BAB IV PERANG TANDING GANDA

Sternau pergi berjalan-jalan ke padang rumput. Ia
menangkap seekor kuda, mengendarainya selama
beberapa waktu di padang yang sangat luas itu. Kemudian
ia kembali lagi lalu melepaskan kudanya di padang itu. Ia
berjalan kaki ke hacienda. Dekat pintu pagar ia berjumpa
dengan Letnan Pardero.
“Hai Senor Sternau!” seru perwira itu tanpa
mempedulikan tata karma yang layak. “Saya telah mencari
Anda”.
“Mengapa?” tanya Sternau pendek.
“Saya mau bicara dengan Anda.”
“O, begitu?” jawabnya. Apakah itu berarti bahwa saya
terpaksa harus mendengarkan Anda?”
“Tepat sekali dugaan Anda itu,” ejek Pardero.
“Setiap orang yang baik-baik mau mendengarkan
perkataan orang lain yang ingin disampaikan kepadanya …
namun dengan syarat: dengan memperhatikan tata
kesopanan. Lagipula dekat pintu pagar ini bukanlah
tempatnya yang layak. Maukah Anda mengikuti saya pergi
ke kamar saya?”
Wajah Letnan berubah menjadi merah. Ia mundur
selangkah.
“Perkataan Anda itu agak congkak kedengarannya.
Anda menganggap diri Anda orang penting?”
“Anda tentu harus mengakui bahwa kedudukan kita
dalam bidang sipil, spiritual, maupun moral berbeda.
Namun saya masih mau mendengarkan Anda.”
Sternau hendak berjalan terus, tetapi Letnan memegang
tangannya lalu berkata dengan nada mengancam,
“Mungkinkah maksud Anda untuk menyindir bahwa
kedudukan saya dalam bidang moral lebih rendah
daripada Anda?”
“Saya tidak biasa menyindir, saya biasa menyebut
langsung fakta-fakta yang berdasarkan kebenaran.
Lepaskan tangan saya. Saya tak suka dipegang-pegang
orang.”
Sternau mengibaskan tangan orang Mexico itu lalu ia
pergi. Letnan yang terpaksa tunduk mendengar
perkataannya yang diucapkan dengan penuh wibawa itu
kini mengikutinya. Api kebencian tampak pada matanya.
“Aku ingin sekali melihat, apakah Sternau masih tetap
sama congkaknya bila ia mengetahui apa yang hendak
kubicarakan dengannya,” sungutnya.
Sternau dapat menduga apa yang hendak dikemukakan
oleh Letnan, maka ia mempersilakannya dengan memberi
salam secara dingin.
“Maka saya sudah datang memenuhi keinginan Anda,”
kata orang Mexico itu menyindir.
Sternau mengangguk tanpa berkata.
“Kini saya harap Anda mau mendengar.”
“Bila Anda bersikap sepatutnya, saya mau
mendengarkan,” jawab Sternau.
“Apakah saya pernah kurang sopan terhadap Anda,”
kata Letnan dengan marah.
“Sebaiknya langsung saja Anda katakan apa yang Anda
kehendaki, Senor Pardero!” jawab Sternau secara dingin.
“Baik, persoalan ini akan kita tunda untuk sementara.
Namun saya tidak biasa berunding dengan cara berdiri.”
Orang Mexico itu memandang pada sebuah kursi, tetapi
Sternau berbuat pura-pura tidak melihat perbuatan itu.
Dengan senyum mengejek ia berkata, “Saya tidak
bermaksud mengadakan perundingan, saya hanya mau
mendengarkan. Permintaan harus disampaikan dengan
berdiri. Bila Anda tidak setuju dengan persyaratan itu,
maka saya anggap pertemuan ini sudah diakhiri.”
Dengan muka merah karena menahan amarah, mata
berapi-api dan suara gemetar Pardero menjawab, “Senor,
saya tidak dapat menganggap Anda sebagai seorang
pahlawan lagi!”
“Itu terserah,” jawab Sternau sambil tertawa. “Maka
sebaiknya Anda lekas mengajukan permintaan Anda. Saya
tidak ada waktu untuk mendengarkan segala obrolan yang
hampa.”
Pardero yang ingin mencurahkan kemarahannya
menahan diri ketika ia melihat Sternau memegang topinya
dan bersiap-siap hendak pergi. Dengan memaksakan
dirinya bersikap tenang ia berkata, “Saya ini datang atas
nama atasan saya, Kapten Verdoja.”
Sternau tidak tampak terkejut sedikit pun mendengar
ini. Maka orang Mexico itu menambahkan, “Anda harus
mengakui, telah menghina atasan saya itu.”
Sternau mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
“Saya telah memukulnya. Itukah yang Anda maksudkan
sebagai penghinaan?”
“Memang tepatlah itu! Kini Kapten minta
pertanggungjawaban dari Anda.”
“O, begitu!” jawab Sternau sambil pura-pura merasa
heran. “Pertanggungjawaban? Dan ia memakai Anda
sebagai perantara? Sudahkah Anda memahami peraturan
mengenai perang tanding?”
“Anda menyangsikan hal itu?”
“Memang. Saya benar-benar menyangsikan pemahaman
Anda akan peraturan itu, karena Anda mau menjadi
perantara dalam suatu perkara yang haram. Apakah Anda
mengetahui, mengapa Kapten Verdoja itu saya pukul?”
“Tentu saja tahu,” jawab letnan dengan suara berang.
“Kalau begitu, saya anggap Anda berderajat rendah
sekali!
Saya memukul Kapten karena ia telah menghina
seorang wanita terhormat. Lagi pula wanita itu putri Tuan
Rumah kita sendiri. Barangsiapa bertindak sebagai
perantara dalam hal seperti itu akan kehilangan segala
kehormatannya di mata saya.”
Kini sudah tiba saatnya bagi orang Mexico itu untuk
memegang pedangnya. Dengan pedang separuh terhunus
ia berteriak, “Apa kata Anda? Kurang ajar benar…! Akan
ku …”
“Anda tidak akan berbuat apa-apa!” kata Sternau
dengan tenang, ketenangan yang biasa mendahului
sambaran petir. Matanya memercik-mercikkan api hingga
orang yang lebih berani daripada Letnan pun akan merasa
takut. Sambungnya, “Biarkan pedang itu di tempatnya
saja, jangan sampai saya terpaksa mematah-matahkannya
di hadapan mata Anda! Setelah dipikirkan lebih jauh,
tidaklah sangat mengherankan lagi bahwa Anda digunakan
sebagai seorang kacung oleh Kapten, karena kalian samasama
jahanam. Anda telah…”
“Tutup mulut! Teriak Letnan yang menjadi gila karena
marahnya. “Sekali lagi penghinaan semacam itu akan
kutikam Anda! Anda harus segera meminta maaf untuk
ucapan Anda itu.”
Kini Pardero menghunus seluruh pedangnya dari
sarungnya lalu memasang kuda-kuda. Namun tahu-tahu
senjata tajam yang mengerikan itu sudah pindah ke
tangan Dokter. Pardero sendiri pun merasa bingung,
bagaimana caranya senjata itu pindah tangan begitu
cepatnya. Sternau mematah-matahkan mata pedang
berkeping-keping lalu melemparkannya ke hadapan kaki
lawannya.
