BAB V DI HADAPAN DEWAN KEHORMATAN

Ketiga perwira itu setelah ditinggalkan oleh Sternau dan
Mariano masih lama tinggal di medan pertempuran.
Tangan Pardero hancur, namun tidak mengeluarkan
banyak darah sehingga hanya membutuhkan kain
pembalut sederhana saja. Keadaan Kapten berbeda.
Tangan malang yang empat kali terkena itu, lukanya agak
dalam dan darah bercucuran keluar. Nampaknya sebuah
urat nadi terkena. Pendarahan di tempat itu jauh lebih
sukar menangkalnya. Sambil pekerjaan membalut itu
dilakukan, tidak banyak dikatakan oleh Kapten dan
perkataan yang sedikit itu penuh diliputi oleh rasa benci
dan dendam.
“Siapa dapat menyangka demikian!” kata Pardero
dengan geram.
“Mengapa kau begitu bodoh sampai dapat menembak
diriku!” hardik Verdoja.
“Sebenarnya tidaklah mengherankan bila saya kalah,
karena seperti Anda lihat sendiri, Sternau itu ahli pedang
maupun ahli tembak yang tak ada bandingnya.”
“Memang kau sendiri pun tak ada bandingnya di dunia
ini dalam kebodohan di bidang tembak-menembak.”
“Sebaiknya Anda jangan bertengkar!” demikian
pendampingnya memohon. Ia harus membalut luka kedua
orang itu tanpa ada orang yang dapat membantu.
“Ketangkasan Senor Sternau dalam menggunakan
senjata api maupun senjata tajam itu sangat
menakjubkan, namun yang lebih menarik perhatian ialah
perkataannya yang tegas itu.”
“Saya sependapat denganmu,” kata Pardero. “Ia
menuduh Anda, Kapten, telah menyewa seorang
pembunuh yang disuruh menembak mati Sternau beserta
pendampingnya.”
“Itu dusta besar,” geram Verdoja. Namun ia tidak dapat
mencegah, mukanya yang sedianya pucat itu berubah
menjadi merah karena rasa malu. Orang yang telah banyak
kehilangan darah seperti dia, bila sampai mukanya
menjadi merah, maka itulah tanda bahwa perkataan
Sternau itu tepat mengenai sasarannya. Pendamping itu
memandang kepada wajah Kapten dengan cara seolah
hendak menyelidikinya. Ia adalah orang yang menjunjung
tinggi kehormatannya dan maksud-maksud gelap dari
atasannya tidak diketahuinya. Sebenarnya ia merasa segan
untuk bertindak selaku pendampingnya, karena ia tahu
bahwa soal penghinaan seorang wanitalah yang menjadi
penyebab perang tanding itu. Ia merasa yakin bahwa
tuduhan yang dilancarkan oleh Sternau itu mempunyai
dasar yang kuat, maka ia bertanya, “Kalau begitu,
mengapa ia sampai berani melancarkan tuduhan
demikian?”
“Orang itu, sudah kukatakan, penuh dengan akal
busuk,” jawab Kapten.
“Saya rasa Anda salah, Senor,” kata pendamping itu.
“Sepanjang pengamatan saya, Senor Sternau itu
bukanlah orangnya yang suka berbuat curang.”
“Orang itu pandai benar bermain sandiwara. Bila kita
kurang waspada, kita akan ditipunya.”
“Itupun tidak masuk di akal. Orang yang dikenal
dengan nama Matava-se itu bukanlah seorang penipu.”
Dengan menghentak-hentakkan kaki karena
amarahnya, Verdoja berseru, “Diam! Apakah Anda
barangkali bermaksud mengatakan bahwa Anda
mempercayai ucapan orang itu?”
“Ia telah menuduh Anda terang-terangan dan Anda
belum menyangkal,” jawab Letnan hati-hati. “Saya belum
berani mengemukakan suatu pendapat sebelum saya
mendapat kepastian tentang persoalannya.”
“Memang, itu harus menjadi pedoman Anda.”
Perwira muda yang hingga kini sedang sibuk dengan
kain pembalut yang dipegang dalam tangannya itu
memandang ke atas serta mengerutkan keningnya lalu
bertanya, “Apakah ucapan Anda itu harus saya anggap
sebagai ancaman, Kapten?”
“Begitulah,” jawab Kapten dengan marah.
Pada saat itu Letnan melepaskan tangan Kapten lalu
mundur selangkah.
“Perlakuan demikian tidak akan saya terima begitu
saja,” kata Letnan. “Meskipun Anda dalam ketentaraan
adalah atasan saya, namun dalam perkara kehormatan,
kita setingkat. Sikap Anda terhadap saya agak ganjil.
Segera setelah saya tiba di rumah akan saya kunjungi
Senor Sternau. Ia telah meunuduh Anda berusaha
membunuhnya dengan cara yang curang. Bila tuduhan itu
tidak benar, maka ia segera harus menarik kembali
perkataannya serta meminta maaf. Tetapi bila tuduhan itu
benar, maka saya minta dilepas dari dinas ketentaraan.”
“Saya melarng Anda berbicara dengan orang itu!” hardik
Kapten.
“Anda hanya dapat memerintah saya dalam dinas
ketentaraan, di luarnya Anda tidak berhak. Kini Anda
sudah memahami pendirian saya. Bila tangan Anda masih
perlu dibalut juga, maka saya harap Anda tidak
menyinggung-nyinggung perkara ini lagi.”
Verdoja terpaksa tutup mulut dan tetap berdiri dengan
tangan direntangkan ke atas. Amarahnya yang tidak dapat
dikuasainya, tidaklah berakibat menenangkan jalan
darahnya, sehingga membuat pekerjaan membalutnya
bertambah lama. Sedang Letnan membalut tangan
atasannya, maka Verdoja dan Pardero saling bertukar
isyarat dengan pandangan matanya: mereka bertekad akan
tetap bersekutu dalam menghadapi lawannya. Akhirnya
mereka menaiki kudanya dan kembali ke hacienda.
Di antara prajurit pasukan bertombak ada seorang yang
pernah ingin menjadi dokter, tetapi karena perilakunya
yang kurang baik ia telah ditolak. Ia menjadi dokter
pasukan ini. Seharusnya ia hadir pada perang tanding itu.
Namun Sternau telah menganggap kedatangan seorang
dokter tiadalah perlu. Kapten pun merasa begitu yakin
bahwa siasat liciknya akan membuahkan kemenangan,
maka ia pun tidak menganggap perlu akan kehadiran
seorang dokter. Sesampai mereka di hacienda, mereka
langsung pergi ke dokter itu untuk memperoleh bantuan
medis seperlunya.
