BAB IV MATA-MATA

Di sebelah barat laut gurun Mapimi terdapat beberapa
sungai yang mengalir ke situ serta membuat tanahnya
subur ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Padang-padang
rumput diselingi oleh hutan-hutan lebat terdapat di daerah
itu hingga sampai di barat laut Mexico. Di situ terdapat
dataran-dataran tempat suku Apache bermukim.
Orang-orang Apache ketika itu berada di salah satu
hutan. Mereka dipimpin oleh Sternau, Kepala Banteng, dan
Hati Beruang. Di sepanjang jalan mereka tidak berjumpa
dengan manusia, maka mereka merasa aman dan
tenteram. Seandainya hutan yang ditempuh mereka itu
agak kecil maka mereka akan menjelajahnya untuk
menyelidikinya. Karena hutan itu sangat luas, mereka
merasa cukup hanya menyelidiki daerah tepinya saja.
Namun seorang peninjau yang ahli akan dapat
menangkap bunyi-bunyi lemah yang bergerak dengan
perlahan ke arah tepi hutan. Akhirnya terdengar pula
beberapa ucapan orang dengan nada menggerutu. “Apakah
Saudara belum pernah diajar berjalan tanpa terdengar
orang?”
Jawabnya keluar dengan suara tertahan, “Di bawah
pohon-pohonan sangat gelap. Apakah Saudara mempunyai
mata kucing, yang dapat melihat semua ranting dan daundaunan?”
Kemudian suasana menjadi hening kembali, hanya
bunyi desir yang aneh itu masih tetap terdengar. Ketika
bunyi itu pun tiba-tiba berhenti, terdengar seseorang
berbisik, “Mengapa Saudara berhenti? Apakah Saudara
mendengar sesuatu?”
“Benar, saya mendengar di kejauhan seekor kuda
mengendus.”
Endus kuda itu terdengar lagi, makin dekat.
“Orang-orang berkuda sedang menuju ke mari. Dekat
kita ada sebatang pohon yang tinggi. Mari kita memanjat
pohon itu. Di atas pohon itu kita tidak dapat dilihat dari
bawah dan kita akan mempunyai pandangan luas ke
padang prairi.” Percakapan tadi dilakukan oleh dua orang
Indian. Yang berkata terakhir, kini memeluk batang pohon
lalu memanjatnya. Ia diikuti oleh yang lain. Mereka
bergerak dengan lincahnya tanpa terdengar orang,
bagaikan dua ekor tupai layaknya. Setelah mereka berada
tinggi di atas pohon, tertutupi oleh daun-daunan, mereka
tidak terlihat sedikit pun dari bawah. Senjata mereka
tergantung di tubuhnya, namun mereka tidak terhambat
sedikit pun olehnya. Baru mereka berada di situ, maka
terdengar bunyi langkah kaki orang. Mereka itu orangorang
Apache yang telah turun dari kudanya untuk
menyelidiki tepi hutan. Setelah mereka lewat, dapat
diketahui dari bekas-bekas kaki kuda bahwa rombongan
itu telah meneruskan perjalanan.
“Uf!” bisik salah seorang Indian, “bangsa Apache!”
“Wajahnya bercoreng-moreng, menandakan dalam
keadaan perang!” tambah yang lainnya.
“Ada orang kulit putih di antara mereka.”
“Tiga orang! Uf! Uf!”
“Mengapa Saudara begitu terkejut?”
“Saudara tidak mengenali pemimpinnya, seorang kulit
putih bertubuh tegap serta berwibawa itu?”
“Tidak.”
“Ia bernama Matava-se. Beberapa musim dingin yang
lalu aku telah berjumpa dengannya di kota yang disebut
orang kulit putih Santa Fe.”
“Uf. Ia seorang gagah perkasa. Dan tahukah Saudara
siapa kepala-kepala suku yang mendampinginya?”
“Yang seorang bernama Hati Beruang, seorang anjing
Apache.”
“Dan yang lainnya bernama Kepala Banteng, seorang
Mixteca. Mari kita hitung jumlah pasukan mereka.”
