BAB III KEPALA-KEPALA SUKU

Di perbatasan Mexico mengalir Sungai Rio Grande del
Norte. Di sebelah selatan sungai itu terdapat sebuah
dataran tinggi dengan beberapa pegunungan yang menuju
ke arah timur. Di situ terdapat padang-padang rumput
tempat bermukim bangsa Comanche.
Bangsa Comanche didatangkan ke Mexico untuk
membantu pasukan pemerintah di bawah pimpinan
Herrera. Mereka suka sekali memenuhi panggilan itu
karena mengharapkan membawa pulang banyak barang
rampasan. Beribu-ribu orang sudah disiapkan, tidak
serentak semuanya secara terang-terangan, melainkan
mereka berangkat diam-diam berkelompok-kelompok
untuk menjaga supaya mereka tidak diketahui oleh kaum
Apache, musuh besar mereka.
Seminggu sebelum peristiwa itu terjadi maka di atas
dataran tinggi yang merupakan padang prairi kecil, telah
berlangsung banyak kejadian yang agak menegangkan.
Ketika itu musim lembu liar pindah ke daerah selatan.
Berkelompok mereka melalui lembah-lembah di
pegunungan. Maka tiadalah mengherankan bila padangpadang
prairi di dekatnya penuh dengan orang Indian yang
berburu lembu untuk memperoleh daging yang diperlukan
mereka selama musim dingin.
Ketika matahari terbenam, cahayanya yang terakhir
menyinari suatu pemandangan berdarah. Sejauh mata
memandang nampak tubuh-tubuh lembu bergelimpangan
dan di sekitarnya terlihat tubuh-tubuh manusia berwarna
merah kecoklatan sibuk “membuat daging”, demikianlah
istilah yang digunakan oleh penghuni prairi itu. Di manamana
dinyalakan api unggun. Di atas api itu mereka
membakar daging lembu yang lezat. Pada tiang-tiang
diikatkan beribu-ribu tali dan sabuk. Pada tali dan sabuk
itu bergantungan daging lembu dipotong panjang-panjang
dijemur di panas matahari.
Di tengah-tengah kesibukan ini terlihatlah tiga buah
kemah. Kemah itu terbuat dari kulit lembu dan dihiasi
bulu burung elang, yang menandakan bahwa kemahkemah
itu diuntukkan bagi kepala-kepala suku yang
kenamaan. Dua buah kemah pada saat itu tanpa
penghuni. Di hadapan kemah yang ketiga duduk seorang
Indian berusia lanjut, seluruh tubuhnya dihiasi dengan
gambar-gambar rajah. Tubuhnya yang telanjang ditutupi
dengan kulit rusa yang sudah disamak dan di sisinya
terletak sepucuk senapan panjang. Tubuhnya penuh
dengan gores-gores. Rambutnya diikat menjadi jambul
menyerupai topi helm. Lima helai bulu nampak keluar dari
jambul.
Orang tadi adalah “Kuda Terbang”, seorang kepala suku
bangsa Apache yang disegani. Rambutnya sudah beruban,
maka tenaganya sudah berkurang. Ia tidak dapat turut
dalam perburuan banteng lagi. Namun hatinya masih
muda serta akalnya masih sehat. Di sekitar api unggun
ialah orang yang paling disegani. Pendapatnya dalam
musyawarah lebih berat bobotnya daripada beratus
pemburu yang gagah perkasa. Karena ia tidak dapat turut
dalam perburuan, maka ia duduk-duduk di muka
kemahnya menikmati tontonan yang disajikan oleh
pemburu-pemburu dari ketiga suku yang tergolong dalam
bangsa Apache itu.
Dataran tinggi itu diselang-selingi oleh hutan-hutan
kecil yang hijau warnanya. Di antara pulau-pulau hijau itu
berlangsung pertarungan-pertarungan yang dahsyat,
pemburu Indian melawan banteng liar. Dekat kemahkemah
itu terdapat juga seonggok semak belukar. Kepala
suku yang disebut tadi tidak menaruh perhatian pada
semak-semak itu namun ia langsung juga mengetahui
ketika beberapa ranting bergerak-gerak.
Ia memegang senapannya. Dikiranya ada hewan
perburuan di dalam belukar itu. Ia sudah tidak cukup kuat
untuk memburu banteng, namun kini ia mendapat
kesempatan untuk memperlihatkan kepandaiannya
menembak. Matanya menemukan sesuatu yang gelap di
antara semak-semak. Tentu di situ perburuannya
bersembunyi. Ia membidik, namun ketika ia hendak
memetik picu ia melihat belukar itu dikuakkan dan
seorang pria keluar dari dalamnya.
Ia bukan orang Apache. Ia orang asing! Bagaimana ia
dapat sampai di situ, di tempat orang-orang Apache ramai
berburu? Musuhkah ia? Tentunya ia seorang pemburu
besar, kalau tidak mana mungkin ia dapat mencapai
tempat itu tanpa diketahui orang.
Kuda Terbang siap memetik picu. Namun orang asing
itu mengangkat tangan kirinya, suatu tanda bahwa ia
datang sebagai seorang sahabat. Ia memakai baju terbuat
dari kulit banteng dan di tangan kanannya ia memegang
sepucuk senapan berlaras dua. Pada ikat pinggangnya
terdapat sebuah kantong berisi peluru, sebilah pisau, dan
sebuah tomahawk. Warna wajahnya merah kecoklatan,
tentu ia seorang Indian. Tanpa berkata-kata ia duduk di
sisi orang Apache itu sambil meletakkan senjatasenjatanya
di tempat yang jauh darinya. Baru setelah ia
memperlihatkan bukti-bukti iktikad baiknya, ia mulai
bercakap dengan bahasa Apache yang baik, “Hari ini bagi
putra-putra bangsa Apache merupakan hari baik dalam
perburuannya. Roh Besar tentunya menyertai mereka.”
Orang Apache itu menyadari bahwa ia berhadapan
dengan seorang ksatria besar, namun ia menjawab tak
acuh, “Orang Apache berburu untuk mendapatkan daging,
namun ia bukan hanya pandai menembak banteng, ia
pandai juga menembak musuhnya.”
“Benarlah perkataan Kuda Terbang itu,” jawab orang
asing itu.
Wajah orang tua itu berseri-seri. “Anda orang asing
namun tahu nama saya!” katanya.
“Saya belum pernah melihat Anda. Tetapi keharuman
nama Anda tersebar ke segenap prairi dan pegunungan.
Barangsiapa bertemu dengan dia, pasti akan
mengenalnya.”
“Kuda Terbang ialah seorang kepala suku. Ia
menyandang bulu elang dan selalu duduk di atas kuda bila
ia meninggalkan kemahnya,” kata orang tua itu.
Kata-katanya mengandung sindiran, yang dimaklumi
juga oleh orang asing itu, maka ia menjawab, “Namun ada
juga kepala suku yang menyembunyikan kudanya bila
mereka pergi menyelidik. Mereka pun berhak menyandang
bulu elang serta lebih dari tiga puluh buah scalp (= kulit
kepala) musuh. Anda yang arif bijaksana sudah tentu
maklum akan hal itu. Anda pun akan mengerti juga bahwa
segenggam siasat kadang-kadang dapat mengalahkan
selumbung peluru dan mesiu.”
Perkataannya meninggalkan kesan yang dalam pada
orang tua itu. “Menyandang banyak bulu elang serta
menaklukkan lebih dari tiga puluh orang musuh! Bukan
main!” Kuda Terbang sendiri masih belum dapat
membanggakan diri dengan prestasi seperti itu. Maka ia
berkata, “Orang asing itu pemberani serta cerdik. Ia dapat
menembusi penjagaan orang-orang kulit merah. Itu hanya
dapat dilakukan oleh seorang ksatria kenamaan. Orang
asing itu bukanlah orang Comanche. Putra-putra bangsa
Apache sedang berburu, tidak dalam keadaan perang,
kapak perang mereka sudah ditanam. Apakah maksud
kedatangan orang asing itu
untuk mengisap pipa perdamaian bersama kami?”
“Ia sudah mengisap pipa demikian.”
“Jadi orang asing itu sahabat bangsa Apache?”
“Ia saudaranya. Suku Jicarilla bangsa Apache mengenal
semuanya. Ia sedang mencari kepala suku kenamaan yang
bernama Shosh-in-liett atau Hati Beruang.”
Orang tua itu kini membuang segala sikap hati-hatinya.
Ia memandang orang di sisinya dengan wajah penuh
keramahan dan bertanya dengan hormat,
“Jadi Andakah saudara Hati Beruang?”
“Benarlah.”
“Apakah ia berhak menyandang tujuh bulu elang?”
“Benarlah.”
“Ia menyandang tiga puluh scalp musuhnya?”
“Lebih dari itu.”
“Kalau begitu saya kenal akan dia. Ia Mokashi-tayis
atau Kepala Banteng, kepala suku bangsa Mixteca. Ia raja
dari segala pemburu banteng. Maka ia tidak memakai bulu
elangnya. Ia meninggalkannya di kemahnya.”