Dari dokter itu mereka mendengar juga bahwa seorang
utusan telah tiba yang membawa perintah dari Juarez
untuk segera berangkat dan pergi ke Monclova. Di kota itu
rakyat sedang berontak melawan pemerintah. Kapten
menyuruh utusan itu menghadap dia lalu membaca surat
Juarez yang memerintahkan supaya segera datang untuk
membantu rakyat Monclova.
“Sudah bolehkah saya mengendarai kuda?” tanyanya
kepada dokter.
“Boleh,” jawab dokter. “Mengendarai kuda tidak akan
memperburuk keadaan tangan Anda. Hanya yang saya
takuti adalah datangnya demam karena luka itu, namun
ramuan yang saya pakai untuk mengobati luka itu, saya
rasa, akan cukup menolong.”
“Dan bagaimana dengan Letnan Pardero?”
“Lukanya lebih terasa sakit daripada luka Anda, namun
tidak lebih berbahaya. Ia pun boleh berkendaraan kuda.
Namun Anda berdua ini tidak dapat memakai pedang
sebagai senjata lagi, itu tentu sudah Anda maklumi.”
“Namun masih dapat juga saya memegang pedang di
tangan kiri. Esok pagi kami akan berangkat.”
Sedang dokter sibuk merawat luka orang itu, Letnan
melaksanakan niatnya pergi ke Sternau. Sternau
menyadari bahwa ia berurusan dengan orang yang
menjunjung tinggi kehormatan, maka ia untuk sementara
masih belum mau memberi keterangan.
“Maaf Senor, akan tetapi keterangan Anda itu sangat
perlu bagi saya,” kata Letnan. “Baru saja datang seorang
utusan dari Juarez, yang mengharuskan kami pergi ke
Monclova. Bila tuduhan Anda terhadap Kapten bahwa ia
berusaha sendiri atau menyuruh orang lain melakukan
pembunuhan secara curang terhadap Anda itu benar,
maka saya tidak sudi lagi tetap mengabdi sebagai
bawahannya, lalu saya pun bermaksud memaksanya
untuk meletakkan jabatan. Itu pun berlaku terhadap
Pardero. Saya sudah dapat mencium permainan kotor
mereka bersama.”
“Namun mengapa Anda mau menjadi pendamping
mereka?”
“Siapa lagi yang dapat melaksanakan tugas itu selain
saya? Lagipula saya baru mengetahui lebih banyak tentang
perkara itu, ketika saya tiba di medan pertemuan. Jadi
tentu Anda sudah memahami, betapa pentingnya
keterangan Anda itu bagi saya.”
“Tidak lama lagi Anda akan dapat memperoleh
keterangan demikian. Verdoja menyadari bahwa usaha
pembunuhannya itu gagal. Saya kira, ia akan segera pergi
untuk mengambil tindakan terhadap orang yang mendapat
tugas membunuh itu. Maksud saya untuk mematamatainya.
Anda boleh ikut saya, maka Anda dapat
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, apakah tuduhan
saya beralasan atau tidak. Bersiap-siaplah untuk segera
berangkat, tetapi jagalah kerahasiaannya.”
Letnan sementara harus merasa puas dengan
pemberitahuan itu lalu ia pergi. Dugaan Sternau ternyata
benar. Baru saja dokter tentara itu pergi, maka Verdoja
pergi pula naik kuda meninggalkan hacienda. Namun ia
tidak seorang diri. Ia menyuruh Letnan Pardero
mengikutinya, karena ia ingin mengadakan pembicaraan
dengannya.
Pardero ialah seorang yang asli berdarah Mexico:
berdarah panas serta dalam hidupnya mengutamakan
pelampiasan hawa nafsu yang rendah. Ia tergolong orang
yang miskin, namun ia tidak mau tetap tinggal miskin.
Harta dan kekayaan dipandangnya sebagai jalan satusatunya
untuk memperoleh sukses. Dan untuk mencapai
kekayaan itu ia rela berbuat apa pun. Sayang sekali bahwa
kesempatan hingga kini belum terbuka baginya untuk
mencapai kemajuan. Hingga kini usahanya itu hanya
membuahkan utang yang berlimpah-limpah. Penagih
utangnya yang utama ialah Kapten Verdoja yang ternyata
lebih unggul dari padanya dalam permainan judi. Verdoja
cukup pandai untuk menarik keuntungan dalam perkara
itu. Ia sangat membutuhkan seorang rekan yang
bergantung kepadanya dan Pardero adalah orang
demikian. Maka dengan maksud itulah ia meminta
bantuan dari letnan muda yang dapat dipakainya sebagai
kuda penarik keretanya itu.
Verdoja tidaklah tahu bahwa para pembantunya
semuanya telah tertawan. Ia tidak dapat mengerti,
bagaimana Sternau sampai dapat membongkar
komplotannya itu. Kini ia sekali lagi bermaksud hendak
meletakkan sepucuk surat di bawah batu, berisikan
sebuah perintah kepada si pembunuh untuk hadir di
tempat itu menjelang tengah malam. Ia tidak langsung
pergi ke tempat batu itu. Ia tahu bahwa Sternau mematamatainya
lalu menempuh jalan memutar yang lebih jauh
dari pada kemarin.
“Mengapa baru esok hari kita pergi ke Monclova?” tanya
Pardero di tengah perjalanan. “Bukankah kita
diperintahkan segera pergi?”
“Kita masih harus mengadakan perhitungan di sini,
Anda dan aku,” demikian keterangan Verdoja.
“Saya juga?” tanya Pardero terkejut.
“Memang begitu. Atau barangkali Anda ingin bermurah
hati terhadap Sternau yang telah menghancurkan tangan
Anda itu?”
“Sekali-kali tidak. Bedebah itu perlu mendapat
hukuman yang setimpal,” kata Letnan sambil
menggertakkan gigi.
“Setuju benar. Maka kita harus bersekutu dalam
pekerjaan ini, Letnan.” Verdoja mengulurkan tangan
kirinya ke arahnya.
“Saya pun setuju!” jawab Letnan seraya mengulurkan
tangan kirinya juga kepada Verdoja. “Namun bagaimana
caranya?”
“Serahkan saja kepadaku! Aku ada rencana yang akan
memberi keuntungan bagiku maupun bagi Anda.”
“Bolehkah saya tahu rencana apakah itu?”