“Ini kukembalikan pisau pengupas kentangmu itu!”
katanya sambil tertawa. “Anda telah menghina Senorita
Karja dengan cara yang sama dengan Kapten terhadap
Emma. Maka kalian itu setali tiga uang. Kini lekas enyah
dari kamarku, kalau tidak akan kulemparkan Anda ke luar
jendela.”
Sternau merentangkan tangannya ke arahnya. Letnan
mengelak dengan cekatan lalu melompat ke arah pintu. Ia
menoleh sekali lagi ke belakang dan berseru dengan
mengacungkan tinju, “Anda akan menyesal atas perbuatan
Anda itu, tidak lama lagi. Kini Anda akan menghadapi dua
orang lawan yang tangguh. Salah seorang di antara kami
pasti akan dapat memampuskan Anda, biarpun Anda
mengadakan perlawanan seperti setan.”
Pardero lari ke luar. Sternau acuh tak acuh memasang
rokok lalu duduk menanti apa yang akan terjadi. Ia tidak
usah menunggu lama. Seperempat jam kemudian pintu
diketuk orang. Setelah ia dengan keras menyuarakan
“masuk”, maka masuklah letnan kedua ke dalam kamar.
Letnan memberi hormat dengan membungkuk lalu berkata
ramah, “Maafkan saya mengganggu. Bolehkah saya
memakai lima menit waktu Anda yang berharga itu?”
“Tentu Senor, silahkan duduk. Silahkan ambil rokok
sebatang.”
Letnan merasa heran mendapat sambutan seramah itu.
Letnan Pardero telah menceriterakan kepadanya
bagaimana Sternau telah memperlakukannya, namun di
luar perkiraannya ia kini diterima dengan penuh
keramahan. Ia mengambil sebatang rokok yang ditawarkan
oleh Sternau dan membakarnya dengan api yang
dinyalakan oleh Sternau pula. Setelah kedua orang itu
duduk berhadapan satu sama lain, perwira itu memulai,
“Terus terang saja, saya sebenarnya segan datang ke mari,
Senor. Masalah yang saya bawa ke mari itu bersifat
permusuhan.”
“Sampaikan saja tanpa segan-segan, Senor! Saya sudah
siap menerima apa yang hendak Anda kemukakan.”
“Saya datang atas nama Senores Verdoja dan Pardero
yang merasa dirinya dihina oleh Anda.”
Sternau mengangguk penuh pengertian. “Anda telah
menggunakan kata yang tepat. Kedua tuan itu merasa
dirinya dihina. Keadaan yang sebenarnya adalah justru
sebaliknya: merekalah yang telah menghina dua wanita
terhormat yang tidak berdaya dan sayalah yang bertindak
sebagai pembelanya. Jadi Anda hendak menyampaikan
tantangan mereka untuk berperang tanding, Senor?”
“Benarlah, Senor Sternau.”
“Dan siapakah lawan saya?”
“Dua duanya.”
“Sayang bahwa Anda harus menjadi perantara bagi
orang-orang yang di mata saya tidak mempunyai
kehormatan. “Sebetulnya saya tidak perlu melayani
keinginan mereka, karena kita hanya mau berperang
tanding dengan orang-orang terhormat. Namun karena
sikap Anda begitu sopan terhadap saya maka saya
berusaha tidak melukai hati Anda. Lagi pula saya harus
memperlunak sikap saya mengingat di negeri tempat saya
berada ini masih belum meresap benar pengertian tentang
keksatriaan itu. Maka saya menerima tantangan itu.
Apakah kedua Tuan itu sudah menentukan pilihannya
mengenai jenis senjata yang akan digunakan?”
“Sudah. Pilihan Kapten jatuh pada senjata pedang
sedangkan Letnan pada senjata pistol.”
“Itu dapat saya pahami,” kata Sternau sambil tertawa
riang. “Pedang Letnan itu telah saya patah-patahkan. Ia
tahu bahwa saya pandai menggunakan pedang, maka ia
memilih pistol. Saya akan menerima tantangan itu dengan
dua syarat.”
“Sebutkanlah syarat-syarat itu, Senor.”
“Saya berperang tanding melawan Kapten hingga salah
seorang terluka dan terpaksa menjatuhkan pedangnya.”
“Syarat demikian pantas juga.”
“Dan dengan Letnan: tembak-menembak diadakan pada
jarak dekat memakai pistol dua peluru. Jarak tiga langkah,
masingmasing mendapat dua peluru.”
“Astaga Senor, itu berarti bunuh diri bagi Anda!” bunyi
nasihat perwira itu. “Seandainya Anda terlepas dari
Kapten, maka Letnan Pardero pasti tidak dapat Anda atasi.
Ketahuilah bahwa dalam tembak-menembak tidak ada
orang yang dapat menandinginya.”
“Itu perlu dibuktikan dahulu,” kata Sternau sambil
tertawa. “Anda tidak usah khawatir, saya tidak takut
menghadapi Letnan Pardero! Harap Anda mengatur
segalanya bersama Mariano. Ia akan menjadi
pendampingku.”
“Lalu bagaimana dengan para saksinya? Yang tidak
memihak?”
“Mereka tidak diperlukan.”
“Seorang dokter?”
“Juga tidak perlu. Saya sendiri seorang dokter.”
Perwira itu pergi. Setelah ia pergi, Sternau mendapatkan
Mariano untuk memberi tahu kepadanya tentang segala
peristiwa. Pemuda itu bersedia menjadi pendamping lalu ia
pergi menemui para pendamping lawannya. Beberapa saat
kemudian ia kembali lagi untuk menyampaikan berita
bahwa pihak lawan setuju dengan persyaratan Sternau.
Sebagai pihak yang menerima tantangan ia berhak
membawa pistol miliknya sendiri, karena itu ia merasa
pasti perang tanding itu akan berakhir sesuai dengan
kehendaknya.
Sejak saat itu ia tidak berkisar dari jendela kamarnya.
Ia tahu apa yang akan terjadi, maka ia mengawasi jalan
keluar dari hacienda. Petang hari Kapten pergi naik kuda.
Sternau menduga bahwa ia hendak pergi ke hutan untuk
meletakkan surat di bawah batu. Maka ia pun menyuruh
siapkan kudanya. Kapten menempuh arah utara, maka
Sternau menempuh arah Selatan. Keduanya berusaha
mengelabui mata lawannya, karena batu yang mereka tuju
itu terletak di sebelah barat.
Setelah Sternau merasa aman dari intaian orang, maka
ia melarikan kudanya cepat-cepat ke arah barat.
Maksudnya supaya lebih dahulu sampai di tempat itu
daripada Kapten yang mungkin juga mempunyai kawankawan
di daerah itu. Maka ia harus berhati-hati sekali. Ia
menjauhi lapangan terbuka dan selalu mencari
perlindungan. Akhirnya ia turun dari kudanya, lalu
menambatkannya pada sebatang pohon. Ia melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki. Setibanya dekat
tujuannya ia merebahkan diri lalu merangkak di atas
tanah mendekati tujuannya. Akhirnya ia melihat batu yang
besar itu. Ia mendekati dengan jalan memutar. Ia menoleh
ke kiri kanan untuk melihat apakah ada orang yang
memata-matainya lalu ia mencari tempat persembunyian.