Orang-orang Indian yang memata-matai mereka itu
sedang duduk di puncak pohon. Dari situ mereka dapat
mengawasi gerak-gerik lawannya dengan aman. Mereka
menghitung dengan cermat. Setelah rombongan Apache itu
lampau, berkata salah seorang mata-mata, “Jumlah
mereka dua puluh kali sepuluh orang, ditambah dengan
enam orang Apache dan empat orang kulit putih.”
“Saudara telah menghitung dengan cermat. Ke manakah
gerangan mereka pergi?”
“Tujuan mereka ke hacienda Verdoja. Presiden Mexico
telah memanggil prajurit Comanche, maka si pengkhianat
Juarez itu tentunya mengumpulkan orang Apache untuk
menandinginya. Mereka menuju ke hacienda yang
merupakan tujuan kita pula. Esok hari akan tiba banyak
orang Comanche. Matilah anjing-anjing Apache itu. Mereka
akan menghadiahkan kulit kepala mereka kepada kita.
Tetapi mari kita mengikuti mereka supaya tahu apa yang
dikehendaki mereka.”
“Baik kita berpisah saja. Aku akan mengikuti jejak
mereka dan Saudara pulang untuk memberi laporan.”
“Baik.”
Kedua orang Indian itu meluncur turun dari atas pohon
lalu menyelinap ke luar hutan. Mula-mula mereka
memastikan diri bahwa mereka tidak diikuti orang,
kemudian mereka menuju ke padang prairi.
Kini mereka nampak dengan jelasnya: dua orang
Comanche mengenakan pakaian perang. Tidak nampak
tanda-tanda kehormatan sebagai kepala suku pada
mereka, namun pasti mereka bukan sembarang prajurit
karena mereka diserahi tugas mata-mata yang demikian
beratnya.
Matahari sudah hampir terbenam. Di kejauhan bergerak
rombongan orang Apache bagaikan seekor ular layaknya.
“Saudara harus cepat-cepat mengikuti mereka! Hari
sudah hampir malam. Saudara akan kehilangan jejak
mereka.”
Tanpa menjawab, kawannya itu bergegas-gegas
mengikuti rombongan orang Apache itu. Seorang matamata
Indian dalam keadaan perang biasanya tidak
mengendarai kuda, karena kuda itu dapat menghambat
gerak mereka. Seorang Comanche yang berjalan kaki
mudah mencari perlindungan di balik tiap benda yang
dijumpainya. Dengan demikian mudah pulalah baginya
untuk memata-matai lawannya sementara hari masih
cukup terang. Kawannya mengawasinya sejenak,
kemudian ia kembali lagi ke rombongannya.
Rombongan orang Apache tiba di piramida. Mereka
berhenti dekat bangunan menyeramkan itu. Para
pemimpinnya memandanginya dengan perasaan
bercampur. Di dalamnya terkurung orang-orang yang
sangat dikasihinya.
“Tiada mungkinkah kita menghancurkan bangunan
itu,” kata Panah Halilintar dengan gemasnya.
“Sabar!” kata Sternau menghibur. “Pasti kita dapat
membebaskan mereka. Saya harap, kita segera dapat
mengakhiri penderitaan mereka.”
“Setiap kali Karja, putri Mixteca itu, menarik nafas
panjang, seorang musuh harus menebusnya dengan
jiwanya,” ancam Kepala Banteng. “Di manakah letak pintu
masuknya?”
Sternau bertanya kepada penunjuk jalan, “Di tempat
mana kalian disuruh menunggu?”
“Ikutlah saya!” kata orang Mexico itu. Setelah berjalan
beberapa lamanya, orang itu berkata, “Inilah tempatnya!”
“Dan ke mana Verdoja masuk bersama tawanannya?”
“Di sini di antara semak belukar ini ia menghilang dan
di sana, di ujung situ, terlihatlah cahaya lampu mereka.”
“Baik. Jika kau berkata benar, kau akan kami biarkan
hidup.”
Sternau memanggil kedua kepala suku serta Panah
Halilintar untuk memberitahu mereka tentang
keadaannya.
