BAB II DI DALAM PIRAMIDA

Setelah Sternau terlepas, Verdoja selekasnya
mengamankan para tawanan dari tindakan “Ratu Batu
Karang”. Di tepi gurun ia menempatkan beberapa orang
yang mendapat tugas menangkap ataupun menembak mati
Sternau. Tangan para tawanan dilepas belenggunya agar
mereka dapat memegang kendali. Mereka bekerja dengan
cermat sekali, sehingga meniadakan segala kemungkinan
bagi para tawanan untuk membebaskan diri. Gerombolan
yang telah dicerai-beraikan oleh Sternau itu menuju ke
hacienda Verdoja dengan jalan memutar. Gerombolan yang
sudah mengecil jumlahnya itu menempuh gurun Mapimi.
Pada wajah Verdoja nampak dengan jelas bahwa matanya
menderita sakit yang sangat, namun ia tidak mengeluh
sedikitpun. Bukan main panas hatinya, namun yang harus
diutamakan ialah mencapai tujuannya dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya. Pembalasan dendam dapat
ditangguhkan hingga saatnya tiba.
Sepanjang hari mereka menempuh jalan ke arah barat,
melalui dataran berbatu, daerah batu karang gersang dan
padang pasir yang tandus hingga mereka tiba di
permulaan daerah yang berhutan. Di sini kuda mereka
yang letih lelah itu mendapat istirahat setengah jam
lamanya. Setelah itu mereka meneruskan perjalanannya
lagi.
Di daerah ini siang harinya terasa sangat panas, namun
malam harinya sangat dingin. Hawa dingin itu
menguntungkan bagi gerombolan, karena mereka dapat
bergerak lebih cepat tanpa menjadi lelah. Kuda Mexico itu
terkenal sekali karena sifatnya, tahan menempuh
perjalanan jauh.
Keesokan paginya mereka tiba di tempat yang
mengandung air, tempat yang dirindukan oleh setiap
orang. Di situ mereka dapat beristirahat. Pelana-pelana
dilepaskan dari kudanya sehingga kuda itu dapat makan
rumput dan minum air sekenyangnya. Orang-orangnya
pun menyantap makanan yang dibawa mereka sebagai
bekal. Para tawanan pun mendapat bagiannya. Ketika
kuda-kuda mulai meringkik serta bergelut satu sama lain,
maka itulah menandakan bahwa kuda-kuda itu sudah
tidak merasa lelah lagi sehingga perjalanan dilanjutkan lagi
ke arah yang sama.
Kini mereka menempuh daerah yang lebih subur. Di
sana sini terlihat padang rumput dan hutan kecil.
Menjelang malam mereka menempuh hutan yang lebat dan
keesokan paginya mereka tiba di gurun yang merupakan
dataran tinggi luas. Sekali lagi mereka beristirahat untuk
memulihkan tenaga pada kudanya sehingga sanggup
berjalan sepanjang hari. Lembah kecil tempat mereka
berada mengandung sebuah ngarai. Verdoja menempatkan
tiga orang di situ. Mereka harus memata-matai Sternau
yang akan datang menyelidiki tempat istirahat gerombolan.
Sternau tidak mungkin sampai di situ sebelum esok
malamnya. Dan pada saat itu Verdoja bermaksud
mengirimkan orang-orangnya yang masih tersisa ke situ
juga. Mereka melanjutkan perjalanan. Ternyata lembah
yang ditempuh mereka melebar menjadi padang rumput
luas. Mereka memilih jalan yang tidak dilalui orang. Hari
berganti menjadi malam dan mereka tidak menjumpai
hacienda, meskipun di mana-mana terdapat tanda-tanda
yang menunjukkan adanya hacienda di dekatnya. Ketika
malam tiba mereka berhenti di muka sebuah bangunan
raksasa menyerupai piramida yang kakinya ditumbuhi
semak belukar dan di situ terdapat juga timbunan batubatuan.
Verdoja menyembunyikan tanda siul dengan
memakai jari tangannya dan pada saat itu juga terdengar
bunyi derak di antara tumbuhan. Seseorang
keluar dari situ.
“Sudah datangkah pesuruh saya?” tanya Verdoja.
“Sudah, Senor,” jawab orang itu. “Ia telah
menyampaikan surat Anda kepada saya. Semua sudah
saya persiapkan. Lampu pun sudah sedia.”
“Berjalanlah di depanku. Yang lain harus menunggu
saya kembali.”
Verdoja menghampiri Emma, mengikat tangannya ke
punggungnya dan melepaskan belenggu pada kakinya. Ia
mengangkatnya dari atas kudanya lalu mendorongnya
masuk ke dalam semak-semak. Gadis itu membiarkan
dirinya diperlakukan demikian, karena ia menyadari
bahwa perlawanan di sini tidak akan ada gunanya. Mata
gadis itu ditutupi dengan sepotong kain. Kemudian Verdoja
menggendongnya masuk ke dalam. Dari bunyi langkah
kaki orang itu gadis itu dapat mendengar bahwa ia berada
dalam suatu bangunan menyerupai gua. Tanahnya tidak
rata dan udara makin jauh ke dalam makin pengap.
Akhirnya terdengar bunyi pintu dibuka dan Verdoja
meletakkan gadis itu di atas tanah. Ia membuka kain
penutup mata gadis. Kini Emma melihat bahwa ia berada
dalam sebuah ruangan yang dibuat dalam batu karang,
panjang dua setengah meter, lebar tiga perempat meter
dan tinggi dua meter. Sebuah karung rum-put terhampar
di atas tanah gunanya sebagai tikar tempat berbaring.
Sepotong roti kering dengan sebuah kendi berisi air adalah
perlengkapan lainnya. Pada dinding-dindingnya melekat
rantai-rantai besi. Verdoja memegang lampu di tangannya.
Penunjuk jalan tadi telah mengundurkan diri di balik pintu
yang diperkuat dengan tulang besi. Verdoja memegang
lampu di tangannya. Penunjuk jalan tadi telah
mengundurkan diri di balik pintu yang diperkuat dengan
tulang besi.
“Kita sudah sampai ke tempat tujuan,” kata Verdoja
dengan riang hati.
“Kau tidak mungkin keluar dari sini. Maka akan
kubuka saja belenggumu.”
Sambil melakukan pekerjaan itu matanya yang masih
sehat melirik dengan penuh gairah kepada tubuh gadis
Mexico yang cantik molek itu.
“Apakah salahku sebenarnya Senor, maka Anda sampai
menculik saya dan memenjarakan saya dalam gua ini?”
Tanya gadis itu terengah-engah ketakutan.
“Kau telah mencuri hatiku,” jawab Verdoja. “Kini kau
harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu: Kau harus
dapat mencintaiku pula.”
Verdoja merentangkan tangannya untuk memeluk gadis
itu, namun gadis itu mengelak terkejut.
“Tidak mau, kurang ajar!” seru gadis itu sambil mundur
ke sudut yang paling jauh.
“Masa, kau tentu mau!”
Kembali ia menghampiri gadis itu, namun tangan gadis
itu cepat merampas pisau yang tersisip di pinggang Verdoja
lalu mengacungkan senjata itu.
“Jangan mendekat!” perintah gadis itu pendek, “ nanti
kutusuk.”
Orang Mexico itu terkejut mundur selangkah. Tetapi
sesaat kemudian ia tertawa mengejek, “Pisau dalam tangan
yang sehalus dan secantik itu bagaikan jarum penjahit
saja layaknya. Serahkan kembali, manis!”
Verdoja ingin merampasnya, tetapi karena ia hanya
mempunyai sebelah tangan yang baik, terpaksa harus
meletakkan lampunya dahulu di atas tanah. Pada saat itu
gadis itu menggunakan kesempatan itu,
“Saya hanya seorang gadis yang lemah namun Anda
pun lemah karena hanya mempunyai sebelah tangan.
Maka janganlah menjamah saya!”
Verdoja agak ragu-ragu. Pada saat itu masuklah
penunjuk jalan ke dalam. Ia mendengar apa yang telah
dikatakan, maka ia bertanya, “Anda perlu bantuan saya,
Senor?”
“Perlu,” jawab Verdoja. “Rampas pisau itu dari
tangannya!”
Emma menyadari bahwa ia tidak dapat melawan dua
orang, namun ia tidak melepaskan harapan untuk
bertahan. Dengan pisau diarahkan pada dada sendiri ia
berkata dengan penuh keyakinan, “Jangan berani jamah
saya. Aku siap bunuh diri.”