Sepuluh langkah jauhnya dari batu itu tumbuh
sebatang pohon aras yang tidak terlalu tinggi. Dahan dan
cabangnya berdaun lebat dan agak rendah tumbuhnya
sehingga mudah dicapai orang.
Sternau naik ke atas dahan dan berhasil
menyembunyikan dirinya dengan sempurna. Baru saja ia
duduk ia mendengar derap kaki kuda. Bunyi itu
menghilang dalam pohon-pohonan. Seorang laki-laki
melompat turun dari kudanya lalu bergegas ke arah batu,
mengangkatnya dan meletakkan sehelai kertas yang
berlipat dua ke bawahnya. Ia meletakkan batu itu kembali
di tempatnya yang semula lalu menaiki kudanya dan pergi.
Dalam waktu sedetik Sternau keluar dari pohon tempat ia
bersembunyi, mengambil suratnya, membukanya dan
membacanya: Malam
ini pukul dua belas dekat ladrillos. Kehadiranmu
diharapkan. Esok hari tujuan kita sudah tercapai.
Surat itu tidak ditandatangani. Sternau mengembalikan
surat itu ke bawah batu. Kemudian ia menghapus segala
jejak lalu kembali ke kudanya. Ia melarikan kudanya ke
hacienda. Sekembalinya, Kapten masih belum tiba.
Beberapa waktu kemudian Verdoja baru tiba. Ia tidak
menyadari bahwa rahasianya sudah diketahui orang.
Mungkin ia tidak menyadari pula bahwa Sternau telah
pergi meninggalkan hacienda.
Para penjahat hendak bertemu di ladrillos. Kata ladrillos
itu dalam Bahasa Spanyol berarti batu bata. Penduduk
Amerika Tengah pada masa pra sejarah mendirikan
piramida-piramida dengan bahan batu bata yang
dikeringkan di panas matahari. Mereka menamai batu
demikian “adobes”, namun dalam Bahasa Spanyol disebut
“ladrillos”. Hingga masa kini masih banyak ditemukan
reruntuhan kota-kota adobes seperti itu dan seni bangun
bangsa purba itu menimbulkan rasa kagum bagi orangorang
yang melihatnya. Di sana-sini dapat ditemukan,
dalam hutan rimba, di tengah padang rumput luas atau di
antara onggokan batu karang, dinding-dinding ladrillos
yang runtuh atau setengah runtuh. Hal itu menandakan
bahwa daerah-daerah terpencil itu pada zamannya dihuni
orang.
Di sekitar hacienda del Erina terdapat juga reruntuhan
gedung semacam itu. Reruntuhan ini letaknya di tanah
pegunungan kira-kira setengah jam perjalanan dari rumah.
Bekas gedung itu penuh ditumbuhi semak belukar, benalu
dan tumbuhan berduri sehingga tidak dapat dicapai orang.
Namun di hadapan dinding muka gedung yang sudah
runtuh itu terdapat sebuah lubang bundar. Mungkin di
zaman purba di situ terdapat sebuah tambang. Lubang
yang sekitarnya ditumbuhi semak belukar itu dapat
dimasuki orang. Sternau menduga bahwa pertemuan itu
akan diadakan di situ. Ia tidak membicarakan dengan
siapa pun apa yang telah diketahuinya dan ia melewatkan
waktu siangnya yang tersisa di kamar si sakit. Panah
Halilintar merasa gembira dapat bertemu kembali dengan
abangnya. Karena ingatannya sudah pulih kembali, ia
dapat berceritera tentang petualangannya di gua raja-raja
dengan harta karunnya.2. (2 Baca buku Puri Rodriganda) Emma memamerkan sebagian
harta karun berupa ratna mutu manikam yang telah
dihadiahkan kepada Unger yang membuat pemburu
miskin itu tiba-tiba menjadi kaya raya.
Emma yang sangat berbahagia karena tunangannya
sudah sembuh kembali, menunjuk kepada Mualim Unger
lalu berkata, “Kau sebenarnya tidak memerlukan segala
harta itu, hacienda del Erina itu untuk kita. Bukankah kau
ingin membaginya dengan abangmu?”
Si sakit mengangguk sambil tertawa lalu menjawab,
“Bang, milikku adalah milikmu juga. Bukankah engkau
mempunyai seorang putra?”
“Benar, di rumah ada istriku dan putraku,” jawab
mualim.
Panjang lebar ia berceritera tentang keluarganya,
dibantu oleh Sternau. Si sakit mendengarkan dengan
penuh perhatian lalu berkata, “Anak itu sangat cerdas. Ia
harus mendapat didikan istimewa. Tuan tanah itu baik
sekali terhadap kalian, namun kalian tidak boleh tetap
bergantung padanya. Kau harus menerima pemberianku.
Aku adalah adikmu, paman putramu.”
Mualim yang berbudi itu tidak mau menerima
pemberian itu, namun orang-orang lainnya yang hadir
tidak setuju dengannya. Bahkan Pedro Arbellez bergabung
dengan mereka. Maka secara kelakar namun dapat juga
dianggap secara sungguh-sungguh, diambil keputusan
bahwa separuh dari harta Panah Halilintar akan
dihadiahkan kepada anak kecil bernama Kurt Unger di
Rheinswalden.
Menjelang malam si sakit merasa lelah lalu tidur lagi.
Emma tinggal menemaninya dan yang lain pergi makan.
Para perwira tidak hadir. Setelah mengalami peristiwa itu
mereka menganggap lebih bijaksana makan di dalam
kamar saja.
Setelah makan Sternau memberi tahu bahwa ia ingin
bekerja dalam kamarnya tanpa diganggu orang. Ia
menginginkan supaya ketidakhadirannya tidak
dipertanyakan orang. Pada saat tertentu ia memasukkan
senjata, tali dan kain ke dalam sakunya lalu menyelinap
pergi ke salah satu kamar yang tidak dihuni orang di
sebelah belakang rumah. Di dalam kamarnya sendiri
Sternau membiarkan lampunya menyala untuk
menimbulkan kesan bahwa ia ada di dalamnya. Ia
mengunci pintunya di sebelah dalam lalu membawa
kuncinya. Ia membuka jendelanya, memanjat ke luar lalu
menutupnya kembali. Kemudian ia menyelinap melalui
taman ke pagar. Ia mencapai padang terbuka tanpa dilihat
orang, berjalan mengitari hacienda lalu pergi ke ladrillos.
Hari sudah gelap, namun mata Sternau yang terlatih
mengenali daerah itu sangat baik sehingga ia tidak perlu
khawatir akan tersesat. Pengalamannya menjelajah hutan
rimba mengajarkan padanya bagaimana dapat bergerak
tanpa terdengar orang. Kinipun juga kehadirannya hanya
dapat diketahui orang bila orang itu kebetulan bertumbuk
padanya. Di sekitar ladrillos ia lebih berhati-hati lagi.