“Yah… sebenarnya besar juga bahayanya, sedangkan
saya belum yakin Anda dapat memegang rahasia atau
tidak.”
“Anda tak usah khawatir. Saya berani bersumpah!”
“Baik, saya percaya Anda. Kini coba Anda terangkan,
bagaimana pendapat Anda berhubung dengan tuduhan
Sternau terhadapku.”
“Eh…!” gumam Pardero sambil meundukkan kepala dan
berpikir.
“Ya, katakan saja!”
“Bila Anda memaksa saya mengeluarkan pendapat,
maka terus terang harus saya katakan bahwa sikap Anda
dalam perkara ini tidak meyakinkan saya bahwa Anda
tidak bersalah.”
“Tepatlah demikian. Saya harus mengaku bahwa
tuduhan itu benar.”
Pengakuan yang dinyatakan tanpa rasa malu itu
membuat Pardero sedikit bingung. “Jadi benar juga!”
katanya terheran-heran.
“Ya, bila sekiranya rencana pembunuhan yang sudah
kupersiapkan dengan seksama itu berhasil, maka tangan
kita sekarang ini masih utuh dan Sternau beserta
pendampingnya yang terkutuk itu nyawanya sudah
melayang ke neraka. Suatu rahasia boleh saya sampaikan
kepada Anda. Sebenarnya saya ini telah mendapat
wewenang dari seorang tokoh dari kalangan teratas untuk
menyingkirkan Sternau dengan kawan-kawannya.”
Penjelasan demikian diberikannya sebagai siasat cerdik
untuk membuat Pardero rela memihak kepadanya.
“Benarkah demikian?” kata Pardero dengan penuh rasa
hormat. “Bolehkah saya juga mengetahui siapa yang
member Anda wewenang itu?”
“Sekarang masih belum waktunya mengungkapkan hal
itu. Sternau itu bukanlah lawan yang enteng. Bila sampai
ia dapat disingkirkan, maka hal itu akan membawa akibat
besar pada perencanaan di kalangan atas dan orang-orang
yang melaksanakan pekerjaan itu ataupun mereka yang
membantunya, berjasa sekali sehingga patut mendapat
anugerah berlimpah-limpah serta akan mendapat jaminan
kesejahteraan selama hidupnya.”
Janji-janji muluk demikian sengaja ditiup-tiup oleh
Kapten. Dengan menyatakan dirinya bertindak atas
kehendak seorang tokoh pembesar, maka ia layak
dipandang sebagai seorang utusan yang tidak dapat
dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Dan
dengan menjanjikan anugerah serta jaminan kesejahteraan
seumur hidup ia memastikan diri akan bantuan dari pihak
Pardero, karena Letnan itu sedikit pun tidak menduga
bahwa Verdoja berdusta.
“Apakah menurut pendapat Anda saya pun akan dapat
menerima anugerah itu bila saya mau membantu?” tanya
Pardero.
“Sudah pasti. Bahkan anugerah ganda, seperti juga
yang menjadi bagian bagi saya. Mula-mula kita akan
mendapat kenaikan pangkat atau imbalan berupa
sejumlah uang yang sangat besar. Kemudian kita
mendapat kepuasan juga karena kita dapat membuktikan
bahwa kita mempunyai kesanggupan untuk membalas
dendam. Jadi Anda mau membantu?”
“Pasti, Kapten! Dengan segala suka hati saya akan
membantu Anda. Katakan saja, apa yang harus saya
lakukan!”
“Hingga kini aku sendiri masih belum mengetahuinya.
Mula-mula saya ingin memastikan, mengapa pembantuku
hari ini tidak datang.”
“Apakah kita kini akan bertemu dengannya?”
“Tidak. Kini ia menerima pesan bahwa saya ingin bicara
dengannya malam ini. Maka akan saya dengar, apa yang
menghalanginya datang, sehingga saya tahu apa yang
harus saya kerjakan. Itu pun sebabnya, mengapa saya
tidak pergi hari ini, melainkan esok hari ke Monclova.”
“Tetapi mengapa Sternau sampai berhasil mengetahui
rencana Anda? Mungkinkah pembantu Anda itu
berkhianat?”
“Tidak mungkin. Orang itu dapat dipercaya. Saya rasa,
Sternau telah berhasil menangkap pembicaraan kami. Ia
kebetulan hadir di tempat itu ketika kami mengadakan
pembicaraan. Maka saya kini mencari tempat pertemuan
lain. Marilah!”
Pardero sementara harus merasa puas dengan
keterangan yang agak samar ini lalu mengikuti Kapten
yang memacu kudanya.
Segera setelah kedua perwira itu meninggalkan
hacienda, maka Sternau dan Letnan menaiki kudanya.
Mereka menempuh jalan seperti kemarin untuk sampai
pada batu tempat persembunyian surat itu. Letnan
memanjat pohon sider dan Sternau bersembunyi di balik
pohon-pohonan yang cukup memberi perlindungan
padanya. Mereka menanti beberapa waktu lamanya,
kemudian mereka mendengar bunyi derap kaki kuda. Para
penunggangnya berhenti dekat semak belukar, turun dari
kudanya dan berjalan ke arah batu. Mereka adalah Verdoja
dan Pardero. Kapten mengangkat batu itu lalu meletakkan
sepucuk surat di bawahnya. Beberapa saat lamanya
mereka bersikap waspada terhadap tiap bunyi yang
mencurigakan, lalu pergi menaiki kudanya. Kedua orang
yang memata-matai mereka kini keluar dari tempat
persembunyiannya dan Sternau mengambil surat itu dari
bawah batu.
“Pardero juga turut, jadi ia pun terlibat dalam perkara
ini. Bolehkah saya membaca surat itu, Senor?”
Sternau yang telah selesai membaca surat itu
menyerahkan kepadanya sehelai kertas berisi tulisan:
Janganlah pergi jauh-jauh dari sini. Menjelang tengah
malam kita harus bertemu. Kau harus
mempertanggungjawabkan perbuatanmu.
Tulisannya hampir-hampir tiada terbaca, karena
Verdoja terpaksa harus menulis dengan tangan kiri. Sekali
ini pun surat itu tidak ditandatangani. Letnan bertanya,
“Apakah surat ini ditujukan kepada orang yang mendapat
tugas membunuh Anda serta Senor Mariano?”
“Benar.”
“Apakah ia akan mendapat surat ini?”
“Tidak.”
“Jadi Anda tidak menaruh kembali surat itu di bawah
batu? Saya kira, ada baiknya bila hal itu dikerjakan,
supaya kita mendapat kesempatan turut mendengarkan
percakapan mereka tengah malam.”
