BAB I DICULIK

Masa penuh ketegangan di hacienda del Erina itu
berganti dengan masa tenteram damai. Sternau belum
mau berangkat sebelum Anton Unger sembuh dengan
sempurna. Setiap perubahan yang tidak dapat
diperhitungkan lebih dahulu dapat membahayakan
kesehatannya, bahkan hidupnya.
Empat belas hari kemudian keadaan si sakit mencapai
kemajuan yang sangat pesat. Ia boleh meninggalkan
tempat tidurnya. Delapan hari kemudian ia boleh berjalanjalan
dalam taman. Minggu berikutnya ia sudah boleh
berjalan-jalan lebih jauh lagi.
Secara rohaniah ia sudah benar-benar sembuh. Sejak
ingatannya pulih kembali, ia hanya hidup untuk
memenuhi tuntutan: akan membalas dendam terhadap
Alfonso de Rodriganda. Mengingat tujuan itu ia tidak
membiarkan kawan-kawannya berangkat. Ia ingin
bergabung dengan mereka dalam perjalanan mereka untuk
membalas dendam. Itu baru dapat dilaksanakan bila ia
sudah dapat mengendarai kuda. Maka mereka terpaksa
menunggu. Hingga kini kepalanya masih berasa sakit
disebabkan oleh gerakan-gerakan kudanya, tetapi dengan
banyak latihan ia dapat membiasakan diri.
Beberapa pekan berlalu. Selama waktu itu Mariano
mengadakan hubungan surat-menyurat dengan
tunangannya. Dua kali ia telah menulis surat dan
menerima jawabannya pula. Tunangannya menasihatinya
untuk tetap berupaya di bawah pimpinan Sternau.
Selanjutnya ia menyatakan rasa cinta dan setianya.
Sternau telah meninggalkan pesan untuk istrinya di
Vera Cruz sebelum ia bertolak ke Mexico. Pesannya itu
supaya istrinya mengalamatkan suratnya kepada
kawannya Amy Dryden di Mexico. Dengan demikian surat
itu selalu akan sampai ke tangannya. Hari ini Mariano
menerima surat lagi dari tunangannya. Surat itu tebal;
ketika dibuka, ternyata terdapat juga surat untuk Sternau.
Surat itu dikirim dari Jerman, dari Rheinswalden. Di
antara lembar-lembar kertas yang penuh berisi tulisan itu
terdapat sebuah untuk Unger. Satu halaman berisi surat
dari istrinya dan yang satunya lagi dari anaknya Kurt.
Roseta mengkhabarkan bahwa mereka di rumah tidak
kekurangan suatupun lalu menyebutkan beberapa hal lain
lagi. Sternau membaca surat itu, melipatnya serta
memasukkannya ke dalam sakunya lalu pergi untuk
menangkap kuda yang paling liar. Ia melompat ke atas
punggung kuda, melarikannya kencang-kencang menuju
gurun rumput. Ia harus menyendiri seketika.
Anton Unger hingga kini menutupi luka pada kepalanya
dengan kulit yang telah dimasak sampai lunak. Akhirnya
kulit itu harus diganti dengan selembar pelat dari emas.
Setiap hari ia mengadakan perjalanan naik kuda bersama
Sternau. Tak lama kemudian tubuhnya makin bertambah
kuat. Ia sudah dapat menempuh jarak yang lebih jauh lagi
asal ada kuda yang agak jinak yang dapat dikendarainya.
Sternau menetapkan hari berangkat mereka; mereka
masih akan tinggal sepekan lagi di hacienda del Erina.
Pekan-pekan yang baru lalu itu merupakan masa yang
sangat bahagia bagi Emma dengan tunangannya, maka
keduanya itu selalu diliputi oleh rasa terima kasih kepada
Sternau, pelindung mereka.
Arbellez, yang diangkat oleh Juarez sebagai pengusaha
hacienda Vandaqua, kerap kali mengunjunginya. Pada
suatu hari ia harus pergi ke situ pula. Karena ia masih
mau mengecap bahagia bersama bakal menantunya itu,
maka ia mengajaknya pergi bersamanya. Hari sudah
menjelang senja, maka mereka berniat baru esok hari akan
kembali lagi.
Baru saja mereka meninggalkan hacienda, maka
Sternau melihat dari jendela seorang penunggang kuda di
kejauhan sedang menuju ke hacienda. Setelah orang itu
mendekat, tampak oleh Sternau bahwa ia adalah seorang
perwira dari pasukan bertombak. Sternau bergegas pergi
ke ruang makan untuk memberitahukan kedatangan itu
kepada penghuni hacienda.
Sesaat kemudian penunggang kuda itu memasuki pintu
gerbang. Ia diterima Emma selaku wakil tuan rumah.
“Apakah ini hacienda del Erina?” tanya orang itu
sesudah memberi salam.
“Benarlah,” jawab Emma.
“Apakah nama pemiliknya Pedro Arbellez?”
“Benar. Saya putrinya.”
“Bolehkah saya memperkenalkan diri, Senorita. Saya
seorang pesuruh Juarez, saya sedang menuju Monclova.
Kata Juarez, Senor Arbellez tentu akan memberi saya
tumpangan, bila saya tidak dapat mencapai tujuan saya
sebelum malam.”
“Tentu saja, Senor. Sungguhpun ayah saya tidak hadir,
baru seok hari ia akan kembali, namun Anda kami terima
dengan tangan terbuka. Berikan saja kuda Anda kepada
seorang vaquero lalu silakan ikut saya!”
Sikap perwira itu ketika mengikuti Emma, seperti
seorang ningrat. Gadis itu memperkenalkan orang itu
kepada penghuni rumah lalu mengajaknya turut makan
berama. Ia tidak turut bicara dengan yang lainnya dan
ketika Sternau menanyakan kepadanya, di mana Juarez
kini berada, orang itu menjawab dengan mengelak, “Alasan
diplomatik maupun militer melarang saya pada saat ini
menjawab pertanyaan semacam itu, Senor. Juarez tidak
suka tempat tinggalnya diketahui orang.”
Terheran-heran Sternau memandang kepadanya.
Setelah itu ia menjauhi orang tak dikenal itu.
Sesaat kemudian perwira itu mengatakan hendak pergi
tidur saja, karena esok pagi ia harus berangkat lagi.
Wanita tua Maria Hermoyez mengantarkannya ke sebuah
kamar. Namun ia tidak menanggalkan pakaiannya lalu
tidur melainkan langsung berbaring di atas tikar gantung
dan mengisap rokok, habis yang sebatang disambung
dengan sebatang lagi, dan seterusnya. Sambil merokok ia
memasang telinga, berusaha menangkap segala macam
suara yang didengarnya.