Separuh merangkak ia menempuh perjalanannya. Tibatiba
ia berjongkok sejenak untuk menghirup udara.
“Bau apa itu?” pikirnya. “Bau hangus serta bau daging
bakar. Astaga! Begitu bodoh mereka untuk menyalakan
api. Di mana api itu? Tentu bukan di atas tanah, bila
demikian tentu akan terlihat. Namun sudah pasti juga api
itu dekat. Bau daging bakar tidak dapat mencapai jarak
jauh. Coba lihat!”
Sternau merangkak ke arah bau itu. Sesaat kemudian
ia sampai pada lubang yang pernah dilihatnya itu. Lubang
itu bergaris tengah paling banyak tujuh meter serta
dalamnya tiga meter. Di sekitarnya tumbuh semak
belukar, yang digunakan Sternau sebagai tempat
persembunyian. Di bawahnya tampak olehnya seorang
laki-laki duduk dekat api unggun kecil, sedang membakar
seekor kelinci liar. Hari sudah mendekati tengah malam
dan Sternau sedang duduk dengan santai di tempat
persembunyiannya. Orang itu melahap daging itu, sesaat
saja semuanya sudah habis tandas. Di sampingnya
terletak sebatang senapan berlaras dua. Pada ikat
pinggangnya terselip sebilah pisau. Orang itu bertubuh
pendek serta kekar, namun Sternau dapat memastikan
dalam pikirannya bahwa tidaklah begitu sukar baginya
untuk menaklukkannya.
Ia menanti hingga mendengar perlahan-lahan bunyi
langkah kaki orang. Ia begitu bijaksana untuk
bersembunyi di tepi yang paling jauh letaknya dari
hacienda, maka ia tidak perlu khawatir akan dilihat orang.
Bunyi langkah kaki itu semakin dekat terdengar. Orang
Mexico itu pun mendengarnya, ia bangkit berdiri. Di
seberang tepi tempat Sternau berlindung, belukar perlahan
menyingkap lalu tubuh Kapten tampak samar-samar di
cahaya api unggun.
“Bodoh benar kau!” gerutu Verdoja.
“Mengapa?” tanya orang Mexico itu.
“Kau menyalakan api!”
“Jangan khawatir! Tidak ada orang yang dapat
melihatnya. Saya lapar maka saya membakar daging
kelinci.”
“Itu perbuatan yang sangat ceroboh. Baunya tercium
pada jarak satu kilometer!”
“Orang baru dapat menciumnya kalau ia berada di sini
juga. Mari turun ke bawah, Senor. Kita tak perlu takut!”
Kapten turun ke bawah, tetapi ia tidak mendekati orang
itu.
“Aku tidak dapat lama-lama di sini,” katanya. Di mana
pembantu-pembantumu?”
“Di sana di balik gunung-gunung, di dalam hutan.”
“Apakah mereka tahu di mana kau berada?”
“Tidak.”
“Bagus. Aku tak suka bekerja dengan terlalu banyak
orang. Dapatkah kamu melepaskan mereka?”
“Mungkin. Namun dapatkah saya seorang diri
melakukan pekerjaan itu?”
“Mudah-mudahan. Inilah upah yang sebenarnya harus
dibayarkan kepada seluruh kelompok. Pekerjaan yang
menanti harus sanggup kau kerjakan sendiri.”
“Dan apakah pekerjaan itu?”
“Aku lihat kau mempunyai senapan berlaras dua.
Pandaikah kau menembak?”
“Tak dapat disangsikan lagi!”
“Kau harus melepaskan dua tembakan yang tepat
mengenai sasaran.”
“O, saya mulai mengerti. Siapa yang harus menjadi
sasarannya?”
“Sternau dan orang Spanyol itu.”
“Baik. Mereka akan tertembak oleh peluruku. Namun di
mana dan bilamana?”
Kau tahu letak tambang kapur tua di balik
pegunungan?”
“Tahu benar. Itu tempat saya biasa berburu.”
“Esok pagi pukul lima aku akan berperang tanding di
situ.”
“Caramba!” Anda mungkin akan terbunuh!”
“Mungkin sekali kalau kau tidak menolong. Aku dan
Letnan Pardero telah menantang Sternau, dan Mariano
berlaku sebagai pendampingnya. Jadi Sternau harus
melawan dua orang, namun orang itu seperti setan saja.
Kita harus berhati-hati menghadapinya. Ia harus sudah
dibunuh sebelum perang tanding itu berlaku dan itu
adalah tugasmu.”
“Baik Senor! Jadi Mariano juga harus menerima peluru
dariku?”
“Benar.”
“Keinginan Anda akan terlaksana. Sternau telah
menembak mati kawan-kawanku, maka ia patut dikirim ke
neraka. Bagaimana siasat kita?”
“Sebelum pukul lima kau cari sebuah tempat
berlindung di sekitar daerah itu. Ada banyak pohon dan
semak-semak di situ.”
“Saya mengerti maksud Anda. Anda tidak tergesa-gesa
datang di situ. Orang Jerman dan orang Spanyol itu lebih
dahulu datangnya dan bila Anda datang bersama Letnan,
kedua orang itu sudah tergolek di atas tanah dengan
kepala pecah oleh peluru.”
“Bukan, bukan begitu. Aku harus hadir juga, aku harus
melihat orang yang terkutuk itu mati. Harus diusahakan
seolah-olah kejadian itu berlaku di atas panggung
sandiwara. Aku telah menantang Sternau berkelahi dengan
menggunakan senjata pedang. Letnan mendapat giliran
sesudah aku. Bila Sternau sudah siap menghadapi aku,
saat itu kau harus menembaknya. Peluru yang keduanya
harus kau tembakkan kepada Mariano.”
“Suatu rencana yang menarik. Dan bagaimana dengan
upahnya, Senor?”
“Akan kauperoleh esok hari, di tempat ini juga… pada
tengah malam.”
“Baik, saya setuju.”
“Bilamana kau telah mengunjungi batu itu?”
“Baru menjelang tengah malam.”
“Tempat itu aman. Kita tetap memakainya tanpa merasa
khawatir akan ditemukan orang. Kini kau tahu semuanya.
Mudah-mudahan aku dapat mempercayaimu. Selamat
malam!”
“Selamat malam Senor. Anda tak perlu khawatir.
Peluruku pasti akan mengenai sasaran.”
Kapten pergi. Orang Mexico itu masih mengunyahngunyah
tulang kelinci. Kemudian ia bangkit berdiri,
melemparkan senapannya ke tepi sumur lalu memanjat ke
atas. Sternau cepat-cepat merangkak keluar dari tempat
persembunyiannya lalu tanpa terdengar menyelinap ke
arah orang itu keluar dari pohon-pohonan. Orang Mexico
itu tidak menyadari berada dalam keadaan bahaya dan
menguakkan semak-semak di hadapannya. Baru saja
semak-semak itu bertaut kembali, maka bertindaklah
Sternau. Ia mencekik leher perampok itu sehingga orang
itu tidak dapat mengeluarkan suara. Begitu kuatnya
cekikan itu sehingga orang itu tiada sadarkan diri. Tangan
dan kakinya yang mula-mula menggelepar-gelepar menjadi
kaku lalu orang yang pingsan itu rebah ke atas tanah.
