BAB V TERLEPAS DARI KEPUNGAN MUSUH

Setiap saat pertempuran dapat berkobar di sekitar
piramida, namun para tawanan masih tetap terkurung
dalam bangunan itu. Mereka membicarakan segala
kemungkinan akan pembebasan. Segenap harapan
dipusatkan mereka kepada Sternau. Hingga kini sudah
dua malam berlalu, waktu yang terasa sebagai berabad
lamanya. Air minum sudah hampir habis. Makanan pun
sudah tinggal sedikit lagi dan setiap kali terdengar raung
dan rintih Verdoja yang sudah setengah gila itu dari arah
mata air.
Gadis Indian itu tidak berkata apa-apa, tetapi Emma
tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Ia sudah
tidak percaya lagi bahwa mereka dapat diselamatkan.
Prianya telah berusaha membongkar pintu dengan pisau,
tetapi tanpa hasil. Penyelamatan hanya dapat diharapkan
datangnya dari luar, tetapi siapa orangnya yang sanggup
melakukannya? Isi piramida merupakan rahasia dan
mereka yang memegang kunci rahasia itu sudah mati atau
sudah menjadi gila dan berada di bawah, dekat mata air.
Emma melipat tangannya dan berdoa, “Ya Tuhan,
tolonglah kami dalam mengatasi keadaan kami yang
demikian buruknya! Janganlah lepaskan hamba-Mu yang
tidak berdaya ini, kami serahkan nasib kami sepenuhnya
ke dalam tangan-Mu yang mahakuasa dan mahaadil itu.”
Mualim terdiam mendengar doa itu, tetapi Mariano
memegang tangan gadis itu lalu menghibur hatinya,
“Janganlah berputus asa! Kita masih menaruh harapan
kepada Sternau. Ia tahu penderitaan kita sebagai tawanan
Verdoja. Tentu ia tidak tinggal diam dan berusaha
menyelamatkan kita.”
“Tetapi bagaimana dapat ia mengetahui bahwa kita
berada di sini. Siapa orangnya yang dapat
memberitahukan kepadanya?”
“Serahkan semuanya saja kepada Tuhan. Saya yakin
bahwa Sternau dapat menemukan kita.”
“Tetapi seandainya ia mendapat kecelakaan, bagaimana
nasib kita?”
“Ia tidak akan mendapat kecelakaan. Ia tahu bahwa kita
membutuhkan pertolongannya, maka ia selalu akan
berhati-hati, justru karena hati-hatinya itu, ia agak
terhambat sampai ke mari. Baru dua minggu berlalu.
Mungkin sekali, kini ia sudah dekat. Namun dengarlah!
Seperti ada…!”
“Ada apa?” tanya Emma.
“Bunyi gemuruh… seperti bunyi guntur di kejauhan.”
“Ah, mana mungkin. Bangunan ini kedap suara. Suara
dari luar tidak mungkin tembus ke dalam.”
Kembali hening sesaat. Suasana menjadi tegang.
Mualim memecah keheningan itu. “Sayang benar aku tidak
bisa berbuat apa-apa. Ingin sekali kuhancurkan bangunan
sial ini bila mungkin.”
“Janganlah Anda mengkhayal. Hanya dari luar kita
dapat mengharapkan pertolongan.”
“Namun pertolongan itu harus cepat datang… bukan
untuk diriku. Aku dapat bertahan lebih lama lagi. Tetapi
lain halnya dengan senorita-senorita itu. Mereka tidak
berdosa, lagipula daya tahan mereka sudah berkurang.
Namun… apa itu?”
Kali ini keempat orang itu mendengar bunyi gemuruh
itu.
“Sama seperti yang tadi,” kata Mariano. Hanya kali ini
lebih keras. Aneh benar. Bunyi badai atau guntur tidak
mungkin sampai ke mari.”
“Itu bukan badai dan bukan guntur. Itu bunyi
tembakan,” kata Mualim.
“Tembakan tak mungkin sampai terdengar di sini,” kata
Emma.
“Mengapa tidak, kalau tembakan itu dilepaskan di
dalam piramida ini,” kata Unger.
“Siapa orangnya yang dapat menembak di sini?”
“Entahlah. Namun sebagai seorang pelaut aku dapat
membedakan bunyi tembakan dengan bunyi guntur. Itu
pasti bunyi tembakan. Dan bukan tembakan pistol atau
senapan, melainkan tembakan meriam. Namun mengingat
tempat kita ini terkurung, keterangan demikian agak ganjil
pula.”
“Benar. Itu pasti bukan tembakan senjata ringan. Dan
apakah maksud mereka dengan tembakan itu? Untuk
memberi tanda kepada kita? Sternau tentu tahu bahwa
kita tidak dapat memberi jawaban,” kata Emma.
Mualim mengangguk, lalu memandang ke depan serta
berpikir. “Memang itu bukan tembakan senapan biasa.
Tentunya senjata yang luar biasa beratnya. O, aku teringat
akan sesuatu. Yah, ada bunyi yang mirip dengan itu.
Suatu ledakan!”
“Jadi Anda mengira bahwa…?”
Unger mengangguk. “Benarlah. Kukira Sternau sudah
tiba. Mungkin ia menghadapi pintu-pintu yang terkunci
itu, dengan tanpa adanya jalan lain, terpaksa
meledakkannya.”
Nada yakin Mualim membuat harapan pada Emma
pulih kembali. Katanya dengan air mata berlinang-linang,
“Anda memberi harapan kepada kami, Senor Unger. Kini
kepercayaanku sudah kembali lagi. O, Ayahku yang
malang! Alangkah besar hatiku, bila dapat bertemu
kembali denganmu!”
Ia menangis, namun air matanya itu bercucuran karena
hati yang sedih, bukan karena harapan baru. Tiba-tiba
terdengar bunyi benturan sangat dahsyat, yang membuat
lantai dan dinding lorong itu bergetar. Dan setelah bunyi
benturan itu diikuti oleh bunyi derak yang membisingkan
telinga, maka Mualim melompat ke atas serta bersorak,
“Sternau sudah datang! Sternau sudah datang! Itu tadi
bunyi ledakan hebat yang menggugurkan dinding. Kita
sudah selamat. Mari kita bergembira!”