Setelah orang tak dikenal itu meninggalkan ruang
makan, percakapan dilanjutkan lagi. Kehadiran orang itu
tidak disukai orang. Pandangan matanya menusuk
menyakitkan, suaranya pun terdengar tajam dan kurang
sedap. Sternau lah yang paling banyak memikirkan
perilaku tamu itu. Ada sesuatu yang kurang berkenan
pada hatinya, tetapi apa tepatnya yang kurang itu, tidak
dapat dikatakan Sternau. Baju seragam orang itu tidak
sesuai benar dengan tubuhnya, seakan-akan barang
pinjaman saja. Hanya itulah kelainan yang tampak
padanya.
Setelah orang-orang berpisah untuk pergi tidur masingmasing,
maka Sternau masih tetap jaga dalam kamarnya,
berjalan hilir mudik sambil berpikir. Ada sesuatu yang
mengganggunya dan gangguan ini ada hubungannya
dengan kedatangan tamu perwira itu.
Benarkah ia seorang perwira? Verdoja dan Pardero telah
pergi dengan hati penuh dendam dan hacienda del Erina
sudah tidak memiliki pekerja vaquero lagi semenjak
Arbellez menjadi pemelihara hacienda Vandaqua. Sternau
memutuskan hendak bersikap waspada. Ia menyelinap ke
lorong serta berdiri di muka pintu kamar orang tak dikenal
itu untuk mendengarkan, apakah ada sesuatu yang
mencurigakan. Tiada terdengar bunyi-bunyi yang
mencurigakan; tentu orang itu sudah tidur. Kemudian
Sternau bergegas menyelinap menuruni tangga menuju ke
taman untuk menyelidiki keadaan.
Dari arah Saltillo menjelang matahari terbenam datang
segerombolan penunggang kuda bersenjata. Jumlahnya
dua belas orang dan mereka dipimpin oleh… Verdoja dan
Pardero. Orang-orang itu melarikan kudanya ke hacienda
del Erina. Ketika hari menjadi gelap mereka berhenti di
hutan di tempat batu yang digunakan Verdoja sebagai
kantor pos itu. Mereka menambatkan kudanya pada
batang pohon, tersembunyi di tengah daun-daunan lebat.
Dua orang tinggal di situ bertugas sebagai penjaga.
Delapan orang lainnya mengikuti pimpinannya berjalan
kaki ke hacienda.
Verdoja berbisik-bisik kepada Pardero.
“Untunglah pakaian seragam kita masih ada di kota,”
kata Kapten. “Maka Enrico dapat memasuki hacienda
dengan menyamar untuk bertindak sebagai mata-mata
kita.”
“Mudah-mudahan hal itu tidak diketahui oleh mereka!”
jawab Pardero.
“Itu tidak perlu kita cemaskan. Enrico terlalu cerdik, tak
pernah berlaku ceroboh. Saya yakin ia dapat mengelabui
mata mereka.”
Malam itu gelap bulan. Orang-orang menyelinap
mengelilingi hacienda. Tengah malam mereka tiba di
bagian belakang rumah.
“Di atas adalah tempat para tamu. Ia tentunya ada di
situ,” bisik Pardero. “Ia akan segera memberi tanda.
Perlukah kita memanjat pagar?”
“Baik. Lalu kita bersembunyi di tempat yang gelap.”
Orang lainnya tinggal di luar dan harus menanti sambil
menunduk. Kedua pemimpin menyelinap ke tempat yang
terlindung. Baru saja mereka tiba di tempatnya itu, mereka
mendengar pasir di jalan dalam taman berderit. Sternau
melewati jalan itu.
“Menunduklah… dalam-dalam! Ada orang datang!” bisik
Verdoja.
Sternau berjalan perlahan-lahan tanpa terdengar orang.
Di sudut rumah ia berhenti, meneliti sejenak lalu berjalan
lagi.
“Dialah orangnya,” bisik Pardero. “Apa sekarang?”
“Serang saja! Akan kupukul dia dengan hulu senapan.
Kita beruntung, kita dapat menyerangnya dari belakang,
kalau di dalam rumah harus dari depan.”
“Bagaimana bila orang merasa kehilangan akan dia?”
“Tak mungkin. Setiap orang sedang tidur. Ia pergi atas
kemauan sendiri, untuk menyelidik. Berhati-hatilah!”
Verdoja memegang senapannya yang berlaras dua itu
lalu menyelinap mengikuti Sternau : Jalan pasir itu banyak
ditumbuhi rumput sehingga langkah kakinya tidak
berbunyi. Setiba dekat Sternau ia menunduk sambil
mereka-reka jarak dalam cahaya bintang yang agak redup.
Kemudian melompat ke depan.
Pendengaran Sternau cukup tajam … Bunyi lemah di
belakangnya membuat ia menoleh ke belakang. Namun
terlambat! Pada saat itu juga hulu senapan yang berat itu
menimpa kepalanya sehingga ia rebah tanpa mengeluarkan
suara.
“Pardero!” panggil bekas Kapten dengan suara tertahan.
“Kemarilah!”
“Anda sudah menguasainya?”
“Sudah. Saya akan membelenggunya. Suruh
melemparkan tali melalui pagar.” Tak lama kemudian
datang Pardero membawa tali. “Inilah,” katanya.
“Syukurlah usaha kita sudah membawa hasil. Benar-benar
seperti raksasa tubuhnya itu. Menakutkan juga. Lawan
kita yang lain dapat kita anggap sepele saja. Wah! Enrico
memberi tanda!”
Perwira gadungan itu membuat tanda dengan membuat
tiga kali lingkaran dengan api di hadapan jendelanya.
Kemudian api itu dipadamkan lagi.
“Di mana harus kita taruh Sternau?” tanya Pardero.
“Taruh saja di sudut tempat kita berdiri tadi. Di situ ia
akan aman. Ia sudah diikat demikian kencangnya.
Mungkin juga ia sudah mati kena pukul senapan saya.
Pendek kata ia tidak dapat melarikan diri.”
Setelah menyembunyikan tubuh Sternau, Verdoja
melempar sedikit pasir ke jendela, tempat cahaya tadi
nampak.
“Enrico!”
“Ya,” terdengar jawabnya perlahan dari atas. “Semua
sudah beres!”
“Ulurkan tali ke bawah!”