“Itu tidak mungkin, karena orang itu tidak mungkin
datang. Saya telah menangkapnya. Kini ia berada di
hacienda sebagai seorang tawanan. Mari kita kembali ke
kuda kita! Anda telah menyaksikan dengan mata kepala
sendiri tindak-tanduk para pembunuh. Pada perjalanan
pulang akan saya ceritkan semuanya.”
Cerita yang didengarnya itu membuat Letnan merasa
jijik.
“Apa yang hendak Anda lakukan kini?” tanyanya
kepada Sternau.
“Saya akan membuka kedok Kapten bersama
pembantunya,” jawabnya.
“Setuju. Bolehkah saya ikut serta?”
“Tentu boleh. Bahkan maksud saya meminta Anda
bertindak sebagai saksi.”
“Dan apakah kehendak Anda dengan para tawanan
itu?”
“Saya telah berjanji membiarkan mereka hidup, bila
mereka mau mengakui terus terang segala perbuatannya
di hadapan Kapten. Saya wajib menepati janji saya.”
“Apakah keputusan demikian tidak salah? Para
penjahat sepantasnya dijatuhi hukuman gantung. Bila
mereka dilepaskan begitu saja, maka keselamatan Anda
tetap akan terancam.”
“Itu saya pahami, namun saya belum pernah
mengingkari janji dan kali ini pun saya akan menepatinya.
Siapa tahu, sikap lunak saya dapat menimbulkan rasa
terima kasih pada mereka.”
“Saya rasa tidak. Orang-orang seperti mereka tidak
menghargai kelunakan; kemurahan hati di mata mereka
merupakan kelemahan.”
Mereka tiba di hacienda jauh lebih kemudian daripada
Verdoja dan Pardero. Kapten yang hadir di tengah-tengah
para prajurit melihat mereka datang. Ia mengerutkan
keningnya. Letnan bersama-sama dengan Sternau, itu
sangat mencurigakan. Dengan wajah berang ia
menghampiri mereka lalu bertanya, “Anda dari mana?”
“Saya telah mengadakan perjalanan naik kuda,” jawab
Letnan.
“Apakah Anda sudah mendapat izin dari saya?” tanya
Verdoja dengan geram.
“Memang harus ada izin?” tanya perwira itu tajam.
“Saya rasa, harus ada. Kita tidak berada dalam tangsi,
melainkan dalam perjalanan.”
“Sependapat saya, kita tidak dalam perjalanan,
melainkan dalam tangsi.”
“Jangan mengemukakan berbagai dalih! Pendek kata,
Anda harus minta izin lebih dahulu kepada saya sebelum
Anda pergi.”
Perwira muda itu merah padam wajahnya karena
marahnya. Hal ini dapat dimengerti karena pertentangan
pendapat ini disaksikan pula oleh segenap prajurit yang
mengelilinginya.
“Saya baru minta izin,” bentaknya, “Kalau saya hendak
bepergian atau pergi pada waktu dinas. Kini saya hanya
pergi berjalan-jalan, sama halnya seperti Anda dengan
Letnan Pardero.”
Verdoja berdiri lurus di hadapannya lalu berkata
dengan nada mengancam, “Tahukah Anda, Senor, bahwa
perbuatan berani menentang perintah atasan itu akan
membawa akibatnya?”
“Tentu sudah saya ketahui peraturan itu, Senor. Namun
ini bukanlah merupakan perkara menentang perintah
atasan, melainkan hanya sekedar perbedaan pendapat
yang dapat diselesaikan secara damai. Anda tentu maklum
juga bahwa seorang perwira tidak selayaknya menerima
teguran di hadapan serombongan bawahannya.”
Dengan mata berapi-api karena marahnya, Kapten
menghampirinya serta memerintah, “Serahkan pedang
Anda kepadaku, Letnan! Cepat!”
Meskipun perwira itu masih sangat muda, namun ia
tidak berjiwa pengecut. Dengan sikap tenang ia menjawab,
“Pedang saya? Masa! Maaf, tak dapat saya serahkan!”
“Anda sedang bicara dengan atasan Anda.”
“Maaf, Anda bukanlah atasan saya lagi! Anda seorang
durjana. Pedang saya yang mulia itu janganlah sampai
tersentuh oleh tangan kotor Anda.”
Ia telah berbicara dengan suara yang cukup kuat dan
didengar oleh banyak prajurit. Prajurit bangsa Amerika
berbeda sifatnya dengan prajurit bangsa Eropa. Ketika
para prajurit pasukan bertombak mendengar kata-kata
penghinaan itu, mereka mengerumuni para perwira.
Pardero pun hadir juga. Sternau tetap berdiri mendampingi
pahlawan muda yang gagah berani itu, di tengah-tengah
kerumunan orang. Kata-kata penghinaan yang baru
diucapkan oleh letnan itu begitu mengena, sehingga
Verdoja menjadi bingung sejenak dibuatnya, namun
kemudian ia menyerbu kepada Letnan serta berseru
dengan suara gemetar karena amarah. “Tarik perkataan itu
kembali!”
“Apa, menarik kembali perkataan saya? Tidak! Saya
tetap pada pendirian saya semula.” Jawab Letnan tanpa
menjadi gentar.
Kapten hendak menyerangnya, tetapi pada saat itu juga
Sternau memacu kudanya lalu melintas di muka Kapten
sambil memukulkan tinjunya keras-keras kepada Kapten
sehingga ia jatuh tersungkur.
“Kurang ajar benar, berani melakukan perbuatan
seperti itu!” seru Pardero.
“Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab Sternau.
“Hanya mengotori tangan saya sedikit.”
“Ya,” kata Letnan muda itu kepada kawannya, “Kau
sama juga, sama-sama jahanam terkutuk.”
Pardero menjadi pucat pasi karena terkejut dan
takutnya.
“Sudah gila, Kau!” serunya.
“Tidak, jiwaku masih sehat, sebaliknya jiwamulah yang
harus diragukan kesehatannya.”
“Kau sedang bicara dengan atasanmu. Usiamu lebih
muda dari usiaku.”
“Kau bukan atasanku lagi. Aku tidak mau bekerja di
bawah perintahmu. Pilih salah satu, aku akan pergi atau
kalian berdua!”
“Kau mungkin melupakan bahwa kau tidak dapat
berhenti semaumu saja,” kata Pardero sambil tertawa
mengejek. “Mula-mula akan kutangkap kamu berdasarkan
perlawanan terhadap perintah atasan, Senor Sternau pun
akan kutangkap berdasarkan perbuatannya
mendatangkan cedera pada tubuh kami.”