Wajahnya ketika itu menampakkan kesungguhan hati
sehingga Verdoja percaya. Jalannya peristiwa tidak cocok
dengan rencananya. Maka ia menahan tangan
pembantunya yang sudah siap digerakkan ke arah gadis
itu lalu berkata, “Biarkan saja! Masih ada jalan lain. Rasa
lapar akhirnya akan membuat dia bertekuk lutut. Mulai
hari ini gadis itu jangan diberi makan. Sampai ia mengemis
minta dikasihani. Mari kita tinggalkan dia.”
Ia memungut kembali lampunya dan meninggalkan
penjara. Pembantunya mengikutinya lalu pintu tertutup
lagi di belakang mereka dengan bunyi derit yang
mengerikan. Di tempat itu ia kini terbaring gadis yang
sedianya hidup manja – dalam suatu gua yang gelap dan
pengap! Dengan sebuah karung rumput sebagai tempat
tidur dan air kotor sebagai air minum. Udara segar tidak
dapat masuk ke dalam. Lagi pula ia sudah dijatuhi
hukuman menderita kelaparan, karena sepotong roti
jagung yang terletak di sebelah kendi itu hanyalah dapat
bertahan beberapa waktu saja. Dalam perjalanan lama ke
tempat tujuan ini Emma telah belajar banyak dari Karja. Ia
harus selalu mencari kesempatan untuk merebut senjata
dari tangan lawannya supaya ia dapat membela diri bila
diserang.
Emma telah melaksanakan nasihat itu. Kini ia sudah
memiliki sebilah pisau. Pisau demikian adalah barang yang
sangat berharga dalam keadaan kritis seperti ini. Ia
memegang senjata itu erat-erat di tangannya dan bertekad
mempertahankannya apapun yang akan terjadi. Tetapi
perjalanan jauh dan perlakuan Verdoja yang kasar
terhadapnya membuat tubuhnya letih lesu lalu ia
meluncurkan diri ke atas karung rumput dan membiarkan
air matanya berhamburan. Ia berada dalam gua jauh di
bawah tanah, sebagai korban perbuatan seorang penjahat
yang tiada berperikemanusiaan. Ia hanya mempunyai
sebuah harapan, yaitu bahwa Sternau dapat juga berhasil
menemukannya.
Dalam pada itu Verdoja dengan pembantunya keluar
lagi dari piramida untuk menjumpai orang-orangnya.
Piramida itu merupakan bangunan tua pada zaman
Mexico-purba, didirikan dari batu bata di atas batu karang
dasarnya. Sebelum dibangun, telah digali dalam batu
karang itu beberapa ruangan yang diperhubungkan
dengan lorong-lorong. Bangunan piramida sendiri
mempunyai lorong-lorong seperti itu, tempat raja-raja dan
pendeta pada zaman purba itu menyimpan rahasiarahasianya
serta memuja dewa matahari. Batu batanya
telah menjadi lapuk dimakan waktu dan semak-semak
telah memasuki celah-celah dengan akar-akarnya dalamdalam.
Itulah sebabnya bangunan itu makin menjadi
runtuh. Puncak piramida menjadi lapuk oleh pengaruh
angin badai, makin lama makin gugur, sehingga
keseluruhannya itu menyerupai sebuah bukit berpuncak
datar, dari kaki sampai ke puncak ditumbuhi semak
belukar.
Namun angin badai maupun hujan tidak sampai
mempengaruhi bagian dalamnya. Ruangan-ruangan serta
lorong-lorongnya masih tetap utuh serta kukuh-kuat
seperti beratus-ratus tahun yang lampau. Bangunan tua
itu letaknya di tengah-tengah tanah milik nenek moyang
Verdoja. Salah seorang moyang telah berdaya upaya untuk
menemukan pintu masuknya. Setelah berusaha cukup
lamanya ia dapat menemukan pintu itu tersembunyi di
balik tumpukan puing. Ia merahasiakan penemuannya itu.
Rahasia itu merupakan rahasia keluarga. Sejak itu bagian
dalam piramida itu telah banyak mengalami kejadiankejadian
yang tidak boleh terdengar oleh telinga umum,
apalagi oleh pemerintah. Pembantu yang menjadi
penunjuk jalan ketika Verdoja masuk bersama Emma
adalah penjaga bangunan tua itu dan menjadi orang
kepercayaan majikannya masa kini. Rahasia dipegang
teguh oleh kedua orang itu. Mereka saling percayamempercayai.
Setelah Verdoja keluar dari piramida, maka gadis Indian
diangkat dari atas kudanya. Ia pun ditutupi matanya,
demikian juga Pardero yang tidak suka diperlakukan
demikian. Tetapi ia harus mengalah juga karena ia tahu
bahwa Verdoja tidak mau membuka rahasianya kepada
siapa pun. Sesampai di dalam Pardero dilepas lagi ikatan
matanya lalu boleh berjalan-jalan dengan bebasnya. Hanya
pintu masuk yang dirahasiakan terhadapnya seperti juga
kepada setiap orang lain. Penjaga piramida membimbing
gadis Indian itu sedangkan Verdoja membimbing Pardero.
Mereka tiba di sel Emma. Di sebelahnya ada sebuah sel
lagi. Pintu sel itu dibuka untuk memasukkan Karja.
“Sementara itu aku akan mengambil tawanan-tawanan
lainnya. Kau urus Karja saja,” kata Verdoja kepada
Pardero.
Ia pergi bersama pembantunya. Pardero melepas tutup
mata gadis Indian itu sehingga gadis itu dapat bergerak
dengan bebas. Di cahaya lampu Pardero memandangi
tubuh gadis yang cantik itu dengan penuh selera. “Kini tak
ada kuasa lagi yang dapat merampasmu dari tanganku,”
katanya.
Mata gadis itu berapi-api karena marah dan tersinggung
harga dirinya. Ia, putri seorang kepala suku, adik Kepala
Banteng yang termasyhur itu, sekali-kali tidak merasa
takut kepada Letnan yang hanya bertangan satu itu.
“Pengecut!” katanya dengan nada menghina.
“Mana mungkin pengecut?” kata Pardero sambil
tertawa. “Bukankah kami dapat menaklukkan kamu serta
membawamu ke mari?”
“Bagaikan pencuri menyelinap masuk ke dalam untuk
menangkap orang-orang yang sedang tidur, patutkah
perbuatan demikian dibanggakan? Seorang ksatria tidak
berperang melawan wanita. Bukankah Sternau sudah
terlepas? Ia baru seorang ksatria, kau tak sanggup
menandinginya. Kalian seperti serigala padang prairie yang
hanya berani secara gerombolan mencari mangsa pada
malam hari dan hanya menangis ketakutan bila
mendengar tembakan. Sungguhpun aku hanya seorang
gadis, namun aku tidak merasa takut sedikit pun
kepadamu seperti juga kepada nyamuk yang mengiangngiang
dekat telingaku dan yang mudah kuhancurkan
dengan dua jariku.”
“Diam! Ketahuilah bahwa nasibmu sepenuhnya ada di
tanganku dan bahwa baik buruk nasibmu pun
sepenuhnya tergantung pada kelakuanmu. Jadi tinggal
pilih saja : mau enak atau mau dihancurkan?”
“Dihancurkan? Aku, adik kepala Banteng? Oleh kamu?
Haha, lucu benar. Jangan berani jamah aku! Kau akan
menyesal!”
Gadis itu mengancam dengan mengangkat tangannya.
Pardero mengulurkan tangan kirinya untuk mendekap
gadis itu. Kini gadis itu tidak mengelak malah
mendekatinya, namun… secepat kilat hal itu terjadi
sebelum disadari oleh sang Letnan. Pisau yang tersisip di
pinggangnya serta sebuah pistol sudah pindah ke tangan
gadis yang gagah berani itu. Pada saat itu gadis itu
mendorongnya kuat-kuat sehingga ia terhuyung-huyung
menabrak pintu. Gadis itu membidikkan pistolnya ke arah
Pardero serta mengacungkan pisau dengan tangan kirinya.
“Mari, kucing liarku, akan kujinakkan kau!” seru
Pardero sambil melangkah menghampirinya.
“Berhenti!” ancam gadis Indian, “atau kutembak!”
“Ah! Masa! Kau tentu main-main saja, manis!” Dengan
memandang enteng ancaman gadis itu Pardero melompat
ke arahnya, untuk merampas senjatanya dari tangannya
namun pada saat itu juga terdengar letusan tembakan dan
Pardero menjerit kesakitan, sambil memegangi mulutnya
yang mengeluarkan darah. Peluru gadis itu telah
menghancurkan rahangnya serta mengenai lidahnya.
“Setan! Akan kuhajar kau!” serunya dengan mulut
berdarah sambil memegangi dengan tangan yang cacat dan
merentangkan tangan lainnya ke arah gadis itu.
Pisau nampak berkilat seketika lalu menghunjam
bekali-kali dengan kecepatan luar biasa ke dada laki-laki
itu.