Enrico melemparkan sepotong tali ke bawah. Pardero
mengambil sebuah tangga tali dari kawan-kawannya di
luar pagar. Ia mengikatkan tangga tali itu kepada tali yang
dilemparkan ke bawah. Kemudian tali ditarik kembali ke
atas dan tangga tali diikatkan pada jendela.
“Cukup kuat!” bisik Enrico dari atas.
Verdoja memanjat tangga itu. Setibanya di jendela ia
berkata, “Nasib kita mujur. Sternau sudah kukuasai. Ia
telah mengitari rumah untuk menyelidik. Saya
memukulnya sampai pingsan. Ia sudah dibelenggu.”
“Bagus sekali. Hanya raksasa itulah yang dapat
menakutkan kita. Tentunya ia keluar melalui pintu depan.
Jadi tangga tali ini sebenarnya tidak kita perlukan.”
“Perlu juga. Dengan memanjat tangga tali ini kita
langsung ada di atas. Bila kita harus menaiki tangga di
rumah dan berjalan di lorong, mudahlah kehadiran kita
akan diketahui orang. Di pintu masuk utama akan saya
tempatkan dua orang jaga, supaya jangan ada orang yang
terlepas.”
Verdoja menuruni tangga lagi dan menyuruh sekutunya
datang dan satu per satu memanjati tangga untuk sampai
di kamar Enrico. Dua orang ia bawa perlahan-lahan
membelok di sudut rumah ke pintu depan yang ternyata
berada dalam keadaan sedikit terbuka. Kedua orang itu
diperintahkan mengambil posisi di balik pintu. Mereka
harus menjaga supaya tidak seorangpun dapat
meninggalkan rumah.
Verdoja kembali lagi ke tangga tali. Ia memanjatnya dan
menutup jendela. Hingga kini semuanya berjalan lancar.
Mereka sudah dapat memasuki hacienda tanpa dilihat oleh
kaum vaquero yang bermalam di daerah sekitarnya. Lawan
yang paling berbahaya sudah dikuasai mereka. Kini tinggal
menguasai yang lainnya dengan cara yang tanpa
menggunakan kekerasan.
“Arbellez tidak ada di rumah,” bisik Enrico.
“Ke mana perginya?” tanya Verdoja.
“Ke Vandaqua. Menantunya ikut dengannya.”
“Persetan!” Apakah ia mempunyai seorang menantu?”
seru bekas Kapten terheran-heran.
“Maksud saya, tunangan putrinya.”
“Siapakah orang itu?”
“Gadis itu memanggilnya Senor Antonio. Ia baru saja
sembuh dari sakit yang parah, kata orang.”
“O, orang itu. Dan ia sekarang ada di Vandaqua?”
“Benar.”
“Dan Kapten Unger?”
“Ada.”
“Dan Senorita Emma dan gadis Indian itu?”
“Saya telah melihat keduanya.”
“Bagus. Saya tahu kamar tidur mereka. Apakah kau
membawa lampu senter?”
“Ada. Perlu saya nyalakan?”
“Ya, nyalakan saja lalu ikut saya.” Perlahan-lahan
mereka membuka pintu kamar, melalui lorong yang
diterangi Enrico dengan lampu senternya. Kemudian ia
memasukkan lampu itu kembali ke dalam sakunya.
Verdoja mula-mula membawa orang-orangnya ke kamar
Mariano. Ia mengetuk pintu beberapa kali hingga dari
dalam terdengar orang bertanya, “Siapa di situ?”
“Saya, Sternau,” bisik Verdoja, cukup keras untuk
dapat didengar dari dalam.
“O, kamu. Ada apa?”
“Cepat buka pintu! Aku ada khabar penting.”
“Baik, aku datang.”
Mereka mendengar tempat tidur berderit.
“Jangan nyalakan lampu,” bisik Verdoja dengan
cerdiknya.
Mariano cepat-cepat berpakaian lalu membuka pintu
dan berkata perlahan-lahan. “Masuklah.” Ia sungguh ingin
tahu apakah gerangan yang hendak dikatakan Sternau itu.
Bahwa yang masuk itu lebih dari satu orang, tidak
disadarinya.
Pada saat itu juga mereka memegangnya. Dua tangan
memegang leher serta mencekiknya. Mariano tidak dapat
bernapas maupun mengeluarkan suara. Ia berusaha
mengadakan perlawanan tetapi tangan-tangan kuat
menghalanginya. Kaki tangannya diikat dan mulutnya
disumbat dengan sepotong kain. Cengkaman di lehernya
itu mengendur … ia sudah menjadi orang tawanan.
“Dia sudah kita bereskan. Kini kita ke Unger!” kata
Verdoja.
Terhadap Unger mereka menggunakan siasat sama
dengan hasil yang sama pula. Sternau, Mariano, dan Unger
telah dikuasai tanpa ada orang dalam rumah yang
terbangun.
“Kini ke Senorita Emma!” perintah Verdoja
Mereka mengetuk perlahan pintu kamarnya.
“Siapa?” Tanya gadis itu.
Dengan suara bisik yang dibuat sehalus-halusnya jawab
Verdoja, “Saya Karja!”
“Ada apa?”
“Saya harus bicara dengan Anda. Bukalah pintu,
Emma!”
“Bicara tentang apa?”
“Sst! Jangan keras-keras! Tentang tamu perwira kita.
Saya tidak tahu, apakah saya harus membangunkan Senor
Sternau atau tidak.”
Emma terperdaya. “O, jadi ada bahaya? Tunggu
sebentar. Akan kubuka pintu.”
Mereka mendengar gadis itu bangkit, berjalan ke arah
pintu lalu membukanya. Bisik gadis itu, “Masuklah. Ada
apa sebenarnya?”
Verdoja menyelinap masuk lalu mencekau leher gadis
itu dengan tangan kirinya. Gadis itu rebah ke atas lantai
tanpa memberi perlawanan sedikit pun. Begitu terkejutnya
sehingga sebelum apa-apa ia sudah jatuh pingsan.
Kemudian mereka pergi ke kamar gadis Indian. Siasat yang
sama membawa hasil yang sama pula. Hanya gadis Indian
itu tidak jatuh pingsan. Ia, putri seorang kepala suku
bangsa Indian, tidaklah serapuh gadis Mexico yang
kemanja-manjaan itu. Gadis Indian itu diikat dan
mulutnya disumbat.