“Kita harus melarang orang kita berjalan di semaksemak
itu,” kata Kepala Banteng. “Verdoja pernah mondarmandir
di situ. Meskipun kejadian itu sudah lama berlalu,
namun ia pasti telah meninggalkan jejak. Jejak itu baru
dapat kita lihat bila hari sudah terang.”
“Masa, harus kita menunggu sampai pagi hari,” kata
Hati Beruang.
“Benar juga pendapat Saudara,” kata Panah Halilintar.
“Emma tidak boleh menderita lebih lama lagi dalam
penjaranya.”
“Jadi Anda menganggap perlu, kita menantikan
petunjuk dari Verdoja?” tanya Sternau kepada Kepala
Banteng. “Bukankah masih ada jalan lain? Kita dapat
menyerbu hacienda.”
“Namun kita harus menyelidiki daerah itu lebih
dahulu.”
“Perlukah itu?” tanya Panah Halilintar. “Serbu saja,
pegang orang itu, seret dia ke mari.”
Anton Unger sudah tidak sabar lagi. Kekhawatirannya
terhadap kekasihnya mendorongnya berbuat ceroboh.
Sternau sudah siap dengan jawabnya ketika terdengar
suara pekik orang kuat-kuat. “Uf! Ntsage no-khi peniyil –
kemarilah!” terdengar suara orang dalam bahasa Apache.
Suara itu terdengar di belakang mereka.
“Siapa?” tanya Sternau.
“Pembunuh Grizzly,” jawab Hati Beruang.
“Apakah ia memisahkan diri dari kita?”
“Benar. Ia ingin lebih cermat menyelidiki daerah.”
“Kalau begitu, ia telah menemukan sesuatu yang
penting. Lekas, kita pergi melihat!”
Sternau meluncur turun dari kudanya lalu bergegas ke
arah suara itu. Ia menjumpai pemuda Apache itu sedang
berlutut. Di bawah lututnya ada seorang Indian yang
dipegangnya erat-erat.
“Seorang Comanche!” katanya.
Segera dilemparkan orang sebuah tali laso untuk
mengikat orang itu. Orang yang tertangkap itu mata-mata
Comanche yang telah memata-matai mereka.
“Bagaimana sampai Saudara dapat menangkap orang
ini?” tanya Hati Beruang.
“Saya berjalan di belakang rombongan. Saya mendengar
orang sedang mengikuti kita. Lalu saya turun dari kuda
untuk mencarinya. Saya menemukan dia di sini. Ia sedang
memasang telinga untuk mendengar percakapan kita.
Langsung saya terkam dia.”
Sternau mendekati tawanan itu untuk menyelidikinya.
“Benar,” katanya. “Ia seorang mata-mata Comanche yang
memata-matai kita.”
“Bunuh anjing itu!” kata seorang Apache.
“Sejak kapan seorang prajurit Apache dapat mendahului
kepala sukunya dalam mengambil keputusan? Prajurit
demikian tidak patut dinamakan prajurit. Ia seorang
wanita atau anak kecil.”
Orang itu dengan rasa malu mengundurkan diri.
Pembunuh Grizzly yang berdiri dekat tawanannya
bertanya, “Di mana kawan-kawanmu?”
Namun mata-mata itu membungkam saja. Usaha orang
lainnya pun untuk menyuruhnya bicara, gagal pula.
Sternau berhasil mengubah keadaan itu dengan
melemparkan pertanyaan, “Kau seorang prajurit Comanche
hanya mau menjawab pertanyaan orang yang
menghormatimu. Apakah kau akan melarikan diri bila aku
membuka belenggumu?”
“Tidak. Saya tidak akan lari.”
“Mau kau menjawab pertanyaanku?”
“Ratu Batu Karang akan mendapat jawaban. Ia seorang
yang baik dan adil.”
“Jadi kau kenal aku?” tanya Sternau.
“Saya kenal Anda serta menjadi tawanan Anda.”
“Kau menjadi milik orang yang menaklukkanmu.
Bangkitlah!”