Sesaat kemudian tubuhnya diikat dengan kain-kainan
begitu kencangnya sehingga ia menyerupai sebuah
bungkusan barang. Sternau melemparkan orang itu ke
atas bahunya lalu kembali lagi ke hacienda. Suasana di
situ sunyi senyap, namun Sternau masih belum yakin
mengenai Kapten. Ia mungkin baru saja sampai dan masih
berada di luar kamarnya. Sternau masih menunggu satu
jam lagi sebelum ia mendekati pagar. Mula-mula ia
mengangkat beban hidupnya melampaui pagar, kemudian
ia sendiri melompat ke dalam taman. Kemudian ia
memasukkan tawanannya melalui jendela dan ia sendiri
pun masuk lalu menutup jendela kembali. Ia memastikan
dirinya bahwa semua orang sudah tidur. Kemudian ia
menggendong tawanannya ke dalam kamarnya sendiri.
Pintu lalu dikuncinya. Lampu masih menyala. Tidak ada
orang yang telah memasuki kamarnya. Setelah ia
membebaskan tawanannya dari belenggunya, ia melihat
tawanannya itu memandanginya dengan penuh keheranan.
“Kurasa kau kenal aku, bukan?” Tanya Sternau dengan
suara tertahan. “Memang, bukankah Kapten sendiri
mengatakan bahwa saya sudah kemasukan setan…
mungkin juga benar pendapatnya itu, karena kalau tidak
demikian, aku tidak dapat menangkapmu. Kau boleh tidur
di dalam kamar ini, itu lebih enak daripada di luar. Namun
akan kuperiksa lebih dahulu isi sakumu. Orang yang
begitu ceroboh, membakar daging kelinci di daerah yang
dapat dikunjungi oleh musuhnya, tentu akan menyimpan
juga surat yang dipungutnya dari bawah sebuah batu yang
merupakan tempat persembunyiannya.”
Sternau memeriksa isi saku orang itu dan benar
jugalah, dapat ditemukan dalam salah sebuah saku
sepucuk surat lusuh. Ia memasukkan surat itu kembali ke
dalam saku orang itu lalu berkata, “Kau masih boleh
memegangnya sampai esok pagi, sebelum waktu itu aku
tidak memerlukannya. Kini sebelum kau tidur,
pertimbangkanlah masak-masak, apakah nanti dalam
menjawab pertanyaan, kau akan berbohong atau lebih baik
berterus terang saja.”
Ia mengikat kembali tawanannya erat-erat,
menambatkannya pada kaki tempat tidurnya lalu pergi
tidur selama beberapa jam. Pada jam yang sudah
ditentukan ia dibangunkan oleh Mariano dengan mengetuk
pada pintunya. Ia minta Mariano menunggu di bawah lalu
ia bangun. Ia sekali-kali tidak berniat meninggalkan
pesannya yang terakhir secara lisan maupun tertulis. Ia
memeriksa tawanannya, apakah orang itu masih tetap
dalam keadaan terikat, mengunci pintu kamarnya, lalu
pergi dengan tenang membawa pistolnya, seakan ia hendak
pergi makan pagi saja. Mariano menanti di bawah. Mereka
pergi ke kandang kuda, menyiapkan kudanya lalu pergi.
Mariano memandang sejenak ke jendela Verdoja lalu
melihat dia berdiri.
“Kapten telah melihat kita pergi,” katanya.
Sternau tidak memandang ke atas Ia hanya bertanya,
“Dapatkah kau menerka apa yang sedang dipikirkannya?”
Kedua orang berkawan itu sudah beraku berengkau
sejak beberapa waktu.
“Tentu tahu,” jawab Mariano. “Ia sudah yakin akan
dapat membunuhmu. Bila salah seorang tidak berhasil,
yang lainnya pasti akan membunuhmu. Kudengar Letnan
itu seorang jurutembak. Kemarin aku mendengar
pembicaraan mereka. Mereka benar-benar memandang
enteng perkara itu. Mereka tidak merasa takut sedikit
pun.”
“Aku pun yakin bahwa mereka tidak merasa takut,
namun bukan karena sebab itu. Mereka mengira perang
tanding tidak akan berlangsung sama sekali.”
“Tidak akan berlangsung? Mengapa?”
“Karena kita, kau dan aku, sebelumnya sudah akan
menjadi mayat.”
“Aku tidak mengerti.”
“Maka dengarlah, akan kuceritakan.”
Sternau menceritakan kepada kawannya, bagaimana
dan di mana ia telah memata-matai Kapten lalu
mengetahui segala siasat jahatnya. Mariano terkejut
mendengar semuanya itu.
“Jadi pembunuh itu kini ada di dalam kamarmu?”
tanyanya cemas. “Bagaimana kalau ia dapat melepaskan
diri?”
“Begitu kuat belenggunya sehingga ia hampir-hampir
tidak dapat bernafas. Ia pun tidak dapat memanggil orang.
Bila sampai orang dapat mendengarnya mengerang, ia
tidak akan dibebaskan. Mereka tahu bahwa aku
mempunyai alasan untuk menahan seseorang.”
“Namun ia ada kawan-kawannya.”
“Mereka akan kita tangkap semuanya seusai perang
tanding. Para vaquero akan membantu kita.”
Tidak lama setelah mereka sampai di tambang kapur,
ketiga perwira pun tiba juga. Mereka bersalaman secara
dingin. Sternau dan Mariano diam-diam merasa puas
ketika melihat Kapten mengamati daerah sekitarnya.
Pandangannya berusaha menembusi kegelapan di antara
pohon-pohonan untuk menemukan kawan
persekongkolannya, namun sia-sia belaka.
Kedua orang pendamping itu sekali lagi membicarakan
persyaratannya. Pendamping lawan membawa sebilah
pedang untuk Sternau, karena dia sendiri tidak
mempunyai. Mula-mula diadakan usaha sesuai dengan
tata cara lazim untuk merujukkan kedua belah pihak,
namun ditolak mentah-mentah oleh Kapten dengan
congkaknya.
“Tak perlu diperbincangkan lagi!” katanya. “Lawanku
sendiri yang menentukan peraturannya bahwa perang
tanding itu sudah dianggap selesai bila salah seorang
karena terluka terpaksa melepaskan pedangnya dari
tangannya. Saya telah menerima persyaratan itu dan tetap
mau mempertahankannya.”
“Dan bagaimana dengan Anda, Senor Sternau?” tanya
pendamping itu.
“Saya pun tetap pada persyaratan itu,” jawab Sternau
dingin, “tentu saja karena sayalah penyusunnya.”
Setelah Sternau menerima pedangnya dan kedua pihak
sudah berhadap-hadapan maka dokter itu bertanya,
“Bolehkah saya mengemukakan sesuatu?”
“Silahkanlah!”