Emma berusaha bangkit, namun tubuhnya yang lemah
itu membuat ia roboh kembali. “Tidak bermimpikah aku?”
tanyanya terengah-engah.
“Senor Unger berkata benar,” kata Mariano. “Bagaimana
pendapat Anda, Senorita Karja?” Perlahan gadis Indian itu
mengangkat pandangannya kepadanya. “Pasti Sternau!
Saya yakin akan kedatangannya.”
Emma memeluknya serta menciumnya lalu bersorak,
“Puji syukur kepada Allah Yang Mahakasih. Saya tidak
akan melupakan kemurahan hati-Mu, seperti juga Kamu
selalu mengingat kami.”
Waktu berlalu dengan merayap. Di lorong yang diisi
dengan sel-sel Unger dan Mariano, mereka diam
mendengarkan.
“Kita pergi saja ke pintu yang lebih jauh lagi,” usul
Mualim.
“Baik, mungkin kita dapat mendengar lebih banyak lagi
dari situ,” kata Mariano.
Ia membantu Emma bangkit. Mereka berjalan ke pintu
yang pernah dicongkel-congkel mereka dengan pisau itu
lalu duduk di atas lantai yang dingin itu untuk
mendengarkan. Terdengarlah terus-menerus bunyi bendabenda
bergesek.
“Tahukah Anda, apakah itu, Senorita?” tanya Unger.
“Kawan-kawan kita sedang sibuk memindahkan puingpuing
yang berjatuhan, berasal dari dinding yang gugur
itu. Ledakan yang terakhir lebih hebat lagi. Lorong
tentunya hancur oleh karena itu!”
Mereka mendengar barang bergeser-geser terusmenerus
tiada habis-habisnya.
“Saya hampir tidak dapat mempercayai kebenaran itu!”
“Percayalah, Senorita! Apa yang saya katakan tadi
bukanlah khayalan belaka.”
“Aneh! Kini suara-suara tadi tidak terdengar sedikit pun
lagi.”
“Mungkin mereka sedang beristirahat sebentar,” hibur
Mualim.
Sesungguhnya saat itu ketika para kepala suku
dipanggil kembali oleh rakyatnya karena mereka sedang
dikurung oleh kaum Comanche. Keempat tawanan itu
berdiam diri saja hingga bunyi bergeser-geser itu terdengar
kembali. Kemudian terdengar bunyi benturan-benturan
keras, seperti orang membacokkan parang dan kapak ke
atas kayu. Lagipula mereka seperti mendengar suara-suara
orang bicara di kejauhan. Kemudian terdengar bunyi…
langkah kaki orang yang mendekat!
“Kini tiba giliran pintu ini,” kata seseorang. “Pintu ini
menuju ke mata air. Kita masih mempunyai cukup bahan
peledak.”
Para tawanan diam seperti terpaku, dalam ketegangan
ini mereka tidak dapat berbicara. Tanpa berkata-kata,
mereka berpegangan tangan masing-masing. Akhirnya
bisik Mualim, “Itu Sternau! Aku tahu! Ia tahu bahwa pintu
ini membuka jalan ke mata air.”
Mereka mendengar samar-samar orang meraba-raba
pintu. Orang lain lagi berbicara, “Kita perlukan banyak
bahan peledak. Pintu ini pun diberi banyak gerendel.”
Demi mendengar ucapan ini, Emma tiba-tiba bangkit,
lalu memekik tersedu-sedu, “Ya Tuhan! Itu Antonio!
Antonioku!”
Di balik pintu sejenak keadaan menjadi sunyi sepi,
seakan mereka justru karena rasa gembira yang melimpah,
akhirnya menjadi lumpuh. Kemudian Panah Halilintar
berseru, “Emma, Emmaku, benarkah engkau di situ?”
“Benar!” sorak gadis itu. “Akulah ini, sayang!”
“Puji syukur kepada Tuhan! Engkau seorang diri saja?”
“Tidak. Kami berempat.”
Kini terdengar suara orang yang belum pernah
terdengar sebelumnya, “Berempat. Jadi kamu juga, Karja?”
Suara tadi membuat gadis Indian itu menjawab dengan
gembira, “Benarlah, Karja, adikmu ada juga di sini!”
“Uf! Uf!” terdengar suara orang yang keempat. Bisik
Mualim, “Siapakah orang itu?”
“Suara itu saya kenali,” kata Emma. “Itu Hati Beruang,
seorang kepala suku bangsa Apache. Mereka lengkap
semuanya, Hati Beruang, Kepala Banteng, dan Panah
Halilintar. Namun di manakah Sternau? Saya tidak
mendengarnya lagi.”
Tanya Panah Halilintar, “Bagaimana keadaanmu,
Emma?”
“Baik! Kini segala penderitaan sudah berakhir!”
Seseorang mengetuk pintu. Kemudian terdengar lagi
suara Sternau, “Dan apa kabar dengan nakhoda kita yang
perkasa itu? Ia sudah dilupakan semua orang, bahkan
oleh saudaranya sendiri!”
“Terima kasih, Dokter!” seru Unger. “Kemudi masih
belum terlepas dari tanganku. Bila Anda membuka jalan,
kita segera dapat melanjutkan pelayaran.”
“Hasrat Anda akan terkabulkan segera. Hanya ingin aku
bertanya, Verdoja dan Pardero masih ada di situ?”
“Benar. Mereka masih ada di sini. Namun mereka tidak
dapat melapor kepada Anda. Pardero sudah menemui
ajalnya dan Verdoja terjatuh di tepi mata air dengan tulang
punggung dan kedua belah tangan yang patah. Ia masih
hidup.”
“Kesudahan yang sangat menyedihkan,” kata Sternau di
balik pintu. “Kalian telah mempertahankan diri dengan
gagah perkasa. Sikap kalian itu sangat terpuji. Namun kini
kita tidak boleh membuang-buang waktu. Kalian harus
dibebaskan. Gelapkah di tempat kalian itu? Kalian dapat
melihat?”
