendela,
menerangi tubuh gadis dengan warna merah muda
keemasan. Verdoja terpaku sejenak melihat pemandangan
itu. Ia tidak dapat menguasai perasaannya, bukanlah
perasaan yang luhur, mulia memuja kecantikan,
melainkan nafsu kebinatangan yang memenuhi diri
manusia yang biasa menghamburkan nafsunya secara
kasar kepada objek yang menjadi sasarannya.
Agak kemalu-maluan Emma membungkuk kecil lalu
berkata,
“Silahkan masuk, Senor! Inilah kamar Anda!”
Verdoja menerima ajakan itu. Ia menyalami gadis itu
tanpa menaruh hormat yang semestinya dan menjawab,
“Aduhai, siapa yang menyangka saya dapat menjumpai
gadis secantik itu dalam kamarku. Maafkan saya,
kedatangan saya ini benar-benar menodai sesuatu yang
suci.”
Sebenarnya gadis itu hendak mengulurkan tangannya
kepada tamunya seperti lazim menurut adat-istiadat
bangsa Mexico, namun ia menarik tangannya kembali.
Perkataan, gerak-gerik, maupun air muka orang itu
dirasakan oleh gadis itu sebagai derajat yang rendah.
“Tidak ada yang dinodai,” kata gadis Mexico yang cantik
itu. “Saya hanya datang memeriksa kamar, sudah
bereskah atau belum.”
“O, jadi Anda ini malaekat pelindung rumah ini! Bahkan
mungkin …”
“Pemilik hacienda adalah ayahku,” kata gadis itu
pendek.
“Terima kasih, Senorita! Namaku Verdoja. Saya Kapten
pasukan bertombak dan kini saya sangat berbahagia:
bolehkah saya mencium tangan Anda yang cantik itu?”
Verdoja menjangkau ke arah tangan gadis itu, namun
tiada berhasil. Gadis itu cepat mengelak, berlari ke arah
pintu.
“Jangan pergi!” seru orang itu. “Saya tidak membiarkan
Anda pergi!”
Kapten hendak memegangnya, namun gadis itu lebih
cepat. Ia lari keluar dari kamar dan menutup pintu di
belakangnya. Verdoja terbengong-bengong memandangi
pintu yang tertutup itu.
“Caramba!” sungutnya. “Begitu cantiknya! Belum
pernah aku jatuh cinta pada pandangan pertama seperti
ini. Aku akan benar-benar menikmati masa istirahat di
rumah ini. Bila aku ingin menikah, inilah calonnya yang
menggairahkan!”
Emma merasa beruntung, dapat luput dari bahaya itu.
Mata orang yang menelan secara rakus itu membuat dia
takut. Kini ia berusaha untuk senantiasa menjauhi orang
itu. Ia kembali lagi ke kamar si sakit dan akhir-akhir ini ia
tetap mendampingi tunangannya.
Di sebelah si sakit ia menjumpai Sternau. Pasien itu
keadaannya sudah membaik, pembedahan telah berhasil
dengan baik dan ia tidak merasakan demam disebabkan
oleh luka-luka. Pasien itu kini sudah sadar. Ia sedang
membicarakan proses penyembuhannya dengan dokter.
Ketika ia melihat tunangannya, berkuranglah warna pucat
pada wajahnya.
“Kemarilah, Emma,” katanya. “Dokter Sternau kenal
akan tanah airku.”
Emma pura-pura baru mendengar berita itu. “Wah,
kebetulan sekali, bukan?”
“Benar. Ia kenal juga akan saudaraku. Sebelum ia
berangkat, ia bercakap dengannya.”
“Saudara yang dimaksudkan tadi sedang duduk di balik
tirai, karena si sakit masih belum boleh mengetahui bahwa
ia sudah ada di situ. Setiap ketegangan, yang menyedihkan
maupun yang menyenangkan, harus dijauhi sedapatdapatnya.
Masa sakitnya dan pembedahan yang dilakukan
kemudian telah melemahkan tubuhnya, sehingga ia berada
dalam tidur atau dalam keadaan separuh sadar, keadaan
sadar penuh yang dialaminya sekarang merupakan
kecuali. Ketika Sternau bangkit berdiri, maka Emma
duduk di tempatnya. Si sakit memegang tangannya,
tertawa bahagia lalu menutup matanya. Demikian Anton
Unger tertidur.
“Apakah sudah tidak ada bahaya lagi?” bisik Emma.
“Tidak ada. Masa tidur serta istirahat yang
menyehatkan akan mendatangkan kesembuhan rohani
maupun jasmani. Bagi kita, tidak ada lagi yang dapat kita
kerjakan, kecuali membiarkan penyembuhan berlaku
secara alamiah dan menjaga supaya ia tidak mendapat
gangguan sedikit pun juga. Tetapi Anda sendiri pun harus
mendapat istirahat. Tidak ada gunanya bila seorang
disembuhkan, tetapi yang lain justru jatuh sakit.”
“Tidak, Senor, tubuh saya kuat!” kata gadis itu. “Anda
tidak usah merasa khawatir terhadap saya.”
Sternau melambai pada Unger supaya mengikutinya.
Mereka pergi ke luar untuk melihat tempat prajurit
bermalam. Mereka menjumpai Mariano, yang dengan
maksud sama pergi ke situ. Prajurit-prajurit sedang sibuk
mengumpulkan kayu untuk menyalakan api. Mereka
mengumpulkan pelana-pelana kuda yang dilepas dari
punggung kuda untuk digunakan sebagai bantal kepala.
Arbellez telah menghadiahkan mereka seekor lembu
jantan, yang sudah dibantai dan dipotong-potong
dagingnya. Semuanya itu kelihatannya ramai dan
berwarna-warni sehingga menarik perhatian ketiga orang
itu.
Saat makan malam tiba. Para tamu pergi ke ruang
makan. Para perwira pun hadir juga. Pertama-tama yang
dilakukan oleh Kapten ialah menoleh ke kiri kanan
mencari Emma. Verdoja kecewa ketika melihat bahwa
gadis itu tidaklah hadir dan Arbellez yang melayani para
tamu sebagai gantinya. Para perwira Mexico itu
berkelakuan sopan namun tinggi hati dan tertutup
terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Kaum
Caballero seperti mereka tidak merasa perlu bersusah
untuk mengambil hati seorang Jerman.
Verdoja mengamati Sternau, Unger dan Mariano. Jadi
merekalah orangnya yang harus dibunuh untuk mendapat
imbalan tanah seharga ratusan ribu peso itu. Unger dan
Mariano kurang mendapat perhatiannya, sebaliknya
terhadap Sternau terpusat segenap perhatiannya.
