Gunung Tujuh

Gunung Tujuh merupakan satu dari tujuh gunung yang mengelilingi sebuah danau nan indah yaitu Danau Gunung Tujuh. Barangkali penamaan Gunung Tujuh ini dikarenakan ada tujuh puncak antara lain Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Mandura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl) dan Gunung Tujuh (2.732 mdpl) yang puncaknya paling tinggi. Gunung Tujuh ini terletak di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Gunung Tujuh terletak di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci  Provinsi Jambi. Untuk mencapai Gunung Tujuh dapat melalui jalan darat dari kota Padang yang berjarak sekitar ± 200 km dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam menggunakan angkutan pribadi atau angkutan umum.   Keindahan Gunung Tujuh mengundang banyak orang untuk mengunjungi tempat ini sebagai salah satu tempat favorit untuk didaki.

Jika pendaki menggunakan angkutan umum, mereka dapat langsung melakukan “pemanasan” dengan berjalan kaki menuju pos Jagawana  ketika turun dari angkutan umum di Simpang Pelompek. Dari Simpang Pelompek menuju pos Jagawana bejarak sekitar 2 km. Jika pendaki menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung menuju pos Jagawana dan memarkir kendaraannya disamping pos tersebut. Sebelum melakukan pendakian, pendaki terlebih dahulu melapor di pos Jagawana dengan memperlihatkan tanda pengenal seperti KTP, SIM, dll. Seandainya pendaki tidak ingin langsung melakukan pendakian mereka dapat beristirahat sejenak di pos tersebut, karena Jagawana juga menyediakan tempat penginapan yang terletak disebelah pos Jagawana.

Pendakian sebenarnya dimulai dari gerbang pendakian yang terletak beberapa meter dari pos Jagawana. Untuk mencapai Danau Gunung Tujuh ada dua jalur pendakian, yaitu yang pertama melalui jalur yang agak landai yang berjarak sekitar 3 km yang dapat ditempuh sekitar 2,5 jam. Jalur kedua merupakan jalur yang terjal dan curam, namun mempunyai jarak yang lebih dekat yaitu sekitar 2,5 km yang dapat ditempuh sekitar 2 jam.  Menjelang sampai ditujuan (tepi danau gunung tujuh), pendaki dimanjakan dengan pemandangan yang begitu beragam. Jika pendaki beruntung, mereka dapat menjumpai sekawanan gajah baik itu gajah liar maupun yang sudah terlatih.

Jika pendaki memilih jalur yang lebih pendek, selter I akan ditemui sekitar setengah jam perjalan dari gerbang pendakian yang berupa bangunan seperti menara pemantau. Disini pendaki dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Dari sinilah jalur curam dan terjal dimulai sampai ujungnya berakhir di puncak Gunung Tujuh sebagai selter II. Selter II ini mempertemukan dua jalur pendakian menuju Danau Gunung Tujuh yang berdiri sebuah bangunan persegi berukuran sekitar 2 x 2 m persegi.  Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalur menurun yang cukup curam. Pendaki sangat disarankan untuk berhati-hati karena disisi kiri kanan jalur tersebut merupakan jurang terjal dan dalam. Sekitar 10 menit menuruni jalur ini, akhirnya pendakian diakhiri ditepi sebuah danau yang indah. Semua keletihan dan kepenatan terbayar sudah disini.

Danau yang begitu indah ini merupakan danau vulkanik yang terbentuk dari letusan gunung berapi beberapa ribu tahun yang lalu. Danau yang berukuran sekitar 4,5 x 3 km persegi ini merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian 1.996 mdpl. Di pinggir danau diujung pendakian terdapat sebuah hamparan yang tidak begitu luas, namun bisa mendirikan sekitar 2 atau 3 tenda untuk bermalam menikmati keindahan malam di tepi danau. Di depan hamparan ini terdapat beberapa bongkah batu besar sebelum mencapai bibir danau. Pendaki bisa duduk-duduk di batu tersebut sambil menceburkan kaki ke danau. Tak berapa jauh disebelah kiri hamparan ini terdapat sebuah air terjun yang cukup tinggi. Air terjun tersebut merupakan aliran keluar Danau Gunung Tujuh, sehingga tempat tersebut merupakan puncak air terjun.

Meskipun danau ini terdapat di puncak gunung, namun tempat ini dihuni oleh “nelayan”. Maksud nelayan disini adalah orang yang mencari ikan untuk menghidupi diri dan keluarga mereka. Di danau ini terdapat spesies ikan yang mereka sebut ikan pareh. Mereka tiap hari menangkap ikan didanau tersebut dan sekali seminggu mereka turun gunung untuk menjual hasil tangkapan mereka. Dari tempat perkemahan, pondok nelayan dapat dicapai sekitar 15 menit perjalanan melintasi danau dengan menaiki sampan. Pondok mereka dapat juga dicapai dengan jalur darat disepanjang pinggir danau, namun dijalur ini terdapat banyak pacet dan tumbuhan “berbisa” yang mereka sebut Jilatang. Jika pendaki menyentuh atau tersentuh jilatang ini, maka kulit yang terkena  akan terasa seperti terbakar. Dan jika dibilas dengan air, kulit rasanya semakin perih seakan mau melepuh.

Di pondok yang juga terletak di pinggir danau itulah para nelayan tersebut mengolah terlebih dahulu ikan tangkapannya sebelum dijual ke pasar. Ikan tersebut terlebih dahulu diasapi, atau bisa disebut ikan pareh salai. Bagi para pendaki yang ingin mendirikan tenda dekat pondok tersebut, dapat mendirikannya di belakang pondok. Tempatnya tidak begitu besar, namun dari lokasi ini pendaki dapat memandang hampir keseluruhan danau. Jika pendaki ingin berlama-lama di danau ini dapat melakukan berbagai kegiatan seperti berenang atau malahan ikut mencari ikan dengan nelayan.

Bagi para pendaki yang ingin bermalam di tepi danau ini sangat disarankan untuk menyimpan logistiknya dengan rapi, sebab kalau tidak ini akan mengundang tamu kecil, tikus hutan. Tikus tersebut tak akan segan-segan menyantap semua persedian para pendaki tanpa mempunyai rasa takut.

Tidak bisa dipungkuri bahwa keindahan alam yang terhampar di Danau Gunung Tujuh ini membuat setiap pengunjung ingin berlama-lama dan bermalas-malasan disini. Dan keindahan ini pula yang seakan memanggil kembali para pengunjung atau pendaki untuk kembali mengunjungi tempat ini dikemudian hari. Akhirnya sebelum meninggalkan lokasi wisata ini, pengunjung diharuskan memungut dan mambawa sampah kembali ke pas Jagawana sebelum dibuang. Dengan demikian barulah para pendaki disebut sebagai pecinta alam sejati.

Advertisements

2 Comments

  1. Bang boleh tanya? kalo dari Kerinci ke Danau Tujuh atau sebaliknya adakah angkutan umum di rute ini? berapa lama waktu tempuhnya?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s