“Dapat. Kami membawa lampu.”
“Bagus! Kalian harus mundur sejauh-jauhnya! Kami
akan meledakkan pintu. Apakah lorong kalian
memungkinkan kalian mundur?”
“Ya. Dengan leluasa.”
“Maka lekaslah! Kami segera akan tiba.”
Para tawanan itu mundur sejauh mungkin lalu
mendengar orang-orang di balik pintu mengorek-ngorek
dan mencongkel-congkel dengan pisaunya. Beberapa saat
kemudian terdengar bunyi ledakan yang gegap gempita.
Karena pintu itu dekat mereka, maka peledakan itu bukan
hanya terdengar, melainkan juga terasa benar
pengaruhnya. Dinding-dinding berguguran, bagian langitlangit
pun berbungkah-bungkah berjatuhan ke atas lantai.
Setelah debu yang beterbangan bergumpal-gumpal mulai
mengendap, terdengar dari tempat bekas pintu itu berdiri,
suara Panah Halilintar yang tiada sabar lagi, “Emma, di
manakah kamu?”
“Di sini!” sorak Emma sambil berlari.
Di balik tumpukan puing berdiri Panah Halilintar,
meskipun di tempat yang gelap, namun masih kelihatan
juga karena cahaya lampu yang menyinarinya. Emma
segera berpelukan dengan mesra dengan kekasihnya,
“Antonio, kekasihku! Hampir saja aku mati!”
“Puji syukur kepada Tuhan yang menghindarkanmu
dari malapetaka,” jawab kekasihnya dengan terharu.
“Kalau tidak demikian, kepalaku yang baru sembuh dari
sakit itu tidak akan dapat menerimanya. Aku pasti akan
menjadi gila.”
Di sisinya nampak Kepala Banteng. “Di manakah Karja,
putri kaum Mixteca itu?” serunya.
Gadis Indian itu bergegas menyongsongnya serta
menyalaminya dengan hangat. Kini Sternau juga datang
menyambut semuanya dengan salam. Ia menceritakan
secara ringkas apa yang terjadi.
“Kau sempat merampas pisau Verdoja lalu
mengancamnya?” tanya Panah Halilintar kepada
tunangannya.
“Benarlah. Ia tidak boleh menjamahku. Kuancam akan
membunuhnya atau membunuh diriku sendiri,” jawab
gadis itu sederhana.
“Pahlawan kecil!” Dengan penuh rasa kagum ia
mendekap gadis tunangannya itu. Pada saat itu Karja
ditanya, “Apakah putri Mixteca itu sendiri membunuh
Pardero?” Pertanyaan itu diajukan oleh Hati Beruang. Hati
Karja kini sudah menjadi miliknya, meskipun dahulu ia
pernah menjatuhkan pilihannya kepada Pangeran Alfonso.
“Benar,” jawab gadis itu perlahan.
“Lalu kemudian membebaskan kawanmu, seorang
tawanan juga?”
“Benar.”
“Putri Mixteca seorang pahlawan wanita sejati. Ia pantas
menjadi istri tunggal seorang kepala suku yang
termasyhur.”
Orang Apache itu membelai rambut gadis itu dengan
mesra, kemudian ia berpaling, namun Karja menangkap
makna dari sikap demikian.
“Baik kita memusatkan perhatian kepada hal-hal yang
kita hadapi sekarang,” kata Sternau memperingatkan.
“Mula-mula kita harus memeriksa sel-sel tempat kalian
diasingkan serta mayat-mayat di dalamnya.”
Mariano mengambil lampu lalu pergi menunjukkan
jalan. Rombongan orang yang baru datang itu berdiri bulu
romanya, menyaksikan penjara-penjara yang sempit serta
kotor itu. Ketika mereka menemukan mayat-mayat
lawannya, mereka terdiam saja. Mereka menyadari dalam
peristiwa ini tangan Tuhan sudah bekerja.
Tiba-tiba terdengar pekik yang memanjang dan
menyayat hati.
“Apa itu?” tanya Panah Halilintar.
“Verdoja,” jawab Mariano.
“Mengerikan!” kata Sternau. “Aku akan pergi
menjumpainya.”
Mereka melanjutkan perjalanannya. Hanya para gadis
tidak mengikut mereka karena merasa takut. Mereka
minta kepada Mualim supaya mau menemaninya. Wajah
Verdoja terlalu menjijikkan bagi gadis-gadis itu.
Setelah rombongan sampai ke mata air, terdengar lagi
pekik itu, lebih menakutkan daripada raung binatang buas
mana pun. Mereka yang berdiri di tepi mata air itu terkejut
sekali, sehingga mereka langsung memalingkan mukanya.
“Jadi Verdoja tidak mau memecahkan rahasia pintu
itu?” tanya Sternau.
“Tidak, ia menginginkan kami mati semuanya di sini.”
“Sungguh jahat orang itu. Namun aku ingin
menjumpainya juga.”
Sternau menyiapkan tali lasonya. Tali itu dihubunghubungkannya
dengan tali kepunyaan Kepala Banteng dan
Hati Beruang. Kemudian ia mengambil lampu lalu
diturunkan oleh kawan-kawannya ke mata air dengan
menggunakan tali itu. Sesampai di bawah ia memancarkan
cahaya lampunya kepada orang yang mendapat musibah
itu. Orang itu membuka matanya yang berlumuran dengan
darah, menatap sejenak wajah lawannya lalu berseru,
“Anjing, mau apa kau ke mari?”
“Untuk menyampaikan kabar kepada seseorang yang
berhati iblis bahwa rencana busuknya telah gagal
semuanya! Kami telah menyelamatkan para tawanan.
Pintu-pintu rahasiamu sekali-kali bukanlah rintangan bagi
kami untuk masuk ke dalam.”
“Bangsat, kamu sekalian, kamu patut…” Verdoja tidak
sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia terbatuk-batuk
terus-menerus lalu meraung-raung kembali kesakitan.