Semua orang yang menjadi sasaran perbuatan jahat
kaum perampok itu satu per satu sudah jatuh ke tangan
mereka. Tingkat pertama rumah seluruhnya sudah jatuh
ke tangan mereka. Verdoja dan Pardero mengetahui bahwa
di tingkat bawah terdapat kamar-kamar yang dihuni oleh
kaum vaquero. Kaum penjahat tidak mau kehilangan
mangsanya, maka mereka melarang orang-orangnya
merampok. Mariano dan Unger masing-masing akan
dibantu oleh tiga orang dalam mengganti pakaian. Verdoja
pergi ke Emma dan Pardero ke gadis Indian.
Ketika bekas Kapten memasuki kamar Emma, dalam
kamar itu masih gelap. Ia menyalakan lilin. Emma mulai
sadar. Verdoja memerintah gadis yang gemetar itu untuk
berganti pakaian. Ia sendiri mengambil beberapa barang
lagi dari lemari, barang yang diperlukan sebagai bekal
untuk perjalanan yang jauh.
Pardero tidak menemukan Karja yang tidak berdaya di
atas lantai. Gadis itu berguling-guling terus-menerus
untuk dapat melepaskan diri dari belenggunya. Pardero
menutup pintu di belakangnya lalu menyalakan sebatang
lilin. Mereka harus mengejar waktu. Pardero
mengendurkan sedikit tali pengikat tubuh gadis itu,
supaya ia dapat bergerak agak bebas untuk berganti
pakaian. Mata gadis itu yang mula-mula berapi-api, kini
ditutupnya. Nampaknya ia acuh tak acuh terhadap
keadaannya.
Pintu dibuka dan Verdoja muncul di sudut. “Kau sudah
siap?” tanyanya.
“Sudah.”
“Bawa beberapa helai selimut dan selendang lagi. Kita
akan berangkat!”
Kedua tawanan pria pun sudah berpakaian. Mereka
diikat demikian kencangnya sehingga mereka tidak dapat
bergerak. Mereka harus digotong ke luar. Verdoja dan
Pardero membawa gadis-gadis itu ke bawah. Semuanya itu
dikerjakan dengan hati-hati sekali sehingga sedikit pun
tidak terdengar oleh orang lain. Pintu pagar dibuka dan
Sternau dikeluarkan dari taman. Suasana terlalu gelap
sehingga tidak dapat diketahui apakah Sternau membuka
matanya atau tidak. Ia tidak bergerak sedikitpun.
Semua tawanan digendong oleh para perampok ke
daerah lain. Seorang tinggal untuk menutup pintu pagar
yang besar itu. Kemudian ia melompati pagar dan
bergabung dengan kawan-kawannya. Satu jam sudah
lewat semenjak mereka memasuki hacienda.
Setengah jam kemudian mereka tiba di hutan tempat
mereka menambatkan kudanya. Untuk kelima tawanan
sudah disediakan lima ekor kuda. Bahkan untuk gadisgadis
itu disediakan pelana khusus untuk wanita. Mereka
diikat pada kudanya. Kini ternyata bahwa Sternau sudah
sadar kembali.
Ketiga belas orang itu memecah menjadi tiga
rombongan. Tiap tiga orang diserahi tugas seorang
tawanan, para pemimpin masing-masing dikawal oleh
seorang. Mereka pergi berpencar-pencar ke segala penjuru.
Suatu muslihat untuk mengelabui mata lawannya. Baru
setelah berjalan satu hari lamanya, rombongan-rombongan
itu bergabung. Setelah dua hari berjalan mereka
bergabung dengan Verdoja. Tempat-tempat bergabung itu
sudah ditetapkan lebih dahulu dan semua perampok
sudah mengadakan pengamatan tentang jalan yang
hendak ditempuh mereka itu. Semuanya itu demi
berhasilnya usaha mereka.
Namun dua macam kesulitan dapat timbul dengan
siasat ini : ada kemungkinan, Verdoja akan dikhianati oleh
orang-orangnya sendiri. Lagi pula bila terjadi serangan,
maka kelompok kecil terdiri atas tiga orang lebih mudah
dikalahkan daripada tiga belas orang. Perihal ini baru
dipikirkannya esok paginya bersama pengikutnya ketika
mereka sedang beristirahat. Emma hadir bersamanya,
tawanan lainnya dipercayakan kepada Pardero dengan
orang-orangnya.
Perjalanan pada hari pertama melalui bukit-bukit yang
merupakan ujung sebelah barat dari pegunungan yang
terbentang dari utara ke selatan di Coahuila. Keesokan
paginya ia menuruni bukit-bukit dan menjelang tengah
hari ia tiba di gurun Mapimi, daerah yang paling tandus
dan mengerikan di seluruh Mexico. Di tempat itu keempat
kelompok itu direncanakan akan bergabung. Dengan
harap-harap cemas Verdoja menanti. Rencananya itu akan
berhasilkah? Sejam setelah kedatangannya ia melihat dari
arah selatan beberapa orang penunggang kuda datang.
Ketika mereka mendekat, ia dapat menghitung delapan
orang. Benarlah mereka orang-orangnya. Ia bernapas
dengan lega. Ternyata mereka itu kelompok yang diserahi
tawanan Sternau dan Mariano. Dengan senang hati ia
menyambut mereka. Kedua tawanan itu telah dibelenggu
secara tidak mengenal peri kemanusiaan, namun
mulutnya tidak disumbat sehingga mereka dapat
bernapas.
Menjelang malam datang juga kelompok-kelompok yang
membawa Karja dan Unger. Tiada satu kelompok pun yang
telah dikejar, maka Verdoja menganggap perjalanan
mereka berikutnya sudah aman. Orang boleh memasang
kemah serta menyalakan api unggun. Mereka makan,
kemudian para tawanan mendapat giliran makan. Mereka
yang tidak dapat menggunakan tangannya, disuapi. Pospos
jaga dibentuk, kemudian orang-orang tidur. Verdoja
dengan sengaja mendapat tugas jaga yang pertama karena
ingin menyiksa batin para tawanan yang hingga kini belum
berkesempatan untuk bicara. Para tawanan itu berbaring
di tengah lingkaran yang dibentuk oleh sebelas orang
Mexico.
Unger adalah korbannya yang pertama. “Perjalanan
naik kuda tadi enak?” tanyanya. “Kau mendapat salam
dari orang yang merasa sangat tertarik kepadamu.”
“Dari siapa?” tanya Unger.
“Dari seorang bernama Pablo Cortejo.”
“Dari Mexico?”
“Benar. Nampaknya ia kawan baikmu.”