Sternau melepaskan belenggunya. Tawanan itu bangkit
berdiri tanpa berusaha melarikan diri.
“Kau seorang dirikah?” tanya Sternau.
“Tidak.”
“Satu rombongan?”
“Tidak. Hanya ada seorang kawan.”
“Tugasmu menjadi mata-mata?”
“Benar.”
“Kau ada banyak bala bantuan?”
“Lebih dari itu tidak boleh saya katakan.”
“Baik. Aku tidak akan bertanya lagi. Bawalah orang ini
serta jagalah baik-baik,” katanya kepada seorang Apache.
Perbincangan dilanjutkan.
“Dua orang mata-mata di perjalanan, merupakan
pelopor dari sebuah pasukan Comanche,” kata Sternau.
“Kita harus waspada.
Kedua orang itu pasti telah melihat kita. Kemudian
mereka berpisah. Salah seorang pergi mengikuti kita dan
yang lainnya kembali untuk memberi laporan kepada
rombongannya. Sebenarnya kita tidak usah takut kepada
mereka, karena di belakang mereka ada rombongan orang
Apache. Namun sebaiknya kita sudah siap siaga dekat
piramida sebelum mereka tiba. Mereka tidak mungkin tiba
sebelum esok petang. Saya mengusulkan untuk sementara
kita tidak pergi ke hacienda dulu. Esok hari pagi-pagi
sekali kita berusaha memasuki piramida. Bila kaum
Comanche sampai dapat tiba lebih dahulu daripada yang
kita duga, maka kita dapat mempergunakan bangunan tua
ini sebagai tempat perlindungan. Air cukup tersedia bagi
kita maupun kuda kita. Semak belukar dapat memberi
perlindungan. Hanya satu hal yang kekurangan, yaitu
makanan. Itu pun dapat kita usahakan. Kita dapat
menggiring sekelompok lembu. Mulai tengah malam kaum
vaquero tidak menjaga di padang rumput. Mereka sedang
tidur.”
Kini mereka menggiring beberapa ekor lembu untuk
dijadikan bekal makanan bagi para prajurit Apache selama
dua minggu. Rumput bagi kuda dan lembu mereka
tersedia cukup di atas padang-padang rumput yang luas.
Mereka mengirim mata-mata menyongsong pasukan
Comanche yang bergerak ke arah mereka. Kemudian
mereka yang tidak mendapat tugas jaga dibolehkan tidur
berselimut untuk memulihkan tenaga. Panah Halilintar,
Hati Beruang, serta Kepala Banteng tidak tidur. Hati
mereka selalu risau memikirkan nasib kekasihnya dalam
penjara piramida.
Sebelum fajar menyingsing mereka membangunkan
Sternau, karena tanpa dia mereka tidak berani mengambil
tindakan apa pun. Keempat orang itu pergi ke arah yang
ditunjukkan oleh orang Mexico itu semalam. Ketika mereka
menyelidiki tanahnya, ternyata bahwa terdapat jejak yang
jelas menunjuk ke bagian tenggara dari piramida. Di
antara semak-semak, jejak itu nampak jelas, tetapi tidak
demikian di padang rumput di belakangnya. Kejadian itu
sudah lama berlangsung sehingga rumput yang rebah
sudah bangkit kembali. Mereka agak kecewa. Orang-orang
yang sedianya pandai memecahkan persoalan itu, kini
hampir putus harapan. Segala ikhtiar sudah dilakukan,
namun sia-sia.
Mereka mengerahkan tenaga prajurit Apache. Semak
belukar, daerah sekitar piramida, keempat dinding, serta
ujung tumpul dari bangunan tua itu, diselidiki dengan
saksama, namun mereka tidak menemukan sesuatu.
Mereka mulai merasa putus asa. Tetapi Sternau
bukanlah orang yang membiarkan dirinya lama-lama
dikuasai oleh perasaan demikian. Sekali lagi ia mengamati
bangunan yang penuh dengan rahasia itu lalu berkata,
“Kita tidak berdaya. Kita harus menjemput Senor Verdoja.