“O, Dios!” rintih orang itu lalu rebah tak berdaya ke atas
tanah.
“Mampus kamu!” seru gadis itu dan ke empat kalinya
pisau tertanam di rusuk tubuh Pardero, masuk di antara
tulang rusuk, tepat mengenai jantung yang menghabiskan
nyawa orang itu. Gadis perkasa itu serta merta berlutut di
sisi lawannya, mencabut pistol yang kedua, mengambil
pelurunya, jam tangan serta kantung berisi bahan
makanan yang disandang korban. Semua perlengkapan
diambilnya. Tiba-tiba ia mendengar orang memukul
dinding ruangannya keras-keras.
“Siapa di situ?” tanya gadis itu.
“Aku… Emma,” bunyi jawabnya tertahan.
Karja bersorak kegirangan. Ia menjemput lentera yang
terletak di atas tanah itu. Sesaat kemudian ia sudah
berdiri di muka pintu sel Emma. Ia berusaha sekuat
tenaga untuk membuka grendel yang sudah berkarat itu.
Setelah berhasil, langsung ia masuk ke dalam.
“Kau memiliki senjata serta sebuah lampu … kau
bebas?” seru gadis berkulit putih itu.
“Memang aku memiliki senjata, namun aku masih
belum bebas,” jawab gadis Indian itu.
“Kau telah mengetuk … jadi kau tahu aku ada
dekatmu?”
“Aku mendengar suara-suara, suara seorang laki-laki
dan seorang perempuan, kemudian terdengar tembakan.
Siapakah yang menembak itu?”
“Aku. Mula-mula aku menembak rahangnya, kemudian
aku menikam tubuhnya dengan pisau. Ia sudah mati.”
Astaga! Alangkah mengerikan!” desah Emma.
“Mengerikan? Sekali-kali tidak. Orang itu hanya
menerima ganjarannya yang setimpal. Tetapi kini kita
janganlah membuang-buang waktu. Kita harus mencari
kebebasan. Kau mempunyai senjata?”
“Sebilah pisau yang telah kurebut dari Verdoja.”
“Bagus. Jadi kau pun dapat bertindak dengan perkasa
bila perlu. Terimalah pistol ini! Siapa yang berani
menghalangi kita akan kita tembak mati. Mari kita periksa
lorong ini.”
Mereka menyelinap memasuki lorong-lorong dan
menempuh jalan yang dilalui ketika mereka masuk. Lorong
itu sempit, udaranya pengap. Karja berjalan di muka. Tibatiba
ia terhenti lalu memekik kegirangan.
“Ada apa?” tanya Emma.
“Aku menemukan sesuatu!” jawab gadis Indian. “Kita
tidak perlu bergelap-gelap lagi ataupun mati kelaparan.
Lihatlah!”
Di dinding lorong terdapat sebuah lubang berbentuk
bujur sangkar. Di dalamnya terdapat sejumlah perbekalan
tortilla, yaitu roti jagung berbentuk pipih, makanan biasa
orang Mexico. Di cahaya lentera tampak juga sebuah botol
penuh berisi cairan. Setelah diperiksa ternyata isinya
minyak.
“Mujur benar kita!” kata Emma. “Kukira kita akan mati
kelaparan dalam bangunan seperti neraka ini.”
“Kita tidak akan mati kelaparan. Roti jagung itu dapat
kita makan. Lagi pula aku telah mengambil kantung berisi
perbekalan makanan dari tubuh Pardero. Mari kita
lanjutkan perjalanan!?
“Apakah tidak berbahaya memasuki lorong-lorong ini?
Kita akan tersesat.”
“Tidak mungkin. Percayalah. Aku tahu dengan pasti
bahwa kita telah datang dari arah sini juga. Sungguhpun
mataku tertutup, namun perasaanku menyatakan bahwa
pintu sel terbuka ke arah kami datang.”
Perlahan mereka menyelinap terus. Akhirnya mereka
menjumpai sebuah pintu dengan gerendel besi kukuh yang
baru saja telah diminyaki. Pintu itu terbuka sedikit. Ketika
kedua gadis itu membukanya dengan mendorongnya,
mereka berada dalam lorong yang kedua. Karja memeriksa
pintu dan melihat bahwa sebelah luar pintu itu diberi
grendel pula sehingga pintu itu dapat dikunci dari dua
belah pihak.
“Itu hasil pemikiran yang cerdik,” pikir gadis itu.
“Grendel bagian luar gunanya untuk mengunci pintu
terhadap lorong tempat sel-sel kita, sedangkan grendel
bagian dalam un
tuk mengamankan diri dari serangan orang-orang dari
luar.
“Ngeri aku bila mengingat nasib kita ini.” Keluh Emma.
“Namun untunglah bahwa nasib itu sudah bertukar
menjadi baik.”
“Apa kerja kita sekarang?”
“Kita ada harapan. Sternau sedang mencari kita dan
mungkin dapat juga menemukan penjara kita. Kita
memiliki senjata, peluru,minyak dan bahan makanan. Kita
tidak akan menyerah. Kini masih satu hal yang
membingungkan aku, kita harus menempuh jalan ke kiri
atau ke kanan…”
“EST … aku dengar sesuatu!”
Perkataan itu diucapkan Emma dengan berbisik. Kedua
gadis itu mendengar bunyi langkah kaki orang dari
kejauhan, makin lama makin mendekat.
“Cepat kita kembali. Kita menggerendel pintu dari
dalam!” kata Karja.
Mereka menyelinap kembali ke balik pintu lalu
menggerendelnya dari dalam. Bunyi langkah kaki itu
makin mendekat … Namun mereka berjalan terus. Tidak
ada usaha untuk membuka pintu. Hanya seseorang
mendorongnya sedikit untuk mengetahui pintu itu sudah
tertutup rapat atau belum.
“Beberapa orang pria,” bisik Emma.
“Kuduga empat orang,” pikir Karja. “Mungkin Verdoja
dengan pembantunya untuk membawa Senor Mariano dan
Senor Unger. Mereka berhenti. Dengarlah, ada yang
bercakap.”
Keempat orang itu masih belum jauh dari situ ketika
terdengar suara Verdoja.
“Berhenti! Kita sudah sampai! Masukkan yang seorang
di sini dan yang seorang lagi di sel sebelahnya, Ayo, cepat!”
Beberapa saat berlalu. Mereka tidak mendengar apaapa.
Kemudian terdengar bunyi grendel pintu yang digeser.
Setelah itu bunyi langkah kaki dua orang yang berjalan
kembali. Di muka pintu lorong mereka berhenti sesaat lalu
berusaha membuka pintu dengan mendorongnya.
“Wah, Pardero telah menggrendel pintu dari dalam!”
kata Verdoja sambil tertawa.
“Sebenarnya itu tidak perlu,” gerutu penjaga bangunan.
“Kini kita terpaksa menunggu.”
“Tentu ia tidak mau diganggu oleh kita. Namun ia patut
diberi pelajaran. Kita kunci saja pintu dari luar.”
“Dan apabila ia mau keluar …”
“Ia harus rela menunggu juga.”
“Tetapi mungkin ia mencoba masuk ke dalam loronglorong
lainnya sehingga ia tersesat atau melihat sesuatu
yang tidak boleh dilihat orang.”
“Pintu yang satunya lagi akan kita kunci juga, maka ia
hanya dapat mundar-mandir dalam lorong ini saja sampai
kita membukakan pintu untuknya.”
“Dan apabila ia pergi ke ujung lorong di sebelah sana?”
“Itu pun akan sia-sia saja baginya. Pintu belakang tak
mungkin dapat dibukanya, karena ia tidak mengenal
rahasianya. Mari kita pergi saja; sejam kemudian kau
harus menjemputnya.”
Setelah mereka pergi, kedua gadis itu dapat bernafas
dengan lega kembali. Ngeri mereka mengingat
kemungkinan bahwa mereka dapat ditangkap kembali.
Setelah bunyi langkah kaki tidak terdengar lagi, Emma
bertanya, “Apa sekarang?”
“Membebaskan kedua kawan kita. Maka kita jadi
berempat. Kini kita tidak perlu merasa takut lagi.”
Emma membuka sebuah pintu yang menuju ke sebuah
lorong simpang. Kedua gadis itu menemukan di situ dua
sel bersebelahan yang dihuni oleh dua tawanan pria itu.
Karja mengetuk tetapi tidak mendapat jawaban. Demikian
pun di pintu yang kedua mereka tidak berhasil
memperoleh jawaban. Ia membuka pintu kedua sel itu
dengan menggeser grendelnya lalu menyinarkan lampunya
ke dalam. Di atas tanah terbaring seorang pria yang
dibelenggu dengan dua buah rantai.