Tubuhnya yang kukuh kuat, mau tak mau meninggalkan
kesan yang dalam padanya. Dari orang ini ia mungkin
mendapat perlawanan yang tidak dapat diremehkan.
Dari perkataannya yang pendek-pendek tampak
kepercayaannya kepada diri sendiri. Kapten memutuskan
untuk bersikap hati-hati serta pandai-pandai
menggunakan siasat dalam menghadapinya.
Pada kesempatan berlangsungnya percakapan di meja
makan, Arbellez mengemukakan sesuatu yang langsung
diraih oleh Kapten dengan dua belah tangannya.
“Kami bukan hanya merasa senang, Senores, menerima
Anda di tengah-tengah kami. Di samping itu, kami pun
merasa lebih aman,” kata pemilik hacienda. “Kemarin kami
menghadapi bahaya besar.”
“Sungguh?” tanya Verdoja pura-pura acuh tak acuh.
“Benar, segerombolan petualang hendak mengadakan
penyerbuan di sini.”
“Tentunya banyak sekali anggotanya.”
“Lebih dari tiga puluh orang.”
“Wah! Gerombolan semacam itu biasanya kejam-kejam
dan berani bertindak secara nekad. Tujuan mereka
menyerang hacienda atau orang-orangnya?”
“Sebenarnya orang-orangnya, tetapi karena orang-orang
itu berada di dalam rumah saya, maka mereka berusaha
menghancurleburkan hacienda dan membunuh isinya.”
“Asta! Siapa-siapa orang yang dimaksud itu?”
“Tuan-tuan Sternau, Mariano, dan Unger.”
“Aneh. Bagaimana caranya Anda dapat melawan
mereka?”
“Senor Sternau telah berhasil mematahkan perlawanan
sebagian besar di antara mereka.”
Kapten terheran-heran memandang kepada orang yang
duduk di seberangnya; perwira-perwira lainnya mulai
menyeringai serta menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tentunya hanya seorang saja?” Tanya Verdoja
memancingmancing.
“Kira-kira sepertiga gerombolan itu.”
“Dan Senor Sternau telah melawannya seorang diri
saja?”
“Ada seorang yang membantunya.”
“Itu kedengarannya mustahil. Sepuluh orang dapat
dikalahkan seorang tanpa mengadakan perlawanan? Anda
barangkali khilaf.”
“Benarlah demikian keadaannya!” jawab pemilik
hacienda berseri-seri. “Anda harus mendengar ceriteranya!”
Sternau memandang Arbellez dengan sungguhsungguh.
“Sebaiknya Anda jangan menyinggung-nyinggung
perkara itu lagi. Peristiwa yang lampau itu bukanlah suatu
tindak kepahlawanan.”
“Menurut pendapat saya sungguh suatu tindak
kepahlawanan, karena Anda dapat melukai sepuluh orang
sedangkan Anda sendiri tidak mendapat gores sedikit pun,”
kata Kapten, “dan saya harap, Anda tidak akan
berkeberatan, bila kami ingin sekali mendengar ceritera
tentang pengalaman Anda yang demikian mengagumkan
itu.”
Sternau mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa ia
menyerah terhadap sesuatu yang tiada terelakkan lagi.
Pedro Arbellez mulai berceritera dan ceriteranya itu begitu
mencekam, sehingga para perwira mendengar dengan
perhatian sampai perkataan terakhir diucapkan.
“Hampir tidak dapat dipercaya!” seru Kapten. “Senor
Sternau, harus saya ucapkan selamat atas tindak
kepahlawanan Anda itu.”
“Terima kasih,” jawab Sternau dingin.
“Tindak kepahlawanan itu tidak begitu mengherankan,”
sambung Arbellez.
“Pernahkah Anda mendengar tentang Kepala Banteng,
seorang kepala suku bangsa Indian, Senor Verdoja?”
“Sudah. Ia kepala suku bangsa Mixteca.”
“Dan kenalkah juga Anda akan seorang pemburu dari
daerah utara; ia dinamakan Matava-se?”
“Ya. Ia terkenal sebagai orang yang bertubuh kuat serta
berani.”
“Nah, Senor Sternau itu tak lain tak bukan pemburu
termasyhur itu dan Kepala Banteng telah mendampinginya
ketika ia pergi ke “Ngarai Harimau Kumbang”.
Para perwira terpekik karena kagumnya.
“Benarkah itu, Senor Sternau?” Tanya Kapten.
“Benar,” jawab Dokter. “Namun saya akan merasa lebih
senang bila saya tidak dipandang sebagai seorang
pahlawan.”
Verdoja yang cerdik itu berkata pada dirinya sendiri,
“Marianolah yang memegang peran utama dalam perkara
misterius ini dan bila sampai “Ratu Batu Karang” sendiri
mau melindunginya, maka rahasia yang meliputi dirinya
itu tentunya sangat berharga.”
Ia mengambil kesimpulan untuk menanyakan saja
secara langsung. Ia bertanya, “Tetapi mengapa penjahat itu
justru memilih ketiga orang ini sebagai sasaran?”
“Itu dapat saya terangkan,” kata pemilik hacienda.
Namun sebelum ia dapat memulai ceriteranya, Sternau
sudah memotong,
“Itu merupakan persoalan pribadi. Saya kira, Senor
Verdoja tidak ada perhatian dalam persoalan itu. Lebih
baik kita bicara tentang hal lain saja.
Arbellez menerima teguran halus itu dan tidak
melanjutkan perkataannya, namun Kapten tidak mau
mengaku kalah. Ia bertanya, “Jauhkah “Ngarai Harimau
Kumbang” itu dari sini?”
“Sejam perjalanan dari sini,” jawab Sternau.
“Saya ingin sekali melihat tempat itu. Maukah Anda
kiranya, Senor Sternau, mengantarkan saya atau kami ke
situ?”
“Dengan segala senang hati,” jawab Sternau.
Kapten tersenyum puas, namun cepat-cepat ia
menghilangkan senyum itu. Sternau yang terbiasa
memperhatikan hal yang kecil-kecil pun melihat
perubahan itu. Ia mengerti bahwa Kapten, entah karena
apa, merasa gembira dengan janjinya hendak
mengantarkannya. Curiganya mulai timbul, namun ia
menjaga supaya tidak nampak.
“Bilamana kita dapat pergi?” tanya Verdoja.
“Terserah pada Anda, Senor,” jawab Sternau.
“Kalau begitu, saya akan menentukan waktunya.”
Dengan demikian persoalan itu dianggap selesai dan
selama pembicaraan selanjutnya tidak disinggungsinggung
lagi.