“Benarlah pendapat Kuda Terbang,” kata Kepala
Banteng. “Apakah saudara saya Hati Beruang berada di
sini di antara bangsa Apache?”
“Benarlah. Hari ini ia telah membunuh lebih dari
sepuluh banteng. Kepala suku bangsa Mixteca boleh bicara
dengannya. Ia adalah saudara kami dan prajurit bangsa
Apache tidak akan membunuhnya.”
Wajah Kepala Banteng yang gagah perkasa itu tampak
tersenyum sedikit. Ia menjawab, “Prajurit bangsa Apache
tidak akan dapat memegangnya dan membunuhnya
andaikata mereka musuh. Kepala Banteng tidak merasa
takut kepada siapa pun.”
Orang tua itu diam lama. Ia setuju. Akhirnya ia
bertanya, “Apakah saya perlu mengirim orang untuk
membawa kuda Kepala Banteng ke mari?”
“Prajurit bangsa Apache sangat sibuk dengan berburu
banteng. Kepala Banteng akan pergi sendiri mengambil
kudanya. Bagi seorang kepala suku bukanlah pekerjaan
hina untuk mengurus hewan yang mengantarkannya ke
mana-mana.”
Padang prairi berbatasan dengan hutan rimba yang
lebat. Kepala Banteng memasuki hutan itu. Ketika ia
hendak menuruni sebuah ngarai, ia mendengar suara yang
sangat bising. Seekor hewan sedang menerobos hutan,
menerjang dengan kakinya apa yang merintanginya. Ketika
ia menoleh ke bawah, tampak olehnya seekor banteng
keluar dari padang prairi masuk ke dalam hutan, dikejar
oleh seorang Indian menunggang kuda. Orang itu
membawa tabung berisi anak panah di punggungnya. Di
tangan kirinya ia memegang busur dan di tangan
kanannya sebatang lembing.
Orang itu masih muda, kira-kira dua puluh tahun
usianya. Seorang pemburu yang lebih tua dan
berpengalaman, lebih suka berburu lembu betina yang
dagingnya lebih empuk daripada berburu lembu jantan
yang di samping berbahaya juga dagingnya alot. Lagipula
berburu banteng di atas tanah yang tidak rata itu sangat
berbahaya. Namun anak muda yang mabuk berburu itu
tidak mengindahkan lagi marabahaya lalu memacu terus
kudanya.
Banteng itu berlari tunggang langgang dengan
pengejarnya di belakangnya memasuki ngarai. Ketika
banteng itu menyadari bahwa ia tidak dapat berjalan terus,
ia merundukkan kepalanya lalu memutar tubuhnya tepat
pada waktu orang Indian itu melemparkan lembingnya ke
bagian tubuh hewan itu yang paling peka, yaitu di balik
bulu tengkuknya.
Namun karena hewan itu berbalik, maka lembing itu
tidak mengenai sasarannya melainkan mengenai bagian
tubuh yang tidak berbahaya. Banteng yang terluka itu
menjadi sangat berbahaya. Sekali lagi ia merundukkan
kepalanya lalu dengan mengenduskan nafas liar ia
menanduk serta mengoyak perut kuda yang ditunggangi
oleh pemburu. Kuda itu rebah ke atas tanah sedangkan isi
perutnya berhamburan ke luar.
Orang Indian itu masih dapat menyelamatkan dirinya
dengan cepat melompat. Senjata yang ada padanya
hanyalah panah dan pisau. Sesaat kemudian ia mencabut
sebatang anak panah dari tabungnya, memegang busurnya
lalu melepaskan anak panah yang tepat mengenai mata
banteng itu.
Ketabahan hati sang pemburu sangat mengagumkan,
namun banteng itu masih memiliki sebuah mata yang
sehat. Sesaat ia diam terpaku, kemudian ia meraung
dengan dahsyatnya lalu merundukkan kepalanya lagi,
siap-siap untuk menanduk. Sekali ini tanduk yang runcing
dan berbahaya itu pasti akan mengenai sasarannya,
membunuh anak muda itu. Pada saat itu terdengar bunyi
tembakan lalu kepala banteng itu terkulai. Tubuh raksasa
itu gemetar seketika. Kaki depannya rebah, diikuti oleh
kaki belakangnya, sebelum hewan itu rebah menemui
ajalnya. Peluru itu tepat mengenai mata banteng yang
sehat, menembus ke dalam, mengenai otak.
Ketika Kepala Banteng melihat bahwa pertarungan itu
akan berakhir dengan kekalahan bagi si pemburu, ia
melompat dari tebing ngarai dan menembak. Ketika orang
Apache itu menoleh kepadanya maka ia sedang mengisi
kembali senapannya.
“Saya lihat saudara lebih menyukai daging lembu jantan
daripada lembu betina,” katanya tenang. “Saudara lebih
suka memburu banteng di hutan daripada di padang
prairi? Lain kali sebaiknya saudara berlaku lebih
bijaksana.”
Wajah orang Indian itu menjadi merah padam
mendengar sindiran itu. Namun ia segera menguasai
dirinya. Dengan tinggi hati ia menjawab, “Hidup atau mati
saya bukanlah urusan Anda.”
“Apakah saudara sudah tidak mempunyai ayah lagi
yang dapat menangisi kematian saudara?”
“Ayah saya Kuda Terbang,” jawabnya dengan tinggi hati.
“Dan siapakah namamu?”
“Nama saya akan disebut orang di seluruh jagad.”
“Jadi kau masih belum mempunyai nama? Kau hampir
meninggal di sini tanpa diketahui orang di mana
kuburanmu. Adikku baru saja terlepas dari bahaya maut.
Andaikata ia lebih berhati-hati, ia akan dapat memperoleh
nama agung.”
Menurut adat kebiasaan bangsa Apache, seorang anak
baru mendapat nama setelah ia melakukan tindak
kepahlawanan. Bagi seorang anak muda, mati sebelum
mendapat nama itu merupakan suatu keaiban. Maka
perkataan Kepala Banteng itu membuat anak muda itu
merasa malu. Ia mencabut pisaunya. “Jadi saya harus
menguliti kepala Anda lebih dahulu untuk dapat
memperoleh nama?”
Kepala Banteng tersenyum. “Itu dapat kulakukan
sepuluh kali terhadapmu sebelum kamu sekali dapat
melakukannya terhadapku.”
“Coba lakukan!” Sambil mengutarakan tantangan ini,
anak muda itu mencekau dada orang Mixteca itu siap
untuk memberi tikaman. Namun secepat kilat Kepala
Banteng memegang tangan anak muda yang menggenggam
pisau itu lalu memijatnya kuat-kuat sehingga anak itu
menjerit kesakitan dan menjatuhkan pisaunya.
“Apakah biasa seorang Apache memekik kalau merasa
sakit?” tanya kepala suku Mixteca. “Apakah biasa seorang
Apache membunuh penyelamat jiwanya? Kini aku berhak
sepenuhnya menguliti kepalamu, tetapi aku tidak mau
sebab… tengoklah, siapa yang datang di situ? Seorang
lawan yang tangguh bagimu!”
Kepala Banteng menunjuk ke arah tepi ngarai di
seberang. Semak-semak terkuak, seekor beruang
menampakkan diri. Bukan beruang kecil berwarna coklat,
melainkan beruang raksasa keabu-abuan warnanya
berasal dari pegunungan yang oleh orang Amerika
dinamakan beruang grizzly. Bila berdiri di atas kaki
belakangnya, tingginya mencapai tiga meter. Tenaganya
bukan main besarnya. Ia dapat menyeret seekor lembu. Di
Amerika ia dianggap sebagai binatang buas yang paling
berbahaya. Barang-siapa yang dapat membunuh seekor
beruang grizzly, ia akan menerima kehormatan sama
dengan seorang pahlawan yang telah membunuh dan
menguliti kepala sepuluh orang musuh. Beruang itu
tertarik oleh bau busuk yang berasal dari bangkai kuda.
Namun kini ia melihat mangsa lain yang lebih menarik.
“Sayang aku tidak membawa senapan ayahku!” seru
pemuda Indian itu.
Baru setelah memperoleh nama, seorang Apache
memperoleh senjata api.
“Ini! Pakailah senapanku,” kata Kepala Banteng.
Pemuda itu merasa heran. Ia tidak dapat mengerti
bahwa orang dapat merelakan mangsa sedemikian. Ketika
dilihatnya bahwa tawaran itu diajukan dengan sungguhsungguh,
ia mengambil senapan itu, mengokang kedua
picunya lalu melompat mendapatkan beruang.
Namun Kepala Banteng lebih sigap lagi. Ia mencabut
pisaunya lalu lari menempuh jalan lingkaran mendekati
beruang dari belakang. Maksudnya untuk mengamati
pertarungan dan siap membantu pemuda Indian itu bila ia
dalam keadaan terdesak.
Beruang grizzly itu segenap perhatiannya tercurahkan
pada pemuda itu. Pada jarak empat langkah dari pemuda
itu ia berdiri di atas kaki belakangnya hendak
menerkamnya. Saat ini merupakan peluang baik bagi
pemuda itu. Ia membidikkan senapannya ke arah jantung
beruang, memetik picu dan serentak melompat ke
samping, senapannya tetap diarahkan kepada mangsanya.