“Senor Unger!” kata gadis itu setelah mengenalinya.
“Mengapa Anda tidak menjawab?”
Karena terkejut Mualim itu menggerakkan rantainya
yang berbunyi gemerincing. Ia tidak dapat melihat siapa
yang masuk karena Karja menerangi sel itu namun ia
sendiri berdiri dalam gelap.
Unger yang mengenali gadis Indian itu dari suaranya
berkata dengan tercengang-cengang, “Senorita Karja,
bagaimana Anda sampai dapat ke mari?”
“Kami berhasil membebaskan diri kami,” jawabnya.
“Kami? Siapa lagi?”
“Senorita Emma.”
“Masya Allah! Senorita Emma ada bersama Anda?”
“Benar, inilah saya,” kata Emma sambil melangkah
masuk untuk memperlihatkan dirinya. “Karja yang perkasa
itu telah membunuh Pardero, melucuti senjatanya dan
membebaskan diriku. Kini giliran kami membebaskan
Anda.”
“Puji syukur kepada Tuhan!” seru Unger dengan merasa
lega. “Apakah Verdoja telah pergi?”
“Benar, dan penjaga bangunan baru sejam kemudian
akan kembali lagi.”
“Kalau begitu masih ada banyak waktu. Senor Mariano
ada di sel sebelah.”
“Kita akan membebaskannya juga,” kata Karja.
“Bagaimana membuka rantai itu? Kita tidak mempunyai
anak kuncinya.”
“Rantai ini tidak berkunci,” kata Unger. “Di dinding
rantai hanya dikukuhkan dengan beberapa pasak besi.
Pasak-pasak itu begitu tinggi letaknya sehingga tidak
tercapai olehku. Coba lihat saja sendiri, Senorita.”
Benar juga apa yang dikatakan itu. Unger sedang
terbaring terlentang. Kedua tangannya dirantai serta
rantainya itu dikukuhkan pada kedua dinding. Rantai itu
begitu pendek sehingga tawanan itu tidak dapat mencapai
dinding sebelah kiri maupun sebelah kanan. Dalam
sekejap mata Karja melihat bagaimana caranya
melepaskan rantai. Maka sesaat kemudian Unger sudah
terbebas dari segala hambatannya. Ia menggeliat dengan
tubuhnya yang besar itu untuk memulihkan kembali
peredaran darahnya.
“Untung benar Anda telah datang,” katanya. “Mari, kita
bebaskan Senor Mariano dahulu, kemudian kita dapat
bertukar pengalaman.”
Mereka pergi ke sel sebelah. Reaksi Mariano serupa
dengan Unger. Ia pun tidak memberi jawaban ketika
pintunya diketuk karena ia mengira mereka itu musuhnya
yang datang untuk menghina. Tubuhnya diikat dengan
rantai seperti pada Unger, maka tiadalah memakan waktu
lama untuk membebaskannya. Gadis-gadis itu harus
menceritakan pengalamannya, bagaimana mereka sampai
memperoleh kebebasannya. Kedua pria itu sangat memuji
keberanian mereka. Kini gadis-gadis itu tidak lagi berdiri
sendiri melainkan mempunyai pelindung yang cukup
tangguh.
Atas usul Mariano pisau tetap dipegang oleh kedua
gadis dan pistol diserahkan kepada kedua pria.
Selanjutnya mereka berjanji untuk tetap bersama-sama,
karena bila salah seorang dapat dipisahkan dari mereka, ia
tentu tidak akan tertolong lagi. Mereka harus berjaga-jaga.
Setiap saat bencana dapat terjadi. Bahan makanan mereka
bagi empat. Ke empat kendi air disiapkan, setiap orang
membawa satu. Unger dan Mariano membagi-bagi peluru
yang direbut dari Pardero dan Mualim memasukkan botol
berisi minyak ke dalam sakunya. Sayang jam tangan
Pardero mati sehingga mereka tidak mempunyai alat
pengukur waktu.
Segala sesuatu yang berguna dibawa mereka dalam
perjalanan menyelidiki lorong-lorong yang gelap
menyeramkan itu. Lorong yang ada sel-sel tawanan pria itu
ujungnya yang satu ditutup dengan sebuah pintu. Di
ujungnya yang satu lagi terdapat sebuah kamar. Dari
kamar itu dapat dicapai lorong yang ada sel-sel tawanan
gadis. Ujung lorong itu ditutup dengan pintu. Pintu itu
dikunci dengan dua grendel besar yang sudah berkarat.
Dengan sekuat tenaga kedua pria itu menggeser grendel.
Setelah berusaha lama grendel itu dapat digeser, namun
sia-sia saja. Pintu belum terbuka juga. Itulah pintu yang
dimaksudkan oleh Verdoja dengan pintu yang tidak dapat
dibuka orang yang tidak mengenal rahasianya.
“Apa akal?” tanya Unger. “Pintu ini tak mungkin kita
buka.”
“Tentu ada rahasianya,” kata Mariano. “Mari kita
selidiki. Mungkin kita dapat mengetahui rahasianya.”
Setiap sentimeter pada pintu serta dinding di
sekelilingnya diraba dengan tangan dan kaki. Mereka
mencari bagian yang tidak rata, yang agak menonjol atau
masuk ke dalam. Namun usaha mereka sia-sia saja.
“Tak perlu kita membuang-buang waktu lagi dengan
mencari,” kata Unger. “Ini bukanlah caranya untuk
mendapat kebebasan. Kita harus menggunakan siasat.
Jangka waktu bagi penjaga untuk kembali lagi sudah
hampir lewat. Kita harus menaklukkannya. Bila orang itu
sudah kita kuasai, kita dapat memaksakannya. Bila orang
itu sudah kita kuasai, kita dapat memaksanya
memberitahukan kita jalan untuk mendapat kebebasan.”
“Benarlah, itu satu-satunya jalan yang memberi
harapan,” kata Mariano.
“Kita sudah mempunyai korek api milik Pardero, maka
kita sebaiknya memadamkan lentera kita. Cahayanya
dapat membahayakan kita. Mari kita kembali lagi ke ujung
lorong dan membuka pintu. Salah seorang dari kita berdiri
menanti di dalam lorong. Yang seorang lagi bersembunyi di
balik pintu yang terbuka. Bila orang itu muncul, akan kita
sergap dia.”
“Dan bagaimana dengan kami?” tanya Karja.
“Kalian berdua bersembunyi dalam sel Senorita Emma.
Dalam sel yang satunya lagi terdapat mayat Pardero.
Tentunya sel itu kurang cocok bagi seorang gadis.”
Maka gadis-gadis itu masuk ke dalam sel. Mariano
sendiri menanti dalam lorong yang gelap itu dan Unger
bersembunyi di balik pintu. Lama mereka menunggu.
Akhirnya mereka mendengar bunyi-bunyi yang lemah. Di
kejauhan terdengar sebuah pintu ditutup orang, lalu suara
orang yang agak menggerutu. Kemudian terdengar bunyi
langkah kaki orang yang kian mendekat. Si penjaga
bangunan datang. Lenteranya yang kecil berkelap-kelip di
tangannya memberi penerangan taram-temaram. Akhirnya
cahaya lampu menerangi pintu yang sedang terbuka.
“Senor Pardero!” panggil orang itu dengan suara tertahan.
Tidak ada jawaban. Orang itu pergi ke lubang pintu
untuk melihat ke dalam lorong. Cahaya lampunya dengan
samar-samar menerangi tubuh Mariano yang sedang
bersandar pada dinding.
“Senor Pardero?” tanya penjaga.
“Ya,” jawab orang Spanyol itu dengan suara yang
dibuatbuat.
“Senor Verdoja sudah pergi ke hacienda. Saya harus
mengantarkan Anda ke situ.”
“Dan yang lainnya?”
Seandainya lorong itu tidak begitu sempit, lembab serta
hampa maka orang itu tentu tidak akan terkecoh semudah
itu. Namun kini suasana separuh gelap dan suara Mariano
yang dibuat-buat itu membuat penjaga tidak menaruh
syak wasangka bahwa ia berhadapan dengan Pardero.
“Mereka sudah kembali semuanya,” jawabnya.
“Semuanya?”
“Benar. Mula-mula Senor Verdoja hendak mengirim
beberapa orang saja, tetapi karena Sternau itu lawan yang
luar biasa kuat serta cerdiknya, maka ia merasa perlu
mengirim semua orangnya untuk menangkapnya. Mereka
baru akan menerima upahnya setelah berhasil
menangkapnya hidup-hidup ataupun membawa pulang
kepala orang itu yang sudah terpenggal. Maka sudah
barang tentu mereka akan berusaha sedapat-dapatnya
untuk menemukannya.