“Sadarilah bahwa kamu sudah berada di ambang pintu
maut,” kata Sternau memperingatkan. “Dalam keadaan
demikian kita sebaiknya tidak memaki-maki, melainkan
bersujud di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa, serta
memohon pengampunan dosadosa kita.”
Verdoja berusaha mengepalkan tinju namun tiada
berhasil. Bagaikan seekor binatang buas ia
memperlihatkan giginya serta mendesis, “Enyahlah kamu,
bangsat, aku tidak mengemis kasihan.”
Ucapannya yang kasar itu memadamkan setiap percik
rasa kasihan dalam hati Sternau. “Baik!” katanya. “Bila
kamu berkehendak demikian, kami akan menuruti
keinginanmu. Kami tidak akan berusaha lagi mengurangi
penderitaanmu.”
Sternau membungkuk untuk memeriksa tubuh orang
itu. Pekerjaan itu dilakukannya tanpa mengenal belas
kasihan, sehingga si sakit meraung-raung kesakitan.
Akhirnya Sternau selesai. “Kehendak Tuhan telah
berlaku,” katanya. “Tulang-tulangmu semuanya patah,
maka kau tidak akan hidup lama lagi.”
Sternau melepaskan ikatan tali lasonya dan
mengikatkannya pada tubuh si sakit.
Ia memberi tanda. Orang-orang menarik tali ke atas.
Bukannya Sternau yang muncul ke atas melainkan si sakit
yang terus-menerus memperdengarkan raungannya.
Sesampai Verdoja di atas, tubuhnya diletakkan di dalam
lorong, lalu tali diturunkan kembali ke mata air. Sekali ini
Sternau-lah yang diangkat ke atas.
“Apa yang harus kita perbuat dengan orang itu?” tanya
Panah Halilintar.
“Beberapa orang Apache akan kusuruh menggotong
tubuhnya ke lorong pertama. Di situ masih terdapat sedikit
air yang dapat meringankan penderitaannya. Ia dapat
tinggal di situ hingga menemui ajalnya. Kini kita harus
lekas mencari jalan keluar.”
Mereka menjemput para gadis dan mengantarkannya ke
luar melalui pintu-pintu yang telah diledakkan. Ketika
Emma menginjakkan kakinya di luar, ia terpaku
menghadapi pemandangan yang menyilaukannya. Dengan
air mata berlinang-linang gadis itu mendekap Sternau lalu
berkata, “Peristiwa ini senantiasa akan tergores dalam
hatiku.”
Kepala Banteng pun menjabat tangan Sternau. “Matavase,
jiwaku adalah milik Anda.”
Mereka berjalan mengelilingi dinding piramida untuk
memperoleh pemandangan yang lebih baik. Kaum
Comanche sudah bertambah jumlahnya. Kira-kira sudah
ada tiga ratus orang berkumpul.
Kuda mereka cukup banyaknya serta perlengkapan
senjatanya cukup baik. Emma menjadi gelisah melihat
musuh demikian banyaknya, namun kaum pria menghibur
hatinya. Sebaliknya Karja yang memandang rendah kaum
Comanche, minta diberikan senjata supaya dapat turut
aktif dalam pembelaan.
Menjelang matahari terbenam tampak jumlah musuh
sudah mencapai kira-kira empat ratus orang yang
mengurung piramida. Ketika hari menjadi malam, tampak
dengan jelasnya api unggun mereka menyala. Kaum
Apache pun berani menyalakan api untuk membakar
daging. Seekor lembu sudah dibantai mereka. Kemudian
mereka memadamkan apinya. Hal itu diikuti juga oleh
kaum Comanche.
Mereka harus tetap waspada. Selama api unggun
musuh masih menyala, mereka tidak usah
mengkhawatirkan serangan dari musuh, karena tiap
gerakan mencurigakan akan dapat dilihat. Kini api sudah
dipadamkan. Para kepala suku mengusahakan supaya
orang-orangnya tetap berjaga. Dekat semak belukar para
penembak ahli bersiap-siap dengan senapan terkokang.
Pandangannya yang tajam menembusi kegelapan malam.
Sternau telah mengusahakan sehingga di antara medan
musuh dengan mereka terdapat beberapa pos mata-mata.
Orang-orang itu merangkak menghampiri musuh sejauh
mungkin. Mereka hanya diberi senjata pisau. Mereka
menerima pesan supaya segera mengundurkan diri bila
musuh mulai menyerang.
Hati Beruang mendapat tugas jaga di sebelah utara
piramida, Kepala Banteng di sebelah selatan, Panah
Halilintar di sebelah timur, dan Sternau di sebelah barat.
Sternaulah yang memegang pimpinan serta menunjuk tiga
orang yang lincah untuk memberi laporan tentang segala
kejadian. Dua jam lewat tengah malam Panah Halilintar
mengirim orang yang melaporkan kepada Sternau bahwa
musuh sedang bergerak ke arah barat. Segera Sternau
memberi perintah supaya semua prajurit Apache dikirim
ke tempatnya.
Sternau berkata kepada Hati Beruang, “Saudaraku
hendaknya berangkat dengan lima puluh orang prajurit
untuk menyerang musuh dari belakang. Carilah kudakuda
mereka. Prajurit Saudara hendaklah dengan menaiki
kuda menerjang pertahanan musuh.”
“Uf!” seru orang Apache itu karena menganggap
perintah itu sangat menggairahkan. “Matava-se adalah
seorang pemimpin besar. Pasti kita akan mendapat
kemenangan gilang-gemilang.”
Dengan diam-diam Hati Beruang pergi bersama
pasukannya. Sternau memperingatkan kepada prajurit
yang tersisa supaya mereka tidak menembaki pasukan
berkuda itu karena mereka itu kawan-kawannya sendiri.
Kini diam-diam orang bersiap-siap menghadapi
pertempuran yang akan meletus.
Beberapa jam berlalu. Fajar menyingsing di ufuk timur.