Beruang itu berjalan terhuyung-huyung, dua tiga langkah,
kemudian ia terdiam dan meraung sambil mengeluarkan
darah dari moncongnya. Kemudian ia jatuh ke atas tanah.
“Bagus!” puji Kepala Banteng. “Beruang itu tepat
terkena jantungnya. Saudara mempunyai pandangan mata
tajam serta tangan dingin. Ia tidak gemetar menghadapi
bahaya. Ia akan menjadi pemburu besar. Kini ia berhak
mendapat nama dan saya akan tetap menjadi sahabatnya,
selama diizinkan oleh Roh Agung.”
Pemuda yang tidak gentar menghadapi marabahaya itu,
kini gemetar karena kegirangan. “Benarkah ia sudah
mati?” tanyanya.
“Benar. Saudara boleh mengulitinya serta mengawetkan
kepalanya untuk disimpan sebagai kenang-kenangan akan
tindak kepahlawanannya yang pertama.”
Pemuda itu mengembalikan senapannya kepada orang
Mixteca itu lalu berlutut di sisi beruang yang sudah tidak
bernyawa itu. Pemuda Indian itu lebih merasa berbahagia
daripada seorang kulit putih yang dianugerahi bintangbintang.
Ia langsung menguliti perburuannya. Kepala
Banteng tidak mau mengganggu pemuda yang sedang
mengecap bahagia itu lalu mengisi senapannya dengan
peluru dan pergi mendapatkan kudanya. Ia melepaskan
kuda dari ikatannya dan berangkat.
Ketika orang Mixteca itu mencapai batas prairi,
matahari sudah terbenam, hari berganti dengan malam.
Orang-orang Apache sedang sibuk menyeret binatang
perburuannya dengan laso ditarik oleh kudanya. Orang
Mixteca itu kini tidak berusaha menyembunyikan dirinya
lagi. Langsung ia pergi ke kemah-kemah, di mana terdapat
beberapa ratus orang pemburu sedang mengerumuni
perburuannya. Di muka kemah kedua berdiri seorang
kepala suku yang menyandang tiga bulu elang di
jambulnya. Ia adalah Hati Beruang. Orang itu menyambut
dengan gembira kedatangan Kepala Banteng.
“Hatiku rindu akan dikau,” katanya. “Terpujilah
Manitou yang telah mempertemukan dikau denganku.
Selamat datang sebagai tamuku. Sudilah mengisap
calumet bersama saudarasaudaraku.”
Semua pemburu yang berdiri mengelilinginya
memandangi kepala suku Mixteca yang termasyhur itu
dengan rasa kagum. Setelah Hati Beruang
mengantarkannya ke dua kepala suku lainnya yang sedang
berdiri di muka kemah Kuda Terbang, mereka lengkap
membentuk suatu majelis kehormatan. Mereka saling
berjabat tangan. Sebuah api unggun dinyalakan dan
daging lembu dibakar. Api unggun lain-lain lagi berturutturut
dinyalakan yang membentuk separuh lingkaran
mengitari para kepala suku bersama tamunya itu.
Salah seorang tidak tampak. Ialah putra Kuda Terbang.
Setiap orang tahu, namun tidak seorang pun berani
menyinggung-nyinggung hal itu. Pada ketika orang
menyiapkan makanan, biasa orang Indian tidak berkata
banyak. Baru setelah makanan siap, kepala suku pertama
membuka pesta dengan berbicara.
Tiba-tiba perhatian orang tertarik oleh sesosok tubuh
mengerikan yang datang menghampiri mereka. Ia adalah
pemuda Apache itu. Ia telah menguliti beruang, tetapi
kepalanya masih melekat pada kulit badannya. Kepala
beruang itu dikenakannya di atas kepalanya sendiri. Kulit
beruang itu berumbai-umbai lebar secara mengerikan
menutupi tubuhnya. Beruang itu begitu besar sehingga
kulitnya terseret setengah meter di belakang pemuda itu.
Dekat api unggun putra kepala suku itu berhenti. Ia
sebenarnya merasa heran, melihat orang asing itu di
tengah-tengah rombongan mereka, namun ia tidak
memperlihatkan perasaannya. Dua kuku beruang
dipersembahkannya di hadapan Kepala Banteng, suatu
pernyataan kehormatan yang tidak dipahami oleh yang
lainnya. Mereka memaklumi bahwa Kepala Banteng ada
sangkut pautnya dengan pembunuhan beruang itu, tetapi
tidak seorang pun yang menanyakan, bahkan Kuda
Terbang sendiri tidak. Namun tampak mata orang tua itu
bersinar kegirangan, mengetahui bahwa putranya yang
bungsu sudah dapat menaklukkan beruang grizzly yang
sangat berbahaya itu. Setelah lemak pada daging yang
dibakar itu mulai menetes ke api, orang tua itu baru
memegang pipa perdamaiannya lalu mengangkat bicara,
“Hari ini merupakan hari bahagia bagi bangsa Apache
dengan menerima kedatangan Kepala Banteng, kepala
suku Mixteca yang sangat kenamaan itu. Ia adalah
saudara Hati Beruang dan bermaksud hendak mengisap
pipa perdamaian dengan kami. Tangannya kuat, kakinya
cepat, pendapatnya sangat bijaksana, semua tindakannya
adalah tindakan seorang ksatria. Selamat datang!”
Kepala suku itu meletakkan sebutir bara di atas
tembakaunya lalu mengisap enam kali sedotan pada
pipanya lalu meniupkan asap ke langit, ke tanah, dan ke
empat penjuru angin. Kemudian ia menyampaikan pipanya
kepada tamunya. Tamunya bangkit lalu berkata, “Putraputra
bangsa Apache adalah prajurit gagah perkasa.
Bahkan seorang anak kecil sudah berhasil menembak mati
seekor beruang buas dengan hanya sebutir peluru, tanpa
mengedipkan matanya.”
Mendengar perkataan itu semua mata tertuju kepada
putra kepala suku. Pemuda itu baru saja mengerti dari
perkataan ayahnya bahwa orang yang menyelamatkan
jiwanya adalah seorang kepala suku yang termasyhur.
Hatinya berdebar karena rasa bahagia. Mata ayahnya
berlinang-linang ketika putranya mendapat pujian dari
ksatria Mixteca itu.
Kepala Banteng melanjutkan perkataannya, “Kepala
suku Mixteca datang ke mari dengan membawa pesan. Ini
akan Anda dengar sehabis makan. Musuh Anda adalah
musuh dia, kawan Anda adalah kawan dia juga. Ia rela
mengorbankan nyawanya untuk putra Anda. Ia pun akan
merasa bangga bila keharuman nama bangsa Mixteca
dapat dipersatukan dengan bangsa Anda.”
Setelah mengucapkan kata itu ia mengisap enam kali
sedotan pada pipa perdamaian, kemudian ia
meneruskannya kepada Hati Beruang. Bersama kepala
suku yang ketiga, yaitu salah seorang putra Kuda Terbang,
mereka menyelesaikan upacara. Kemudian pipa itu dibawa
berkeliling di antara orang-orang lainnya. Hanya putra
bungsu belum boleh memegang pipa itu karena ia masih
belum mempunyai nama.
Seusai upacara itu, orang mulai menyantap makanan.
Potongan-potongan daging lembu yang besar-besar itu
dalam waktu yang singkat lenyap ke dalam perut.
Kemudian orang tua itu menyatakan bahwa mereka sudah
siap untuk mendengarkan amanat Kepala Banteng.
Orang Mixteca itu memulai amanatnya. “Di Negeri
Mexico sedang berkobar peperangan dahsyat. Para prajurit
tidak merasa puas dengan pimpinan yang ada. Pimpinan
itu dipegang oleh seorang kulit putih dan ia tidak
memenuhi kewajibannya. Mereka telah memilih pemimpin
baru, seorang Indian bernama Juarez. Ia bertubuh kuat
seperti banteng, cerdik seperti harimau kumbang dan
pengalamannya sebagai pemimpin luas sekali. Ia telah
mendengar suara hati rakyat dan ia ingin membahagia–
kannya. Untuk mencapai tujuan itu ia mengumpulkan
prajurit-prajurit gagah perkasa. Ia menjelajah negeri untuk
menarik kaum simpatisan baginya. Pemimpin lama gentar
menghadapinya. Ia mengutus orangnya kepada kaum
Comanche untuk meminta bantuan. Para kepala suku
Comanche berapat lalu mengambil keputusan untuk
memenuhi panggilan itu. Mereka sudah siap sedia untuk
berangkat ke Mexico dalam jumlah yang besar. Mereka
bermaksud menempati daerah di antara Mexico dengan
padang rumput milik kaum Apache. Bila mereka berhasil,
maka kaum Apache akan terpisahkan dari daerah selatan
lalu mereka akan terdesak ke pegunungan. Di situ mereka
akan menderita kekurangan karena musim dingin sudah
di ambang pintu. Namun pemimpin Mexico yang berbangsa
Indian itu menyukai bangsa Apache yang gagah perkasa
itu. Ia tidak rela, mereka terdesak oleh anjing-anjing
Comanche. Maka ia minta supaya bangsa Apache mau
bersekutu dengannya dalam menghalau musuh. Kaum
Comanche sudah bergerak ke medan pertempuran, tetapi
bila kaum Apache sigap menempati daerah Chihuahua
yang terletak di antara gurun Mapimi dengan kota, maka
kaum Comanche akan dihentikan dalam perjalanannya.