“Tetapi bukankah kuda mereka sudah terlalu letih?”
Unger mengerti bahwa Mariano sedang berusaha
mengetahui sebanyak mungkin tentang rencana lawannya,
tetapi ia menganggap pembicaraan itu perlu juga
dihentikan karena dapat membahayakan diri mereka.
Maka ia diam-diam keluar dari persembunyiannya lalu
berdiri tepat di belakang penjaga bangunan. Orang itu
masih belum juga menyadari keadaan gawatnya. Ia
menjawab, “Mula-mula mereka pergi ke hacienda untuk
mengambil kuda-kuda yang masih segar. Untunglah kedua
tawanan kita, Unger dan Mariano sudah dipenjarakan
dalam selnya. Jadi mereka tidak dapat mengganggu kita
lagi.”
“Kukira kau sedang mengigau!” kata Mariano sambil
maju selangkah mendekatinya. Pada saat itu juga Unger
langsung memegang lehernya dengan kedua belah
tangannya. Maka terlepaslah lentera dari tangan orang itu.
Ia mengerang kesakitan lalu menggelepar-gelepar dengan
kaki dan tangannya. Sesaat tubuhnya gemetar, kemudian
terjatuh dengan lemas ke dalam tangan lawannya.
“Bagus,” kata Pelaut itu. “Ia sudah tidak sadarkan diri.
Nyalakan lampu.”
Mereka membaringkan tubuh itu ke atas lantai lalu
menyalakan lampu. Setelah diterangi oleh sinar lampu,
maka tampaklah tubuh itu sudah menjadi kaku. Matanya
masih terbuka dan wajahnya tampak kebiru-biruan.
“Ia bukan pingsan. Ia sudah mati,” kata Mariano.
“Itu tak mungkin,” jawab Unger. “Aku tidak
mencekiknya.”
“Lihat saja, Senor. Warna demikian bukanlah
merupakan tanda seseorang jatuh pingsan. Ia pasti sudah
mati, namun bukan karena perbuatan Anda. Karena
sangat terkejut ketika Anda tiba-tiba memegang lehernya.”
“Astaga, mungkin juga demikian. Kelihatannya seperti
orang yang menderita serangan jantung. Sayang, kini ia
tak dapat menunjukkan jalan keluar kepada kita.”
“Namun mungkin kita dapat menemukannya tanpa
bantuannya. Kini kita dapat menemukan jalan ke luar
dengan mengikuti jalan yang ditempuh orang itu.”
“Saya kira, tidak semudah itu. Lorong-lorongnya begitu
banyak dan bersimpang siur sehingga dapat menyesatkan
kita. Lagi pula pintu-pintunya tidak dapat dibuka orang
yang tidak mengenal rahasianya.”
“Kita lihat saja nanti. Pertama-tama harus kita periksa
dahulu, orang itu sudah benar-benar mati atau belum. Di
ikat pingangnya tersisip sebilah pisau dan sepucuk pistol
… Senjata yang sangat berguna bagi kita.”
Mariano memotong dengan pisau urat nadi penjaga.
Darah keluar hanya beberapa tetes saja. Mereka
mendengarkan nafas dan membuka baju orang itu untuk
mengetahui masih terdapat pergerakan pada tubuhnya
atau tidak. Selama seperempat jam mereka menyelidiki.
Akhirnya mereka merasa yakin, orang itu sudah mati.
“Aneh benar!” geram Unger. “Orang ini sekali-kali
bukanlah seorang penakut bila menelusuri lorong-lorong
yang gelap menyeramkan ini, tetapi bila sesuatu terjadi
yang menyimpang dari kebiasaan, maka ia langsung
mendapat serangan jantung! Baik kita letakkan tubuhnya
dekat tubuh Pardero sehingga gadis-gadis tidak perlu
melihatnya.”
Sebelum mereka mengangkat tubuhnya, mereka
memeriksa isi saku-sakunya. Mereka menemukan sebuah
jam terbuat dari tembaga. Benda itu besar gunanya bagi
mereka untuk menentukan siang dan malam. Selanjutnya
ditemukan sebilah pisau lipat kecil dan sejumlah besar
rokok yang selalu terdapat dalam saku baju orang Mexico.
Baru setelah selesai mereka pindahkan mayat penjaga ke
dalam sel Pardero. Mereka memanggil gadis-gadis itu dan
menceritakan kepada mereka apa yang telah terjadi.
“Orang itu nampaknya sekali-kali bukan penakut,” kata
Karja. “Tuan Unger tentunya mencekiknya dengan tangan
pelautnya yang kuat itu.”
“Itu tidak benar!” jawab Unger. “Mungkin ia bukan
seorang penakut, tetapi ia orang yang beritikad jahat.
Orang demikian jiwanya labil, mudah menjadi terkejut.
Tetapi sebaiknya jangan kita persoalkan lagi perbedaan
pendapat itu. Lebih baik kita mencari tahu, jalan keluar
masih terbuka atau tidak.”
Mereka pergi ke tempat lorong itu bercabang lalu
membelok ke kanan, ke arah datangnya penjaga. Mereka
menjumpai pintu terbuka yang menuju ke sebuah lorong
simpang. Di situ mereka membelok lagi ke kanan lalu
terbentur pada dinding batu yang tidak dapat ditembusi.
Mereka berbalik kembali dan memasuki bagian lain dari
lorong. Mereka terbentur pada sebuah pintu yang terkunci
dengan dua buah grendel. Mereka menggeser grendel itu
namun pintu tidak dapat dibuka juga.
“Lagi-lagi pintu rahasia,” kata Unger putus asa.
“Mungkin demikian,” kata Mariano. “Tetapi kita dapat
menyelidikinya.”
“Berempat mereka mencari-cari berjam lamanya,
segenap kecerdasannya dicurahkan, namun sia-sia saja.
Ketika mereka berusaha dengan tenaga mereka bergabung,
melepaskan pintu dari engselnya, mereka tidak mencapai
hasil sedikit pun.
“Segala usaha kita tidaklah berhasil,” kata Mariano
dengan hati kesal. “Mungkin perlu kita mengadakan
serangan lagi.”
“Siapa lagi yang harus diserang?” tanya Emma.
“Verdoja.”
“Benarlah pendapatnya,” kata Unger. “Bila penjaga
bangunan tidak kembali lagi bersama Pardero, maka
Verdoja akan mengira, mereka telah mendapat kecelakaan.
Maka ia akan pergi ke piramida dan kita siap menantinya.”
“Dan bila ia sampai tercekik lagi lehernya oleh Anda…?”
tanya Emma mengumpat.
“Itu tidak usah Anda khawatirkan. Saya tidak akan
mencekiknya. Kami berdua sudah cukup tangguh untuk
menguasainya. Kemudian akan kami panggil gadis-gadis
untuk membelenggunya. Ia tidak akan dapat berkutik lagi.
Dan bila ia masih menghargai nyawanya ia akan
membebaskan kita.”
“Benar. Itu satu-satunya jalan untuk memperoleh
kemerdekaan kita kembali,” tambah Mariano. “Mari kita
kembali lagi ke lorong kita.”
“Kita masih mempunyai banyak waktu,” kata Karja.
“Penjaga bangunan masih belum diharapkan kembali.
Masih beberapa jam lagi sebelum tiba saatnya Verdoja
merasa gelisah.”
“Sebaiknya kedua gadis itu tidur saja dahulu. Kami
akan menjaga keamanan.”
Usul itu diterima. Gadis-gadis itu tidak mau melihat
mayat itu. Mereka tidur di sel tempat Mariano ditawan.
Mereka boleh membawa lampu yang sudah dinyalakan.
Mariano dan Unger menanti dekat pintu tempat mereka
menaklukkan penjaga. Verdoja tentunya akan ke situ juga.
Tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran bekas kapten,
bencana yang akan menimpanya bila ia kembali ke kuil
masa purba itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh
penjaga, Verdoja telah pergi ke hacienda ditemani oleh
orang-orangnya. Hacienda itu tanah pusakanya dan
merupakan salah satu dari keenam puluh tanah milik yang
terdapat di Negara Chihuahua, yang juga merupakan nama
ibukotanya.
Hacienda Verdoja letaknya dua hari perjalanan dari
ibukota, tetapi untuk pergi ke Mexico diperlukan waktu
seminggu. Itulah sebabnya maka nenek moyang Verdoja
merupakan peternak-peternak sejati, yang mencurahkan
segenap perhatiannya kepada pemeliharaan hewannya dan
sekali-kali tidak merasa tertarik pada politik. Verdoja
adalah yang pertama yang mengubah adat kebiasaan itu.