Hari sudah cukup terang untuk membedakan kawan
lawan. Tiba-tiba terdengar pekik perang keluar serentak
dari mulut empat ratus prajurit Comanche. Saat itu juga
prajurit-prajurit itu menyerbu. Seorang prajurit Indian
yang mendiami padang prairi, lebih suka bertempur
berkendaraan kuda. Namun kini mereka harus merebut
piramida, maka kuda mereka tidak banyak berguna.
Karena itu mereka menyerang dengan berjalan kaki.
Mereka merupakan sasaran empuk bagi orang-orang
Apache. Setelah musuh berada cukup dekat dengan
mereka, maka Sternau memerintahkan keseratus lima
puluh orang prajuritnya, menghujani musuh dengan
peluru serta anak panah.
Akibatnya banyak prajurit Comanche yang tewas
terbunuh. Mereka mengundurkan diri, namun kepala suku
mereka memerintahkan maju terus. Para prajurit Apache
mendapat peluang untuk mengisi senapan mereka. Sekali
lagi mereka menghujani musuh dengan peluru serta anak
panah, yang membawa hasil serupa dengan yang
sebelumnya. Kaum Comanche menyatakan kemarahannya
dengan meraung-raung. Sekali lagi mereka bergabung dan
menerjang maju ke depan.
Kaum Apache tidak ada kesempatan lagi mengisi
senapannya. Pertempuran mulai beralih menjadi
perkelahian satu lawan satu. Tak lama lagi pertempuran
akan berakhir.
Yang masih memiliki sebuah peluru dalam senapannya,
menembakkannya untuk kemudian memegang
tomahawknya. Namun tiba-tiba datang menyerbu
sepasukan berkuda di bawah pimpinan Hati Beruang.
Diam-diam, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun mereka
menyerang kelompok prajurit Comanche serta memorakmorandakan
mereka.
Hari sudah menjelang siang. Sternau dapat mengamati
medan pertempuran dengan baik. Segera ia melihat
kesempatannya terbuka. Dengan suara lantang ia berseru,
“Naiki kuda! Serbu!”
Kuda-kuda prajurit Apache terdapat di sebelah barat.
Dalam sekejap mata para prajurit sudah menaiki kuda lalu
menyerbu musuh. Kaum Comanche tidak sanggup
menangkis serangan demikian. Mereka mengambil langkah
seribu, menghilang di dataran tinggi. Kaum Apache
memenangkan pertempuran. Mereka memperoleh banyak
scalp (kulit kepala) musuh, namun mereka sendiri pun
kehilangan beberapa orang.
Sementara kaum Apache beristirahat, kaum Comanche
bergabung kembali di daerah sebelah barat. Kini mereka
mengepung piramida. Dengan demikian mereka mencegah
orang-orang Apache keluar dari daerah tempat mereka
berdiam. Sternau berunding dengan para kepala suku.
“Inilah kesempatan bagi kita untuk menerobos kepungan
musuh,” usul Sternau. “Kaum Comanche tidak akan
sanggup menahan kita karena mereka sudah kehilangan
semangat oleh kekalahan mereka.”
“Untuk apa kita meninggalkan tempat kita?” tanya Hati
Beruang. “Biar kita bertahan saja di sini. Kaum Comanche
tidak akan berani menyerang kita. Bala bantuan kita akan
segera bergabung dengan kita.”
Semua orang setuju dengan pendapat Hati Beruang,
maka Sternau harus mengalah. Verdoja diletakkan dekat
pintu masuk ke piramida. Seorang prajurit menjaganya.
Namun tidak lama kemudian prajurit itu dapat
meninggalkannya, karena penjahat itu sudah menemui
ajalnya.
Hari itu dan esok harinya pun berlalu. Bala bantuan
yang diharapkan belum tiba juga. Kaum Comanche
nampaknya sudah bertambah jumlahnya. Pada malam
hari berikutnya salah seorang prajurit jaga melihat
seseorang merangkak ke arahnya. Langsung ia memegang
senjatanya. Namun orang itu memberi tanda dengan
mengeluarkan pekik tertahan. Orang itu bukanlah musuh,
melainkan seorang Apache dari suku lain. Ia merangkak
mendekati prajurit itu lalu berbisik, “Saudara seorang
jaga?”
“Benar.”
“Siapa pemimpin saudara?”
“Matava-se.”
Orang yang baru datang itu berdiam diri karena
terharu, lalu bertanya, “Apakah Matava-se ada bersama
saudara?”
“Benar.”
“Tentulah pasukan Saudara bertambah harum
namanya di bawah pimpinannya. Boleh saya bertemu
dengan dia?”
“Berjalanlah terus. Nanti Saudara akan diantarkan
kepadanya.”
Sternau sedang bermusyawarah ketika orang
mengantarkan prajurit Indian itu kepadanya.
“Siapakah kamu?”
“Saya Elang Melayang, kepala suku kaum Llaneros,”
jawabnya.
Mendengar jawaban ini, Hati Beruang serta merta
bangkit lalu menghampirinya.
“Elang Melayang? Uf! Selamat datang! Bilamana
pasukan Saudara datang?”
“Saya datang sebagai seorang duta.”
“Bukan sebagai kepala suku?”
“Bukan. Kuda Terbang telah mengumpulkan semua
kepala suku Apache. Ia membawa pesan bahwa Mexico
kini sedang dalam keadaan perang dan bahwa Juarez
adalah kawan bangsa Apache. Semua prajurit sudah siap
sedia, namun mereka tidak mau berperang melawan
kepala suku negara Mexico. Mereka telah menguburkan
kapak perang dan saya diutus untuk menyampaikan berita
itu.”
“Jadi tidak ada bala bantuan yang dapat kita
harapkan?”
“Tidak. Kuda Terbang menginginkan supaya kalian
mengundurkan diri lalu kembali ke padang perburuan
untuk membuat daging.”
Hati Beruang menundukkan kepala tanpa berkata-kata.
Tetapi Kepala Banteng sudah tidak sabar lagi. Ia
mengemukakan sesuatu. “Sejak kapan bangsa Apache
mempunyai dua lidah?” gerutunya. “Mula-mula Kuda
Terbang menyuruh kita mengangkat kapak perang, kini ia
menyuruh menguburkannya lagi. Kita telah mencapai
kemenangan gilang-gemilang, mengumpulkan banyak kulit
kepala musuh. Tiba-tiba kita harus kembali membuat
daging.”