Mereka akan dihancurkan di tengah-tengah gurun. Bila
prajurit-prajurit Apache mau mendengar kata, maka
mereka akan memperoleh banyak scalp (kulit kepala) serta
akan mencapai kemenangan besar.”
Setelah mengutarakan pendapatnya, ia duduk kembali.
Hening sejenak di antara para prajurit. Akhirnya kata
Kuda Terbang, “Saya setuju dengan pendapat saudara
kami. Pemimpin baru yang bernama Juarez itu seorang
bangsa Indian. Kami lebih mempercayai seorang Indian
sebagai pemimpin daripada seorang kulit putih. Putraputra
bangsa Apache tidak mau disisihkan oleh kaum
Comanche yang pengecut itu. Kuda Terbang memohon
kedua kepala suku lainnya menyatakan pendapatnya.”
Hati Beruang bangkit lalu berkata, “Di sisiku duduk
saudaraku Kepala Banteng. Ia seorang ksatria sejati. Dari
mulutnya hanya keluar perkataan yang berisi kebenaran.
Ia tidak akan mengusulkan sesuatu yang dapat merugikan
putra dan putri bangsa Apache. Bersama dia banyak orang
Comanche akan saya bunuh. Bersama dia saya masih
akan mengumpulkan banyak scalp. Mereka sudah dalam
perjalanan, maka janganlah kita membuang-buang waktu.
Tiga suku bangsa Apache berkumpul di sini untuk
‘membuat daging’ yang diperlukan untuk musim dingin.
Saya memegang pimpinan suku Apache Jicarilla dan saya
bersedia langsung berangkat, asal kedua suku lainnya
dapat mengerjakan pembuatan daging untuk musim dingin
bagi kami.”
Kini tiba giliran kepala suku ketiga, yaitu putra orang
tua itu, mengangkat bicara. “Prajurit kita tidak boleh
membuang waktu lagi. Saya setuju dengan pendapat
saudaraku Hati Beruang. Salah satu suku harus berangkat
lebih dahulu. Siapa yang akan pergi itu harus kita
musyawarahkan lebih dahulu.”
Ketiga kepala suku telah mengutarakan pendapatnya.
Kini tiba giliran sang dukun memberikan tanggapannya.
“Ahli sihir” itu dihiasi dengan bermacam benda yang
berkaitan dengan jabatannya: scalp-scalp yang dikerjakan
dengan rapih, kantong-kantong, berkas rambut, tongkat
penyihir, dan bendera. Pada kesempatan itu ia
mengenakan baju kulit banteng yang pernah ditembaknya.
Dengan memakai beraneka ragam perhiasan ia mulai
menari, suatu tarian yang ganjil serta menyeramkan,
lagipula karena tubuhnya disinari oleh cahaya api unggun
yang melemparkan bayangannya jauh ke dataran yang
tandus dan gelap itu. Orang-orang Indian memperhatikan
tamasya itu dengan hati sabar, meskipun tarian itu
berlangsung lama. Akhirnya dukun itu menghentikan
gerakannya, memegang dua obor yang sedang menyala dan
mengamati ke arah mana asapnya menghilang. Kemudian
ia menoleh ke langit, mengamati bintang-bintang lalu
mengumumkan dengan suara lantang, “Manitou, Roh
Besar, sedang murka disebabkan oleh perbuatan para
naga yang menamakan diri Comanche. Ia menyerahkannya
ke dalam tangan kaum Apache. Ia memerintah para
prajurit suku Jicarilla untuk segera berangkat setelah
matahari terbit dua kali. Suku-suku yang lain akan
mengikutinya kemudian, setelah bekal daging untuk
musim dingin selesai mereka persiapkan.”
Perkataannya itu bukan hanya mengandung izin untuk
mengangkat senjata, melainkan juga untuk menetapkan
suku mana yang dipilih menjadi pelopor, yaitu suku
Jicarilla di bawah pimpinan Hati Beruang.
Terdengar mereka bersorak. Mereka mendapat waktu
sehari untuk mempersiapkan keperluan perang. Suatu
peraturan yang memuaskan hati mereka, karena tanpa
persiapan, di antaranya mencoreng-coreng muka, orang
Indian tidak percaya akan mendapat kemenangan.
Mereka masih membereskan beberapa perkara kecil
dengan secepatnya, karena tiap orang bersemangat
meluap-luap untuk mengalahkan kaum Comanche serta
mengumpulkan banyak kulit kepala.
Seusai semuanya itu, Kuda Terbang menggunakan
kesempatan untuk menyatakan penghargaan kepada
putranya.
“Putraku telah mengenakan baju kulit beruang. Apakah
ia berhak berbuat demikian?”
“Aku telah menembaknya,” jawab pemuda itu.
“Sendirian saja?”
“Ya, sendirian.”
“Dengan senjata apa?”
“Dengan senapan pinjaman dari kepala suku Mixteca
yang termasyhur itu. Ia menjadi saksinya.”
Orang tua itu menoleh kepada Kepala Banteng lalu
berkata, “Kepala suku bangsa Mixteca telah menyaksikan
pertarungan dengan beruang itu. Kuku binatang itu pun
dipersembahkan kepadanya. Maka kami mohon Anda mau
bercerita tentang peristiwa itu.”
Secara ringkas Kepala Banteng bercerita tentang
pengalamannya sambil berhati-hati, jangan sampai
menyinggung perasaan anak muda itu.
Kini Hati Beruang bangkit lalu berkata, “Putra Kuda
Terbang telah menembak mati beruang grizzly. Ia
membunuhnya dengan sekali tembakan saja. Ini lebih
berarti daripada membunuh dua puluh orang Comanche
yang pengecut itu. Hatinya tabah, tangannya mantap, dan
matanya tajam. Ia patut kita masukkan ke dalam golongan
prajurit kita serta mendapat nama.”
Ayah dan putra merasa terjunjung tinggi dengan
ucapan itu. Mereka sendiri tidak berhak mengeluarkan
tuntutan seperti yang diajukan oleh Hati Beruang. Orangorang
menyatakan setuju dengan gemuruh di sekitar api
unggun. Pahlawan yang sedang disanjung-sanjung itu
berdiri dengan tegaknya di tengah-tengah mereka. Matanya
berseri karena rasa bangga dan bahagia. “Hati Beruang,
saudaraku,” katanya. “Anda seorang ksatria yang
keharuman namanya tersebar ke mana-mana. Saya harus
berterima kasih kepada Anda karena berkat upaya Anda
saya dapat memperoleh nama. Bilamana upacara
pemberian nama itu dapat dilangsungkan?”
“Sekembali putra-putra Apache dari medan
pertempuran,” jawab ayahnya.
“Apakah diperkenankan, seorang yang masih belum
mempunyai nama, turut berperang melawan anjing-anjing
Comanche?”
“Tidak.”
“Tetapi saya mau menemani saudara saya, Hati
Beruang, ke Mexico. Maka sebaiknya esok hari saya
mendapat nama.”
“Itu tidak sesuai dengan tata cara kita. Tetapi kepala
suku Mixteca sebagai pemilik kuku beruang adalah tamu
kita. Biar dialah yang menentukan bila ia sudah
mempunyai nama untukmu.”
Kepala Banteng menjawab, “Saya sudah mempunyai
nama. Temanku yang muda telah mengalahkan beruang
grizzly, maka ia akan bernama: Shoshseste, si Pembunuh
Grizzly. Esok hari akan saya berikan dia nama ini. Bila
saudaraku, Kuda Terbang, mengizinkan maka Pembunuh
Grizzly akan pergi bersama kami ke Mexico untuk
mengumpulkan kulit kepala kaum Comanche.”
Saran yang datang dari kepala suku termasyhur ini
segera diterima orang. Kini musyawarah sudah selesai,
namun orang-orang masih berkumpul untuk
membicarakan keberangkatannya ke medan pertempuran.
Meskipun hari sudah malam, beberapa orang pergi ke
ngarai untuk mengambil banteng dan beruang yang sudah
terbunuh itu. Hewan-hewan itu diikat dengan laso lalu
diseret. Kini malam berlalu dengan sunyinya. Kepala
Banteng tidur dalam kemah Hati Beruang. Daerah itu
dijaga ketat, oleh pos-pos jaga yang saling berganti.
Keesokan harinya berlangsung upacara pemberian
nama. Pada kesempatan itu kaki beruang menjadi
hidangan makanan istimewa. Pembunuh Grizzly mendapat
senapan yang terbaik dari ayahnya dan sebagai putra
seorang kepala suku ia berhak menyandang sehelai bulu
elang di rambutnya. Petang hari diisi dengan mencorengmoreng
tubuh, muka, pakaian, dan alat-alat perang.