Rahasia ini dengan sengaja dilepaskan Verdoja sebagai
umpan. Ia ingin mengetahui, mengapa Cortejo begitu
berharap akan kematiannya. Pengetahuan demikian
gunanya sebagai senjata untuk menjinakkan Cortejo. Maka
Verdoja mengarahkan percakapan kepadanya dengan
berharap, mudah-mudahan ia mendapat penerangan dari
jawaban-jawaban tawanan itu yang terlompat dari
mulutnya.
“Persetan dengan orang itu!” kata Unger.
“Tidak, bukan dia … kalian yang akan dijemput setan.”
“Tapi tidak tanpa kamu!”
“Diam, kau celaka! Atau ingin kau rasakan
kekuasaanku terhadapmu?”
Ia menendang Unger lalu pergi ke Mariano. “Kini kau
rasakan sendiri betapa bodohnya mau menjadi
pendamping seorang bandit,” katanya. “Bukankah
demikian bahwa barangsiapa membantu seorang penjahat,
ia pun jahat pula? Kenalkah kau akan Cortejo?”
Mariano tidak menjawab.
“Hei, kau diam saja. Mau tidak, menjawab
pertanyaanku?”
Orang Mexico itu tetap diam.
“Baik, kau membandel. Jadi ingin mendapat pelajaran
dari kami. Janganlah khawatir, pelajaran itu masih akan
kau terima.”
Bekas kapten itu menendangnya pula lalu pergi ke
Sternau. Ia diikat demikian kencangnya sehingga tidak
dapat menggerakkan kaki tangannya, tetapi ia masih dapat
menarik lututnya ke atas. “Kini tiba giliranmu, bangsat!”
kata Verdoja. “Kau telah mencederakan tangan kami,
karena itu patut kau mendapat ganjarannya yang setimpal.
Tentunya engkau tak akan keberatan bila kepalamu
dipukul.”
Sternau tidaklah menjawab.
“Apa, kau pun berani bertingkah demikian, tidak mau
menjawab?” Tunggu sebentar, sahabat… Anda harus
mendapat pelajaran.”
Verdoja bersiap-siap hendak menendang tawanannya
kuat-kuat, namun secepat kilat Sternau menarik kakinya
ke atas lalu menerjang orang Mexico itu, tepat mengenai
kakinya ke atas lalu menerjang orang Mexico itu, tepat
mengenai perutnya sehingga orang itu jatuh tersungkur
lalu kepalanya jatuh ke dalam api unggun yang sedang
menyala dengan semarak itu. Ia berhasil bangkit berdiri
lagi, namun ia meraung-raung secara mengerikan. Hal itu
menandakan bahwa ia telah terluka, entah di bagian
mananya.
“Mataku, aduh mataku!” raungnya kesakitan.
Orang-orang yang sedang tidur terbangun oleh gaduh
itu lalu menghampiri Verdoja untuk memeriksa matanya.
Ternyata matanya terkena percikan api; sekeping kayu
yang membara masuk ke dalam mata dan tinggal di
dalamnya.
“Mata itu tidak akan tertolong lagi karena kita tidak
dapat meminta pertolongan seorang dokter,” kata salah
seorang Mexico.
Verdoja yang menanggung sakit yang maha dahsyat
tetap meraung-raung kesakitan. Ia berlari berputar-putar
sambil meraung, minta dikeluarkan keping kayu itu dari
dalam matanya. Tetapi tiada seorang pun yang berani
melakukan pekerjaan itu.
“Hanya seorang di sini yang dapat memberi pertolongan.
Ialah Sternau. Ia seorang dokter,” kata Pardero.
“Apa? Binatang itu? Bukankah dia penyebab
musibahku ini? Ia harus dipukuli sampai mati!” kata
Verdoja mengancam.
“Namun ia dapat mengeluarkan keping itu. Ia seorang
dokter!” bujuk Pardero.
“Baik! … ia harus melakukannya … namun kemudian
kuikat dia di belakang seekor kuda. Itulah pembalasanku
yang setimpal untuk perbuatannya.”
Pardero menghampiri Sternau lalu bertanya, “Apakah
Anda juga seorang dokter mata?”
Karena pertanyaan itu cukup memenuhi tata kesopanan
maka Sternau menjawab dengan pendek, “Benarlah.”
Sekiranya ia tidak melihat harapan untuk mendapat
kebebasannya maka Sternau pasti tidak akan menjawab.
“Dapatkah Anda mengeluarkan kepingan kayu itu?”
“Entahlah. Mata itu harus saya periksa lebih dahulu.”
“Lakukanlah. Saya akan mengendurkan sedikit
belenggu Anda supaya Anda dapat bangkit.”
Pardero berbuat seperti yang dikatakannya lalu
mendorong Sternau ke arah api unggun, tempat Verdoja
berada.
“Kini periksalah!” perintah Pardero.
Verdoja mengangkat tangannya dari mata yang terluka
itu, namun matanya masih dikejapkannya; dengan
matanya yang sebelah lagi ia menatap Sternau dengan rasa
benci yang sangat lalu ia berkata, “Janganlah coba
mengadakan ulah. Bila tidak langsung kau sembuhkan
mataku, akan kau rasakan akibatnya. Akan kuperintahkan
menyiksa kamu dengan kepingan kayu yang membara.
Periksalah mataku!”
Ia membuka matanya selama sedetik sedang Pardero
menyuluhi dengan lampu senter. Percakapan itu dilakukan
dalam bahasa Spanyol. Sternau mengetahui bahwa di
antara yang hadir hanyalah Unger yang mengerti bahasa
Jerman, maka sambil memeriksa mata ia berkata dalam
bahasa Jerman, “Janganlah putus asa. Aku akan
membebaskan kalian!”
“Apa katamu tadi?” hardik Verdoja.
“Sebagai seorang dokter saya biasa menyebut penyakit
itu dalam nama latinnya maka itulah yang saya katakan
tadi,” jawab Sternau dengan tangkasnya.
“Dapatkah kepingan kayu itu dicabut?”
“Dapat.”
“Maka lakukanlah, dan cepat sedikit!”
“Tangan saya diikat.”
“Lepaskan!” perintah Verdoja.
“Ia akan lari!” kata Enrico.
“Kamu pengecut benar!” hardik Pardero. “Kita berjumlah
tiga belas orang. Mana mungkin ia lari? Mari kita membuat
pagar betis mengelilingi dia.”
Perintah itu diturut. Ketika dokter itu berkata-kata
dalam bahasa Jerman, maka Unger mendeham perlahan
untuk memberi isyarat bahwa ia mengerti. Kini Sternau
dapat bertindak.