Ia seorang yang haus akan kekuasaan. Ia menginginkan
pengaruh yang bertambah besar. Di Mexico terdapat
banyak partai yang saling bersaingan. Karena itu bagi
orang yang mempunyai ambisi akan pengaruh, hal itu
menguntungkan namun sekaligus juga merugikan. Verdoja
menyadari bahwa Juarez akhirnya akan memperoleh
kemenangan, maka ia menggabungkan diri dengannya. Di
bawah pimpinan orang yang gagah perkasa itu ia sampai
mencapai pangkat kapten. Sayang permulaan yang
cemerlang ini kini sudah berakhir dengan cara yang
memalukan. Ia sudah dapat membayangkan bahwa Juarez
tidak akan sudi menerimanya lagi.
Hari sudah malam ketika Verdoja tiba di hacienda.
Tidak ada seorang pun yang menantikan kedatangannya.
Sesungguhnya ia telah mengirim seorang utusan untuk
menyampaikan perintahnya kepada penjaga sehubungan
dengan para tawanan, namun penjaga itu pun dipesan
supaya pandai memegang rahasia.
Maka sepulangnya ke rumah semua penghuni sudah
tidur. Ia harus membangunkan beberapa vaquero. Mereka
harus menyediakan kuda-kuda yang kuat serta segar.
Setelah perintah itu dikerjakan, orang-orang Mexico itu
bergegas menaiki kudanya, pergi menempuh kegelapan
kembali ke arah mereka datang. Mereka bertekad bulat
untuk menangkap Sternau ataupun membunuhnya untuk
memperoleh hadiah yang dijanjikan.
Baru sekarang Verdoja sempat melayani dirinya. Ia
tidak beristri. Di haciendanya seorang wanita keluarga
jauh mengurus rumah tangganya. Wanita itu merasa
heran ketika melihatnya datang. Pada perkiraannya
Verdoja masih bersama Juarez, maka ia merasa heran
melihat tuannya pulang ke rumah ketika hari sudah larut
malam. Rasa herannya berubah menjadi rasa terkejut,
ketika ia melihat bahwa tuannya itu sudah kehilangan
empat jari dan sebelah matanya. Wanita itu hendak
meratap dan menangis, namun tuannya tidak memberi
kesempatan. Langsung ia membentaknya secara kasar dan
memerintahnya segera menghidangkan makanan. Sambil
menyantap makanan, ia memberitahukan kepadanya
bahwa ia menantikan kedatangan seorang tamu bernama
Pardero. Penjaga piramida akan mengantarkannya ke mari.
Maka harus disediakan makanan baginya dan sebuah
kamar disiapkan. Kemudian ia langsung pergi tidur untuk
mendapat istirahat yang sangat dibutuhkannya.
Ketika ia terjaga, hari sudah siang. Wanita pengurus
rumah tangganya menghidangkan minuman coklat yang
segera diminumnya tanpa berkata-kata. Ia menggeser
cangkir yang sudah kosong itu lalu bertanya, “Apakah
Senor Pardero sudah bangun?”
“Senor Pardero?”
“Benar. Senor yang berjanji akan datang kemarin.”
“Ia masih belum datang.”
“Apa! Belum datang?” seru Verdoja terkejut. “Dan
penjaga piramida? Kemarin ia harus datang juga.”
“Ia pun tidak saya lihat.”
“Kamu mungkin sudah tertidur nyenyak sehingga
mereka sudah melayani dirinya sendiri.”
Agak marah wanita itu menjawab, “Tak mungkin orang
dapat melayani dirinya sendiri di sini. Bila datang tamu,
sayalah yang mengatur segala-galanya … Malam hari pun
saya dibangunkan untuk itu. Saya telah menunggu
sepanjang malam, namun percuma saja.”
Verdoja tidak menjawabnya. Ia keluar dan menyuruh
siapkan seekor kuda. Sepuluh menit kemudian ia pergi ke
arah piramida. Tanpa dilihat orang, ia tiba di bangunan
tua itu. Cepat-cepat ia turun dari kudanya dan
membiarkan kuda itu makan rumput dekat sekelompok
belukar. Belukar itu berbatas dengan sebuah batu karang
besar yang sebagian sudah runtuh. Batu itu beralur-alur
yang ditumbuhi lumut. Di tempat itu batu menyentuh
tanah alur-alur itu tampaknya makin dalam. Verdoja
berbaring di atas lututnya dan menyandarkan bahunya
kepada batu karang itu. Ia mendorong dengan bahunya
dan bagian batu yang beralur dalam mulai bergeser masuk
ke dalam. Kini nampak sebuah lubang besar. Di bawahnya
terdapat beberapa butir batu berbentuk bulat, tempat batu
karang itu bergeser. Lubang itu cukup besar untuk
dimasuki orang dengan mengendap-endap. Verdoja masuk
ke dalam. Ia masuk ke dalam suatu celah di dinding lalu
mendorong batu karang itu kembali ke tempatnya semula.
Di dalam celah terdapat beberapa buah lentera, sama
seperti yang dibawa oleh penjaga piramida. Verdoja
menyalakan sebuah lalu menuruni sebuah lorong dalam
batu karang. Kemudian lorong itu naik sedikit lalu
menurun lagi. Lorong itu kadang-kadang lurus, ada
kalanya berliku-liku. Ia berjalan keluar masuk kamarkamar
dan melalui sel-sel. Ia membuka dan menutup
pintu dengan hanya menyentuhnya perlahan, tiap kali
terdengar bunyi logam “klik”. Ia memanjat sebuah tangga
dan setelah ia membuka dan menutup lagi beberapa pintu
dengan cara gaib yang sama, maka ia sampai pada pintu
yang tidak dapat dibuka oleh para tawanan itu, betapa
besar pun usaha mereka. Pintu ini pun membuka karena
mendapat sentuhan dari Verdoja meskipun dibaliknya
terdapat beberapa grendel. Kini ia masih harus memasuki
sebuah pintu yang dibiarkan terbuka oleh penjaga lalu ia
berada di lorong dengan sel-sel tempat Mariano dan Unger
ditahan.
Ia telah mengunci semua pintu di belakangnya. Di luar
dugaannya orang sedang menghadangnya dalam lorong
itu. Ia mengira bahwa Pardero masih tetap berada bersama
Karja dan bahwa si penjaga telah meninggalkannya.
Mungkin penjaga itu mendapat suatu halangan maka ia
belum dapat kembali ke hacienda. Perlahan ia pergi ke gua
dengan sel-sel gadis itu. Tiba-tiba cahaya lampunya
menerangi Mariano, namun sebelum Verdoja dapat
mengenalinya, ia sudah dipegang dari belakang lalu Unger
berseru, “Berhenti! Menyerahlah!”
“Tidak!” teriak Verdoja. Mariano hendak menangkapnya
namun Verdoja memberontak lepas dari tangan Unger dan
menendang perut Mariano yang jatuh terguling ke atas
lantai. Dengan memegang lampu Verdoja cepat-cepat
melarikan diri ke dalam lorong.
Langsung ia memahami apa yang telah terjadi. Pardero
dan penjaga tentu sudah dibunuh. Kalau tidak demikian,
para tawanan tidak mungkin lepas. Ia harus
menyelamatkan diri serta menjaga supaya para tawanan
tidak lolos. Maka ia tidak memilih berkelahi melainkan ia
melarikan diri.
“Kejar dia!” seru Unger.
Mariano cepat-cepat bangkit lalu bertanya,
“Tidak perlu mengajak para gadis?”
“Tidak,” seru pelaut itu tanpa berpikir panjang.
“Tetapi kita mungkin kehilangan mereka. Saya akan
mengambil mereka.”
“Maka saya akan pergi lebih dahulu.”
Unger mengejar si pelari dan Mariano mengambil para
gadis. Ternyata itu tidak perlu. Para gadis sudah siap
berdiri di belakangnya membawa lampu yang sudah
menyala di tangannya. Bahkan Karja demikian panjang
akalnya, ia membawa serta sebotol minyak.
“Ayo, cepat kita pergi!” seru Mariano. Ia berlari di
belakang Unger. Verdoja kini sudah dekat pintu. Ia
menyentuhnya …
Lalu pintu membuka dengan patuhnya meskipun ada
grendel di baliknya. Di belakang pintu terlihat suatu
ruangan yang gelap. Di tengah-tengah lantai tampak
sebuah lubang hitam menganga. Sebilah papan
menjembatani lubang itu. Karena Verdoja sudah hampir
terkejar oleh Unger, maka melompatlah ia ke atas papan
itu dalam usahanya menyelamatkan diri. Namun malang
baginya, papan itu bergoyang dan berderak-derak. Tinggal
selangkah dua langkah lagi untuk mencapai seberang …
namun papan itu patah berkeping-keping … Dengan
diiringi oleh jeritan yang mengerikan Verdoja terjun ke
dalam lubang yang dalam itu. Bunyi benturan tubuhnya
dengan dasar lubang terdengar sampai ke atas.