Setelah makan malam para perwira pergi ke kamarnya
masing-masing. Seorang letnan yang masih muda sedang
berbaring melihat-lihat ke luar jendela, untuk menikmati
pemandangan daerah sekitar yang diterangi oleh api-api
unggun. Tiba-tiba petualang muda itu melihat baju wanita
berwarna putih bangkit di tengah-tengah belukar gelap di
taman bunga. Seorang pria Mexico biasa suka berkencan
dengan sembarang wanita. Jarang sekali ia mendapat
teguran, maka Letnan Pardero merasa tidak ada salahnya,
bila ia mencari sedikit hiburan. Para prajurit tidak
menempati taman bunga, jadi Karja ada di situ seorang
diri.
Gadis itu terkenang akan Pangeran Alfonso yang
dicintainya1. Bodoh benar ia, mengapa sampai ia mencintai
orang seperti itu. Kini gadis itu membencinya. Ia pun
terkenang akan Hati Beru
Lihat buku Puri Rodriganda
ang, kepala suku bangsa Apache yang gagah perkasa
itu, yang telah mencintainya … dan ia tidak mengerti
mengapa ia bersikap begitu dingin ketika berhadapan
dengan orang berjiwa ksatria seperti itu. Alangkah besar
keinginan gadis itu dapat bertemu kembali dengannya.
Bunyi langkah kaki ringan mengganggunya dalam
lamunannya. Ia mengangkat pandangannya lalu melihat
Letnan. Karja berusaha menghindar, namun Letnan
menghalangi jalannya lalu memohon mengiba-iba dengan
membungkuk kecil, “Janganlah pergi, Senorita! Saya
menyesal telah mengganggu Anda dalam menikmati harum
bunga di taman ini.”
Gadis Indian itu menatapnya secara menyelidik.
“Siapakah yang Anda cari, Senor?”
“Saya tidak mencari siapa-siapa,” jawab Pardero.
“Namun malam ini begitu indahnya, saya merasa tertarik
ke taman. Apakah saya tidak boleh datang di sini?”
“Para tamu boleh pergi ke mana pun.”
“Namun kehadiranku mengganggu Anda, Senorita yang
manis.”
“Karja tidak dapat diganggu oleh siapa pun,” jawab
gadis itu tanpa memberi hati. “Taman ini cukup luas
untuk kita berdua.”
Letnan pura-pura tidak mengerti. Ia menghampiri gadis
itu lalu berkata, “Jadi nama Anda, Karja? Apa kerja Anda
di Hacienda?”
“Senorita Emma adalah temanku.”
“Dan siapakah Senorita Emma itu?”
“Anda belum menjumpainya? Ialah putri don Pedro
Arbellez.”
“Masih adakah seorang kerabat Anda di sini?”
“Kepala Banteng, saudaraku.”
“Wah! Kata Letnan sedikit kecewa. “Kepala Banteng,
kepala suku Mixteca? Ia ada di hacienda?”
“Tidak.”
“Tetapi kemarin ia ada. Bukankah ia pergi bersama
Senor Sternau ke “Ngarai Harimau Kumbang” untuk
bertempur?”
“Kepala Banteng orang yang bebas. Ia pergi dan datang
sekehendak hatinya dan ia tak pernah memberitahu siapa
pun tentang tindak-tanduknya.”
“Saya telah banyak mendengar tentang dia. Ia raja
kaum Cibolero, namun bahwa ia mempunyai saudara yang
begitu cantik, belum saya ketahui.”
Pardero memegang tangan gadis Indian itu untuk
menciumnya, namun tidak berhasil karena gadis itu
menarik tangannya kembali lalu memutar badannya.
“Selamat malam, Senor!” serunya.
Pada saat itu salah satu api unggun menyala dengan
terangnya, dan cahayanya menerangi seluruh muka agung
gadis Indian yang cantik itu. Letnan mengejarnya.
“Janganlah lari, Senorita,” pohonnya. “Saya bukanlah
musuh Anda, Saya cinta kepada Anda.”
“Anda cinta kepada saya? tanya gadis itu. “Mana
mungkin?” Anda belum juga kenal saya!”
“Anda salah, Senorita! Cinta datangnya sebagai
halilintar, sebagai bintang jatuh yang tiba-tiba memenuhi
dengan cahaya terang-benderang … itulah pengalamanku.”
“Memang benar, cinta seorang kulit putih datangnya
sebagai halilintar yang memusnahkan segala sesuatu dan
sebagai bintang jatuh yang terangnya hanya berlangsung
saat itu saja. Cinta orang kulit putih berarti kemalangan,
kelicikan, serta kepalsuan.”
Karja hendak menjauhinya, tetapi Pardero berusaha
menarik dan memeluknya.
Gadis itu seakan bertambah anggun serta kuatnya. Biji
matanya yang hitam berkilau liar serta menakutkan
bagaikan seekor harimau kumbang. Ia meliuk seperti
belut, melepaskan diri dari pegangan laki-laki itu lalu
berkata, “Lepaskan aku! Berdasarkan apa Anda berani
menyentuhku?”
“Berdasarkan cintaku kepada Anda.”
Letnan memegang gadis itu kembali. Gadis Indian itu
melempar kepalanya ke belakang serta melepaskan diri.
“Pergi, jangan jamah aku” katanya. “Nanti…”
“Nanti apa?” Tanya laki-laki itu.
Karja telah melepaskan tangan kanannya. Kini ia
meninju kuat-kuat dagu lawannya sehingga orang itu
kehilangan keseimbangannya.
“Setan!” geramnya. “Akan kubalas, perempuan setan!”
Pardero terpaksa telah melepaskan Karja. Ia kembali
berusaha untuk memegang gadis itu namun gadis itu
terlepas dan lari melalui jalan berpasir ke luar taman.
Kapten Verdoja pun telah membuka jendela untuk
mengeluarkan asap rokoknya melalui jendela. Ia berjalan
mundar-mandir dalam kamarnya, kemudian ia melihat ke
luar jendela. Pandangannya melayang-layang ke taman
dan tertumbuk pada sesuatu yang putih, yaitu baju Karja.
Setelah ia melihat lebih lama, tampak olehnya tubuh
seorang pria dekat gadis itu.
“Masya Allah! Siapakah orang itu?” katanya dalam hati.
“Putri pemilik hacienda barangkali? Dan siapakah pria di
sisinya itu? Itu harus kulihat!”
Ia bergegas keluar dari kamar menuju ke taman. Ketika
ia mau membuka pintu taman untuk masuk ke dalam,
gadis berbaju putih itu sedang berlari ke arahnya tanpa
melihatnya.
“Hai Senorita,” kata Verdoja.
Baru gadis itu melihatnya lalu berhenti. Verdoja hendak
memegang gadis itu, namun gadis itu lebih cepat dan
mendaratkan tinjunya ke tenggorok Kapten seperti pernah
dialami oleh Letnan juga.