“Alangkah congkaknya perkataanmu itu,” kata Sternau.
“Silahkanlah, bila kamu mempunyai selera menangkapku.
Akan kusambut kedatanganmu.”
Pardero begitu bodoh, berdiri terlalu dekat dengan
Sternau. Maka Sternau memegang leher bajunya,
mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi lalu
menghempaskannya kuat-kuat ke atas tanah sehingga ia
rebah tiada sadarkan diri.
Pasukan bertombak kini tidak dapat tinggal diam saja.
Salah seorang prajurit yang lebih tua usianya maju ke
depan lalu bertanya, “Senor Letnan, kami merasa heran
akan segala kejadian ini. Harap Anda mau memberi
penjelasan sedikit.”
Letnan muda itu mengangguk ramah lalu menjawab,
“Randoso, coba tolong katakan, siapakah yang paling
Kausukai di antara para perwira. Katakanlah saja terus
terang, jangan takut-takut.”
“Yah…tentu Anda sendiri sudah mengetahui jawabnya,
Anda sendirilah orangnya. Bila tidak demikian, maka kami
tidak tinggal diam saja, ketika Anda mengeluarkan
tuduhan berat itu terhadap Senor Verdoja dan Senor
Pardero, apa lagi ketika mereka mendapat penghinaan juga
dari seorang preman.”
“Maka perhatikanlah apa yang kukatakan ini, Randoso,
kedua perwira itu sebenarnya orang jahat. Mereka
bersekongkol dengan rombongan perampok serta
pembunuh untuk membunuh orang baik-baik dan untuk
mengganggu wanita baik-baik. Tadi pagi telah berlangsung
perang tanding. Pada ketika itu tangan kanan mereka
mendapat cedera: itu tentu suatu amanat Tuhan. Aku
bersama Senor Sternau telah memata-matai perbuatan
mereka dalam hutan. Percayalah, mereka bukanlah orang
baik-baik. Mereka tidak layak memegang pimpinan dalam
pasukan kita. Aku tidak rela tetap mengabdi di bawah
perintah mereka!”
“Astaga, Senor, saya pun tidak rela!” seru prajurit tua
itu.
“Janganlah bertindak tergesa-gesa, Randoso. Kamu
sudah lama dalam dinas, sudah banyak pengalaman. Kau
dapat membedakan yang baik dengan yang buruk.
Sebaiknya kita menyelidiki lebih dahulu persoalannya.
Kemudian dapat kita pastikan, siapa yang harus
mengundurkan diri, mereka atau aku.”
“Saya setuju, Senor Letnan,” kata prajurit itu. Ia
memperbaiki letak kumisnya lalu menyambung, “Bila Anda
mengundurkan diri, maka saya pun akan mengikuti jejak
Anda. Dengan demikian seluruh laskar akan menjadi ceraiberai.
Namun bila kedua mereka yang dibenci oleh
bawahannya itu dipecat, maka kami akan mengangkat
Anda menjadi Kapten.”
“Dan kau akan menjadi Letnan kesatu, yang lainnya
pun akan mendapat kenaikan pangkat semuanya.”
“Haruskah kita membuka sidang pengadilan militer?”
“Tidak perlu. Pelanggaran mereka bukanlah di bidang
kemiliteran. Pengadilan kehormatan lebih tepat di sini.”
“Baik kita melucuti senjata mereka.”
“Tentu saja.”
“Haruskah mereka kita belenggu?”
“Tak usah. Mereka sementara ini harus ditempatkan
dalam sebuah kamar di hacienda dengan mendapat
penjagaan. Sidang pengadilan kehormatan akan diadakan
di lapangan terbuka, sehingga seluruh laskar dapat
menyaksikannya. Mereka masih dalam keadaan tidak
sadar. Suruh mengasingkan mereka serta menjaganya,
maka Kau dapat menyaksikan sidang permulaan
pengadilan.”
Untunglah bahwa letnan muda itu mendapat dukungan
kuat dari bawahannya. Kalau tidak, maka peristiwa itu
dapat juga berakhir dengan cara yang sangat berbeda.
Sternau bersama Letnan tetap hadir di tengah-tengah
laskar yang liar itu. Atas anjurannya kedua perwira yang
masih belum sadar itu dikunci dalam sebuah kamar dan
mendapat penjagaan ketat. Kedua orang itu kemudian naik
ke atas untuk menceriterakan pengalamannya. Mariano
berkeinginan supaya sidang pengadilan kehormatan itu
disaksikan juga oleh segenap penghuni hacienda dan
kedua tawanan itu harus dibawa dengan pengawalan dua
orang vaquero yang bertubuh tegap. Kedua usul itu
disetujui lalu dapat dimulai mengadakan persiapan sidang.
Sedang di luar, para prajurit pasukan bertombak
berkelompok-kelompok memperbincangkan peristiwa yang
luar biasa itu, prajurit tua masuk ke dalam rumah untuk
bersama Letnan diantarkan ke tempat para tawanan.
Mereka ingin mendengarkan pengakuan para tawanan itu.
Kini semua persiapan sudah dikerjakan sebagaimana
mestinya. Di taman disediakan kursi dan bangku sebagai
tempat duduk bagi orang-orang yang ada sangkut pautnya
dengan peristiwa itu. Letnan duduk di belakang sebuah
meja, di sebelahnya duduk prajurit tua diapit oleh perwira
bawahan. Mereka merupakan para hakim. Di sisi meja
duduk Sternau dan Mariano. Mereka hadir sebagai para
penuntut. Di seberang mereka duduk Unger, pemilik
hacienda dan kedua wanita sebagai saksi. Tidak jauh dari
meja berdiri sekelompok prajurit pasukan bertombak serta
serombongan vaquero dan cibolero yang merupakan
pendengarnya.
Verdoja dan Pardero dibawa ke depan. Semangat
mereka ada dalam keadaan yang seburuk-buruknya.
Penghinaan sedemikian besarnya belum pernah terlintas
dalam angan mereka. Mulut mereka berbusa karena
menahan amarah. Bila sekiranya mereka masih dapat
menggunakan tangan kanannya, maka keempat vaquero
itu tidak akan mudah menguasainya.
“Apa maksud segala keramaian ini?” seru Verdoja ketika
melihat orang-orang itu. “Mau apa kamu di sini?”
hardiknya kepada para prajuritnya. “Enyah kau, babi!”