“Saudara tidak usah mematuhi seruan. Saudara
seorang kepala suku Mixteca,” jawab utusan itu.
“Maka saya tidak akan turut bicara,” kata Kepala
Banteng.
“Bagaimana pendapat Matava-se mengenai perintah
itu?” tanya Hati Beruang.
“Saya sangat menghargai perdamaian sungguhpun saya
mau menolong sahabatku. Saudara Hati Beruang bebas
memilih sesuai dengan kehendaknya.”
“Saya telah menunaikan tugas saya dengan
menyampaikan perintah itu. Saudara-saudara boleh
bermusyawarah. Saya harus kembali lagi, sesuai dengan
keinginan para kepala suku.”
Dengan perkataan ini Elang Melayang minta diri lalu
pergi meninggalkan mereka. Perjalanan yang ditempuhnya
itu sangat berbahaya. Ia harus menerobos pertahanan
pasukan Comanche. Bila ia sampai tertangkap, ia tidak
akan tertolong lagi.
Menjelang pagi terdengar pekik-pekik gembira di
perkampungan kaum Comanche. Tentu ada sesuatu yang
menggembirakan hati mereka. Apa sebab-sebabnya, baru
dapat dilihat bila hari sudah terang. Di segenap penjuru
tampak prajurit-prajurit Comanche yang baru tiba pada
malam hari. Kini jumlah mereka bertambah menjadi seribu
orang lebih. Mereka merupakan bala bantuan yang pernah
dikirim ke Presiden. Sternau sangat terkejut. Kini sudah
nyata, mereka tidak sanggup melepaskan diri. Tidak ada
pilihan lain bagi mereka selain mati. Para prajurit Apache
pun menjadi putus asa, melihat jumlah musuh yang jauh
melebihi mereka. Bantuan dari mana pun tidak dapat
diharapkan lagi.
Sternau memanjat puncak piramida untuk
mengasingkan diri, supaya ia dapat berpikir lebih tenang
lagi. Bukan hanya kebebasannya yang terancam bahaya,
melainkan juga hidupnya. Masih sempatkah ia melihat
kembali kawan-kawan yang dikasihinya? Ia meraba
sakunya untuk mengeluarkan surat Roseta, namun yang
keluar adalah peta bagan piramida. Perlahan ia membuka
lipatannya dan melayangkan pandangannya ke atas peta
secara tidak sadar, bukan sengaja untuk mencari sesuatu.
Semua lorong sama bentuknya kecuali satu yang
ukurannya lebih pendek dan agak ganjil nampaknya. Ada
tulisan tertera pada lorong itu: peta-pove. Sternau belum
pernah mendengar kata-kata itu. Sedang ia memikirkan
hal itu, datanglah Kepala Banteng menyusulnya ke atas.
Sambil berpikir Sternau bertanya, “Pernahkah Saudara
mendengar perkataan peta-pove itu?”
“Pernah. Itu bahasa yang digunakan oleh bangsa Indian
suku Jemes. Arti perkataan itu: ke arah lembah. Mengapa
Saudara bertanya demikian?”
Sternau tiada menjawab. Ia bangkit berdiri lalu
memandang ke arah barat, ke pegunungan Cordilleras.
Tiba-tiba ia mendapat ilham. “Ikutlah saya, Saudara,”
katanya sambil memutar tubuhnya.
Ia bergegas-gegas menyusuri dinding ke tempat yang
didiami para gadis. Ia mengambil dua kotak berisi mesiu
yang terdapat di situ, menyalakan dua lampu lalu
menggapai beberapa orang Apache yang bertubuh kekar.
Orang-orang itu diperlengkapinya dengan martil, linggis,
serta kapak. Di luar piramida ia berpesan pada Hati
Beruang supaya ia tetap waspada. Kemudian ia memasuki
piramida bersama Kepala Banteng. Ketika ia sampai pada
persimpangan jalan, biasanya ia membelok ke kanan.
Namun kini ia berjalan terus dan tiba pada sebuah pintu
kecil. Kapak dan linggis tidak sanggup membukanya, maka
pintu itu terpaksa diledakkan. Di balik pintu terdapat
sebuah tangga yang menuju ke bawah. Di situ terdapat
sebuah pintu. Di baliknya terdapat sebuah ruangan yang
di peta nampaknya seperti sebuah sel panjang. Setelah
pintu itu pun diledakkan, mereka harus menuruni tangga
untuk sampai pada suatu lorong yang panjang sekali.
Itulah sebuah lorong di bawah tanah yang langsung
menuju ke arah barat.
Semuanya itu sesuai dengan dugaan Sternau setelah ia
mendengar arti kata asing itu. hatinya berdebar karena
rasa gembira dan lega. Ia bergegas berjalan melalui lorong
gelap yang hanya sedikit diterangi oleh lampunya itu.
Berapa lamanya ia berjalan, kurang disadarinya, namun
tiba-tiba ia berdiri di muka beberapa anak tangga. Ia
memanjatnya lalu sampai dalam sebuah gua yang penuh
berisi batu-batuan yang lepas-lepas. Dengan alat-alat
kapak dan linggis, batu-batuan itu disingkirkan lalu…
cahaya matahari memancar ke dalam. Mereka
memperbesar lubang cahaya itu dan memanjat ke luar
gua. Kini mereka berada dalam sebuah lembah sempit
penuh dengan batu kerikil dan tidak ditumbuhi tumbuhtumbuhan.
Hati-hati mereka mendaki tebing lembah itu.
Mereka melihat bahwa mereka berada di sebelah timur
piramida pada jarak lebih kurang satu mil. Di antara
mereka dan piramida terdapat orang-orang Comanche.
Kuda-kudanya sedang memakan rumput di padang kirakira
lima ratus langkah dari lembah itu.
“Nah, bagaimana pendapat Saudara tentang penemuan
ini?” tanya Sternau.
