Tikam Samurai (Bagian 63)

Saat itu Datuk Penghulu naik lagi dia bersama dengan seorang imam yang ditemuinya surau ketika akan sembahyang Ashar. Mereka mendekat kepada kedua anak muda itu. Mata Mei-mei terpejam.

“Mei-mei. …. .dengarlah. Ini pak Imam. Kita akan menikah disini. . .”

Si Bungsu berkata perlahan ke telinga gadis itu. Mei-mei tersenyum sebelum matanya terbuka. Senyumnya senyum lelah. Senyumnya senyum yang amat letih dan kalah. Dimatanya tergenang manik-manik air yang lambat-lambat meleleh turun.

“Benarkah . . .benarkah Uda mau mengambil saya jadi istri? Setulus hati menikahi anak cina yang sepanjang hidupnya dilumuri dosa ini? Benarkah uda. . . .?”

“Demi Allah yang kusembah, aku mencintaimu sayang. . . .”

“Uda . .. saya bahagia. . .engkau menjadi suamiku. Aku mengabdikan diriku menjadi istrimu. . .”

Mata gadis itu terpejam. Si Bungsu menoleh pada Imam dan Datuk Penghulu, kemudian mengangguk. Imam itu mengingsutkan duduknya.

“Jawab pertanyaan saya ini anak muda. Apakah engkau bersedia menerima Mei-mei menjadi istrimu, menjaga dan membelanya dalam sakit dan senang. Akan membahagiakannya dan tidak akan berbuat aniaya padanya. . . .?”

“Saya menerimanya dengan setulus hati saya.” Jawab si Bungsu.

Imam itu menoleh Mei-mei. Kemudian berkata :

“Apakah engkau bersedia menerima pemuda ini menjadi suamimu dan berjanji akan mengabdikan dirimu padanya, dalam sakit dan senang dan akan tabah menerima setiap cobaan?” Gadis itu tak menjawab. Matanya masih terpejam. Si Bungsu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

“Jawablah sayang..” Mei-mei tak menjawab.

“Jawablah dengan mengangguk kalau engkau setuju, atau menggeleng kalau engkau tak setuju..”

Imam itu berkata perlahan. Namun Mei-mei tak menjawab. Tak menggeleng. Tak pula mengangguk. Datuk Penghulu berdetak hatinya. Dia mengulurkan tangan. Meraba leher Mei-mei. Meraba nadi tangannya.

“Innalillahi wa Inalillahi rojiun”, desisnya perlahan.

Si Bungsu terpana. Terpaku. Kemudian suaranya seperti berbisik-bisik memanggil nama Mei-mei.

“Mei-mei….. Mei-mei…”

Tapi gadis itu memang sudah berpulang ke Khaliknya. Seulas senyum masih membayang di bibirnya. Datuk Penghulu menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Betapapun jua, dia sangat menyayangi gadis ini. Gadis yang telah dianggap sebagai anak kandungnya. Yang sepermainan dan sayang menyayangi dengan si Upik anaknya.

Malam tadi si Upik meninggal. Dia berharap Mei-mei lah tempat dia mencurahkan saying, pengganti anaknya. Ada sedikit hartanya, dan itu semua akan dia serahkan pada Mei-mei. Dia akan mengangkat gadis ini sebagai anaknya. Tapi kini, Tuhan ternyata menentukan lain dari rencana yang dia buat. Air mata mengalir di pipinya yang tua. Si Bungsu masih termenung. Menatap wajah gadis itu. seperti masih terngiang di telinganya ucapan Mei-mei yang terakhir :

“Uda saya… bahagia engkau suamiku.. dan aku mengabdikan diriku menjadi istrimu,”

Rupanya gadis itu telah melafazkan akad nikahnya sebelum Imam datang. Dia sadar Tuhan akan memanggilnya. Kiranya Tuhan pula yang menyuruhnya untuk melafazkan ucapannya yang terakhir itu. Tiba-tiba si Bungsu berdiri.

“Jepang jahanam. Kubunuh kalian. Demi Allah, saya akan membunuh kalian sebanyak yang bisa saya lakukan”

Habis berkata dia menyambar samurainya yang terletak di lantai. Kemudian bergegas turun. Namun Datuk Penghulu mencegahnya.

“Jangan memperlihatkan diri saat ini Buyung.

Dijalanan berkeliaran ratusan serdadu Jepang..”

“Persetan . .saya akan membunuh mereka…”

Dia berbalik untuk turun. Tapi saat itu pula tangan Datuk Penghulu menghantam tengkuknya. Anak muda itu terkulai, dia berusaha memutar wajah menatap Datuk Penghulu, sinar matanya memancarkan rasa sakit dan heran, kenapa Datuk itu sampai berbuat demikian. Kemudian dia jatuh pingsan. Imam yang ada di sana itu juga menatap heran bercampur terkejut atas sikap Datuk Penghulu.

“Kenapa Datuk pukul dia?”

Datuk Penghulu menarik nafas panjang sebelum menjawab.

“Sudah terlalu banyak saya kehilangan Pak Imam. Malam tadi anak dan istri saya. Sebentar ini gadis ini pula. Gadis yang telah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Kini, kalau saya biarkan dia mengamuk diluar sana, mungkin dia akan bisa membunuh sepuluh atau dua puluh Jepang dengan kemahirannya mempergunakan samurai. Tapi setelah itu, betapapun jua peluru jauh lebih unggul dan lebih ampuh dari samurai di tangannnya. Bagaimana hebatnya sekalipun, Saya tak mau kehilangan dirinya. Dia sudah banyak berjasa pada bangsanya. Telah banyak membunuh Jepang yang merampok dan memperkosa rakyat. Meskipun dia tak menyadari jasanya itu, karena dia berbuat itu hanya untuk membela diri dan membalaskan dendam keluarganya. Tapi Indonesia banyak berhutang padanya. Saya tak mau dia mati terlalu cepat. Masih banyak hal-hal besar yang bisa dia lakukan daripada harus mati cepat-cepat dia pelindung orang yang lemah…”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s