“Astaga!” seru Unger sambil mundur selangkah dari
lubang pintu yang sudah dicapainya. “Verdoja jatuh ke
dalam lubang!”
Di mana? Di mana?” Tanya Mariano yang telah
melampauinya.
“Di situ … di bawah!”
Kedua gadis pun datang menyaksikan. Emma yang
menuju ke lubang itu hendak membiarkan pintu menutup
di belakangnya. Untunglah Mariano dapat mencegah
perbuatan itu.
“Jangan ditutup, Senorita. Bila kita tidak berhasil
menyeberangi lubang itu kita akan terkurung di ruangan
yang sempit ini.”
Benar juga ia. Di ruangan berbentuk bujur sangkar di
hadapan mereka menganga sebuah lubang, lebarnya lebih
dari lima meter, dari dinding sebelah kiri ke dinding
sebelah kanan. Lubang itu hanya dapat diseberangi
melalui suatu jembatan. Di tempat mereka berdiri, lantai
hanya semester lebarnya sehingga mereka hampir-hampir
tidak berani bergerak. Ketika lampu mereka menerangi
bagian langit-langit, maka di situ pun tampak lubang
berlanjut ke atas.
“Ini agaknya bekas mata air,” kata Unger.
“Benarlah pendapatmu,” jawab Mariano. “Dengarlah!”
Dari bawah terdengar samar-samar suara. Unger
berbaring di atas lututnya dan memanggil ke bawah,
“Verdoja!”
Terdengar suara orang mengerang secara mengerikan.
Itulah jawabannya.
“Kau masih sadar?” Tanya Unger. Sekali lagi terdengar
suara orang mengerang sebagai jawaban.
“Mau kamu kami tolong?” Tanya Unger.
Jawaban yang terdengar tidak dapat dimengerti mereka.
“Ia tidak tertolong lagi,” kata Mariano. “Mata air itu
sekurangkurangnya dua puluh meter dalamnya.”
“Verdoja sudah menerima hukuman yang setimpal!”
tambah Karja agak marah-marah. “Tetapi bagaimana nasib
kita selanjutnya?”
“Pintu masih terbuka,” kata Emma. “Mari kita mencari
rahasianya.”
Mereka menerangi lorong dan mereka merasa heran
karena bukan hanya pintunya yang terbuka melainkan
juga kosen-kosen pintu telah berputar membuka. Di atas
dan di ambang pintu terlihat alur-alur yang dalam pada
bagian atas dan bawah daun pintu tampak lubang-lubang
kecil. Bagaimana caranya menggerakkan grendel tidaklah
jelas. Keempat tawanan itu bersusah payah untuk
memecahkan rahasia, namun tiada berhasil. Jalan keluar
melalui lubang mata air tidak mungkin dilaksanakan.
Suara Verdoja meraung-raung makin lama makin tiada
tertahan orang yang mendengarnya. Maka mereka hendak
kembali saja ke lorong tempat mereka datang. Pintu yang
menghubungkan dengan lubang mata air dibiarkan
terbuka. Mereka mengganjalnya dengan rumput kering
yang diambil mereka dari sebuah sel, untuk menjaga
supaya pintu itu tidak dapat menutup kembali dengan
sendirinya. Mereka saling melempar pandangan berputus
asa.
“Ada kemungkinan, Verdoja telah meninggalkan salah
sebuah pintu yang dilaluinya, terbuka,” Mariano menduga.
“Mari kita menyelidikinya.”
“Mereka kembali ke lorong lalu terbentur pada pintu
yang dahulu sudah diusahakan membukanya, tetapi tanpa
hasil. Pintu itu terkunci. Mereka berusaha lagi, namun kini
pun tanpa hasil.
“Kita sudah terperangkap,” sedu Emma. “Kita
menjumpai nasib mati kelaparan.”
“Masih belum seburuk itu,” hibur Mariano. “Tuhan
masih ada. Tuhan tidak akan membiarkan kita seperti ini.”
“Mari kita kerahkan segenap akal dan tenaga kita untuk
menyelamatkan diri kita. Tentu harus ada jalan.”
“Saya rasa, sudah tidak ada jalan lagi,” kata Karja.
“Kecuali bila Senor Sternau datang.”
“Dan bila ia tidak datang?” keluh Emma. “Karena ia
sudah tertangkap kembali atau dibunuh?”
“Ingat Senorita, Senor Sternau itu bukanlah anak kecil.
Saya yakin ia dapat mengatasi kesulitan keadaannya,”
hibur Unger.
“Saya kira membuka pintu itu bukanlah pekerjaan yang
sulit sekali. Bukankah kita mempunyai pisau? Itu
merupakan perkakas yang tepat.”
“Benarlah,” sindir Emma. “Kita potong saja pintu
dengan pisau itu.” Mereka tertawa juga mendengar kelakar
itu sungguhpun mereka mengalami nasib yang seburuk
itu.
“Itu bukan maksudku, Senorita,” kata Unger. “Kayu
pintu itu sekeras besi. Memotongnya dengan pisau itu
akan memakan waktu berbulan lamanya. Lagipula,
andaikata kita berhasil juga, masih belum tentu kita
berada dalam lorong yang benar. Maksud saya
membongkar sebagian dinding sekitar pintu. Di situ
niscaya terdapat rahasianya.”
“Kurasa kau benar,” kata Mariano membantunya. “Mari
kita kerjakan!”
“Ada jalan yang lebih pendek,” kata Karja. “Kita pintal
saja sebuah tali tambang. Tali itu kita masukkan ke dalam
lubang. Salah seorang di antara kita turun ke bawah
menemui Verdoja. Bila ia masih hidup, ia dapat membuka
rahasia pintu kepada kita.
“Dari bahan apa harus kita buat tali itu?”
“Dari tali dan laso yang dipakai untuk mengelenggu
kita. Tali-tali itu masih tertinggal dalam sel kita. Bila
kurang panjang, kita dapat menggunakan baju lawan kita
yang sudah mati. Bila perlu baju kita sendiri dapat
digunakan. Mungkin dapat juga kita lepaskan rantai-rantai
yang dipakai untuk membelenggu tubuh kedua senores itu
serta memanfaatkannya. Senorita Emma dan saya telah
mendapat selimut yang juga dapat ditemukan dalam sel
kami. Selimut itu dapat kita koyak-koyak lalu kita pintal
menjadi tali.”
Usul itu diterima. Laso-laso mulai dihubunghubungkan,
baju Pardero dan penjaga dipotong-potong,
demikian juga selimut-selimut, sekaliannya itu dipintal
menjadi tali. Setelah selesai tali dipintal, panjangnya
mencapai lebih dari dua puluh meter. Unger dan Mariano
menarik dengan sekuat tenaga di kedua belah ujungnya
untuk mencobai kekuatannya. Untunglah tali itu cukup
kuat. Mariano menawarkan dirinya turun ke bawah karena
tubuhnya lebih ringan daripada Unger.
Ada dua lampu tersedia, salah satu diikatkan Mariano
pada sabuk pinggangnya. Kemudian mereka pergi ke
lubang mata air.
Suara mengerang masih terdengar sama jelasnya seperti
sebelumnya. Mariano mengikatkan salah satu ujung tali
pada dadanya untuk dapat turun ke bawah. Kembalinya ke
atas ia harus memanjat tali. Itu lebih baik karena ia lebih
pandai memanjat daripada Unger. Lagi pula itu lebih baik
daripada ia ditarik ke atas meskipun Unger dapat dibantu
oleh kedua gadis, karena tali itu akan bergeser pada
dinding batu yang tajam sehingga mudah putus.
Tersedia empat kendi berisi air. Salah satu dikorbankan
mereka untuk membasahi tali supaya tetap menjadi lentur
dan bertambah kekuatannya. Kemudian Mariano
berjongkok, memegang dengan kedua belah tangan tali
pada simpulnya di atas dadanya lalu menolak dengan
lututnya ke tepi lubang. “Aku turun, Tuhan menyertaiku,”
serunya.
Unger bertenaga kuat. Ia dapat menahan talinya sendiri.
Kawannya yang perkasa itu segera turun ke dalam lubang
gelap itu. Amat perlahan dan hati-hati Mualim itu
mengulur tali. Gadis-gadis itu berbaring di atas lututnya.
Mereka melihat cahaya lampu makin menghilang turun ke
bawah.
“Mudah-mudahan ia tidak sampai mati lemas!” kata
Emma. “Mata air itu begitu dalam serta tua, mungkin ada
gas-gas beracun di dalamnya.”
Itu sesuatu yang masih belum terpikirkan oleh mereka.