Verdoja mundur selangkah.
“Caramba!” umpatnya. “Siapakah anak kucing itu?”
Pada saat itu juga melompat-lompatlah Letnan ke
arahnya tanpa melihatnya lalu hendak melampauinya.
“Halo, Letnan Pardero! Seru Verdoja sambil tertawa.
“Kaukah ini? Hendak kemana begitu tergesa-gesa?”
Pardero berhenti. “Anda ini Kapten? Anda telah melihat
perempuan celaka itu tadi?”
“Melihat? Bukan sekedar melihat, aku merasakannya
juga!”
“Merasakan?” tanya Letnan terheran-heran.
“Ya, aku malang benar!” kata Verdoja. “Gadis itu telah
meninju tenggorokanku.”
“Wah! Anda telah mengalami hal yang serupa dengan
saya.”
“Apa maksud Anda?”
“Anda telah melihat ke luar jendela…”
“Ya.”
“Anda melihat baju wanita berwarna putih …”
“Cocok.”
“Ingin mengadakan kencan…”
“Benar juga.”
“Kemudian Anda pergi ke taman.”
“Pandai benar menebak, engkau!”
“Kalau begitu, kita mempunyai maksud yang sama dan
mendapat ganjaran yang sama pula,” kata Letnan sambil
tertawa.
“Siapakah gadis itu?” tanya Kapten.
“Namanya Karja, ia gadis Indian. Nampaknya ia bekerja
sebagai pelayan Putri Tuan rumah.”
“Putri Tuan rumah? Maksud Anda Senorita Emma
barangkali?”
“Benar. Anda kenal Emma itu? Cantikkah ia?”
“Lebih cantik daripada Karja. Jauh lebih cantik.”
“Bukan main. Lebih ramahkah ia?”
“Dalam hal itu tidak. Penghuni wanita rumah ini
nampaknya seperti penghuni suatu biara saja. Aku ada
usul Pardero. Kau ingin mendapatkan gadis Indian itu?”
“Berapa mahal harganya pun, akan saya bayar. Dan
Anda menghendaki Senorita Emma?”
“Berapa mahal harganya pun, akan kubayar juga. Kita
harus tolong-menolong.”
“Baik. Jadi kita berjanji.”
“Setuju! Mula-mula kita harus menyelidiki, kedua gadis
itu masih bebas atau tidak. Namun aku kurang mengerti,
mengapa kami harus menderita kekalahan yang begitu
pahit.”
“Mungkin Dokter Sternau sudah mendahului kita.”
“Kurasa tidak. Mariano nampaknya lebih berbahaya.
Kau tidak melihat bahwa pemilik hacienda
mengistimewakannya dalam perlakuan meskipun secara
sembunyi-sembunyi. Ia pasti orang yang paling penting di
antara mereka.”
“Mungkin juga. Saya tidak begitu banyak menaruh
perhatian terhadap mereka. Anda tidak keberatan saya
pergi tidur? Gadis itu mempunyai tinju seperti seorang
petinju, itu sekali-kali tidak saya sangka, begitu halus
tangannya. Tengkuk saya berasa sakit serta kaku seperti
terbuat dari kayu rasanya.”
“Pergilah tidur, Letnan! Esok hari serangan akan
diulang!
Pasti berhasil! Selamat malam!”
“Selamat malam. Senor Verdoja.”
Pardero pergi, tetapi Verdoja berdiam diri di taman
hingga jam tangannya menunjukkan jam tengah malam. Ia
pura-pura masih sedang bertugas keliling. Maksudnya
yang sebenarnya ialah mencapai ujung pagar di sebelah
selatan. Itulah tempat pertemuannya dengan penjahat itu
seperti disepakati mereka lebih dahulu. Penjahat itu sudah
menanti di persembunyiannya di tempat yang gelap
sehingga tidak terlihat oleh orang, bahkan oleh Kapten
Verdoja pun tidak.
“Senor!” bisiknya ketika ia melihat Verdoja lalu.
“O, kau di situ?” tanya Kapten lalu berhenti berjalan.
“Di mana kawan-kawanmu?”
“Tidak jauh dari sini.”
“Mereka tidak boleh kelihatan orang.”
“Jangan khawatir! Apakah tugas kami?”
“Apakah kau kenal Sternau secara pribadi?”
“Tidak. Tidak ada di antara kami yang mengenalnya.”
“Sulit, kalau begitu. Ia akan pergi bersama aku ke
“Ngarai Harimau Kumbang” naik kuda.”
“Kami harus menghadangnya di situ?”
“Menghadang dan membunuh.”
“Itu tugas yang amat menyenangkan. Mampuslah
bedebah itu. Ia telah membunuh kawan-kawan kami,
maka hukumannya harus yang setimpal benar, yaitu
mengalami nasib sama dengan kawan-kawan kami yang
meninggal.
“Namun kau tidak mengenalnya. Aku pun tidak tahu,
siapa-siapa lagi yang akan ikut. Aku tak mau pergi
sendirian dengannya, aku akan membawa beberapa
prajurit. Tanda apa yang akan kuberikan supaya kau
dapat mengenalnya?”
“Buatlah saja lukisan tentang dia.”
“Ia bertubuh besar. Lebih besar dari padaku, lebih
tegap, ia mempunyai janggut panjang berwarna pirang.
Ciri-ciri tentang pakaian ataupun kudanya belum dapat
kuberikan.”
“Baik kita tentukan suatu tanda untuk dapat
mengenalinya. Dapatkah Anda tetap berjalan di sebelah
kanan orang itu?”
“Cukupkah itu?”
“Cukup. Dan dua orang kawannya itu harus kita
apakan?”
“Lain kali saja giliran mereka. Ingat bahwa setiap malam
kau harus ada di tempat ini pada jam seperti ini. Kini kita
harus berpisah, jangan sampai orang dapat melihat kita.”
Kini Verdoja pergi tidur. Sesaat kemudian ia sudah
tertidur dengan nyenyaknya. Usaha pembunuhan yang
direncanakan itu sekali-kali tidak menggugat sesuatu
dalam hati nuraninya.
Keesokan harinya pada waktu makan pagi Kapten
langsung membuka percakapan tentang perjalanan ke
“Ngarai Harimau Kumbang”. Ia mengusulkan supaya pagipagi
pergi ke situ dan Sternau menyatakan setuju. Kedua
perwira ingin ikut mereka dan Verdoja menyatakan setuju.
Yang lainnya, yang tidak menyukai perwira-perwira itu,
tinggal di rumah. Itu sesuai dengan keinginan Verdoja.