“Tenang saja, Senor Verdoja!” perintah Letnan sebagai
ketua. “Anda dihadapkan dalam sidang ini sebagai
terdakwa dan sikap Anda akan menentukan cara kami
memperlakukan Anda.”
“Sebagai terdakwa!” seru Verdoja. “Dan siapa yang
mengadukan saya?”
“Itu akan segera Anda dengar.”
“Dan siapakah akan menghakimi saya?”
“Mereka yang hadir di sini.”
Verdoja tertawa mengejek. “Sudah gila kamu sekalian.
Masa seorang perwira atasan dapat diadili oleh prajuritnya
sendiri! Terlalu benar! Ayo, pergi semuanya. Kalau tidak,
akan saya suruh tembak mati kalian!”
Ia mengepalkan tinju tangan kirinya lalu pergi
menghampiri prajurit tua, tetapi vaquero menahannya.
“Saya menyarankan untuk membelenggu kedua
tawanan bila mereka tidak dapat menjaga ketenangan
mereka,” kata Sternau.
“Setuju!” kata Letnan.
“Coba, kalau berani!” teriak Kapten. “Akan saya
hancurleburkan seluruh hacienda.”
“Kalian membawa tali” tanya ketua kepada para
vaquero. Orang-orang itu mengeluarkan tali dari kantong
mereka.
“Anda lihat, Senores, kami tidak main-main,” kata
Letnan. “Atau Anda menyerah, atau kami harus
menggunakan paksaan terhadap Anda.”
“Mengapa harus menyerah?” seru Verdoja. “Apa
kesalahan saya? Apakah boleh seorang atasan diadili
dalam suatu sidang pengadilan militer? Sayalah yang
sebenarnya berhak untuk mengadukan kalian!”
“Anda salah. Ini bukanlah pengadilan militer, melainkan
pengadilan kehormatan. Akan diambil keputusan, apakah
pantas orang baik-baik tetap mengabdi di bawah perintah
Anda.”
Verdoja hendak mencaci-maki lagi, tetapi Pardero
berusaha menenangkannya dengan mengatakan, “Anda
sebaiknya bersikap lebih tenang. Kita tidak dapat
mencapai sesuatu dengan jalan kekerasan.”
Kapten menahan diri lalu berkata, “Kalau begitu,
silahkan Anda mulai saja dengan permainan gila ini. Saya
sudah siap menghadapinya.”
Suasana sudah tenang kembali dan ketua berkata,
“Senor Sternau dipersilakan mengemukakan
pendapatnya.”
Sternau bangkit berdiri. “Atas nama kedua wanita yang
hadir di sini, saya mengadukan orang-orang ini atas
perbuatannya yang lalim serta mencemarkan nama kedua
wanita yang tidak berdaya ini. Selanjutnya saya
mengadukan mereka atas usahanya melakukan
pembunuhan terhadap diri saya, Senor Mariano dan Senor
Unger.”
“Anda mempunyai bukti-bukti yang menguatkan
tuduhan Anda itu?”
“Ya.”
Letnan bertanya kepada terdakwa, “Apakah pembelaan
Anda terhadap tuduhan itu?”
“Begitu nyata kebohongannya sehingga saya tidak
merasa perlu menjawabnya,” kata Verdoja. Pardero
menyepakati ucapan tadi.
“Terima kasih,” kata Letnan. “Bila Anda tidak
mengajukan keberatan, maka hal itu sangat
mempermudah perkara ini. Tuduhan pertama, karena
tidak disangkal berarti diakui kebenarannya. Kini kita
beralih pada tuduhan kedua: di sini perlu kita lebih
berpanjang lebar. Karena para terdakwa tidak mau
menjawab, maka saya mempersilakan Senor Sternau
menyampaikan keterangannya.”
Sternau memaparkan panjang lebar tuduhannya dan
menjaga supaya pihak lawannya tidak mengetahui bahwa
ia mempunyai saksi-saksi. Ia memulai keterangannya
dengan melukiskan saat ketika Kepala Banteng
memperingatkan mereka terhadap bahaya penghadangan
oleh musuh. Kemudian tentang perjalanan ke “Ngarai
Harimau Kumbang” ditemani oleh Verdoja dan Letnan.
Pada perjalanan itu mulai timbul curiganya. Ia
menceritakan juga bahwa Kapten suka bepergian di waktu
malam untuk mempersiapkan usahanya yang jahat itu.
Selesai keterangan itu diucapkan, Verdoja ganti
berbicara meskipun sebelumnya ia mengatakan tidak akan
mengutarakan sesuatu.
“Masya Allah! Saya ini seakan-akan terdampar dalam
rumah gila saja,” demikian ia memulai pembelaannya.
“Perkataan yang tadi diucapkan itu hanya persangkaan
belaka, tidak berakar pada bukti-bukti dan kini
berdasarkan persangkaan demikian dua orang perwira
terhormat dari pasukan bertombak yang termashyur itu
dihadapkan ke muka pengadilan kehormatan. Itu
merupakan suatu skandal besar. Namun, tunggu saja,
seusai sidang ini orang itu tidak akan dapat lepas dari
ganjarannya.”
“Anda tidak dapat menakut-nakuti saya,” jawab
Sternau, “Karena saya dapat mengajukan bukti-bukti kuat.
Ketika kedua senores itu pergi, saya merasa curiga lalu
saya pun bersama Letnan pergi mengikuti jejak mereka.
Verdoja mempunyai tempat pertemuan rahasia dalam
hutan. Di situ terdapat sebuah batu. Di bawah batu itu
disembunyikan sepucuk surat yang berisi perintah seperti
berikut: Jangan pergi jauh dari sini! Kau harus
mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Saya kira
Verdoja tidak dapat menyangkal ini.”
Ketika Sternau menyinggung-nyinggung tentang batu
itu lalu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya
dan membacanya di muka sidang, maka para terdakwa
sangat terkejut dan menjadi pucat pasi. Mereka diam
seribu bahasa ketika semua mata memandang kepada
mereka.
Sternau melanjutkan, “Saya menyatakan, telah
memata-matai pertemuan gelap mereka. Saya telah
mendengar percakapan mereka dan mengambil tindakan
seperlunya. Kini saya mempunyai saksi-saksi yng dapat
memberi kesaksian tentang kebenaran keterangan saya.”