“Saya tidak sanggup mengeluarkan kepingan kayu itu
dengan jari tanganku, tolong berikan saya sebilah pisau,”
katanya.
Ia mendapat pisau itu. Kini ia mempunyai senjata di
tangan serta terlepas dari ikatannya. Kini ia masih harus
memperoleh senapan dengan pelurunya. Kuda mereka
sedang makan rumput di sekitar perkampungan. Senapan
mereka tersusun dalam bentuk piramida-piramida kecil
dan Verdoja memakai ikat pinggang lebar penuh berisi
peluru. Dalam sekejap mata Sternau sudah mengatur
siasatnya. Ia memeriksa pisaunya. Pisau itu cukup untuk
keperluannya : runcing serta tajam. Ia menghampiri
Verdoja dan meletakkan tangannya ke atas kepalanya.
Semua mata orang tertuju kepada kedua orang itu.
“Pejamkan mata Anda yang baik lalu bukalah mata
yang terluka itu!” perintah Sternau.
Maksudnya supaya Verdoja tidak melihat apa yang
terjadi. Kapten berbuat seperti apa yang diminta
kepadanya lalu Sternau mendekatkan pisaunya kepada
muka orang itu. Secepat kilat tangannya meluncur ke
bawah, memotong ikat pinggang Verdoja hingga putus.
Kemudian ia menggigit pisaunya di antara giginya karena
ia memerlukan tangannya. Pada saat itu juga ia
mengangkat tubuh Verdoja dengan tenaga seperti Hercules
dan melemparkan orang itu ke tengah-tengah kumpulan
orang Mexico itu. Tiga atau empat orang berjatuhan
tertimpa oleh tubuh Verdoja itu sehingga membuat lubang
pada pagar betis itu. Dengan sekali lompat Sternau keluar
dari lingkaran orang. Sesaat kemudian ia meraih sepucuk
senapan, melompat ke atas punggung seekor kuda dan
melarikannya ke arah barat, menghilang dalam kegelapan.
Semua itu terjadi dalam waktu yang singkat sekali. Suara
orang meraung-raung di belakang Sternau. Ada yang
memegang senapan, ada yang memegang pistol. Tembakan
terdengar berletupan namun satu pun tiada mengena.
“Cepat! Kita harus mengejarnya. Ia harus kita tangkap!”
raung Verdoja. Beberapa orang menaiki kuda lalu pergi
mengadakan pengejaran. Sternau telah memperhitungkan
hal itu. Sambil melarikan kudanya ia memeriksa senapan
di tangannya. Senapan itu berlaras dua serta berisi peluru,
cukup banyaknya untuk menembaki para pengejarnya.
Kuda mereka tidak berjalan beriring melainkan
membentuk satu baris lebar. Mereka yakin Sternau tetap
berjalan lurus di hadapan mereka. Bahwa ia akan berhenti
menghadang mereka, tidak terpikir oleh mereka.
Hari sudah mulai gelap. Orang-orang sudah tidak
kelihatan hanya suaranya masih terdengar. Kuda Sternau
berdiam diri. Sternau melompat turun dan menarik
kudanya supaya merebahkan diri ke atas tanah. Orangorang
Mexico itu datang, melaluinya di sebelah kanan dan
kirinya. Dalam sekejap mata Sternau bangkit, menarik
kudanya supaya berdiri tegak kembali, melompat ke atas
punggung kuda lalu melarikan kudanya mengejar
lawannya. Beberapa saat kemudian ia berjalan di antara
dua orang lawannya tanpa diketahui mereka. Mereka
mengira Sternau itu salah seorang kawannya sendiri
Sternau memegang senapannya lalu berjalan mendekati
orang di sebelah kanannya. Orang itu berteriak kepadanya,
“Jangan terlalu rapat denganku, menepilah sedikit!”
Tetapi hulu senapan Sternau sudah mengenai kepala
orang itu sehingga ia terjatuh ke tanah. Pada saat itu juga
dokter yang perkasa itu memegang kekang kuda orang
Mexico itu dan dengan demikian menghentikannya. Dalam
beberapa menit ia sudah melucuti senjata orang itu lalu
menghalau kudanya ke dalam kegelapan. Kini ia mengejar
penunggang kuda di sisi kirinya. Demi didekatinya, orang
itu berseru, “kau tadi menyuruh aku menepi, kini kau
sendiri berjalan di jalurku. Ayo, menepi ke kanan!”
“Boleh!” kata Sternau.
Ia menghampiri orang itu dan sebelum orang itu
menyadari apa yang sebenarnya terjadi, hulu senapan
Sternau sudah mengenai kepalanya. Akibatnya ia
mengalami nasib serupa dengan kawannya, jatuh terkulai
ke atas tanah. Kali ini juga kuda orang itu dihentikan
Sternau dengan menarik kekangnya. Setelah Sternau
mengambil segala barang yang diperlukannya dari orang
itu, maka kuda orang itu dihalau lagi. Dengan mengambil
sikap waspada ia berusaha mendengar di mana sisa
kawanan penjahat itu berada. Segera ia mendengar bahwa
mereka semuanya berada di sebelah kanannya, lalu ia
pergi ke arah itu. Ia memeriksa senapan yang jatuh ke
tangannya. Dua senapan berlaras tunggal. Bersama
senapannya sendiri yang berlaras dua maka ia memiliki
empat peluru. Lebih dari cukup, karena ia hanya melihat
dua orang pengejar. Itu perkara kecil baginya.
“Hai!” serunya. “Kemarilah! Aku sudah menangkapnya!”
Ia menghentikan kudanya dan melihat bahwa dua orang
itu berbuat serupa.
“Di mana?” tanya mereka.
“Ia telah terjatuh di sini!”
Beriring mereka datang untuk memeriksa. Sternau
memegang senapannya yang berlaras dua lalu
menembakkan dua peluru. Kedua orang itu jatuh
tersungkur dari atas kudanya. Kudanya tetap berdiri di
tempatnya.
Sternau mengamati keadaan. Ia tidak mendengarkan
apa-apa. Jadi jumlah orang yang mengejarnya itu
hanyalah empat orang. Ia turun dari atas kudanya untuk
memeriksa mereka yang terluka. Ia mengambil barangbarang
yang diperlukannya dari tubuh mereka. Kini ia
sudah memiliki lima batang senapan, beberapa bilah
pisau, dua pucuk pistol, dua buah laso dan sejumlah besar
peluru. Lagipula dilihatnya bahwa dalam ikat pinggang
Verdoja terdapat juga mata uang emas serta uang kertas.