“Beginilah, orang yang berdiri di hadapanku itu sangat
mengharapkan mendengar tembakan dua kali dilepaskan
dari sebelah sana, dari suatu tempat yang tinggi ataupun
dari antara pohon-pohon. Tembakan pertama harus
mengenai diriku dan yang kedua diri pendampingku.
Pembunuhnya sudah dijanjikan bayaran yang akan
diterimanya tengah malam di ladrillos.”
Perwira pendamping mundur selangkah lalu berseru
dengan berang, “Kurang ajar benar. Perkataan Anda itu
merupakan penghinaan besar.”
“Namun berdasarkan kebenaran,” jawab Sternau dingin.
“Coba perhatikan kawan Anda, Kapten itu, baik-baik.
Mengapa kini wajahnya begitu pucat? Mengapa begitu
terkejut? Lihat, pedangnya gemetar dalam tangannya.
Bibirnya pun gemetar. Kasihan, ada apa sebenarnya
dengan dia?”
Pendamping itu memandang kepada atasannya lalu
berkata sambil ikut-ikutan menjadi pucat, “Astaga! Benar
juga, Anda gemetar, Kapten!”
“Ia berdusta,” kata Verdoja terputus-putus.
“Dengarlah. Suaranya pun gemetar,” kata Sternau.
“Tentu karena ketakutan. Mari, kita mulai saja dengan
permainannya!”
Kapten membesar-besarkan hatinya. “Baik, kita mulai
saja!” serunya, sambil serentak menyerang lawannya.
“Sabarlah dahulu!” perintah Sternau sambil memberi
pukulan keras pada tangan Verdoja sehingga pedangnya
terpental dari tangannya. “Para pendamping masih belum
berdiri di sebelah kiri kita dan kita masih menantikan abaaba.
Patuhilah segala peraturan, atau akan kulemparkan
pedang ini ke tempat yang tidak terjangkau lagi.”
Maka Verdoja memungut pedangnya lalu memasang
kuda-kuda. Aba-aba diberikan dan pertarungan dimulai.
Dengan keberanian yang luar biasa Kapten menyerbu
Sternau, namun lawannya itu tetap tenang, tidak berkisar
dari tempatnya. Setiap serangan ditangkisnya dengan
lincah, namun tiba-tiba matanya memercikkan api. Suatu
pukulan yang keras mengenai lengan Kapten. Secepat kilat
pedang itu diputar, ujungnya yang tajam melejit ke
pangkal pedang lawannya dan tepat mengenai serta
melukai tangan yang memegangnya. Dengan disertai oleh
jeritan kesakitan karena luka itu, pedang terjatuh ke atas
tanah.
“Aduh, tanganku! Celaka aku!” raung Verdoja. Ia
memasukkan tangannya yang terluka itu ke dalam
bajunya.
Dengan suara tenang Sternau berkata kepada para
pendamping, “Orang ini selama hidupnya tidak akan dapat
memegang-megang wanita lagi yang tidak menyukai
perbuatan biadab demikian.”
Kapten mengangkat tangannya yang penuh dengan
darah itu lalu berteriak, “Waspadalah kau, setan, perkara
ini masih ada ekornya!”
Pendampingnya dan Letnan Pardero menghampirinya.
Mereka menghiburnya dan berusaha menghentikan darah
mengalir dengan membalutnya. Verdoja membiarkan
kawan-kawannya mengerjakan hal itu sambil terusmenerus
mengumpat dan memaki lawannya. Sternau
sekali-kali tidak menghiraukan hal itu.
Kini tangan Kapten sudah selesai dibalut. “Bila kau
berhasil menembak mati bedebah itu, akan kuhapuskan
segala utangmu waktu berjudi denganku,” katanya dengan
nada kesal kepada Pardero.
Pardero hanya menjawab dengan mengangguk saja,
anggukan yang tidak mengandung makna. Wajahnya
sepucat wajah Kapten dan pandangan matanya mengikuti
gerak-gerik para pendamping yang sedang mengukur jarak
itu dengan penuh rasa kecemasan. Kedua pistol telah
diperiksa dengan cermat lalu diisi peluru. Pistol-pistol itu
harus diambil oleh kedua orang yang bertanding itu dari
dalam topi Mariano. Mereka berdiri berhadap-hadapan,
jarak di antara mereka hanya tiga langkah. Letnan dan
Mariano berdiri di sisi mereka.
Letnan mengangkat tangannya lalu menghitung, “Satu!”
Kedua orang yang bertanding mengangkat tangan
kanannya masing-masing, laras pistol mereka diarahkan
kepada dada lawannya.
“Dua!”
Tangan Pardero gemetar. Ia berusaha sekuat tenaga
untuk menguasai dirinya serta memusatkan
pandangannya pada sasaran tembakannya, yaitu jantung
Sternau. Dengan jarak tiga langkah, tembakannya tidak
mungkin meleset. Keyakinannya itu membuat harga
dirinya pulih kembali. Kedua laras pistolnya tetap dibidik
ke arah jantung lawannya. Sternau berdiri di hadapannya.
Senyum pada wajahnya menandakan kepercayaan pada
dirinya.
“Tiga!”
Aba-aba maut! Mata Sternau tetap mengamati mata
Pardero. Ketika aba-aba terakhir diberikan, maka Sternau
secepat kilat membidikkan pistolnya ke arah pistol
lawannya. Tembakan meletup dua kali. Tangan Pardero
terpental ke belakang bersama pistolnya. Tembakan
Sternau yang kedua meletup, sesaat kemudian diikuti oleh
tembakan lawannya, namun Pardero memekik serta
menurunkan pistolnya. Pada saat itu juga terdengar
Kapten
mengerang.
“Aduh tanganku!” seru Letnan Pardero.
“Aku tertembak,” teriak Verdoja.
“Tak mungkin!” seru pendampingnya sambil berlari ke
arahnya.
“Itu benar,” kata Sternau tenang. “Tangan Senor
Pardero sedikit kurang mantap. Peluru saya yang pertama
mengenai laras pistolnya dan membuat pelurunya melesat
ke samping. Peluru saya yang kedua menghancurkan
tangannya. Karena itu pelurunya yang kedua menempuh
jalan lengkung mengitari saya dan mengenai – sungguh
luar biasa – lengan kapten yang sudah terluka itu. Siapa
yang hendak berduel, harus sedikit mengetahui caracaranya
dan siapa yang mempunyai keberanian untuk
mengganggu wanita, harus juga berani menanggung segala
akibatnya. Saya sudah biasa memberi pelajaran kepada
orang-orang demikian dengan mencederakan tangan
kanannya. Selamat tinggal, Senores!”
Sternau menyisipkan kedua pistol yang sudah kosong
itu ke dalam ikat pinggangnya, menaiki kudanya lalu pergi.
Mariano mengikutinya. Ketiga orang perwira itu tetap
tinggal. Pardero dengan tangannya yang hancur dan
Verdoja yang telah menyuruh potong lengan bajunya
untuk membalut lukanya. Sumpah serapah mereka
mengiringi kedua orang yang pergi itu.