“Pertumpahan darah dapat dicegah dengan demikian,”
jawab orang Mixteca itu tenang, tetapi pada cahaya
matanya terlihat betapa lega hatinya.
“Kaum Comanche tentu akan mengira, kita pandai
menggunakan sihir.”
“Mereka akan mencari-cari kita dengan sia-sia, karena
kita sudah lari dengan membawa kuda-kuda mereka.
Karja, putri Mixteca, tidak perlu mati di tangan abangnya,
karena gadis itu lebih baik mati daripada ditangkap hiduphidup
oleh kaum Comanche.”
Jadi bagi abangnya itu, nasib adiknyalah yang lebih
dicemaskannya.
“Kini kita harus kembali lagi. Kita tidak boleh tampak di
sini.”
Kembali mereka turun ke dalam gua lalu menutupi
lubang dengan batu-batuan. Melalui lorong di bawah tanah
mereka sampai di piramida lagi. Apakah gunanya lorong
yang menyeramkan itu di masa purba? Maknanya pada
masa itu tentulah untuk mengelabui mata para umatnya
yang percaya. Lorong inilah tempatnya para pendeta
berjalan hilir mudik ketika di atas, dalam kuil, darah
kurban manusia sebagai persembahan kepada dewa
matahari, mengalir dengan derasnya.
Mula-mula para kepala suku bermufakat apa yang
harus dikerjakan mereka. Kemudian para prajurit
diberitahu. Mereka memutuskan untuk bersama-sama
mendaki pegunungan Cordilleras lalu berpisah. Hati
Beruang masih menambahkan: “Hati Beruang menyayangi
kawan-kawannya, maka ia akan menemaninya hingga
Guamayas.”
Karja menjadi merah mukanya mendengar perkataan
itu, karena ia tahu dengan pasti, kepada siapa sebenarnya
perkataan itu ditujukan.
Di pegunungan sangat sukarlah didapat makanan,
maka seharusnya diusahakan perbekalan secukupnya.
Kuda-kuda yang tidak dapat dipakai melalui lorong di
bawah tanah, harus ditinggalkan. Sebagai gantinya mereka
harus berusaha menangkap kuda kaum Comanche. Semua
orang sibuk bersiap-siap untuk berangkat. Semua barang
yang dapat dibawa dikumpulkan.
Pada saat matahari terbenam, Karja memanjat
piramida. Besar dan semampai nampak tubuhnya berdiri
di atas bangunan itu. Bajunya berkibaran ditiup angin dan
pipinya yang kehitam-hitaman nampak jelas warnanya di
cahaya matahari yang meredup. Apakah gerangan yang
direnungkannya? Matanya memandang ke arah utara. Di
situ tidak terdapat Guamayas, tujuan berikut dari
perjalanan mereka, tidak juga terdapat hacienda del Erina,
rumahnya tempat ia akan kembali lagi. Di situ terdapat
padang perburuan bangsa Apache di bawah pimpinan Hati
Beruang, kepala suku mereka, tempat bertaut segenap hati
gadis itu. Betapa bodohnya ia pada masa silam, mau
melayani rayuan Pangeran Alfonso. Berlainan sekali cinta
yang didapatnya dari Hati Beruang. Dalam lamunannya ia
tidak menyadari bahwa dari sisi seberang piramida ada
seseorang yang memanjat pula bangunan itu. Orang itu
adalah yang menjadi obyek lamunannya itu.
Hati Beruang berdiam diri ketika melihat gadis itu. Ia
melihat bagaimana matahari dengan cahayanya mewarnai
pipi serta rambut gadis itu dan bagaimana mata gadis yang
hitam itu memandang dengan sayu ke dalam kegelapan
malam. Ia menghampiri gadis itu. Ketika gadis itu
mendengar bunyi langkah kakinya, ia langsung berpaling.
Demi tampak olehnya pemuda itu maka pipi dan lehernya
bertambah lagi merahnya.
Kepala suku yang melihat betapa bingung gadis itu
disebabkan oleh kedatangannya, mundur selangkah lalu
bertanya, ”Bila melihat Hati Beruang, putri Mixteca selalu
terkejut. Maka ia akan pergi, sungguhpun ia tidak tahu,
mengapa ia sampai menyinggung hatinya.”
Hampir tiada terdengar jawab gadis itu, “Kepala suku
Apache tidak menyinggung hati saya.”
Hati Beruang menatap gadis itu lalu bertanya, “Namun
Putri membenci dia, bukankah Putri selalu berusaha
menghindarkannya?”
“Tidak.”
“Apa daya Hati Beruang bila perjalanannya selalu
bertemu dengan perjalanan Putri? Apakah di dalam
kekuasaannya, mengatur jalannya mimpi? Dapatkah mata
dipersalahkan, bila ia melihat di ombak sungai atau di
awan langit wajah serta tubuh yang itu-itu juga? Apakah
saya sebesar Manitou? Dapatkah saya mematikan
perasaan yang bergelora dalam dadaku?”
Karja berdiam diri, namun Hati Beruang melihat bahwa
tubuhnya gemetar. “Mengapa Karja tidak mau menjawab?”
tanyanya. “Berapa lamakah lagi masih tersedia waktu
untuk melihat wajah orang yang dikasihi oleh Hati
Beruang? Beberapa hari lamanya ataukah hanyalah
beberapa jam? Sesudah itu ia akan dipersunting pria
lain…!”
“Tidak! Tak mungkin aku menjadi istri orang lain!” bisik
gadis itu.
“Tak mungkin, katamu. Tak mungkin? Kau sungguh tak
mempermainkanku? O, Karja, jadi kau sayang padaku?
Utarakankah perasaanmu supaya aku mendapat
kepastian.”
“Ya, aku cinta padamu,” katanya terengah-engah.
“Aku pun demikian. Kau akan menjadi istri kepala
suku, istriku yang tunggal. Kau tidak akan diharuskan
bekerja seperti istri-istri lainnya. Kau akan diperlakukan
seperti seorang Senora kulit putih yang keinginannya
selalu dipenuhi.”