Mereka menempuh jalan yang pernah dilalui Sternau dan
Kepala Banteng. Sternau memimpin. Sesampai di hutan,
mereka berjalan kaki, karena mereka harus menuntun
kuda mereka. Ngarai sudah ada di hadapan mereka.
Sternau berhenti lalu berkata. “Baik kita tinggalkan kudakuda
kita makan rumput di sini hingga kita kembali lagi.”
Apa yang dikatakan itu dikerjakan. Kemudian mereka
melanjutkan perjalanan. Senjata Sternau adalah sepucuk
senapan dan sebilah pisau yang disisipkan pada ikat
pinggangnya. Dekat tempat masuk ke ngarai ia tiba-tiba
berhenti lalu meneliti rumput di bawah kakinya.
“Apa yang Anda cari?” tanya Kapten.
“Eh… mari kita berjalan terus.”
Tidak ada kata lain yang diucapkannya, namun ia tetap
mengawasi tanah di bawahnya. Di ngarai Kapten tetap
berjalan di sisinya. Pandangan Kapten menelusuri tebingtebing
ngarai. Setiap saat dapat terdengar tembakan maut.
Saat-saat penuh ketegangan.
“Jadi di sinilah tempat kejadian itu, Senor?” tanya
Kapten.
“Benar,” bunyi jawabnya yang pendek.
Mereka mengamati jejak di atas tanah. Mereka tidak
tahu bahwa Sternau membungkuk lebih dalam daripada
semestinya, tidak tahu bahwa ia selalu mencari
perlindungan di balik tubuh mereka. Tidak tahu pula
bahwa pandangan matanya secara diam-diam melayanglayang
ke sebelah kiri dan kanan, ke tebing ngarai yang
curam itu.
“Anda seorang juru tembak,” kata Verdoja. Sternau
hanya mengangkat bahunya saja. “Kepandaian menembak
itu bila sasarannya nyata, sebenarnya tidak perlu
dikagumi. Sepuluh musuh yang kelihatan lebih mudah
ditembak daripada seorang musuh yang tidak kelihatan.”
“Kalau tidak kelihatan, tentu juga tidak dapat
ditembak.”
Kata Letnan Pardero sambil tertawa.
“Namun seorang juru tembak dapat mengenainya juga”
kata Sternau sambil tetap berlindung di balik tubuh orangorang
lainnya.
“Itu tidak mungkin!” bantah Verdoja.
“Anda ingin melihat bukti?”
“Ya, buktikan, kalau dapat,” desak Letnan.
“Saya ingin bertanya dahulu kepada Anda, apakah
menurut pendapat Anda, anda melihat musuh di sekitar
kita ini?”
“Siapa dan di mana musuh itu?”
Sternau tersenyum lalu berkata, “Namun ada orang
yang mengintai ke tempat kita ini. Ia hendak menembak
mati saya.”
Sambil berkata demikian ia mengangkat bedilnya dari
atas bahunya.
Kapten terkejut. Bagaimana dapat Sternau mengetahui
bahwa orang berusaha membunuhnya?
“Anda suka berkelakar, Senor Sternau,” kata Perwira
itu.
“Akan saya buktikan bahwa saya sungguh-sungguh.”
Serentak Sternau memegang bedilnya, membidik, lalu
menembak dua kali. Dari tebing ngarai terdengar suara
orang memekik yang dipantulkan oleh gema berkali-kali.
Sternau melompat ke tepi, ke arah tebing, lalu berlari
dengan langkah besar-besar ke luar ngarai kemudian
menghilang. Sejak saat ia pertama kali menembak hingga
sekarang belum semenit pun lewat.
“Apa yang terjadi?” seru Pardero.
“Ia telah menembak seseorang,” jawab letnan yang
lainnya.
“Kejam benar!” gerutu Kapten.
“Kita dalam bahaya, cepat tinggalkan tempat ini,” seru
Pardero.
Mereka bergegas pergi ke tempat masuk ngarai itu dan
berhenti sejenak di situ. Sesaat kemudian terdengar dua
tembakan lagi dari atas, kemudian sunyilah keadaannya.
Seperempat jam telah berlalu, kemudian terdengar bunyi
derak di semak belukar dekat mereka. Ketakutan setengah
mati mereka meraih senjatanya.
“Jangan takut, Senores,” kata seseorang. “Sayalah ini.”
Lalu Sternau menampakkan diri.
“Apa yang terjadi, Senor? Apa yang Anda lakukan?”
tanya Letnan.
“Menembak,” jawabnya pendek.
“Ya, kami tahu. Tetapi mengapa?”
“Untuk membela diri, karena sayalah yang harus
ditembak mati.”
“Mustahil. Siapa yang mau membunuh Anda?
Bagaimana Anda dapat tahu?”
“Mata saya yang memberi tahu saya.”
“Kami tidak melihat apa-apa.”
“Itu dapat dimengerti. Anda bukanlah penghuni padang
prairie. Kapten telah melihat bahwa saya menyelidiki
rumput. Saya melihat jejak-jejak orang yang seperempat
jam yang lalu telah melintasi tempat ini. Jejak-jejak itu lari
ke sebelah kanan ke atas. Lihat, itulah jejaknya, sampai
sekarang masih kelihatan.”
Ia menunjuk ke arah tanah. Para perwira berusaha
melihat, namun tidak dapat menemukan apa-apa.
“Ya, untuk itu mata kita harus terlatih lebih dahulu,”
kata Sternau.
“Karena jejak-jejak itu menuju ke arah kanan ke atas,
saya menyelidiki tebing sebelah kanan setelah tiba di
ngarai. Saya menemukan beberapa kepala orang
tersembunyi di balik semak-semak yang sedang mematamatai
kita. Mereka tidak tahu bahwa saya melihat mereka,
karena mata saya terlindung di bawah tepi topi saya yang
lebar itu.”
“Tetapi dari mana Anda tahu bahwa mereka itu
musuh?” tanya Verdoja.
“Karena bedil mereka terjulur keluar dari semak-semak
setelah kita masuk ke dalam ngarai. Saya lihat dengan
nyata dua laras bedil tertuju kepada kita.
“Caramba!” umpat Letnan Pardero yang sekali-kali tidak
tahu apa yang dibalik segalanya ini. Mungkin mereka
hendak membunuh kami juga.”
“Tidak, itu hanya ditujukan kepada saya. Saya tahu
bahwa saya harus berhati-hati, maka saya selalu
berlindung di balik Kapten. Siapa yang menembak saya,
harus mengenai Kapten lebih dahulu.”
Kapten terbengong mendengar ini. “Carajo!” katanya
akhirnya, “Jadi sebenarnya sayalah yang dalam keadaan
bahaya maut itu.”