Sternau dan Mariano bergegas pergi ke ladrillos. Dari
situ mereka mengikuti jejak kepala perampok yang telah
ditawan oleh dokter, menuju ke tempat persembunyian
mereka. Di padang rumput mereka minta beberapa orang
vaquero ikut mereka. Jejak kaki yang masih segar itu
menuju ke sebuah jalan hutan di pegunungan. Mereka
berhasil menaklukkan para perampok tanpa memberi
kesempatan kepada mereka untuk mengadakan
perlawanan setelah terlebih dahulu pos jaga mereka
dikalahkan. Orang-orang itu diikat dan dibawa naik kuda
kembali ke hacienda. Kelima orang tawanan itu begitu
kencang diikatkan pada kudanya sehingga mereka hampir
tidak dapat bergerak. Di tengah jalan Sternau melepaskan
sumbat mulut mereka.
“Janganlah coba berteriak!” hardiknya, “kami tidak
segan-segan menembak kepalamu. Aku mau melepaskan
belenggu asal kalian berjalan di muka kami. Kita akan
pergi ke hacienda del Erina.”
Sternau melepaskan belenggu mereka supaya mereka
dapat memegang kendali kuda. Hanya kaki mereka masih
terikat.
Sternau melakukan itu bukan hanya atas dasar
perikemanusiaan, melainkan juga sebagai siasat. Para
vaquero disuruh kembali lagi menjaga ternak mereka.
Sternau bermaksud supaya pasukan bertombak yang
berkemah di sekeliling hacienda itu tidak mengetahui
bahwa ia membawa tawanan. Bila tidak demikian, kapten
mereka akan mengetahui terlalu dini hal itu. Bila ia
membiarkan para tawanan itu mengendarai kuda sendiri,
maka mereka akan dianggap sebagai penghuni hacienda.
Mereka berjalan terus. Seperti biasa pada hari-hari
belakangan ini pintu pagar sudah terbuka, maka mereka
masuk ke taman tanpa diketahui oleh para prajurit.
Arbellez yang berdiri dekat pintu masuk terheran-heran
melihat kawan-kawannya tiba dikawani oleh beberapa
orang dan membawa seekor kuda tanpa penunggang.
“Untunglah Anda sudah kembali lagi. Kami telah lama
mencari Anda. Anda membawa tamu?”
“Bukan tamu,” jawab Sternau. “Mereka tawanan.”
Pemilik hacienda tercengang-cengang mendengar
keterangan itu. “Tawanan? Tanyanya. “Mengapa sampai
membawa tawanan? Apa yang telah terjadi?”
“Itu segera akan kami ceritakan. Tetapi lebih dahulu
kami ingin mengasingkan tawanan kami di dalam ruang
bawah tanah. Dapatkah Anda menunjukkan kami tempat
itu? Ini perlu dirahasiakan terhadap para perwira pasukan
bertombak.”
Para tawanan kembali dibelenggu dan dimasukkan ke
dalam ruang bawah tanah yang tidak berjendela. Pintu
dikunci, sehingga para tawanan tidak mungkin dapat
melarikan diri. Kedua kawan akrab itu kemudian pergi ke
kamar makan untuk makan pagi. Di situ mereka
menjumpai Mualim, Karja dan Emma yang telah
meninggalkan sesaat tunangannya yang sudah mulai
sembuh dari sakitnya itu. Kedua orang yang baru datang
itu menceritakan pengalamannya yang terakhir. Pedro
Arbellez yang tidak mengetahui bahwa putrinya telah
diganggu orang ketika berada di atas atap, sangat terkejut
mendengarnya. Ketika diceritakan tentang perang tanding
itu, Emma menjadi pucat pasi. Mariano melukiskan
kesudahan cerita dan Sternau menerima segala pujian dari
para pendengar. Sayang rasa kagum itu sedikit bercampur
juga dengan rasa cemas mengingat kemungkinan akan
terjadinya pembalasan dari pihak pasukan bertombak.
Mereka akan membalas dendam terhadap hacienda beserta
para penghuninya. Sternau berusaha menenangkan hati
mereka. “Pasukan bertombak itu patuh di bawah perintah
Juarez yang tak dapat disangsikan lagi kelak akan menjadi
presiden,” katanya. “Juarez berkenan dengan Anda, Senor
Arbellez. Buktinya, ia telah mempercayakan hacienda
Vandaqua kepada Anda. Itu pun diketahui juga oleh para
perwira. Lagi pula kami mempunyai senjata ampuh
terhadap mereka, yaitu tawanan kita yang akan dapat kita
tanyai berbagai keterangan. Orang yang kemarin saya
asingkan dalam kamar saya yang terkunci itu tentu masih
ada di situ. Saya masih belum sempat menengoknya. Akan
saya bawa dia ke mari.”
Sternau pergi ke kamarnya dan menemukan tawanan
itu masih seperti ketika ia meninggalkannya. Mukanya
sedikit kebiru-biruan dan dari balik sumbat mulutnya
terdengar bunyi dengkur perlahan. Sternau melepas
sumbat itu lalu membuka ikatan pada kakinya. Hanya
tangannya yang masih terbelenggu.
“Bangkitlah!” perintah Sternau. “Aku ingin bicara
denganmu.”
Tawanan itu bangkit dengan susah payah. Anggota
badannya terasa kaku karena tali-tali yang telah
mengikatnya. Ia hampir-hampir tidak dapat bergerak.
Namun nafasnya sudah pulih kembali dan warna
tubuhnya sudah seperti sedia kala. Pandangan matanya
sudah tiada lagi hampa, namun kini berani menentang
mata Sternau.
“Atas dasar apa Anda berani menangkap saya?”
gerutunya. “Saya orang baik-baik!”
“Jangan banyak bicara!” jawab Sternau. “Kau sendiri
seharusnya sudah tahu mengapa kau sampai kutangkap.”
“Namun saya tidak bersalah. Saya ingin segera
dibebaskan serta mendapat ganti kerugian.”
“Permintaanmu tidak perlu mendapat perhatian. Lebih
penting bagimu untuk merenungkan nasibmu beberapa
saat yang akan datang. Tak ada gunanya bermain
sandiwara. Mari, ikut aku!”
Sternau memegang orang itu lalu mendorongnya
berjalan di mukanya. Orang Mexico itu berusaha
mengadakan perlawanan, namun tak berhasil karena
tubuhnya masih lemah serta kaku disebabkan oleh
belenggu yang menghambat jalan darah dalam tubuhnya.
Ketika mereka sampai di ruang makan dan perampok itu
melihat orang-orang yang hadir di situ, ia berkata,
“Mengapa aku dibawa ke mari?”
“Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku, hanya
itulah pekerjaanmu,” jawab Sternau sambil terus
mendorongnya. “Berdirilah di situ! Lihat pistolku sudah
siap di tanganku…aku tidak segan-segan menembakmu
bila berusaha melarikan diri.”
“Aku tak mau diperlakukan seperti itu!” gerutunya.
Sternau acuh tak acuh mengangkat bahunya lalu pergi
ke arah jendela. Di luar terdengar derap kaki kuda lalu ia
melihat seorang prajurit pasukan bertombak datang,
tubuhnya bersimbah peluh. Tentulah ia seorang utusan
yang membawa perintah.