Mari kita pergi ke hacienda!”
Lima menit kemudian sepasukan terdiri dari lima puluh
orang Apache berangkat di bawah pimpinan Matava-se dan
Hati Beruang. Matahari terbit ketika hacienda mulai
tampak di pemandangan mereka. Bagaikan angin puyuh
para prajurit menyerbu gedung. Mereka tidak ada banyak
waktu. Kaum Comanche setiap saat dapat datang. Mereka
tiba di pagar tanpa mendengar bunyi-bunyi. Nampaknya
penyerbuan akan berhasil. Pintu pagar masih tertutup,
namun itu bukan rintangan bagi para prajurit. Atas
perintah kepala suku mereka melompat turun dari
kudanya lalu memanjati pagar. Beberapa orang vaquero
yang sedang berbaring dapat ditangkap mereka dengan
mudah. Mereka tidak mendapat kesulitan dengan orangorang
lainnya. Seorang Apache membuka pintu pagar lalu
Matava-se masuk ke dalam bersama Hati Beruang. Kepala
suku tinggal bersama orangnya untuk mencegah terjadinya
pelanggaran. Sternau pergi bersama tiga orang Apache ke
jalan masuk. Di daerah ini rumah-rumah mempunyai
bentuk yang sama. Maka Sternau langsung tahu di mana
pemilik hacienda berada. Ia bergegas menaiki tangga lalu
membuka pintu. Penyerbuan tidak dapat diadakan tanpa
kegaduhan. Para penghuni rumah terbangun. Melihat
orang-orang Indian menyerbu, mereka menjadi ketakutan
setengah mati. Nyonya rumah ditemani oleh lima orang
wanita. Semuanya itu berkumpul dalam sebuah kamar,
gemetar ketakutan. Kebetulan Sternau dengan kawankawannya
masuk ke dalam kamar itu. Kedatangannya
menyebabkan para wanita menangis terisak-isak serta
meratap-ratap.
“Diam!” perintah Sternau.
Perintah itu tidak dipatuhi mereka. Pengurus rumah
tangga berlutut di hadapannya menengadahkan tangannya
ke langit serta memelas, “Mohon ampun, Senor. Apakah
kesalahan kami, kami tidak pernah berbuat apa-apa.”
“Di manakah Verdoja?”
“Ia tidak di rumah. Kemarin pagi ia pergi dan sampai
sekarang belum kembali.”
Itu berita yang buruk. Perjalanan ke hacienda itu
semata-mata dilakukan untuk memperoleh keterangan
dari Verdoja. Kalau begitu, mereka sebaiknya tinggal saja
dekat piramida. Kekecewaan tergambar jelas pada wajah
Sternau sehingga pengurus rumah tangga itu bertanya,
“Apakah barangkali keponakan saya itu musuh Anda?”
Perkataan wanita itu mengingatkan Sternau kepada
suatu hal. “Apakah Verdoja keponakan Anda?” tanyanya.
“Benar, Senor. Saya nyonya rumah.”
“Apakah ia mempercayai Anda?”
“Itu sudah jelas. Kalau tidak, mana dapat saya diangkat
menjadi nyonya rumah.”
“Maksud saya, apakah ia mau mempercayakan rahasiarahasianya
kepada Anda?”
“Ya… kadang-kadang ia mau menceritakan.”
“Tahukah Anda, di mana ia sekarang berada?”
“Tidak.”
“Apakah Verdoja semalam tinggal di hacienda?”
“Ya.”
“Tahukah Anda tentang piramida yang ada di sekitar
sini?”
“Ya, saya tahu.”
“Apakah piramida itu berongga di dalamnya?”
“Benar, ia berongga. Senor Verdoja kerap kali masuk ke
dalamnya.”
“Benarkah demikian?” tanya Sternau girang.
“Bagaimana caranya masuk ke dalam?”
“Itu tidak saya ketahui. Sejak ayahnya hidup, hal itu
sudah merupakan rahasia. Namun di atas terdapat sebuah
meja tulis. Di dalamnya tersimpan suatu peta yang berisi
gambar bagan ruang-ruangan dalam piramida.”