Ia memberi isyarat tertentu dan semua tawanan
dihadapkan ke muka sidang. Demi Verdoja melihat
tawanan itu ia sangat terkejut. Kini mereka dilepaskan dari
belenggunya. Meskipun mereka dengan malu-malu
memberikan keterangannya, namun keterangan itu begitu
jelas dan masuk di akal sehingga tidak ada seorang pun
yang meragukan kebenarannya. Tulisan tangan di kedua
surat itu dikenali sebagai tangan Verdoja, sehingga ia tidak
dapat menyangkalnya. Namun kedua terdakwa itu
bersikap membandel dan tidak mau mengakui
perbuatannya.
“Para terdakwa sudah terbukti bersalah,” kata ketua.
Sesuai dengan hukum kenegaraan maka Verdoja harus
dijatuhi hukuman mati. Berapa jauhnya Pardero terlibat
dalam perkara ini, tidak perlu kita selidiki. Kita hanya
membentuk sebuah pengadilan kehormatan. Kita tidak
perlu menghukum mereka. Kita hanya ingin memastikan,
apakah kita akan tetap mengabdi bersama mereka atau
tidak. Mengenai diri saya sendiri, saya sudah pasti tidak
mau dan keputusan ini berlaku mulai sekarang juga.”
“Saya tidak dapat menerima pengunduran diri itu!” seru
Verdoja.
“Anda tidak dapat melarang saya maupun kawan-kawan
saya dan saya yakin bahwa masih banyak orang akan
mengikuti jejak saya.”
“Baik. Kita tunggu saja, siapa yang berani mati seperti
itu!” kata Verdoja mengancam.
Prajurit Randoso bangkit berdiri. “Saya pun tidak suka
mengabdi di bawah perintah jahanam itu,” katanya, “dan
saya harap kawan-kawanku juga sependapat dengan
saya.”
Verdoja berteriak-teriak untuk menakut-nakuti mereka,
namun suara mereka yang tidak setuju lebih keras lagi.
Mereka menyatakan kehendaknya untuk melepaskan diri
dari Verdoja dan Pardero lalu mengangkat Letnan menjadi
Kapten.
Setelah ketenteraman pulih kembali, kata Letnan, “Saya
akan memegang pimpinan dalam pasukan ini dan akan
membentuk staf perwira dan perwira bawahan yang baru.
Saya akan menyusun sebuah laporan untuk Juarez. Beliau
akan memutuskan peraturan darurat ini akan dikukuhkan
atau tidak. Saya anggap pengadilan kehormatan kita ini
telah berhasil. Perencana pembunuhan beserta kawankawannya
akan kita serahkan kepada mereka yang
menjadi tujuan perbuatan jahat itu. Mereka kita tinggalkan
di sini bersama harta benda mereka. Kita akan berangkat
seperempat jam kemudian ke Monclova.”
Perintah ini diterima oleh pasukan dengan sorak-sorai
gembira. Para tawanan dikembalikan lagi ke tempat
tahanannya semula dalam ruang bawah tanah lalu Letnan
bersiap-siap menulis laporan yang segera harus dikirimkan
ke Juarez. Kemudian ia berpamitan dengan segenap
penghuni hacienda lalu berangkat sebagai pimpinan
pasukan.
Setelah Verdoja bersama Pardero dikurung lagi,
marahnya bukan buatan. Panas hatinya makin menjadijadi
karena penghinaan besar yang diterimanya. Hatinya
menjerit untuk mengadakan pembalasan. Akan tetapi ia
menahan diri dan berusaha supaya Pardero tidak
mengetahuinya. Letnan sedang melihat ke luar jendela.
“Saya lihat dua orang vaquero bersenjata lengkap
sedang menjaga di luar,” katanya. “Tentu mereka takut
bahwa kita akan melarikan diri. Bagaimana rencana Anda
sekarang, Senor Verdoja?”
“Apa maksud Anda?” tanya Kapten yang baru dipecat
itu, pura-pura tenang.
“Bukankah kita ini harus menerima penghinaan besar?
Kini Anda seakan mau menelannya begitu saja. Saya mulai
meragukan janji-janji Anda yang telah Anda ucapkan di
masa lampau. Bukankah Anda menjanjikan tentang
perlindungan dari kalangan atas, tentang rasa terima
kasihnya seumur hidup…?”
“Sungguh tak terduga olehku bahwa semangat Anda
begitu lemah, Pardero. Bukankah sudah nyata bahwa
pengalaman kita ini hanya bersifat sementara saja? Namun
apa yang harus kita lepaskan pada hari ini akan kita
peroleh kembali berlipat ganda. Maka janganlah menjadi
putus asa semudah itu. Benarlah bahwa saya mendapat
tugas mulia dari kalangan atas untuk menyingkirkan
beberapa orang dan saya yakin, kita masih akan berhasil,
meskipun karena itu kita harus mengalami perlakukan
sepahit ini. Penghargaan atas jasa kita justru akan naik
setinggi-tingginya.”
“Enak saja Anda bicara. Mana mungkin kita dapat
membunuh orang bila kita sedang meringkuk sebagai
tawanan mereka? Justru merekalah yang leluasa
membunuh kita bila mereka kehendaki.”
Sebenarnya Verdoja pun dihinggapi oleh rasa khawatir
demikian, tetapi ia tidak memperlihatkan perasaan itu. Ia
berusaha sekuat tenaga untuk menenteramkan hati
Pardero dan akhirnya ia berhasil juga. Ia yakin bahwa dari
pihak Juarez ia tidak dapat mengharapkan apa-apa lagi
dan dari pihak lawannya pun ia tetap akan dicurigai. Ia
berkehendak keluar saja dari dinas militer dan selanjutnya
mengabdikan hidupnya kepada dua hal saja, yaitu kesatu
untuk memperoleh tanah yang dijanjikan oleh Cortejo dan
kedua untuk memiliki Emma. Dengan memiliki gadis yang
cantik itu ia merasa mendapat cukup imbalan bagi
penghinaan yang telah dideritanya. Namun dalam hal ini ia
memerlukan seorang pembantu…pembantu yang selalu
setia dan bekerja dengan penuh pengabdian. Parderolah
orangnya yang memenuhi syarat demikian. Ia harus
mengambil hatinya, maka ia berkata, “Sebenarnya justru
saya merasa beruntung dengan keadaan sekarang ini.
Dinas militer itu merupakan hambatan benar bagi tugas
yang harus saya lakukan itu. Kini dengan dibebaskannya
saya dari ikatan itu saya lebih leluasa dalam gerak-gerik
saya. Dalam pada itu berapakah besar jumlah utang Anda
pada saya, Pardero?”
“Eh… saya kira beberapa ribu uang piaster perak.”