Keesokan harinya pasukan yang terdiri dari lebih
kurang dua ratus orang itu berangkat. Mula-mula mereka
diantarkan oleh kerabatnya. Setelah mereka berpisah
dengannya, mereka berjalan menurut gaya susunan
prajurit Indian yang lazim: para penunggang kuda berjalan
beriring. Prajurit tertua memegang pimpinan. Kepala
Banteng, Hati Beruang, dan Pembunuh Grizzly berjalan
mendahului mereka untuk mengamati daerah yang mereka
tempuh serta mengadakan persiapan-persiapan berhubung
dengan keamanan.
Padang prairi yang terbuka tidak baik untuk ditempuh.
Jadi mereka memilih jalan pegunungan tinggi yang turun
naik. Jalan demikian menemui banyak rintangan yang
mendatangkan banyak kerugian akan waktu. Baru pada
hari kelima setelah mereka berangkat, mereka tiba di
gurun Mapimi di sebelah utara jalan yang ditempuh oleh
Verdoja. Mereka bermaksud menduduki pegunungan di
antara Chihuahua dengan gurun. Maka mereka pergi ke
arah selatan, makin dalam masuk ke gurun Mapimi. Tibatiba
mereka bertiga serentak menghentikan kudanya,
karena jalan mereka dipotong oleh jejak-jejak.
“Penunggang kuda!” kata Pembunuh Grizzly serta turun
dari kudanya.
“Kami ingin mendengar dari Saudara, jejak itu berasal
dari berapa orang,” kata Hati Beruang yang dengan tenang
tetap duduk di atas kudanya. Suatu kesempatan baik
untuk menguji kecerdasan pemuda itu.
Pembunuh Grizzly menyelidiki jejak lalu berkata, “Tiga
belas orang.”
“Bagus. Dan siapa orangnya yang menempuh
perjalanan itu?”
“Kulit putih.”
“Dari mana Saudara mengambil kesimpulan demikian?”
“Mereka tidak berjalan beriring. Jejak-jejak itu sangat
berjauhan letaknya. Kita dapat mudah menghitung berapa
orangnya.”
“Bilamana mereka melintasi jalan kita?”
Pemuda Apache itu berjongkok. Ia menjawab, “Matahari
segera akan berada di atas kita. Mereka tiba kemarin di
sini ketika matahari hampir terbit.”
“Apakah mereka tergesa-gesa?”
“Benarlah. Pasir di belakang jejak kaki kuda terlempar
ke belakang. Mereka berjalan cepat.”
“Saudara sangat pandai menafsirkan. Kini kami masih
ingin mendengar dari Saudara, apakah orang-orang itu
bermaksud damai atau jahat?”
Pembunuh Grizzly memandang kepada kepala suku
dengan terheran-heran, kemudian ia menggelengkan
kepalanya. “Itu mustahil dapat kita ketahui dari
penyelidikan jejak ini.”
“Itukah pendapat Saudara? Nah, kini akan saya
buktikan bahwa itu mungkin. Di tempat ini, Mapimi
lebarnya tiga hari perjalanan. Siapa yang telah menempuh
lebih dari tiga hari, akan menjadi letih lelah. Ia akan
sayang memakai kudanya. Jejak kaki kuda tidak ringan,
melainkan dalam. Itu bukanlah petunjuk bahwa kudakuda
itu berlari kencang. Lompatan kuda tidak lebar,
melainkan pendek-pendek. Jadi kuda-kuda itu letih lelah,
sungguhpun demikian tetap dipacu supaya berjalan lebih
kencang. Jadi mereka itu sedang dikejar orang.”
Pembunuh Grizzly membela diri dengan berkata,
“Namun pengejarnya pun berlari kencang bukan?”
“Seandainya mereka mengejar orang, maka mereka
harus mengikuti jejak orang itu. Maka harus ada jejakjejak
yang lebih dahulu. Namun tidak terdapat jejak
demikian. Jadi mereka sedang melarikan diri serta dikejar
orang.”
Kepala Banteng meneropong ke arah tempat datangnya
jejak itu lalu berkata,
“Saya setuju dengan Hati Beruang. Para pengejarnya
dapat kita jumpai setiap saat. Mereka tidak boleh
menemukan kita. Maka lebih baik Pembunuh Grizzly
kembali lagi untuk memesan kepada para prajurit Apache,
jangan sampai mereka mengikuti kita sampai di sini.
Mereka harus lebih ke utara melalui tanah pegunungan
yang berbatasan dengan Mapimi lalu menanti kita di situ.
Kita masih ingin menyelidiki asal usul jejak itu.”
Pemuda Apache tidak membantah. Ia menaiki kudanya
lalu berangkat. Kedua orang lainnya mengikuti jejak-jejak
yang membawa mereka ke arah barat. Tiba-tiba mereka
saling memandang, keduanya terpikir akan suatu hal yang
sama.
“Jejak menuju ke arah barat,” kata Kepala Banteng.
“Ke arah ‘pas’ pegunungan… suatu tempat penuh
dengan bahaya.”
“Mungkin itu merupakan jebakan yang diatur oleh para
pengejarnya. Mari, kita selidiki.”
“Tetapi kita harus melenyapkan jejak kita. Pengejarnya
mungkin juga musuh kita. Saudara dapat menolong saya.”
Mereka menghapus jejak mereka serta jejak kuda
dengan cara yang sempurna. Setelah itu mereka pergi
menempuh jalan memutar ke pegunungan yang
berbatasan dengan Mapimi di sebelah barat, kira-kira
setengah mil di sebelah utara “pas” itu.
Daerah itu amat sukar ditempuh oleh kuda yang harus
menuruni tebing curam ditumbuhi tumbuhan lebat untuk
sampai di lembah. Di situ kuda-kuda itu dapat
ditinggalkan dengan aman. Dengan berjalan kaki mereka
memanjat sebuah batu karang. Di atasnya mereka dapat
melihat pemandangan ke “pas” itu. Di bawah terletak
lembah, tempat Verdoja memasang kemahnya. Lembah itu
di ujungnya menjadi sempit menyerupai ngarai. Di situ
ditempatkan orang-orang Verdoja untuk menghadang
Sternau. Namun itu di luar pengetahuan orang-orang
Indian itu. Mereka berbaring di atas tanah supaya tidak
terlihat dari bawah. Tidak ada sesuatu yang luput dari
pengamatan orang-orang Indian itu.
“Uf!” kata Hati Beruang tiba-tiba. Ia telah melihat
sesuatu yang agak mencurigakan. Kepala Banteng menoleh
kepadanya untuk melihat ke arah mata pandangannya
tertuju. Ia melihat seorang laki-laki memanjat tebing ngarai
itu. Jaraknya begitu jauh sehingga orang itu tampak
seperti seekor kumbang yang merayap di atas tebing.
Meskipun demikian mereka dapat menyaksikan kejadian
itu dengan jelas.
“Seorang Mexico,” kata Kepala Banteng.
“Benar,” jawab Hati Beruang. “Ngarai itu nampaknya
dihuni orang.”
Kedua orang Indian itu mengamati gerak-gerik orang itu
hingga ia mencapai puncak tebing di seberang mereka.
Orang itu berhenti lalu memandang ke arah timur seolaholah
mencari sesuatu. Kedua orang Indian itu pun menoleh
ke arah itu. Setelah mengamati beberapa detik lamanya
kata Kepala Banteng, “Uf, itulah mereka!”
“Tiga orang penunggang kuda,” tambah Hati Beruang.
Memang bermunculan tiga titik di pemandangan
mereka, namun titik-titik itu begitu kecil sehingga hanya
orang-orang berpengalaman di rimba seperti orang Indian
dapat melihatnya. Orang Mexico yang mengamati juga di
seberang ngarai itu tidak dapat melihatnya.
“Apakah mereka pengejarnya?” tanya Hati Beruang.
“Tidak,” jawab Kepala Banteng. “Masakan lima belas
orang lari karena dikejar oleh hanya tiga orang saja?”
“Mengapa tidak? Mungkin ketiga orang itu pemberani.
Mungkin juga mereka mempunyai bala bantuan di
belakangnya.”
“Itu harus kita nantikan saja.”
Orang di seberang ngarai yang sedang mengamati itu
tiba-tiba memekik lalu cepat-cepat menuruni tebing. Tentu
ia telah melihat ketiga orang pendatang itu.
“Kini ia sedang memberi laporan kepada kawankawannya
yang berada dalam persembunyian,” kata Hati
Beruang.
Benar jugalah demikian. Setelah masuk ke dalam ngarai
ia muncul lagi bersama dua orang kawannya yang datang
dari lembah. Ketiga orang itu bersembunyi di balik sebuah
batu karang besar di “pas” itu.
“Mereka akan membunuh para pendatang itu,” kata
Hati Beruang.
“Tetapi mengapa hanya ada tiga orang? Bukankah yang
kita temukan itu jejak lima belas orang?”
“Kawan-kawannya telah meneruskan perjalanan dengan
meninggalkan hanya tiga orang. Tiga orang pengecut
sudah cukup untuk menandingi tiga orang perkasa dengan
cara menyerang
nya dari tempat tersembunyi.”
“Perlukah kita memperingatkan mereka?”