“Antarkan saya ke meja tulis itu.”
Wanita tua itu mengantarkan Sternau ke ruang duduk
Verdoja. Di situ terdapat sebuah meja tulis. Sternau
membongkar lacinya dengan pisaunya. Benar juga terdapat
peta di situ yang menggambarkan tentang bagian dalam
dari piramida. Bergembira dengan penemuannya itu
Sternau memasukkan peta itu ke dalam sakunya lalu pergi
ke rombongan orang Apache di bawah. Prajurit-prajurit itu
telah mengumpulkan peluru, beberapa buah kapak, dan
linggis. Barang-barang itu akan dibawa mereka. Mungkin
mereka memerlukannya di dalam bangunan tua itu.
Penyerbuan hanya berlangsung dalam waktu setengah
jam. Kini rombongan itu berangkat lagi menuju ke
piramida bangsa Astek itu.
Baru setelah tiba kembali di tempat itu Sternau
berkesempatan untuk menyelidiki peta. Denahnya sangat
jelas. Bagian dalam piramida terjadi atas tiga tingkat. Di
tengah-tengah terdapat mata air yang dalam dan
berbentuk segi empat. Di sekitar mata air terdapat loronglorong
yang dihubungkan oleh lorong-lorong simpang. Di
ujung-ujung lorong didirikan sel-sel. Mula-mula piramida
itu dapat dimasuki dari empat penjuru serta di tengahtengah
terdapat juga satu jalan masuk. Jalan-jalan masuk
itu sudah tentu dibuntukan dengan dinding. Masalahnya
kini untuk menemukan salah satu jalan masuk itu.
Sternau memberitahukan kawan-kawannya tentang peta
itu. Semua kini sibuk mencari, namun tidak ada yang
dapat menemukan sesuatu. Tiba-tiba Sternau terpikir
akan sesuatu. Ia mengukur panjangnya salah satu dinding
untuk memastikan di mana letak tengahnya. Di tempat itu
ia menjumpai sebuah batu karang. Pada batu itu terdapat
gores-gores yang agak ganjil. Ia menyelidiki batu itu
dengan saksama. Hampir-hampir ia putus asa. Ketika itu
ia berjongkok lalu mendorong batu itu kuat-kuat. Wah… ia
bergerak.
Ia bangkit melompat lalu berseru, “Aku sudah tahu
rahasianya.”
“Benarkah demikian?” tanya Panah Halilintar kurang
percaya.
“Benar. Inilah jalan masuknya. Aku dapat merabanya.”
“Di mana? Lekas katakan!”
“Batu yang di tengah itu dapat didorong masuk.”
Panah Halilintar langsung berjongkok lalu mendorong
batu itu dengan sekuat tenaga… batu itu berputar ke
dalam dan alas batu yang bergelinding mulai nampak.
Sternau melihat ke dalam. “Kulihat ada sebuah lampu.
Semestinya ada banyak lampu seperti itu.”
“Ada juga minyak sebotol.”
“Cepat… nyalakan lampu dan kita akan masuk ke
dalam.”
Panah Halilintar cepat menyalakan lampu lalu masuk
ke dalam. Ia tidak peduli lagi, apakah ada orang yang
mengikutinya. Namun ketiga kawannya lengkap
mengikutinya: Sternau, Kepala Banteng, dan Hati Beruang.
Mereka menempuh lorong panjang hingga tiba di sebuah
pintu. Sternau menerangi peta dengan lampunya untuk
menyelidikinya.
“Di peta tidak diterangkan tentang adanya pintu-pintu,”
katanya. “Apakah ada kuncinya?”
“Tidak,” jawab Panah Halilintar, “namun pintu itu
tertutup erat bagaikan terkunci.”
“Mungkin di bagian dalamnya terdapat gerendelgerendel
yang mengunci pintu. Atau mungkin juga ada
rahasianya. Untuk mencari pemecahan rahasia itu
diperlukan banyak waktu. Lebih baik kita ledakkan saja
pintu. Ada cukup bahan peledak tersedia. Buatlah
beberapa lubang dengan pisau di dalam dinding dekat
kosen-kosen pintu. Dindingnya terbuat dari batu bata yang
sudah tua sehingga agak lunak. Aku akan mengambil
bahan peledaknya.”