“Bahaya itu tidak sebesar itu,” kata Sternau sambil
tersenyum. “Aneh sekali, perisai yang saya gunakan itu
tepat sekali, karena orang-orang jahat itu enggan benar
menembak perisai itu.”
Perkataan tadi membuat Verdoja jadi curiga. Apakah
Sternau sudah menduga latar belakang kejadian itu?
Sternau melanjutkan,
“Lagi pula sebenarnya tidaklah sukar bagiku untuk
mencari perlindungan. Bedil-bedil itu dari sebelah kanan
atas dibidikkan ke bawah dan Kapten begitu baik untuk
mau berjalan di sebelah kanan saya. Ia tetap berjalan di
sebelah kanan, apa pun yang terjadi.”
Kapten menjadi pucat. Tak dapat tidak, Sternau sudah
mengetahui siasat jahatnya. Sternau tentu tahu, siapa
yang mendalangi penyerangan itu. Dokter melanjutkan,
“Anda tidak melihat bedil-bedil itu. Namun saya tahu
dengan pasti ke arah mana larasnya ditujukan dan di
mana si penembak berada. Ketika saya melepaskan
tembakan dua kali maka pelurunya mengenai dua orang
pada bahunya sebelah kanan. Pada saat itu juga dua laras
bedil lain menjulur ke luar dari semak-semak, maka saya
cepat mengelak dengan melompat ke tepi untuk lari ke luar
dari ngarai. Para penjahat itu agak bodoh dalam
merencanakan siasat penyerangan mereka. Mereka patut
menerima tamparan untuk
kebodohan itu.”
“Dan kemana Anda telah pergi?” Tanya Verdoja.
“Saya cepat-cepat memanjat tebing untuk mendekati
mereka dari belakang. Namun ketika saya sampai di
tempat itu, mereka sudah meninggalkannya. Agak jauh
dari situ terdengar bunyi derak di tengah belukar. Saya
melepaskan tembakan dua kali ke arah itu.”
“Senor, sungguh berani Anda menempuh bahaya yang
nyata, setelah Anda melihat bedil-bedil itu tertuju ke arah
Anda,” kata Letnan kedua.
“Bagi saya tidak. Sebaliknya bagi mereka keadaan
demikian sangat gawat, karena mereka memperlihatkan
laras-laras bedil mereka sebelum menembak. Seorang
pemburu padang prairie yang berpengalaman tidak akan
berbuat sebodoh itu. Lagi pula saya dapat mengenali para
penyerang itu sebagai orang-orangnya Cortejo, yang
kemarin berada di Santa Rosa. Anda pun datang dari situ,
bukan?”
Sternau bicara seperti sambil lalu saja, tetapi Verdoja
merasakan sindiran-sindiran itu diarahkan kepadanya.
“Memang, itu benar,” jawab letnan kedua secara polos.
“Pada waktu makan datang seseorang bernama Cortejo
menghadap Juarez.”
Verdoja membeliakkan matanya kepada letnan itu tanpa
mendapat perhatian.
“Apakah Cortejo itu datangnya bersama banyak orang?”
tanya Sternau.
“Benar. Kira-kira dua puluh orang. Lebih baik Anda
tanyakan saja kepada Kapten. Ia mengetahui lebih banyak
lagi.”
“Mengapa harus kepada Kapten?”
“Karena Cortejo telah bermalam di rumahnya.”
Sekali lagi Verdoja membeliakkan matanya kepada
letnan itu, namun sekali ini pun tidak mendapat perhatian.
Hanya Sternau maklum akan sikap Verdoja itu, namun ia
pura-pura tidak melihat lalu melanjutkan dengan tenang,
“Saya rasa keterangan dalam hal ini tidak dapat
diharapkan dari Senor Verdoja. Namun tidak apa,
persoalan ini sudah terpecahkan.”
Keempat orang itu kembali lagi ke tempat kuda mereka
ditinggalkan. Mereka menjumpai kuda-kuda itu sedang
makan rumput. Pada perjalanan pulang Sternau tidak
berbicara tentang kejadian yang lampau itu. Kapten pun
berbuat demikian. Hanya kedua letnan
mempercakapkannya secara berbisik. Pokok
pembicaraannya ialah Sternau. Mereka kagum akan
keberaniannya, kecerdasan serta kecekatannya. Dalam
waktu satu jam setelah mereka tiba, semua prajurit tahu
tentang petualangan yang dialami oleh perwira mereka
bersama dokter yang gagah berani itu. Penghuni hacienda
tentu saja turut mendengar ceritera itu, yang ditanggapi
mereka dengan berbagai cara. Yang seorang memuji
tindakan Sternau, yang lain menganggap bahwa mereka
sekarang akan mengalami keadaan aman, yang lain lagi
merasa kecewa, karena hanya dua orang perampok yang
terluak. Menurut pendapat mereka, sebaiknya semua
perampok itu harus dimusnahkan saja.
Sternau yang menyadari bahwa Kapten selalu
mengawasinya, tidak hadir dalam segala percakapan itu.
Pada waktu makan siang pun ia hanya mengeluarkan
sebuah pernyataan tentang kejadian yang lampau itu.
Ketika Verdoja siang hari kebetulan pergi ke luar, Sternau
menyuruh Arbellez dan kawan-kawannya datang untuk
menyampaikan rasa curiganya kepada mereka. Mula-mula
mereka kurang percaya, namun kemudian, setelah mereka
mendengar lebih banyak lagi, mereka lebih cenderung
membenarkan dugaannya. Mereka menarik kesimpulan
akan selalu bersikap waspada terhadap Kapten.
Malamnya berlalu seperti kemarin, hanya gadis Indian
itu berusaha tidak menampakkan diri dalam taman.
Setelah Verdoja mengucapkan selamat malam, maka
Sternau pun berbuat pura-pura pergi ke kamarnya; namun
di tangga ia membelok ke kanan dan pergi ke salah satu
kamar bawah. Bila Kapten benar bersekutu dengan kaum
penjahat itu, maka ia hanya dapat bertemu dengan mereka
pada malam hari. Sternau bermaksud untuk mematamatainya.
Pintu belakang terkunci, orang hanya dapat
keluar rumah melalui pintu depan, jadi Sternau harus
dapat melihat Verdoja, seandainya ia menyelinap ke luar.
Sternau membuka sedikit salah sebuah jendela supaya
dapat mendengar lebih baik lalu ia duduk di atas kursi.
Pikirannya melayang-layang ke tanah air dan istrinya,
namun ia mendesaknya ke samping supaya dapat berpikir
tentang masa kini. Dengan memusatkan segenap perhatian
ia menanti hingga tengah malam.