Jadi ia sudah memiliki semuanya kecuali bahan makanan.
Namun soal itu dianggapnya kurang penting. Ia
mengikatkan barang-barang rampasan itu kepada pelana
dua ekor kuda. Kemudian ia memegang kedua kekang
kuda lalu meneruskan perjalanan ke gurun yang
diselubungi rahasia itu.
Pada malam hari ketika putrinya diculik, maka Pedro
Arbellez bermalam di hacienda Vandaqua bersama Unger,
saudara Mualim. Ketika keesokan paginya wanita tua
Maria Hermoyez bangun lalu menjumpai kamar tamu
sudah kosong, maka ia merasa sangat heran. Mula-mula
dikiranya para tamunya itu sedang berjalan-jalan sebentar
mengambil angin, namun ketika pagi itu lewat berganti
menjadi siang dan siangnya pun lewat juga, ia mulai
merasa khawatir. Pedro dan Unger pulang kembali dan kini
wanita itu merasa yakin bahwa suatu musibah besar telah
terjadi.
Lenyapnya kedua senorita serta prianya menyebabkan
Unger dan Arbellez berhati cemas. Sedangkan pemilik
hacienda dengan meremas-remas tangan pergi mencari
dari satu kamar ke kamar yang lain, maka si Panah
Halilintar tetap bersikap tenang. Matanya berapi-api dan
otot-ototnya menegang. Kini ia tidak lagi merupakan orang
sakit tanpa daya melainkan pria gagah perkasa seperti
sediakala. Dalam waktu seperempat jam ia telah berhasil
dengan bantuan jejak kaki yang hanya dia pandai
membacanya memperoleh gambaran jelas tentang apa
yang telah terjadi, dilengkapi dengan dugaan-dugaannya.
Seperempat jam kemudian ia pergi bersama si tua
Fransisco ke arah barat. Mereka masing-masing membawa
kuda tambahan yang dimuati dengan kantung-kantung
berisi bahan makanan dan pakaian milik orang-orang yang
diculik itu. Siang hari masih tinggal beberapa jam lagi.
Para perampok telah meninggalkan hacienda setelah
tengah malam, jadi mereka mempunyai kelebihan kira-kira
dua belas jam. Unger berharap akan dapat mengejar
mereka sedikit demi sedikit. Namun ia dan kawannya itu
baru tiba di kaki pegunungan ketika Verdoja bersama
keempat tawanannya itu sudah melampaui pegunungan
itu dan menyeberang ke gurun Mapimi.
Sesampai mereka di tempat orang-orang Mexico itu
berhenti dan beristirahat, maka Panah Halilintar dapat
membaca dari jejak-jejak yang masih segar itu apa yang
semalam telah terjadi.
Fransisco sangat kagum melihat Unger bekerja, melihat
kesanggupannya menarik kesimpulan dari segala sesuatu
yang dijumpainya, setiap jejak, setiap batang rumput yang
terpatah seakan merupakan halaman dalam sebuah buku
bacaan. Dengan mudah dan lincahnya ia dapat membaca
tiap kejadian serta menghubung-hubungkannya satu sama
lain.
“Wah!” gumam pemburu itu dengan termenung sejenak.
“Apa yang terjadi di sini? Terjadi perkelahian yang seru!
Terdapat jejak-jejak tumit yang masuk ke dalam tanah
yang lunak. Ada juga jejak kaki lawannya yang
membenamkan jari kakinya dalam-dalam ke dalam tanah
ketika mengadakan perlawanan. Si pemenang dapat
membebaskan diri. Nampaknya ia telah mengangkat tubuh
lawannya lalu melemparkannya ke tengah-tengah
rombongan orang untuk membuka jalan.”
Panah Halilintar berjalan mengitari tempat bekas
dinyalakan api unggun itu lalu melanjutkan, “Inilah tempat
senapan-senapan mereka tersusun. Salah satu senapan
disambar oleh orang yang melarikan diri itu. Sudah barang
tentu ia adalah salah seorang kawan kita, dan besarlah
kemungkinannya orang itu Sternau.”
Kemudian Unger dan Fransisco mengikuti jejak pelari
bersama para pengejarnya itu, mula-mula ke arah barat
kemudian ke selatan. Tanpa banyak mengalami kesulitan
pemburu itu dapat membaca jejak yang seremehnya pun.
“Dapatkah kau melihat jejak kaki kuda itu, Fransisco?
Jejak itu berasa dari tiga ekor kuda, hanya seekorlah yang
ditunggangi. Sternau telah membawa dua ekor kuda
tambahan untuk dapat memakainya berganti-ganti. Ia
menempuh jalan ke arah timur untuk mengejar orangorang
Mexico itu. Ia mengejar mereka dengan jalan
memutar. Jadi kita berada di belakang dia dengan orangorang
Mexico itu.”
Setelah mengatakan ini ia melihat-lihat ke arah barat
seakan-akan dapat melihat mereka. Tiba-tiba ia melompat
ke arah gundukan pasir di dekatnya yang hingga kini tidak
tampak oleh Fransisco. Agaknya gundukan itu ditimbun
dengan sengaja dan tidak terjadi secara kebetulan oleh
tiupan angin.
“Sebuah tanda dari Sternau,” seru Panah Halilintar
gembira. “Mari kita memeriksanya.”
Ia mengais-ngais dengan tangannya ke dalam gundukan
pasir lalu berhasil mengeluarkan sepucuk surat yang
dilipat dua. Isi surat itu seperti berikut.
Saya telah membebaskan diri, yang lain masih tawanan,
na
mun sehat walafiat. Saya memiliki tiga kuda, cukup
senjata serta
peluru. Verdoja menyerang saya di taman.
Bersama dia adalah : Pardero dan sebelas orang Mexico.
Mereka masuk melalui jendela kawannya yang menjadi
tamu kita. Mereka lupa menggeledah bajuku. Saya
memiliki pinsil dan kertas untuk meninggalkan pesan.
Para tawanan akan saya bebaskan. Jangan khawatir! Ikuti
saya selekas mungkin. Jangan meninggalkan bekas.
3 September 1849, pukul sembilan pagi.
Sternau
Bukan buatan senang hati mereka. Mereka menaiki
kudanya yang telah mendapat istirahat selama itu. Kuda
Mexico tidak menjadi lelah meskipun menempuh jarak
jauh bila berjalan tanpa penunggang. Kuda-kuda yang
ditunggangi Panah Halilintar dan Fransisco masih segarbugar.