Mereka langsung bekerja dengan rajinnya. Sekembali
Sternau, pekerjaan sudah rampung. Lubang-lubang diisi
dengan bahan peledak yang diberi sumbu terbuat dari tali
dibubuhi bahan peledak. Sumbu itu dinyalakan. Semua
orang berlari kembali ke jalan masuk. Sesaat kemudian
terdengarlah empat kali letusan hebat berturut-turut.
Kelima orang itu hendak masuk lagi, namun mereka
melihat Pembunuh Grizzly tergesa-gesa menyongsong
mereka. Tentu ia membawa kabar penting.
“Ada apa?” tanya Hati Beruang.
“Anjing-anjing Comanche sudah keluar dari hutan
menuju ke mari.”
“Siapa yang membawa berita itu?”
“Rusa Merah.”
“Kita ingin mendengarnya dahulu. Bawa ia kemari!”
Orang Apache yang bernama Rusa Merah itu datang. Ia
salah seorang mata-mata yang telah dikirim ke daerah
musuh.
“Silakan Saudara menceritakan, apa yang telah terjadi,”
kata Hati Beruang.
“Saya kembali ke jalan yang telah kita tempuh,” prajurit
itu memulai laporannya. “Kedua orang Comanche yang
salah seorangnya sudah ada di tengah kita, telah melihat
kita. Tentunya hal itu terjadi di dalam hutan. Maka saya
berjalan mengitarinya. Terdengar bunyi cereceh burung
gagak. Tentu burung-burung itu beterbangan terkejut oleh
adanya orang yang sedang berjalan di antara pohonpohonan.
Lalu saya bersembunyi di balik semak-semak
dan menanti. Tidak lama kemudian anjing-anjing
Comanche itu lewat, rombongan besar… saya hitung ada
empat kali sepuluh orang prajurit bersama tiga orang
kepala suku.”
“Kenalkah kau akan mereka?” tanya Hati Beruang.
“Tidak.”
“Ke mana musuh itu pergi?”
“Setelah yang terakhir lewat, saya mengikuti mereka.
Mereka pergi ke tepi hutan. Di situ mereka mengadakan
rapat lalu pergi ke hacienda.”
“Mereka akan segera ke mari.”
“Mungkin nanti malam mereka baru tiba,” pikir Panah
Halilintar
“Tidak. Mereka akan mengurung kita, supaya hubungan
kita dengan dunia luar terputus,” jawab Sternau.
“Pada malam hari mereka akan menyerang kita. Maka
penjagaan harus diketatkan. Bila terjadi sesuatu,
datanglah segera ke lubang ini untuk memberi laporan.”
Mata-mata itu boleh pergi. Kelima orang itu kembali
masuk ke lorong. Setibanya di tempat letaknya pintu itu,
mereka melihat daun pintu sudah rebah di atas tanah.
Daun pintu diterbangkan bersama kosen-kosennya ke luar
dinding. Mereka menyeretnya ke tepi lalu memeriksanya.
Hanya terlihat sebuah lubang di bawah dan sebuah lagi di
atas. Selain itu, tidak ada lagi yang ganjil. Kemudian
mereka menyelidiki lantai serta langit-langit tempat daun
pintu itu melekat lalu mereka menemukan sebuah gigi besi
di atas maupun di bawah. Gigi itu pas benar pada
lubangnya. Namun gigi itu tidak dapat digerak-gerakkan
sedikit pun, maka mereka tidak dapat mengetahui
bagaimana alat itu bekerja.
“Yah, tidak ada jalan lain. Kita harus meledakkan
semua pintu,” kata Sternau. “Akan kuambil lebih banyak
bahan peledak lagi, namun kita harus berjalan sedikit lagi.
Sekali lagi Sternau mengeluarkan peta untuk
menyelidikinya.
