Tikam Samurai (Bagian 61)

“Sebutkan dimana Atto sekarang . . .,” suara si Bungsu mendesis lagi.

“A. . . .apakah saya akan tuan bebaskan, kalau saya sebutkan di mana dia?” Jepang itu coba mencari jalan selamat dari lobang jarum ini.

Namun tiba-tiba Datuk Penghulu menamparnya. Tamparan Datuk yang tengah berang ini bukan main dahsyatnya. Gigi sopir itu copot dua buah.

“Sebutkan dimana Atto atau kami bunuh waang sekarang …..” suara Datuk itu mengancam.

“Ya . Ya Tapi berjanjilah bahwa kalian akan membebaskan saya. . . .”

Suaranya terputus. Karena kaki Datuk Penghulu terangkat. Lututnya menghantam selangkang Jepang itu. Mata Jepang itu terbeliak. Dan Datuk Penghulu melepaskan pegangannya. Tubuh Jepang itu jatuh ke tanah.

Dia memang sudah mendapatkan yang dia inginkan. Suatu kebebasan. Datuk itu berkata perlahan melihat tubuh Jepang yang tak berkutik itu.

“Atto yang engkau tanyakan itu pasti berada di markasnya buyung. Dan kita akan mendapatkan dia. Dia harus membayar hutangnya. Hutang darah dibayar darah. Hutang nyawa harus dia bayar dengan nyawanya. Nah, cepat kita menghindarkan dari sini ….”

Sambil berkata begitu, Datuk Penghulu mengangkat tubuh sopir tersebut. Kemudian melemparkannya ke atas truk bahagian belakang. Si Bungsu mengangkat tubuh sersan yang mati kena hantam di depan truk. Juga meletakkannya di bak belakang bersama sebelas mayat lainnya. Datuk Penghulu mengambil jerigen berisi minyak yang terikat di luar truk itu. Kemudian menyerakkannya pada mayat-mayat di belakang. Si Bungsu membuka kap truk itu. Memecah karburatornya. Bensin meleleh keluar.

Datuk Penghulu menyulut korek api. Kemudian melemparkannya ke mayat yang telah disiram bensin tersebut. Api segera saja menyala dengan marak. Melalap bangkai-bangkai Jepang itu. Kemudian mereka menghilang ke dalam palunan hutan bambu. Meninggalkan truk dan bangkai-bangkai Jepang itu dimakan api. Tak berapa lama kemudian, subuh buta itu dipecahkan oleh dentuman dahsyat data truk itu meledak berkeping-keping. Menghancurkan dan menghamburkan bangkai hangus menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Hari itu pecah kabar di kota Bukittinggi tentang pembantaian tentara Jepang tersebut. Kempetai dan pasukan-pasukan Jepang memeriksa dan memasuki seluruh hutan bambu di Tarok dan Padang Gamuak.

Mereka mencari tempat persembunyian Datuk Penghulu dan si Bungsu. Sampai sore seluruh rimba bambu itu mereka periksa dengan lebih dari lima puluh tentara dan tiga ekor anjing pelacak. Namun kedua orang yang mereka cari tak kelihatan batang hidungnya. Bahkan dekat rumah Datuk Penghulu yang terbakar itu pun tak kelihatan ada bekas kuburan. Syo-iAtto yang pada malamnya memimpin penyergapan dan memperkosa perempuan-perempuan itu menjadi penunjuk jalan.

Dari dia komandan Garnizun Jepang di Bukittinggi mendapatkan kabar bahwa setidak-tidaknya ada dua orang yang mati malam sebeluimnya. Yaitu istri dan anak Datuk Penghulu.Setelah tak berhasil mencari jejak Datuk penghulu, kini Kempetai mulai memeriksa seluruh tanah perkuburan kaum di kota itu. Mereka mencari kuburan yang baru digali. Kalau ada yang baru maka diselidiki, kuburan siapa itu.

Mereka berharap menemukan kuburan anak dan istri Datuk Penghulu. Dengan menemukan kuburan itu, mereka berharap dapat mencium jejak kedua orang tersebut. Penjagaan dan pemeriksaan di seluruh tempat dalam kota dilakukan dengan ketat dan keras. Setiap kendaraan, motor, pedati, bendi, gerobak dan tempattempat yang mencurigakan diperiksa dengan cermat.

Tapi kedua orang itu lenyap seperti embun di siang hari. Tapi kemanakah lenyapnya kedua orang itu ? Dan kemana pula mayat-mayat si Upik dan ibunya mereka sembunyikan? Ternyata kedua orang itu tak pergi jauh. Mereka bersembunyi di sebuah surau kecil di kampung Tarok itu juga. Entah karena apa, surau itu ternyata tak diperhatikan oleh Jepang. Padahal belasan tentara Jepang lalu lalang di depannya.

Mungkin karena surau itu letaknya di pinggir jalan. Atau mungkin karena Tuhan memang melindungi mereka, surau itu tak sempat diperiksa. Dibahagian belakang surau itu ada pekuburan yang terlindung di balik pohon pisang. Subuh tadi kedua mayat anak dan istri Datuk Penghulu telah mereka kuburkan di belakang surau itu. Mereka dibantu oleh garin di surau tersebut.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s