“Lebih dari itu. Bahkan kita akan membantunya bila
diperlukan. Kita harus berusaha berada di belakang
mereka sebelum mereka mencapai ‘pas’. Mari, kita
berangkat!”
Hati Beruang menuruni lereng, diikuti oleh Kepala
Banteng. Setelah mereka dari bawah tidak dapat dilihat
lagi, mereka berlari ke hutan-hutan yang banyak terdapat
dekat “pas” itu. Terlindungi oleh hutan-hutan itu mereka
menurun lagi untuk mendekati ketiga orang Mexico itu
dari belakang. Adanya batu karang besar-besar di daerah
itu memberi keuntungan bagi mereka.
Kedua kepala suku itu berhasil mendekat, bersembunyi
di balik sebuah batu karang yang jaraknya kurang dari
lima puluh langkah dari ketiga orang Mexico itu. Orangorang
Indian itu dapat mengamati mereka dengan cermat
dan sekaligus mempunyai pandangan luas ke lembah itu.
Dengan mengendap-endap serta senapan siap dalam
tangannya, mereka tetap terdiam di balik batu karang.
Derap kaki kuda terdengar; pada saat itu juga tampak
ketiga orang penunggang kuda memasuki lembah. Baru
saja orang-orang Indian melihatnya, wajah mereka berseriseri.
“Uf!” bisik Hati Beruang. “Itulah Itintika Panah
Halilintar, saudara kita. Bukankah ia sedang sakit?”
“Dan Francisco, vaquero itu (= buruh peternakan),” bisik
Kepala Banteng. “Apa yang dikehendaki mereka di sini?
Mungkinkah terjadi sesuatu malapetaka di hacienda del
Erina?”
“Itu akan kita dengar pada waktunya. Namun siapakah
gerangan orang bertubuh tegap yang ikut dengan mereka?
Uf, itulah saudara kita Matava-se! Apa maksudnya ia ke
mari?”
“Kepala Banteng telah berkenalan dengan dia beberapa
bulan yang lalu di hacienda del Erina.”
“Uf! Biar kita bunuh ketiga orang Mexico itu.”
“Kita lihat dulu bagaimana sikap mereka. Bila mereka
mengangkat senjatanya, maka kita akan menembaknya.”
Kaum perampok di balik batu karang berbisik-bisik.
Mereka hanya mengharapkan kedatangan Sternau, dan
bukan sekarang melainkan esok hari. Dan kini ia datang,
bukan seorang diri melainkan bersama dua orang.
Siapakah mereka?
“Tentunya kenalan-kenalan baru,” kata salah seorang
Mexico.
“Apa yang harus kita lakukan kini? Mereka bertiga.”
“Kita tidak dapat menangkap dia. Baik kita tembak saja
dia.”
“Dan bagaimana dengan kawan-kawannya?”
“Tentu saja harus kita bunuh juga. Mereka dapat
membocorkan rahasia kita. Namun kita masih ada waktu.
Mereka masih belum mencapai jangkauan peluru kita.
Tembakan kita tidak boleh meleset. Sekali menembak
ketiganya harus kena. Bila tidak, kita akan mendapat
kesulitan besar. Ingat betapa berbahaya Sternau itu.
Namun kita ada cukup waktu. Bila mereka menemukan
jejak kita, mereka akan menyelidikinya. Sambil
mengendap-endap mereka itu merupakan sasaran empuk
bagi senapan kita.”
“Sayang kawan-kawan kita dahulu tidak ada di sini.
Bersama mereka kita pasti dapat dengan mudah
menangkap ketiga orang itu,” kata orang yang ketiga.
“Kita tidak memerlukan mereka. Kita sendiri cukup
tangguh menghadapinya.”
Para penjahat itu sekali-kali tidak menyangka bahwa di
belakang mereka bersembunyi dua orang yang mengamati
segala gerak-geriknya.
Dalam pada itu Sternau dengan kawan-kawannya
sudah mendekat. Ia telah menghentikan kudanya serta
mengamati keadaan lembah dan jarak antara kedua lereng
gunung.
“Ngarai berbahaya!” katanya. “Saya berani bertaruh,
Verdoja telah memasang jerat di situ. Baik kita lalu di situ
serta pura-pura acuh tak acuh. Saya akan mengamati
keadaan.”
Perlahan mereka melanjutkan perjalanan hingga
mereka tiba di tempat Verdoja pernah memasang
kemahnya. Mereka berhenti di situ.
“Inilah tempat istirahat mereka,” kata Francisco.
Sternau melayangkan pandangnya ke seluruh penjuru
lalu berkata gugup, “Lekas, turun dari kuda dan
tambatkan kuda. Kita pura-pura hendak beristirahat!
Cepat! Cepat!”
Panah Halilintar melihat ke arah Sternau memandang
lalu melompat dari kudanya.
“Saya setuju dengan Anda,” katanya. “Jangan sampai
mereka tahu… kita harus mencari perlindungan.”
“Di situ… sebelah kanan, pada lereng gunung… batu
karang besar itu,” jawab Sternau. “Saya kira, mereka tidak
akan menembak kuda. Kita akan berpencar, pura-pura
hendak mengumpulkan kayu api… kemudian langsung ke
balik batu karang.”
Mereka meninggalkan kudanya lalu mulai menjemput
ranting-ranting.
“Lihat!” bisik salah seorang Mexico, “mereka berhenti.
Alangkah mudahnya menembak mereka.”
“Sedang mengapa mereka?” seru kawannya. “Mereka
bersembunyi di situ. Kita sama-sama dalam keadaan
bahaya seperti mereka.”
“Kurasa tidak. Mereka belum pergi ke ngarai. Tentu ada
alasan lain sehingga mereka bersembunyi.”
“Itu berbahaya. Kita bersembunyi di sini, mereka pun
bersembunyi di situ. Kita sama-sama dalam keadaan
bahaya seperti mereka.”
Memang demikianlah keadaannya. Dekat tempat masuk
ke ngarai, Sternau telah melihat sebatang ranting patah,
hanya itu yang tampak olehnya. Penjahat telah memanjat
tebing dan berpegangan pada ranting itu. Kulit batang
pohon terkoyak, menampakkan bekas koyakan yang agak
putih warnanya. Hanya mata orang yang terlatih dapat
menangkap keganjilan itu serta mengartikannya.
Panah Halilintar pun melihatnya. Ketiga orang itu kini
merebahkan diri di balik batu karang dan Francisco
bertanya, “Apa yang aneh?” Ia tidak mengerti, mengapa
mereka harus bersembunyi.
“Kaulihat ranting yang tercabut itu?” jawab Panah
Halilintar.”
“Eh… ya.”
“Lalu di atasnya, bekas batu-batu bergulingan ke
bawah?”
“Ya.”
“Bagus! Itu merupakan bukti bahwa baru saja seorang
memanjat tebing untuk memata-matai. Ketika ia melihat
kita, ia terburu-buru kembali ke lembah, separuh
meluncur. Bekasnya itu masih jelas terlihat di tebing. Di
seberang situ tentunya ada orang-orang yang sedang
menghadang kita.”
“Caramba!” maki Francisco.
“Tetapi kita tidak perlu merasa takut. Mereka hanya
berdua, paling banyak bertiga.”
“Masa jumlahnya hanya sekecil itu?” kata Panah
Halilintar.
“Anda kira, Verdoja menghadang dengan seluruh
pasukannya?” jawab Sternau. “Tidak, mula-mula ia harus
mengamankan tawanannya. Jumlah tawanan empat orang.
Rombongan mereka terdiri dari sebelas orang, sehingga
yang berlebih itu hanya tiga orang. Ia tidak mengetahui
bahwa saya mendapat bantuan. Pada perkiraannya saya
hanya seorang diri. Maka seorang pun sudah cukup untuk
menghabisi nyawaku dengan sebutir peluru. Tempat
musuh bersembunyi tentunya agak dekat kita. Mari kita
selidiki sekeliling kita, mungkin dapat kita temukan tempat
persembunyian mereka.”
Pandangannya yang tajam menyusuri tiap batu dan tiap
semak yang dapat memberi pelindungan.
“Saya tahu!” katanya tiba-tiba. “Tadi saya lihat lutut
orang di balik batu karang tinggi dan berbentuk persegi
itu. Mari kita tembak ke arah itu.”
“Tak mungkin tembakan Anda mengenainya,” kata
vaquero itu.
“Sangat mungkin,” jawab Sternau sambil merebahkan
diri. Batu tempat mereka berlindung sedikit runtuh. Maka
dengan aman ia dapat membidik melalui celah dalam batu.
Katanya kepada Panah Halilintar, “Bila Anda meletakkan
topi Anda di atas hulu senapan Anda lalu mengacungkan
senapan itu, mereka akan menyangka melihat orang yang
sedang mengintip. Biar mereka melepaskan tembakan
pada ‘orang’ itu. Si penembak tentu akan memperlihatkan
sebagian dari tubuhnya. Itu merupakan sasaran kita.”
“Baik kita coba juga,” kata Panah Halilintar sambil
tertawa lalu menaruh topinya di atas senapannya.