“Apakah yang Saudara cari?” tanya Hati Beruang.
“Tempat menyekap tawanan itu. Itu kira-kira di tengahtengah
piramida, dekat mata air, karena itulah tempat
yang terbaik untuk menyekapnya. Pintu ini kita ledakkan
saja. Saudara Panah Halilintar yang baru saja sembuh dari
penyakitnya, sebaiknya menjauhkan diri secukupnya bila
pintu itu meledak.”
Orang membuat lubang-lubang lagi. Ketika Sternau
kembali, bahan peledak itu langsung dimasukkan ke
dalam lubang-lubang. Mereka berlari menjauhkan diri.
Setelah terdengar bunyi ledakan, mereka melihat hasilnya
sama dengan pintu sebelumnya. Di sini pun terlihat gigigigi
besi di atas dan di bawah, namun tidak terlihat adanya
permesinan yang dapat menggerakkannya. Pembuat kunci
rahasia ini sungguh seorang yang cerdik. Pintu beserta
kunci rahasianya itu pasti buatan zaman kemudian,
karena pada zaman piramida itu dibangun, masih belum
dikenal orang besi.
Atas petunjuk Sternau mereka melanjutkan perjalanan.
Di samping bahan peledak dibawanya juga sebuah kapak
dan sebatang besi pengungkit. Pintu berikutnya dicoba
mereka membongkarnya dengan alat-alat itu, namun siasia.
Terpaksa harus diledakkan lagi. Pintu ini dilengkapi
dengan gerendel-gerendel besar di bagian luar dan
dalamnya, sehingga harus digunakan lebih banyak bahan
peledak untuk membongkarnya. Maka bunyi ledakan yang
terdengar amat dahsyat. Bangunan itu bergetar
menakutkan oleh karenanya. Ketika mereka tiba di tempat
peledakan itu, mereka melihat sebagian tembok serta
langit-langit tempat pintu itu, menjadi gugur. Begitu
banyak puing bertumpuk sehingga menghambat jalan
mereka. Untuk dapat melanjutkan perjalanan, mereka
harus menyisihkan puing-puing itu. Kemudian langitlangit
pun harus ditopang. Alat-alat yang tepat untuk
mengerjakan pekerjaan itu, tidak ada pada mereka. Maka
pekerjaan itu menjadi sangat berat dan memakan waktu
berjam-jam lamanya.
Sedang mereka sibuk bekerja, datanglah seorang
utusan yang meminta supaya para kepala suku keluar dari
bangunan itu. Karena keadaan bangunan itu sangat
membahayakan dan ratusan orang Indian di luar
membutuhkan pimpinan, maka mereka menganggap
kurang bijaksana bila kepala suku mereka membiarkan
dirinya dalam keadaan penuh bahaya itu. Maka para
kepala suku harus pergi. Setiba mereka di luar, mereka
melihat prajurit-prajurit Comanche sudah mengurung
mereka. Setelah dihitung dengan cermat, nyatalah bahwa
jumlah mereka hanyalah seratus orang sebanyakbanyaknya.
Beberapa orang di antara mereka menggiring
lembu.
“Musuh kita sedang berburu lembu untuk
mengumpulkan bekal daging,” kata Sternau. Mereka tidak
akan menyerang sebelum malam tiba. Kini kita masih
aman dan dapat melanjutkan pekerjaan kita.”

sumber: DISALIN OLEH
Svetlana Dayani, Tiur Ridawaty, & Windy Triana
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

5 Comments

  1. Sambungan tikam samuraii ko tidak ada??

    • Mhon dapat dilanjutkan cerita dari Tikam Samurai setiap harinya dan jangan diselipkan cerita cerita yang lainya..karena bisa mengurangi alur dari keseruan cerita tersebut

      • untuk sementara lanjutan cerita tikam samurai belum bisa dilanjutkan karena keterbatasan sumber…harap maklum..

  2. Untuak permintaan urang dapua baa kalau kami minta carito giring giring Perak di pasang juo di Internet..

    • sudah kami posting. silahkan didownload.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s