Tikam Samurai (Bagian 54)

“Engkau tahu siapa yang telah memperkosa mu ?”

Mei-mei memejamkan mata. Seperti mengumpulkan ingatnnya.

“Saya tidak melihat wajah mereka koko. Di pondok itu terlalu gelap. Tapi saya mengetahui jumlah mereka. Dua belas. Mereka melaknati saya bergantian. Dan kalau tak salah, mereka memanggil komandan mereka dengan sebutan syo-i Atto … Koko .. aku ingin membahagiakan engkau. Sayang malam ini Tuhan memisahkan kita …”

“Jangan berkata begitu Moy-moy …”

“Dengarlah koko, jangan potong bicaraku. Aku tahu engkau hanya mengangap aku sebagai adikmu. Aku memang tak bisa berharap lebih dari itu bukan? Namun ketahuilah koko sayang, aku mencintaimu. Aku belum pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kerinduanku padamu, rasa sayangku padamu, rasa ingin selalu berada di dekatmu, rasa gelisah bila engkau tinggalkan meski sesaat, rasa gundah bila engkau murung, adalah rasa cintaku padamu. Aku tahu, perempuan seperti aku, yang telah dilumuri dosa dan noda yang takkan tercuci, tak layak mendapat apa apa darimu ..koko..”

“Mei-mei …”

“Dengarlah koko … satu satunya milikku yang paling berharga kini, adalah cintaku. Aku tak lagi punya kehormatan. Karena telah direngut dan dirobek robek oleh orang yang tak pernah kukenali. Namun cintaku tak pernah ada yang menyentuh. Dan kalau engkau tak merasa hina menerimanya, kuberikan cintaku itu padamu koko …”

“Mei-mei …” si Bungsu memanggil.

“Koko, aku mencintaimu. Aku belajar bertanak menggulai dan menjahit dari tek Ani adalah untukmu. Aku selalu mengimpikan betapa bahagianya bila engkau menikahiku. Aku menjadi istrimu, bertanak. Menjahitkan kemeja dan sarungmu yang koyak, mencucikan pakaian. Sesakit sesenang denganmu. Ah. Itulah satu satunya impianku yang paling indah. Engkau tak marah aku bermimpi seperti itu koko? … hanya mimpi. Dan malam ini mimpiku itu terbakar hangus, jadi abu …”

Si Bungsu merasa dadanya sesak. Seakan akan pecah menahan haru, dia peluk gadis itu erat erat. Kemudian berbisik diantara air matanya yang turun.

“Engkau tak bermimpi sayangku. Engkau tak bermimpi Itu akan jadi kenyataan. Percayalah. Aku juga mencintaimu. Mei-mei dengarilah, aku mencintaimu. Kau dengar ucapanku? Aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Mei-mei …” Mata gadis itu terpejam.

“Mei-mei ..” Si Bungsu memanggil. Memanggil di antara tangisnya. “Mei-mei kau dengar aku sayang ? Aku mencintaimu, kita akan segera menikah…”

Mei-mei membuka matanya. Perlahan sekali. Wajahnya bersemu merah. Dia seperti tersenyum. Bibirnya bergerak. Namun tak ada suara.

“Mei-mei … Mei-meiii..”

“Ko … koko. Benarkah itu.. ?”

“Tuhan jadi saksinya sayang. Tuhan saksinya. Tuhan yang aku sembah. Tuhan yang engkau sembah ..”

“Koko … ciumlah aku …”

Si Bungsu mendekatkan wajahnya ke wajah Mei-mei. Mata gadis itu terpejam. Bibirnya mengurak senyum. Namun kaki dan tangannya terasa dingin. Si Bungsu mencium kening gadis itu perlahan. Kemudian mengecup bibirnya perlahan. Nafas Mei-mei terasa panas. Dan manik manik air mata mengalir d ipipinya.

“Koko sayang …” desahnya amat pelan.

Mei-mei tidak menjawab. si Bungsu menguncang tubuhnya. Namun Mei-mei terlalu banyak mengeluarkan darah. Dia jatuh pingsan.

“Mei-mei …” si Bungsu memanggil.

Dia mendekatkan telinganya ke dada gadis itu. Pelan pelan terdengar degup jantungnya. Amat perlahan.

“Ya Tuhan, ya Tuhan. Selamatkan dia. Selamatkan dia. Tolonglah nyawanya ya Tuhan …” dia berdoa diantara matanya yang basah.

“Bungsu ..” tiba tiba ada suara memanggilnya.

Dia menoleh. Dibelakangnya berdiri tegak Datuk Penghulu. Datuk itu tegak terdiam menatap rumahnya yang rata dengan tanah. Yang sisi pekarangannya sedang dijilati api. Kenapa dia tiba tiba saja sampai ada di sini?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s