Sternau sekali lagi menerangkan kepada tawanannya,
“Kau sedang kami periksa. Nasibmu tergantung pada
sikapmu. Kuharap, engkau tidak berbuat bodoh dan mau
menjawab segala pertanyaan dengan sejujurnya. Aku tahu,
kamu telah disuap untuk membunuh dua orang di antara
kami. Aku telah menangkap pembicaraan rahasia di dekat
pagar maupun di dekat reruntuhan itu. Aku pun
mengetahui tentang batu tempat menaruh surat rahasia
itu. Surat itu sudah kubaca isinya dan kini ada dalam
sakumu. Di “Ngarai Harimau Kumbang” kau telah
menghadang aku… semua sudah kuketahui. Kau adalah
seorang pembunuh. Tidaklah sukar bagiku untuk
mengusahakan supaya engkau digantung. Namun bila kau
mau bekerja sama, jiwamu masih dapat diselamatkan
juga.”
Perkataan yang tegas itu membuat tawanan itu berpikir
sejenak. Ia memahami bahwa segala rencana jahatnya itu
sudah diketahui orang. Sikap angkuhnya mulai
mengendur dari wajahnya.
Dengan wajah muram ia memandang ke bawah lalu
berkata, “Janganlah Anda berani mengapa-apakan saya.
Anda pasti akan menerima balasannya.”
“Dan siapakah orangnya yang akan membalas itu?”
Tanya Sternau.
“Kawan-kawanku.”
“Maksudmu tentu mereka yang menantikan
kedatanganmu, seperti yang telah kaukatakan kepada
Kapten. Tadi pagi kami sudah menangkap mereka
semuanya. Sebentar lagi kau dapat menyaksikan sendiri.”
Orang Mexico itu menjadi pucat. “Saya tak percaya,
Anda berdusta untuk menakut-nakuti saya.”
“Untuk kepentinganmu tak perlu aku berdusta. Mari,
lihatlah ke luar jendela! Kuda-kuda mereka masih ada di
taman termasuk kudamu juga.”
Orang itu melihat ke luar. Ia melihat kuda kawankawannya
serta kuda kepunyaannya sendiri lalu
menyadari bahwa Sternau tidak berdusta. Namun ia masih
berusaha untuk menakut-nakuti dengan mengatakan,
“Kapten pasti tidak tinggal diam. Ia akan membalas segala
perbuatan Anda.”
Sternau yang berdiri di samping orang itu di muka
jendela, melihat tiga orang penunggang kuda datang dari
arah barat menuju ke tempat perkemahan. Dengan serta
merta ia mengenali kedua penunggang kuda itu lalu
berkata kepada tawanannya, “Lihatlah siapa yang datang
itu. Mereka adalah Kapten yang dikawani oleh kedua orang
letnan. Bila mereka mendekat, kau akan segera melihat
bahwa tangan kanan Verdoja dan Letnan Pardero dibalut.
Tadi pagi aku berperang tanding melawan mereka dekat
tambang kapur dan kedua lawanku itu telah kuhancurkan
tangan kanannya. Maka dari pihak mereka tak dapat kau
harapkan bantuan.”
Tawanan itu untuk kedua kalinya mendapat kejutan. Ia
memandang-mandang ke luar untuk menentukan apakah
yang telah dikatakan oleh Sternau itu benar. Orang-orang
lainnya pun ingin melihat siapa-siapa yang datang itu.
Penunggang kuda itu memasuki pekarangan yang
dikelilingi oleh pagar. Mereka turun dari kudanya lalu pergi
ke kamarnya masing-masing.
“Nah, masihkah kamu mengharapkan bantuan dari
Kapten?” tanya Sternau. Perampok itu berdiam diri. Ia
segan benar menyerah.
“Jawab pertanyaanku menurut keadaan
sesungguhnya,” sambung Sternau. “Kau mau mengaku
telah disuap oleh Cortejo untuk menghadang aku dengan
kawan-kawanku?”
“Benar.”
“Setelah itu tidak berhasil, dan aku melukai sebagian
besar dari kawananmu, maka Kapten Verdoja menyuruh
sisa gerombolan itu membunuh kami?”
“Benar.”
“Kau mengaku telah menembak aku?”
“Bukan saya, melainkan dua orang kami yang telah
dilukai oleh Anda di ngarai.”
“Jangan mencari-cari alasan. Kau adalah pemimpin
mereka. Kau telah mempersiapkan segalanya dengan
Verdoja. Kemarin pada pertemuan yang terakhir ia
menyuruhmu menembak mati diriku dan Senor Mariano
pada kesempatan diadakan perang tanding pagi hari ini.”
“Benar,” jawab orang Mexico itu perlahan. Meskipun ia
menyadari bahwa berdusta tidak akan menolongnya,
namun ia menambahkan. “Tetapi sesungguhnya saya tidak
ada niat jahat dengan Anda, percayalah, Senor Sternau.
Saya tidak ingin menembak mati Anda.”
“O, begitu! Jadi apa yang sesungguhnya ingin kau
lakukan?”
“Sebenarnya saya ingin mendatangi Anda untuk
membentangkan kepada Anda siasat licik Kapten.”
“Omong kosong semuanya. Kini kau boleh bertemu
dengan kawan-kawanmu. Mariano, tolong ambil mereka.”
Mariano pergi, sesaat kemudian ia kembali lagi dengan
mereka. Mereka sangat terkejut ketika melihat pemimpin
mereka. Sternau tidak mendapat kesulitan sedikit pun
dalam mengorek pengakuan dari mereka. Mereka
mendengar bahwa pemimpin mereka sudah mengakui
semuanya sehingga mereka tidak menganggap perlu
menutup-nutupi perbuatannya dengan dusta.
“Kalian ini pembunuh. Itu tidak dapat disangkal,” kata
Sternau. Kalian patut digantung karena perbuatan itu,
namun bila kalian mau bekerja sama, maka aku masih
dapat mempertimbangkan hukumanmu.”
“Apa syarat-syaratnya?” tanya salah seorang.
“Kalian harus mau mengulangi lagi pengakuan kalian di
hadapan Kapten Verdoja bila hal itu kukehendaki. Tidak
ada keberatan?”
“Apakah syarat itu benar-benar perlu?”
“Perlu. Dan bila kalian enggan berbuat demikian, maka
tidak ada pilihan lain lagi bagiku. Kalian semuanya akan
segera digantung.”
“Kami tidak bersedia digantung hanya untuk
menjunjung kehormatan Kapten. Bila tidak ada
kemungkinan lain kami terpaksa memenuhi keinginan
Anda, menjawab pertanyaan Anda sesuai dengan
kebenaran.”
“Baik. Maka kalian boleh tetap hidup. Selanjutnya kita
akan melihat bagaimana perkembangannya. Kalian akan
diasingkan. Perbuatan demikian akan langsung dijatuhi
hukuman mati.”
Mereka diasingkan dalam ruang bawah tanah.

sumber: DISALIN OLEH
Pandu & Tiur Ridawaty
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s