Kedua kepala suku yang ada di seberang telah
mengamati segala kejadian. Mereka menyiapkan
senapannya sehingga setiap saat dapat digunakan.
Kemudian muncullah topi itu, menimbulkan kesan bahwa
seseorang mengintip di balik batu.
“Uf!” bisik Kepala Banteng. “Bodoh benar orang itu!”
“Patutkah saudara mengira bahwa Ratu Batu Karang
itu begitu bodoh?” tanya Hati Beruang. “Lebih baik kita
nantikan saja!”
Ketiga pembunuh itu berbisik-bisik. Salah seorang
memegang senapannya, meletakkannya di tepi batu.
Sambil bersandar pada batu ia mengangkat kepalanya
untuk dapat menembak topi itu. Baru saja ia memetik picu
lalu dari seberang terdengar tembakan dan orang Mexico
itu jatuh terjungkir.
“Jadi seperti saudara lihat, itu merupakan siasat
belaka.”
“Ratu Batu Karang memang seorang ksatria besar,” kata
kepala suku itu.
“Kedua orang yang tersisa akan mendapat gilirannya
juga, namun saya sudah tidak sabar lagi. Baik kita
memperkenalkan diri.”
“Baik,” orang Mixteca itu mengangguk.
Kedua penjahat itu sedang sibuk dengan menolong
kawannya yang terluka itu sehingga mereka tidak
mengetahui apa yang terjadi di belakang mereka. Kedua
kepala suku itu bangkit berdiri, melambai-lambai ke
seberang lalu kembali merebahkan diri.
“Apa itu?” tanya Panah Halilintar terheran-heran.
“Sungguh kebetulan sekali, itu Kepala Banteng,” jawab
Sternau. “Dan orang Indian di sebelahnya itu… kalau tidak
salah Hati Beruang. Nasib kita mujur. Kini musuh diapit
oleh dua api. Siapa yang menyangka, kita akan ditemani
oleh dua kepala suku yang gagah perkasa itu.”
“Serahkan saja kepada mereka. Mereka akan
menembak mati kaum penjahat itu,” pikir Francisco.
“Itu bukan tujuan kita,” jawab Sternau. “Lebih baik kita
tawan mereka hidup-hidup. Maka kita dapat menanyai
mereka. Semoga orang-orang Mexico itu tidak mengerti
bahasa Apache. Maka mereka tidak dapat mengetahui
kepada siapa kita berkata dan apa arti perkataan itu.
Kepala suku tentu cukup bijaksana untuk tidak menjawab
dengan kata-kata.”
Sternau menunggu beberapa saat lalu berseru dengan
suara lantang, “Tenilsuk nagongo akaja – ada berapa orang
musuh?”
Di balik batu karang di seberang diacungkan dua
tangan.
“Jadi dua orang,” kata Sternau. “Sesuai dengan
dugaanku.” Kembali ia berseru, “Shi ankhuan to tastsa ta,
shi ankhuan hotli intahinta – saya mau menangkap
mereka hidup-hidup!”
“Sternau berteriak seperti orang gila. Apa maksudnya
dengan perkataanmu itu? Bila hendak memaki kami,
silakan berbahasa Spanyol! Kita berada dalam keadaan
genting. Sedikit menonjol tubuh kita, maka langsung akan
menjadi sasaran tembakan mereka. Tak ada jalan lain. Kita
harus menanti sampai malam tiba atau sampai kawankawan
kita kembali lagi.”
Namun jalannya tidak sesuai dengan jalan pikirannya.
Para kepala suku memahami betul pesan Sternau. Mereka
meletakkan senapannya ke atas tanah, lalu membawa
pisau belatinya dengan jalan menggigitnya. Perlahan
mereka merangkak ke arah orang Mexico itu. Sternau
mengerti bahwa ia harus mengalihkan perhatian mereka.
Ia berdiri tegak lurus, mengangkat senapannya lalu
menembak.
“Bagus. Anda mau menembak!” kata salah seorang
Mexico sambil tertawa dan mengintip di balik batu karang.
“Mari, kau boleh mendapat sebutir peluru.”
Ia meraih senapannya, namun pada saat itu juga ia
merasa lehernya dicekik orang kuat-kuat sehingga ia
terengah-engah kekurangan nafas. Kawannya mengalami
nasib yang serupa.
“Serbu!” kata Sternau sambil melompat ke lembah.
Kawan-kawannya mengikutinya. Bantuan mereka
sebenarnya tidak diperlukan lagi. Kedua kepala suku itu
sedang sibuk mengikat orang yang sudah tidak sadarkan
diri itu dengan tali laso.
“Kepala Banteng, kepala suku Mixteca, telah
menyelamatkan jiwa saya kedua kalinya,” kata Sternau
sambil mengulurkan tangan kepadanya.
“Matava-se sendiri sanggup mengerjakan segalagalanya,”
jawab kepala suku itu merendah.
Kini Sternau pun berjabat tangan dengan Hati Beruang.
“Perjumpaan kita terakhir sudah bertahun-tahun lalu.
Maka besar hati saya bertemu kembali dengan Anda.”
“Hati Beruang pun berbesar hati bertemu kembali
dengan Saudara. Beberapa musim panas yang panjang
saya menantikan Saudara.”
Panah Halilintar menceritakan kepada kepala suku
Apache tentang penyembuhannya berkat bantuan Sternau.
Kemudian mereka duduk-duduk dan bermusyawarah.
Mereka menjaga supaya percakapan mereka tidak
terdengar oleh para tawanan.
“Apakah tujuan sahabat kami menempuh gurun?” tanya
Kepala Banteng.
“Kami mengalami musibah,” jawab Sternau. “Hacienda
del Erina telah diserang perampok.”
“Siapakah mereka? Orang-orang Mexico?”
“Benarlah. Penjahat itu menawan empat orang: Senor
Mariano, Senor Unger, Senorita Emma, dan Senorita
Karja.”
“Karja?” seru kepala suku terkejut.
“Karja, bunga suku Mixteca itu?” seru Hati Beruang.
“Mengapa sampai hal demikian dapat terjadi? Apakah tidak
ada orang laki-laki di rumah?”
“Benar ada beberapa orang laki-laki, namun…”
“Itu bukan laki-laki, bila sampai ada orang-orang
diculik,” kata Hati Beruang.
“Bolehkah saya tambahkan bahwa saya sendiri
termasuk dalam tawanan itu?” jawab Sternau.
“Ratu Batu Karang… seorang tawanan?” tanya Hati
Beruang tak percaya. “Bukankah Anda sekarang bebas?”
“Saya berhasil membebaskan diri. Apakah para kepala
suku mau mendengar ceritanya?”
Sternau bercerita tentang pengalamannya dengan cara
sesingkat-singkatnya. Ketika ia berhenti, orang Apache itu
mengulurkan tangan kepadanya lalu berkata, “Maafkan
saya, Saudara! Memang bukanlah perkara yang sulit
untuk mengalahkan, orang yang sekuat-kuatnya pun bila
ia diserang dari belakang dalam keadaan gelap. Kini kita
harus cepat-cepat menyembunyikan kuda kita. Kita tidak
tahu, siapa yang mungkin akan datang.”
Sternau ikut pergi menyembunyikan kuda. Di tempat
itu mereka melihat kuda-kuda para perampok sedang
makan rumput. Para perampok yang kini sudah sadarkan
diri digiring juga ke situ. Francisco menunggu di ujung
lembah, mengadakan penjagaan. Yang lain bergabung
dengan Sternau menanyai para tawanan.
“Kalian masuk rombongan Verdoja?” tanya Sternau.
Tidak dijawab.
“Aku melihat sendiri kalian dalam rombongan itu. Tak
ada gunanya menutup mulut atau menyangkal. Perbuatan
demikian hanya akan menambah beratnya hukuman.
Mengapa kalian tertinggal dari mereka?”
“Itu perintah Verdoja,” jawab mereka dengan garang.
“Mendapat tugas apa?”
“Membunuh atau menawan Anda.”
“Itu sudah kuduga. Tetapi aku kurang mengerti,
mengapa kalian bertiga yang dikirim untuk tugas itu.
Bukankah kalian sudah tahu betapa sulitnya membunuh
aku, apalagi menangkap aku hidup-hidup?”
“Kami kira, Anda baru akan tiba esok hari. Verdoja telah
berjanji akan mengirim bala bantuan lebih banyak lagi.”
“O, jadi banyak orang akan dikirim ke mari. Bilamana?”
“Mungkin esok hari.”
“Berapa banyaknya?”
“Entahlah.”
“Ke mana Verdoja membawa tawanannya?”
“Itu pun tidak kami ketahui.”
“Jangan berbohong!”
“Anda kira, Verdoja mempercayakan rahasianya kepada
kami”?
“Hm! Namun mereka yang datang esok hari, tentu akan
mengetahuinya. Di mana tempat pertemuan kalian?”
“Di sini, di lembah ini.”
“Berapa banyaknya uang hadiah yang dijanjikan
Verdoja untuk usaha pembunuhan itu?”
“Seratus peso bagi tiap orang.”
“Baik. Kini tunggu putusan kami.”