Pada saat itu kiranya ia mendengar suatu bunyi
perlahan sekali dekatnya. Ia memusatkan perhatiannya
lalu mendengar pintu di sebelah jendelanya perlahan-lahan
dibuka orang. Ia melihat ke luar jendela dan melihat
Kapten dengan hati-hati sekali keluar pintu menuju ke
pintu pagar. Pintu itu tidak terkunci karena kehadiran
pasukan bertombak itu sudah merupakan jaminan
keamanan. Pintu itu seharusnya dibiarkan terbuka untuk
memberi kesempatan pada perwira, bertemu dengan
bawahannya pada malam hari. Kapten melangkah ke luar.
Sternau melompat ke luar melalui jendela, menutup
jendela itu lalu menyelinap mengikuti perwira itu, bukan
ke luar melainkan hanya sampai pagar yang mengitari
daerah itu. Dari balik pagar itu ia mengamati gerak-gerik
Kapten yang berjalan keliling memeriksa penjagaan tiap api
unggun. Ketika Sternau menoleh ke rumah yang ada di
belakangnya, ia melihat sesosok tubuh berjalan kian
kemari di atas atapnya yang datar itu. Muka orang itu
tidak tampak dengan nyata, namun ia tahu, orang itu
tentu Emma. Baru-baru ini ia memberi nasihat kepada
gadis itu untuk pergi mengisap udara segar, karena
kehadirannya di kamar si sakit itu terlalu melelah-kan
baginya. Pada siang hari Emma tidak berani keluar, karena
takut akan berjumpa dengan salah seorang perwira. Pada
malam hari – ketika tunangannya sedang tidur – ia ingin
berjalan-jalan sedikit di atas atap yang datar itu.
Kapten telah selesai memeriksa segenap perkampungan.
Kini ia harus pulang lagi, namun ia bergegas pergi ke
ujung sebelah selatan rumah. Mengapa ia ke situ? Dan
mengapa ia tidak berjalan dengan tubuh tegak seperti
biasa? Diam-diam Sternau menyelinap masuk ke tempat
yang dikelilingi pagar itu lalu mengikuti Kapten, sampai
akhirnya ia tiba di suatu tempat. Di situ ia mendengar di
balik pagar suara orang bicara.
Suara orang yang terdengar asing bertanya, “Anda telah
menghalangi kami… kami takut peluru kami mengenai
Anda!”
“Mengapa kalian tidak berjaga di tebing sebelah kiri?”
“Ngarai lebih mudah diamati dari sebelah kanan.
Lagipula siapa yang menyangka bahwa orang itu dapat
melihat begitu jauh.”
“Nampaknya seolah-olah ia mahatahu. Pada saat ini
saya masih belum siap dengan siasat yang baru, saya
harus memikirkannya dahulu. Lagipula ada kemungkinan
Senor Sternau memata-mataiku. Maka kita tidak boleh
bertemu lagi di sini.”
“Habis di mana?”
“Kau membawa kertas dan pinsil?”
“Tidak.”
“Tetapi kau pandai membaca dan menulis?”
“Ya.”
“Ini ada sehelai kertas dan sebatang pinsil. Aku sengaja
membawanya untukmu. Bila kau pergi dari sini ke “Ngarai
Harimau Kumbang”, kau akan tiba di sebuah hutan, di
antara pohon-pohon yang pertama terletak sebuah batu
yang agak besar. Di bawah batu itu pagi hari atau pada
saat lain, akan kuletakkan kertas berisi petunjukpetunjuk.
Dan bila perlu dijawab, kau letakkan jawaban
itu di tempat itu juga. Mengerti?”
“Mengerti. Saya lihat ada orang berjalan hilir mudik di
atas atap rumah. Siapakah dia?”
“Tadi aku tidak melihatnya. Haha, itulah Emma, putri
pemilik hacienda. Mari, aku harus menemaninya. Kau
masih ada pertanyaan?”
“Tidak.”
“Baik, kau boleh pergi! Tetapi ingat: sekali lagi ada
perbuatan bodoh seperti itu, akan kupecat kau. Aku tidak
dapat memakai orang-orang bodoh. Selamat malam.”
Setelah Sternau mendengar salam perpisahan itu,
cepat-cepat ia menyelinap kembali, masuk melalui jendela,
lalu menguncinya. Ia sudah tahu secukupnya. Jadi
dugaannya itu sudah terbukti benar. Verdoja adalah
musuh besarnya. Ia telah diperalat Cortejo. Kini ia
berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugasnya.
Untunglah bahwa Sternau telah mengetahui tempat
rahasia untuk menaruh surat-surat mereka. Kini ia dapat
dengan mudah memahami rencana mereka. Tetapi apa
yang dikehendaki Kapten pada saat seperti ini di atas atap
rumah? Ucapan Kapten itu apakah dimaksud sebagai
kelakar saja atau sungguh-sungguh ia hendak pergi ke
Emma? Tunggu saja apa yang akan terjadi.
Tidak lama kemudian Sternau melihat musuhnya
masuk melalui pintu pagar; ia melihat Kapten masuk ke
dalam rumah lalu menaiki tangga. Beberapa menit
kemudian perlahan ia membuka pintu kamarnya dan
diam-diam mengikuti perwira itu. Hati-hati ia menaiki
tangga pertama dan kedua yang menuju ke atap datar
melalui sebuah tingkap. Ketika Sternau tiba di situ,
tingkap itu sudah terbuka. Hati-hati ia mengeluarkan
kepalanya dan melihat Emma ditemani oleh Kapten di
sisinya. Gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan dalam
keadaan putus asa.
“Anda sungguh mau lari?” tanya Verdoja.
“Saya harus pergi,” kata Emma sambil memandang ke
arah tingkap.
Sternau melihat bahwa Kapten tetap memegang eraterat
tangan gadis itu.
“Jangan. Anda jangan pergi, Senorita,” kata perwira itu.
“Anda harus mendengar bahwa hati saya kini penuh
dengan cinta kepada Anda. Marilah Emma, dan janganlah
melawan. Itu akan sia-sia saja.”
“Saya mohon Anda dengan sangat untuk melepaskan
saya, Senor!” gadis itu meminta-minta, setengah mati
ketakutan.
“Tidak, Anda tak boleh pergi.”
Verdoja berusaha menarik gadis itu ke dekatnya. Gadis
itu memberontak-berontak namun sia-sia saja. “Ya Tuhan,
apakah saya harus menjerit meminta pertolongan?”
erangnya.
Dengan sekali melompat Sternau ada di sisinya.
“Tak usah, Senorita, tak perlu menjerit. Ada seseorang
yang sanggup membela Anda. Bila Senor Verdoja tidak
segera melepaskan tangan Anda, maka ia akan langsung
terbang dari atap ini menuju ke taman.”