Jarak jauh ditempuh dengan tanpa terasa. Tentu
saja Sternau sendiri juga melarikan kudanya cepat-cepat
sehingga tiada mudah terkejar.
Pagi dan sebagian besar siang berlalu sebelum tampak
oleh mereka tiga bintik hitam di kejauhan.
“Sudah tentu Sternaulah orang itu. Ia membawa dua
ekor kuda tanpa penunggang!” sorak Panah Halilintar.
“Kita harus mengejarnya sebelum malam tiba.”
“Mereka memacu kudanya yang kini melaju dengan
kencangnya. Masih setengah jam berlalu lagi sebelum tiga
bintik itu membesar menjadi seorang penunggang kuda
dengan dua kuda tanpa penunggang. Mereka melihat dia
memutar-mutar senapannya di udara.
“Ia telah menoleh ke belakang dan melihat kita,” kata
Panah Halilintar.
“Mungkinkah ia mengira kita musuh sehingga tidak
mau menunggu kita?” tanya Fransisco.
“Fransisco, kau adalah seorang vaquero yang baik,
namun bukan penjelajah savanna. Sekiranya Sternau
menunggu kita, ia akan kehilangan waktu serta
memperbesar jarak. Setiap menit berharga. Pada malam
hari kita tidak dapat melihat jejak perampok, sedangkan
mereka dapat berjalan terus. Maka kita harus
memanfaatkan keuntungan yang diberikan oleh cahaya
pada siang hari dengan sebaik-baiknya. Sternau memberi
keleluasaan pada kita untuk mengejarnya.”
“Tetapi sebenarnya masih belum merupakan kepastian
baginya, kita ini sahabat atau bukan.”
“Bahkan dalam hal itu lebih bodoh lagi baginya untuk
menunggu kedatangan kita. Tetapi nampaknya ia sudah
menduga bahwa kita adalah kawan. Lihat, sekali lagi ia
memberi isyarat!”
Kini Panah Halilintar juga melambai-lambai dengan
senapannya. Itu sudah cukup tanda bagi Sternau. Ia tahu
bahwa ia berhadapan dengan kawan.
“Kita dapat juga mengejarnya,” pikir Fransisco.
“Itu dapat dimengerti,” demikian keterangan Panah
Halilintar. Ia tidak dapat memilih kudanya. Ia harus
merasa puas dengan kuda yang kebetulan dijumpainya,
baik ataupun tidak. Kita dalam keadaan yang lebih
menguntungkan. Kita dapat memilih kuda. Kuda Sternau
sudah letih lelah, sedangkan kuda kita segar bugar. Lagi
pula tubuh Sternau lebih berat. Lihat, ia harus berganti
kuda.”
Mereka melihat Sternau dengan lincahnya melompat
dari seekor kuda ke kuda yang lain yang sedang berlari
dengan kencangnya. “Ia tidak sempat berhenti sesaat pun
untuk berganti kuda; itu memang lebih baik,” kata Panah
Halilintar sambil mengangguk. “Bahkan ingat perkataanku
ini, ia tidak akan mengurangi kecepatan kudanya ketika
memberi salam kepada kita pada saat kita melampauinya.”
Jarak di antara para penunggang kuda makin mengecil.
Mereka dapat berbicara satu sama lain. Maka Panah
Halilintar berseru, “Tuan Sternau!”
Sternau berpaling lalu berkata, “Tuan Unger! Saya
langsung mengenali Anda.”
“Bagaimana dapat?”
“Hanya seorang bangsa Eropa dapat menunggang kuda
seperti Anda dan di hacienda del Erina Anda satu-satunya
yang berasal dari barat. Percepat jalan Anda!”
“Boleh.”
Panah Halilintar bangkit dari atas pelana kuda untuk
memperingan beban kudanya lalu melengkingan sebuah
pekik. Kudanya mengerti dan melaju secepat anak panah
keluar dari busurnya. Fransisco mengikutinya. Beberapa
saat kemudian mereka sudah berjalan sebelah-menyebelah
Sternau.
“Puji syukur kepada Tuhan yang memungkinkan Anda
sampai ke mari!” katanya sambil berjabat tangan.
“Mengapa kuda-kuda tambahan Anda begitu sarat
muatannya?”
Panah Halilintar tertawa, “Barang-barang itu akan
sangat dibutuhkan. Tentu saja Tuan-tuan yang hendak
saya bebaskan itu tidak mempunyai perlengkapan yang
baik, maka saya membawa barang-barang yang mungkin
diperlukan. Perlengkapan Anda sebagai pemburu serta
senjata Anda ada pula di situ.”
“Semuanya itu Anda bawa?” tanya Sternau kegirangan.
“Ya, semuanya! Senjata milik Mariano dan saudara saya
pun termasuk juga.”
“Terima kasih! Anda bertindak sangat bijaksana.
Bagaimana keadaan di hacienda? Bilamana penculikan itu
diketahui orang?”
Panah Halilintar memberi laporan dan Sternau
mendengar dengan penuh perhatian.
Mereka tidak mengurangi kecepatan jalan kudanya.
Mereka berjalan terus hingga malam tiba dan jejak
perampok tidak dapat dilihat lagi. Kini mereka terpaksa
beristirahat. Untunglah mereka menjumpai sesuatu tempat
yang ditumbuhi rumput sedikit sehingga mereka dapat
memberi makan kudanya. Namun mereka tidak dapat
menemukan kayu untuk menyalakan api. Karena itu
mereka terpaksa bermalam dalam gelap gulita. Mereka
hampir tidak berbicara. Yang harus diutamakan adalah
istirahat, maka baru menjelang pagi, setelah mereka cukup
merasa segar kembali, Panah Halilintar berkata,
“Nampaknya para penjahat telah menggunakan waktu
malam dengan berjalan terus.”
“Sudah tentu,” jawab Sternau. “Mereka tahu bahwa
saya mengejarnya. Agaknya mereka berhenti beristirahat
pada pagi hari. Waktu itu harus kita gunakan sebaiknya
untuk mengejar ketinggalan kita pada malam sebelumnya.”
Di daerah itu pergantian antara siang dan malam atau
sebaliknya berlangsung dengan cepatnya. Ketika Sternau
bercakap hari masih gelap gulita, namun lima menit
kemudian hari sudah terang benderang. Ketiga orang
penunggang kuda itu melanjutkan perjalanan melalui
gurun Mapimi.

sumber: DISALIN OLEH
Svetlana Dayani, Tiur Ridawaty, & Windy Triana
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s