Upaya Sternau berhasil dalam membiarkan para
penjahat tetap hidup. Mereka ditinggalkan di cabang
lembah dalam keadaan terbelenggu. Salah seorang,
belenggunya dibuat agak kendur, agar ia dapat
membebaskan diri serta kawannya. Senjata mereka
dimusnahkan dan kuda mereka dibawa pergi.
Kawan-kawan yang baru bertemu itu kini dapat
memperbincangkan maksud yang dikandung bangsa
Apache yang membawa mereka ke daerah ini. Sternau
hanya mengetahui bahwa pasukan Juarez berada di
Monclova, selanjutnya bahwa Verdoja dibantu oleh enam
orang Mexico. Mungkin orang-orang itu datang esok hari,
namun rombongan Sternau tidak merasa takut. Maka
mereka sepakat mengirim Hati Beruang kepada bangsa
Apache untuk menenteramkan hati mereka. Di balik
punggung pegunungan ia akan menanti kedatangan
kawan-kawan lainnya. Setelah diputuskan demikian, Hati
Beruang berangkat naik kuda.
Petang serta malam hari itu tidak terjadi apa-apa. Pagi
esok harinya pun demikian. Menjelang petang terdengar
bunyi derap kaki kuda. Sternau telah mengatur tempat
persembunyian masing-masing di balik batu karang.
Mereka mendapat perintah, mula-mula menembak kuda
orang-orang itu. Ketika bunyi derap itu makin mendekat,
rombongan Sternau cepat-cepat mencari tempatnya
masing-masing.
Di sebelah barat lembah terdapat juga sebuah “pas”. Di
situ mulai menampak empat orang Mexico. Mereka
berhenti untuk menyelidiki lembah. Ketika mereka tidak
menemukan kawan-kawannya, mereka memasuki lembah
simpang yang sempit itu. Baru saja mereka tiba di situ
terdengarlah empat kali tembakan. Kuda-kuda melompat
lalu terjatuh. Peluru-peluru tepat mengenai sasarannya
sehingga kuda-kuda itu tidak dapat bangkit kembali.
Sesaat penunggang kuda serta kudanya menjadi kacaubalau.
Keadaan itu digunakan dengan baik oleh keempat
jago tembak itu. Mereka berlompatan ke luar dari
persembunyiannya lalu memukul kepala lawannya dengan
hulu senapannya sebelum orang-orang itu menyadari apa
yang sebenarnya terjadi. Kemudian orang-orang itu
dibelenggu dengan tali laso mereka sendiri. Pemimpin
mereka adalah seorang perwira pasukan bertombak yang
dahulu pernah terlihat di hacienda del Erina.
“Selamat bertemu kembali,” kata Sternau. “Sayang kini
kau tidak berpangkat sebagai perwira lagi.”
Orang itu memandang Sternau dengan penuh
kebencian. “Aku tidak bersalah. Aku tidak ada sangkutpautnya
dengan urusanmu itu. Lepaskan aku.”
“Kami tidak perlu mendengarkan ocehanmu itu.
Tugasmu menjawab pertanyaanku. Ke mana
kausembunyikan para tawanan?”
“Tidak tahu.”
“Aku mau mengulangi pertanyaanku hanya sekali saja:
Di mana tawanan itu?”
“Tak mau kukatakan.”
Kepala Banteng mencabut pisaunya, menodongkannya
kepada bekas perwira itu lalu berkata dengan garang,
“Adikku Karja ada di mana?”
Orang itu kurang mengenal watak orang Indian maka ia
tetap membungkam saja. Orang Indian itu berkata dengan
tenang, “Jawab pertanyaanku.”
“Tidak mau.”
“Maka kamu tidak usah tetap hidup. Orang mati tidak
dapat berbicara. Kau tidak mau bicara, jadi kau akan
mati.”
Demi terucap perkataan itu, orang Indian itu secepat
kilat menikamkan pisaunya tepat mengenai jantung
lawannya. Maka lawannya itu rebah tanpa mengeluarkan
suara.
“Kalian semuanya boleh menempuh jalan itu,” kata
Kepala Banteng dengan darah dingin.
Kini pisau ditodongkan ke dada tawanan yang kedua.
Kepala Banteng bertanya, “Kamu juga mau membungkam
atau mau bicara?”
Orang itu takut pada ancaman itu namun ia takut pula
mengkhianati kawan-kawannya. Ia berpikir sejenak.
Karena tidak dapat menunggu lebih lama lagi, orang
Mixteca itu menikamkan pisaunya ke dalam dada orang
Mexico itu. Kini tiba giliran yang ketiga. “Katakanlah,
anjing, di mana tawanan itu disembunyikan.”
“Baik, akan kukatakan semuanya,” kata orang itu
ketakutan. “Para tawanan disembunyikan dalam bangunan
piramida kuno.”
“Di manakah bangunan itu?”
“Di negara Chihuahua, dekat hacienda Verdoja.”
“Bagaimana bentuk bangunan itu?”
“Merupakan bangunan piramida Mexico lama yang
dahulunya dipergunakan sebagai tempat mengabdi pada
dewa matahari. Letaknya di sebelah utara hacienda,
ditumbuhi oleh semak belukar.”
“Di mana tempat masuknya?”
“Tidak tahu. Hari sudah malam ketika kami tiba di situ.
Kami harus tunggu di luar, tidak boleh masuk. Hanya
Senor Verdoja, Senor Pardero, dan seorang penjaga berusia
lanjut boleh masuk. Mula-mula kedua gadis tawanan
dibawa masuk, kemudian tawanan prianya.”
“Di sebelah mana tempat masuknya itu?”
“Tidak tahu.”
“Kamu tentu sudah mengetahui di sebelah mana
Verdoja masuk.”
“Ia pergi ke hutan belukar di sebuah sudut piramida
lalu menghilang di sebelah selatan.”
“Di situ tentunya tempat masuknya. Apa yang terjadi
setelah para tawanan dibawa masuk?”
“Kami pergi ke hacienda Verdoja, mendapat kuda-kuda
baru serta bekal makanan dan pergi ke mari.”
“Berapa lamanya perjalanan itu?”
“Dari pukul dua sesudah tengah malam hingga
sekarang.”
“Jadi kita akan tiba di piramida pada malam hari bila
kita berangkat sekarang.”
“Benar.”
“Baik. Kau harus menjadi penunjuk jalan, tetapi tidak
ada orang yang boleh melihat kita. Dan ingatlah: bila kau
berusaha menipu kami, ketika itu kau akan menjadi
mayat. Kau tahu jalannya?”
“Tahu benar.”
“Maka kita tidak memerlukan orangmu yang keempat.
Sesuai dengan hukum savana ia harus mati.”
Sebelum Sternau dapat mencegah, Kepala Banteng
mencabut sekali lagi pisaunya lalu menikamkannya ke
dalam dada orang Mexico itu.
“Kepala Banteng kejam,” kata Panah Halilintar mencela.
“Kulit kepala mereka terlalu mudah diperoleh.”
Dengan angkuhnya Kepala Banteng menjawab, “Kepala
suku Mixteca hanya mengambil kulit kepala dari musuh
yang kalah dalam peperangan. Ini hanya anjing, aku tidak
menginginkan kulit kepalanya. Mereka mati sebagai anjing
kena pukul oleh tongkat.”
Semua barang yang dimiliki keempat perampok yang
dapat berguna diambil. Kemudian mereka pergi. Penunjuk
jalan mendapatkan kuda yang tidak diperlukan oleh
Sternau. Kelima orang itu pergi melalui “pas” ke utara. Di
situ Hati Beruang bersama kaum Apache menanti mereka.
Pos-pos depan itu mempermudah jalan mereka.
Mereka bersepakat untuk melanjutkan perjalanan
bersama-sama. Kaum Apache berniat untuk menguasai
hacienda dan menawan Verdoja serta Pardero. Mereka
akan diminta dengan ancaman supaya membebaskan para
tawanan. Kemudian mereka akan dihakimi. Seorang
Apache kembali untuk memberitahu Kuda Terbang, di
mana kelompok pertama prajurit akan bertemu dengan
kelompok kedua. Francisco tidak diperlukan lagi dan
dikirim kembali oleh Sternau ke hacienda del Erina untuk
memberitahu Arbellez tentang keadaan mereka. Arbellez
mendapat nasihat, janganlah berputus asa karena besar
harapannya, putrinya akan kembali ke atas pangkuannya.
Rombongan berangkat. Orang-orang kulit putih berjalan
di muka, Hati Beruang dan Pembunuh Grizzly bersama
penunjuk jalan di tengah. Mereka diikuti oleh rombongan
suku Apache yang berjalan seperti biasanya dengan cara
beriring. Mereka tiba di dataran tinggi Chihuahua melewati
berbagai wilayah hacienda tanpa diketahui penghuninya.
Tengah hari mereka menempuh hutan lebat. Menjelang
malam mereka tiba di daerah perbatasan milik Verdoja. Di
sebelah barat tampak samar-samar bentuk bangunan
piramida bangsa Astek yang menyeramkan roma. Itulah
tujuan perjalanan mereka.

sumber: DISALIN OLEH
Svetlana Dayani, Tiur Ridawaty, & Windy Triana
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s