“Senor Sternau,” kata gadis itu bata-bata. “Tolonglah
saya!”
“Sternau!” kata Kapten sambil menggertakkan gigi.
“Benar. Sayalah ini. Lepaskan gadis itu!”
Namun kini perwira itu bahkan memeluk gadis itu lalu
membentak,
“Mengapa Anda kemari? Dari siapa Anda memperoleh
hak untuk memerintah saya? Enyah dari sini, anjing
kurang ajar!”
Baru saja perkataan yang terakhir itu terucapkan, maka
tinju Sternau melayang dan mendarat dengan tenaga luar
biasa ke atas kepala Verdoja yang langsung rebah
bagaikan karung pasir ke atas tanah, sambil turut
menyeret tubuh Emma ke bawah.”
Sternau cepat menolong gadis itu berdiri tegak kembali
lalu ia berkata, “Mari Senorita, akan saya antarkan Anda
ke bawah.”
“Ya, Tuhan,” keluh Emma yang gemetar sekujur
tubuhnya. Saya belum pernah memberi hati kepadanya
untuk mendekati saya.”
“Saya tahu,” jawab Sternau. “Orang-orang semacam dia
tidak dapat membedakan yang halal dengan yang haram.”
“Justru karena saya takut berjumpa dengan prajurit,
maka saya berjalan-jalan di atas atap. Kini kebiasaan itu
harus saya hentikan pula.”
“Tidak usah, Senorita. Anda memerlukan udara segar,
kebiasaan berjalan-jalan pada malam hari untuk
mengambil angin itu tidak boleh Anda kurbankan. Akan
saya usahakan, supaya Anda tidak diganggu lagi lain kali.”
Ia mengantarkan Emma sampai ke pintu kamar
tunangannya. Kemudian ia berpisah dengan gadis itu,
yang hendak datang menemani tunangannya yang sakit
itu. Sekembalinya di kamarnya sendiri Sternau
membiarkan pintunya sedikit terbuka, karena Kapten
pasukan bertombak itu harus melaluinya. Lama ia
menunggu sebelum ia mendengar Kapten menuruni tangga
lalu menyelinap melalui lorong. Baru sekarang Sternau
pergi tidur.
Emma sehabis menderita karena penghinaan sangat
gelisah serta cemas. Ia tidak dapat tertidur di atas tikar
gantung. Kejadian yang baru dialaminya itu masih tetap
menghantui dalam pikirannya. Pasukan bertombak itu
masih akan tinggal beberapa hari lagi di hacienda. Maka
Kapten Verdoja masih ada kesempatan untuk
mengganggunya dan kali ini apakah ia masih dapat
diselamatkan lagi oleh seorang pahlawan yang gagah
perkasa? Ayahnya tidak dapat menjadi pergantungan
harapan baginya. Ia bukanlah seorang pahlawan, lagipula
ia harus juga memperhitungkan kehadiran para prajurit
separuh liar yang harus diperlakukannya sebagai tamunya
itu. Kedudukan ayahnya sebagai pelindung itu melihat
keadaannya sekarang tidak tanpa bahaya. Apakah artinya
ada dua atau tiga orang gagah perkasa bila harus melawan
pasukan bertombak yang terdiri atas prajurit-prajurit
separuh liar yang tidak tunduk kepada peraturanperaturan
yang sah!
Dibebani oleh pikiran-pikiran yang sangat menakutkan
itu Emma melalukan malamnya. Sepanjang malam
pikirannya yang menggelisahkan itu bebas tanpa
penghalang mengganggunya, karena tunangannya yang
sakit itu tidak bergerak sedikit pun. Ia tidur begitu
nyenyak, bahkan tidak menggerakkan tubuhnya sekali
pun. Ia pun tidak terbangun ketika Karja gadis Indian itu
masuk ke dalam kamar pagi hari untuk menggantikannya
seperti biasa.
“Apakah si sakit dapat tidur dengan tenang?” tanya
Karja.
“Dapat,” jawab Emma. “Antonio tertidur nyenyak
sepanjang malam, maka insya Allah ia akan cepat dapat
sembuh. Kata Senor Sternau, yang kita takuti adalah
timbulnya demam luka dengan segala akibat buruknya.
Kami telah memberinya obat daun-daunan dilekatkan
pada kepalanya untuk mencegah demam. Mudahmudahan
Tuhan dapat segera mengembalikan kesehatan
kepadanya.”
“Saya pun berharap demikian,” kata Karja. “Keadaan
Senor Unger sebetulnya sudah tidak kami khawatirkan
lagi. Sebaliknya keadaan Anda lah yang mencemaskan hati
kami. Anda nampak begitu pucat serta letih. Bergadang
setiap malam itu membuat tubuh Anda sangat lemah.”
“Itu bukanlah sebabnya. Saya bukan merasa lelah
karena menunggui si sakit, melainkan karena hal lain.”
Supaya jangan mengganggu si sakit, Emma berceritera
dengan berbisik tentang pengalamannya di atas atap
rumah.
Karja yang dengan penuh perhatian mendengar ceritera
itu merasa terdorong berceritera juga tentang
pertemuannya dengan Letnan Pardero di taman. Kedua
gadis itu sedang membicarakan sikap kurang ajar dan
memalukan dari anggota-anggota pasukan bertombak itu
ketika Sternau masuk ke dalam. Ia bermaksud
mengunjungi si sakit ketika si sakit itu baru bangun, maka
ia datang dengan perlahan sekali. Karena itu Karja yang
tidak mendengar kedatangannya itu berceritera terus.
Ketika ia melihat Sternau, sudah terlambat untuk
mengalihkan percakapan kepada pokok lain. Sternau
meminta maaf lalu bertanya kepada Karja, “Jadi Anda pun
mengalami pengalaman kurang enak seperti Senorita
Emma?”
“Benar,” kata Karja.
“Siapa orangnya?”
“Letnan Pardero mengganggu saya di taman dan ketika
saya hendak lari Kapten telah menahan saya.”
“Kurang ajar!”
Hanya itulah yang dikatakan Sternau. Ia kembali lagi
memperhatikan si sakit, menghitung napasnya yang
tenang itu, lalu mengangguk dengan rasa puas. Setelah ia
mendengar bahwa si sakit tidur terus tanpa gangguan,
wajahnya kembali berseri-seri.
“Biarkan dia tidur terus,” katanya. “Tidur dan istirahat
merupakan syarat mutlak untuk mencapai kesembuhan
yang sempurna. Setelah bangun, ia boleh melihat
abangnya.”

sumber: DISALIN OLEH
Pandu & Tiur Ridawaty
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s