Tetapi Unger menggelengkan kepalanya sambil tertawa,
“Senorita, bukankah Anda mendengar Verdoja mengerang
tadi?”
“Ya, saya dengar,” katanya, “suaranya menakutkan
sekali!”
“Suara itu merupakan bukti bahwa ia masih hidup. Ia
tentunya sudah lama mati bila terdapat gas beracun di
situ.”
Ketika tali setelah diulur hingga tinggal dua meter lalu
berkerut, mereka merasa lega. Mariano telah mencapai
dasar.
Ketiga orang berdiri di tepi lubang sedang
memperhatikan setiap bunyi yang sampai ke telinganya.
Sumber air itu tidak bundar melainkan bersegi empat dan
dinding-dindingnya licin. Jadi tidak berbahaya bagi tali.
Berabad yang lalu mungkin terdapat air di dalamnya,
tetapi kini mata air itu sudah kering. Mariano berdiri di
atas batu karang berlubang-lubang yang dilapisi oleh
pasir. Dahulu kala air mengalir melalui pasir itu. Pemuda
itu mencari tempat Verdoja jatuh. Tak jauh dari ia melihat
orang itu terbaring, tubuhnya bergelung seperti anjing
kesakitan. Dari mulutnya yang terbuka, keluar suara
raung, yang di bawah lebih mengerikan kedengarannya
daripada di atas. Bibirnya penuh oleh busa dan darah.
Matanya yang masih utuh sedang terbuka. Mariano
melihat bahwa Verdoja berada dalam keadaan sadar.
“Berhentilah meraung dan jawablah pertanyaanku,”
kata Mariano. “Saya hendak menolong Anda.”
Orang yang mendapat kecelakaan itu berhenti sejenak
meraung lalu mengarahkan pandangannya yang penuh
berisi kebencian kepada penyelamatnya. “Di mana
Pardero?” tanyanya.
Nampak pada wajahnya bahwa setiap perkataan itu
sangat menyakitkan baginya.
“Sudah mati,” jawab Mariano.
“Dan penjaga?”
“Mati juga.”
“Gadis-gadis?”
“Mereka ada di atas bersama kami.”
“Pembunuh!”
“Jangan memaki,” perintah Mariano. “Semua adalah
salah Anda sendiri. Meskipun demikian kami mau
menolong Anda.”
“Mau menolong? Bagaimana?” tanya Verdoja.
“Kami akan mengangkat Anda dengan tali dan
membawa Anda ke hacienda.”
Sejenak nampak pada wajah Verdoja yang menderita
kesakitan itu suatu perasaan terima kasih. Namun
kemudian ia memandang lagi dengan jahatnya.
“Bagaimana Anda dapat merencanakan keluar dari sini?”
tanyanya.
“Anda harus mengatakan bagaimana caranya membuka
pintu dan menunjukkan jalan yang menuju ke luar.”
“O! jadi Anda masih belum tahu? Bagus!” wajah Verdoja
menampakkan kepuasan sataniah yang sangat mengerikan
bagi orang yang melihatnya. “Kalian orang-orang busuk
patut mendapat hukuman … mati kelaparan … mati
kehausan … mati karena sengsara,” tambahnya. Tiap
perkataan diucapkan dengan suara yang makin keras.
Hampir-hampir ia mati tercekik. Nyatalah bahwa ia sedang
menikmati kepuasan yang sampaisampai dapat
menumpulkan rasa sakitnya.
“Kami tidak akan mati,” jawab Mariano, “Karena Anda
tentu ingin mendapat kebebasan dan kesehatan Anda
kembali dan itu hanyalah dapat dicapai dengan bantuan
kami.”
“Kebebasan! Kesehatan! Ah!” erang Verdoja. “Tangan
patah, tulang punggung patah! Mana mungkin aku tetap
hidup! Biar aku mati saja!”
“Anda tidak akan mati, Anda akan tetap hidup dengan
bantuan kami. Mau Anda kami tolong?”
“Tak perlu! Tak perlu! Kalian harus mati juga!”
Mulutnya kembali berbusa. Matanya seakan hendak ke
luar dari rongganya. Ia menyerupai seekor ular yang di
saat kematiannya pun masih dapat menyemburkan bisa.
Mariano sudah habis kesabarannya. “Anda
menghancurkan diri Anda sendiri!” serunya.
“Aku rela!” jawabnya. “Dan kalian akan menjadi busuk
bersamaku … Itu benar-benar mengasyikkan … Bersama
menik
mati neraka!”
“Itu perkataan Anda yang terakhir?”
Dengan menggertakkan gigi reruntuhan manusia itu
memuntahkan, “Ya, yang terakhir, benar-benar yang
terakhir!”
“Dengan demikian semua rasa kasihan kini berakhir.
Perlu diambil tindakan yang lebih keras. Bila permohonan
dengan sopan santun tidak dihiraukan lagi, masih ada
jalan lain untuk memaksakan seorang iblis seperti Anda.
Kami sekali-kali tidak ingin mati kelaparan hanya untuk
memuaskan hati Anda.”
Mariano berlutut di sisi Verdoja memegang lengannya
yang cedera lalu menekannya kuat-kuat ke bawah.
Penyiksaan itu membuat orang jahat itu meraung-raung
kesakitan.
“Bagaimana caranya membuka pintu?” bentak Mariano.
“Tidak akan kukatakan!” raung Verdoja.
“Kau harus mengatakannya! Aku tidak akan
melepaskanmu,” seru Mariano yang sekali lagi kuat-kuat
menekan lengan orang itu ke bawah. Jeritan yang kini
terdengar menyerupai raungan seekor harimau, namun
Verdoja belum mau membuka rahasia. Mariano memegang
kakinya, namun itu tidak akan ada artinya karena tulang
punggung penjahat itu sudah patah dan kakinya tidak lagi
berperasaan. Ia tertawa mengejek ketika ia melihat usaha
Mariano tidak membawa hasil sedikit pun. Maka pemuda
itu makin kesal hatinya.
“Ya, tertawalah terus, setan,” hardiknya. “Masih ada
cara lain untuk menyiksamu!”
Ia memegang kedua lengan orang sakit itu dan
menyentaknya kuat-kuat hingga lengan itu hampir tanggal
dari tubuhnya. Kembali Verdoja meraung-raung. Raungnya
memekakkan telinga mereka yang mendengarnya. Namun
tetap ia tidak mau membuka rahasia.
“Nyatalah kamu ini lebih jahat dari semua iblis
dikumpulkan!” teriak Mariano.
“Maka mampuslah bila itu merupakan keinginanmu!
Tuhan akan menolong kami!”
Ia menyentak tali yang menghubungkan dengan atas
sebagai tanda bahwa ia sudah mau kembali lagi. Kemudian
ia memegang tali dengan kedua belah tangan. Ketika
Verdoja menyaksikan peristiwa itu, ia mengangkat sedikit
kepalanya dan sambil melirik ke arah pemuda itu, ia
mendesis, “Terkutuklah, kamu. Terkutuk! Keparat!”
Kata-kata perpisahan itu mengingatkan Mariano kepada
suatu hal ia kembali berlutut di sisi Verdoja dan
menggeledah saku-sakunya. Ia mengambil jam tangan,
uang, cincin, pistol, sebilah pisau dan beberapa benda lain
lalu memasukkannya ke dalam sakunya.
“Perampok!” maki Verdoja.
“Kami masih dapat memakainya, kamu tidak, bedebah!”
Mariano menyentak tali untuk mencobainya lalu memanjat
ke atas. Dari bawah terdengar terus-menerus caci maki.
Setiba di atas, ia dihujani berbagai pertanyaan. Ia
menceritakan pengalamannya. Ketika ia menceritakan
bagaimana caranya ia menyiksa untuk memaksakan
penjahat itu berbicara, kedua gadis diliputi oleh rasa ngeri
dan jijik. Tetapi Unger berkata, “Mengapa tidak
kauhancurkan saja kepala iblis itu?”
“Kurasa itu tak perlu lagi. Ia tidak mau ditolong, karena
tidak mau melihat kita mencapai kebebasan … kalau
begitu, biar dia mati saja perlahan-lahan.”
“Kini tidak ada jalan lain lagi bagi kita. Kita harus
mencoba peruntungan dengan menggunakan pisau untuk
membongkar batu bata di sekitar pintu. Bila kita
mengetahui rahasia sebuah pintu, maka dengan rahasia
itu pun kita dapat membuka pintu yang lain-lainnya.
Mereka kembali ke lorong di mana terdapat pintu terakhir
yang ditutup Verdoja, lalu mereka mulai bekerja.

sumber: DISALIN OLEH
Svetlana Dayani, Tiur Ridawaty, & Windy Triana
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s