Hati Beruang memeluk Karja serta menciumnya tanpa
menghiraukan keadaan bahwa mereka berdiri di puncak
bangunan sehingga tampak nyata gerak-geriknya oleh
kaum Comanche di bawah. Di bawah, mereka sedang
diadili serta dijatuhi hukuman mati oleh lawannya dan di
atas mereka sedang menjalin hubungan batin seumur
hidup. Mereka berdiri berdekap-dekapan, melupakan
seluruh isi dunia. Warna merah yang datang dari matahari
yang sedang terbenam mewarnai tubuh mereka dengan
warna yang gaib. Tiba-tiba gadis itu menoleh ke belakang
dengan terkejut. Ia mendengar suara orang yang
dikenalnya baik, “Adakah di antara kalian berdua yang
sakit dan memerlukan bantuan?”
Orang yang berbicara itu Kepala Banteng. Saat
berangkat sudah hampir tiba, maka ia mencari adiknya.
Sekali-kali tidak disangkanya, adiknya itu ditemukannya
dalam pelukan orang Apache itu.
Hati Beruang mula-mula agak canggung, namun segera
ia dapat mengatasi keadaannya lalu bertanya, “Bolehkah
aku masih menyebut Kepala Banteng Saudaraku?”
“Tentu boleh,” bunyi jawabnya sungguh-sungguh.
“Apakah ia murka kepadaku karena aku mencuri hati
adiknya?”
“Tidak. Ia tidak marah karena hati adiknya tidak dapat
dicuri orang. Dalam hati seorang wanita sejati ada tempat
untuk keduanya, untuk suami maupun untuk kakaknya.”
“Apakah Saudara mengizinkanku berkunjung ke
hacienda del Erina untuk menyampaikan emas kawinku?”
“Ya, itu kuizinkan.”
“Terdiri dari apakah emas kawin itu?”
“Itu urusan Saudara sendiri. Kepala Banteng tidaklah
menjual adiknya.”
“Apakah Saudara mau menerima seratus buah kulit
kepala musuh?”
“Tidak. Kulit kepala musuh bisa kukumpulkan sendiri.”
“Atau sepuluh lembar kulit beruang merah?”
“Tidak. Aku tidak kekurangan kulit.”
“Maka sebutkan, apa yang Saudara kehendaki.”
Mata pemburu banteng itu berkaca-kaca. Ia meletakkan
tangannya di atas bahu orang Apache itu lalu berkata,
“Aku tidak memerlukan kulit kepala ataupun kulit
beruang, tidak juga emas ataupun perak, aku hanya
menginginkan supaya Saudara dapat membahagiakan
adikku kelak. Kau sudah kuakui sebagai saudaraku,
namun bila Karja dibuat tidak bahagia, aku akan memeng–
gal kepalamu dengan tomahawkku lalu memberikan
otakmu sebagai makanan kepada semut. Kembalilah ke
padang rumputmu dan bicaralah dengan rakyatmu,
datanglah kemudian ke hacienda del Erina untuk
menjemput adikku.”
Kepala Banteng memutar tubuhnya lalu turun ke
bawah. Hati Beruang mengikutinya, lurus dan gagah,
sebagai seorang pria yang belum pernah bercumbu-cumbu
dengan seorang wanita.
Selama hari masih senja, tidak seorang pun dibolehkan
meninggalkan kemahnya. Baru setelah hari menjadi
malam mereka berangkat. Para prajurit Apache memasuki
lorong-lorong dengan membawa senjata dan barang
keperluan mereka. Setelah orang yang terakhir lewat, maka
batu penutup digulingkan supaya menutupi lubang.
Orang-orang mulai berjalan. Kepala Banteng berjalan di
depan dan Sternau di belakang. Sternau membawa sekotak
bahan peledak. Setelah rombongan itu memanjat tangga, ia
meletakkan bahan peledak itu di dalam lorong lalu
membakar sumbunya. Kemudian ia mengikuti rombongan.
Tanpa penerangan mereka berjalan dalam lorong di bawah
tanah dan tanpa mendapat gangguan mereka tiba di ujung
lorong yang segera ditimbuni dengan batu-batuan. Setelah
selesai mereka melakukan pekerjaan itu, mereka
mendengar bunyi gemuruh seperti ada gempa bumi di
kejauhan. Bahan peledak telah meledakkan serta
menghancurkan lorong-lorong dan gua sehingga tidak ada
orang yang dapat memasukinya lagi.
Kini mereka berusaha menangkap sekurang-kurangnya
dua ratus ekor kuda. Bukanlah jumlah yang kecil, namun
tidaklah begitu sukar menangkapnya, karena dekat
lembah beratus-ratus kuda sedang memakan rumput.
Beberapa orang mata-mata dikirimkan untuk menyelidiki,
bagaimana penjagaan kuda-kuda itu. Mereka kembali lagi
membawa laporan bahwa mereka melihat tiga orang
penjaga. Kini mereka dikirim kembali untuk
menyingkirkan para penjaga itu.
Sternau memerintah untuk bekerja dengan hati-hati
sekali. Mereka tidak boleh semuanya serentak menaiki
kuda-kuda musuh itu. Perbuatan demikian akan sangat
menyolok mata. Mereka harus bergiliran menaiki kuda dan
membawanya diam-diam. Baru setelah menempuh jarak
yang agak jauh, mereka dapat menaiki kuda serta
melarikannya. Tak seorang pun mengetahui tentang
pencurian kuda itu karena tanah yang ditumbuhi rumput
itu sangat lunak. Pagi-pagi baru orang-orang Comanche itu
menemukan mayat-mayat para penjaga. Ketika itu orangorang
Apache sudah menempuh jarak setengah hari. Kaum
Comanche merasa sangat kecewa. Mereka merasa heran,
bagaimana kaum Apache itu dapat melepaskan diri. Baru
dari mata-mata mereka yang dibebaskan oleh Sternau,
mereka tahu bagaimana cara bangsa Apache itu
meloloskan diri.
***

sumber: DISALIN OLEH
Svetlana Dayani, Tiur Ridawaty, & Windy Triana
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s