“Anda harus juga mengakui bahwa Anda tidak sanggup
membayar kembali jumlah yang sebesar itu. Namun bila
Anda mau membantu saya, maka saya rela mengoyak
semua kwitansi utang Anda. Di samping itu Anda masih
akan dapat dinaikkan pangkat serta mendapat upah yang
berlimpah-limpah! Lagi pula janganlah dilupakan masih
menanti pula hadiah yang menimbulkan selera: Karja,
gadis Indian yang maha cantik itu!”
“Astaga! Jadilah! Segala yang Anda inginkan akan saya
kerjakan!”
“Anda tidak usah terlalu takut. Percayalah, mereka
tidak akan membunuh kita. Kita akan segera dilepaskan
dan…sesudah itu menanti giliran kita.”
Verdoja tersenyum, senyum keiblisan. Sebelumnya ia
sudah dapat merasakan nikmat dari pembalasan
dendamnya. Pardero menambahkan, “Arang yang tercoreng
di muka kita ini menuntut pembalasan yang setimpal.
Sudahkah ada rencana yang Anda pikirkan?”
“Mudah saja. Kita akan memperlakukan mereka seperti
juga mereka memperlakukan kita. Saya akan menawan
mereka dan membawa mereka ke sebuah tempat istimewa.
Di situ mereka sungguh akan menikmati masa
tawanannya. Dekat hacienda milikku terdapat sebuah
piramida, suatu bangunan dari zaman purba yang pada
masanya digunakan oleh bangsa Mexico sebagai kuil
tempat mereka melakukan ibadat. Piramida itu bagian
dalamnya penuh dengan lorong-lorong dan gua-gua. Hanya
saya mengetahui jalannya di situ. Rahasia itu merupakan
milik turun-temurun dari nenek moyang. Dalam gua-gua
itu para tawanan akan menemui ajalnya secara
mengerikan. Kedua senorita Emma dan Karja akan saya
bawa juga ke situ.”
“Mungkinkah Anda memperoleh ilham yang
secemerlang itu dengan bantuan iblis?” kata Pardero
sambil tersenyum sinis. “Namun saya tak peduli, karena
iblis dalam hal ini menyenangkan juga.”
“Benarlah, kita harus bekerja secerdik iblis. Itu bukan
hanya karena keinginan saya membalas dendam, tetapi
juga berdasarkan perhitungan yang cermat. Seperti Anda
ketahui, saya telah dijanjikan upah yang berlimpah
besarnya bila dapat menyingkirkan ketiga orang itu.
Namun apakah sudah pasti benar bahwa mereka akan
menepati janji? Meskipun hingga kini masih belum ada
tanda-tanda yang membuat saya perlu meragukan itikad
baik mereka, namun pada masa keruh seperti sekarang ini
kita lebih baik bersikap hati-hati. Seandainya, setelah saya
menunaikan tugas saya dengan baik, ketiga orang itu
sudah terbunuh, tetapi atasan saya itu enggan memberi
hadiah yang sudah dijanjikan itu, maka saya masih ada
sebuah senjata yang ampuh untuk memaksakan kehendak
saya, memperoleh juga hadiah itu. Mereka yang harus
dibunuh itu sebaiknya saya biarkan hidup. Bukankah
sudah kupersiapkan baik-baik rencana ini?”
“Benarlah. Anda itu sangat cerdas, berhati-hati serta
licin dan cerdik. Sifat-sifat itu mempertebal kepercayaan
saya kepada Anda. Mulai saat ini saya akan memberikan
tenaga saya sepenuhnya kepada Anda. Namun apakah kita
berdua ini sanggup membawa tiga orang laki-laki serta dua
orang wanita?”
“Itu tidak perlu Anda risaukan. Dalam negeri kita yang
tercinta ini dengan mudah kita dapat memperoleh bantuan
orang berapa banyaknya pun, asal mereka mendapat
bayaran.”
“Dan bagaimana bila mereka mengejar kita? Saya rasa,
tentu hal itu akan terjadi.”
“Itu tidak perlu kita takuti! Kita menempuh jalan
melalui gurun Mapimi dan di situ…tak ada orang yang
dapat mengejar kita, percayalah!”
“Melalui gurun Mapimi!” jawab Pardero sambil
menggigil. “Haruskah kita mencari kematian kita sendiri di
situ?”
“Keadaan di gurun itu tidak seburuk seperti yang
dibayangkan orang. Saya kenal baik daerah itu. Gurun itu
bukan hanya terdiri atas pasir dan batu-batuan yang
tandus, melainkan terdapat juga bagian-bagian yang
ditumbuhi pohon-pohonan dan mengandung air.”
Sementara kedua penjahat itu memperbincangkan
rencananya, maka di ruang makan diadakan pula
pembicaraan tentang mereka. Mariano mengusulkan
untuk menembak mati semuanya, tetapi yang lainnya
tidak setuju. Sungguhpun para penjahat itu telah
berusaha membunuh, namun rencana jahat itu tidak
sampai dilaksanakan. Lagi pula mereka mengetahui
dengan pasti bagaimana reaksi Juarez mengenai peristiwa
itu. Mereka menganggap lebih bijaksana bila mereka
melepaskan tawanan itu tanpa pertumpahan darah.
Cedera pada tangan kanan mereka sudah menjadi
hukuman yang cukup berat bagi mereka. Akhirnya diambil
keputusan untuk melepaskan para tawanan dua hari
kemudian tanpa mengembalikan senjatanya pada mereka.
Dengan demikian mereka tidak dapat mendahului utusan
yang dikirim hari itu.
Para penjahat yang membantu mereka dibebaskan juga
sesuai dengan janji Sternau. Mereka mendapat kembali
kuda, pisau serta tali laso mereka, namun senapan dan
pistol mereka ditahan. Mereka dilepaskan seorang demi
seorang dengan ancaman bahwa mereka akan langsung
ditembak mati bila mereka masih berani kembali ke
hacienda.
Dua hari kemudian Verdoja dan Pardero dikeluarkan
dari tempat tahanannya dan dibawa ke hadapan penghuni
hacienda. Sternau mengumumkan keputusan mereka
berhubung dengan nasib para tawanan itu. Sudah itu
tawanan itu pun pergilah. Mereka pergi tanpa berkata-kata
dan menempuh jalan menuju ke kota Saltillo di bagian
selatan propinsi Coahuila. Di situ mereka menukarkan
pakaian seragamnya dengan pakaian preman lalu
menghilang.

sumber: DISALIN OLEH
Pandu & Tiur Ridawaty
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s