Tikam Samurai (Bagian 64)

Imam itu terdiam mendengarkan keterangan Datuk penghulu. Kemudian menoleh pada mayat Mei-mei.

“Kasihan gadis ini.. dia meninggal sebelum sempat merasakan kebahagiaan,” Kata Imam itu perlahan.

“Ya. Sepanjang hidupnya, yang dia rasakan hanyalah penderitaan. Ada saat-saat di mana dia merasa bahagia. Yaitu di saat dia merawat si Bungsu yang sedang luka. Saya sudah mengetahui sejak lama, bahwa kedua anak muda ini saling mencintai. Ternyata ketika mereka telah saling mengetahui bahwa mereka saling mencinta, maut datang menjemput Mei-mei.”

Mayat Mei-mei kelihatan tetap cantik, meski wajahnya pucat. Senyum tipisnya seakan berkata bahwa dia rela pergi setelah mengetahui bahwa si Bungsu juga mencintainya. Sementara si Bungsu terbaring sehasta di sampingnya.

“Bila kita kuburkan mayat Mei-mei..?” Imam itu bertanya perlahan.

“Kalau tak ada patroli, nanti malam kita kebumikan.” jawab si Datuk.

“Tapi siapa yang akan memandikan jenazahnya?”

“Pak Imam tolonglah memanggil beberapa penduduk sekitar sini. Tek Munah, Tek Niar dan Amai Zainab. Katakan pada mereka apa yang telah terjadi. Minta mereka untuk datang seperti Sholat berkaum malam nanti kemari. Bawakan juga kain kapan dan bunga rampai. juga tolong katakan pada Pak Bidin dan PakTamam untuk datang membantu menggali pusara…”

“Ya. Ya. Saya akan mengerjakan semua pesan Datuk. Tapi bagaimana kalau tentara Jepang yang berkeliaran itu sampai mengetahui bahwa kita berada disini ?”

“Jika itu terjadi, hanya ada dua kemungkinan pak Imam. Membunuh atau dibunuh. Hanya berusahalah untuk tidak menimbulkan kecurigaan ..”

“Ya.Ya. Saya akan berhati-hati. . lebih baik saya turun sekarang. . .”

“Ya. Saya rasa juga begitu. Kalau kemari nanti tolong bawakan makanan.”

“Ya. Akan saya bawakan. Tunggulah disini. . ..”

Imam itu bergerak turun. Pada saat yang sama, si Bungsu mulai sadar diri. Dia masih merasakan kepalanya berdenyut bekas dihantam Datuk Penghulu. Sebenarnya dia sudah sadar agak lama. Hanya saja dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia mendengar pembicaraan terakhir antara Datuk Penghulu dengan Imam itu. Ketika dia bangkit, dia terpandang pada mayat Mei-mei. Kemudian dia memandang pada Datuk Penghulu.

“Maafkan saya buyung. Mei-mei berkata benar. Bukankah dia berpesan padamu, agar engkau tak mencari si Atto, tidak lagi melibatkan diri dalam perkelahian? Dia menginginkan keselamatanmu. Dan dia mengharapkan itu dikala ajalnya akan datang. Tak ada salahnya engkau menuruti pesan orang yang akan meninggal dunia, apalagi orang yang amat mencintai dirimu…”

Si Bungsu menarik nafas. Lalu duduk disisi mayat Mei-mei. Manatap wajah mayat itu diam-diam. Datuk Penghulu memperhatikan dengan sudut mata.

“Secara hakikat, kalian telah menjadi suami isteri.”

Datuk Penghulu berkata perlahan. Si Bungsu menoleh padanya.

“Ya. Kalian telah sama-sama berikrar untuk jadi suami isteri. Ikrar yang suci dan ikhlas itu saja sudah merupakan suatu ikatan. Meskipun belum disahkan oleh kadi dan tak ada saksi. Namun pada mulanya, dahulu kala lembaga pernikahan belum ada. Dia hanya ada setelah Islam atau agama dikenal manusia. Sebelum agama turun ke muka bumi, sebelum lembaga pernikahan seperti sekarang dikenal manusia, maka pernikahan dilangsungkan secara apa adanya, sementara yang jadi saksi bisa manusia, bisa pula tak ada saksi. Tetapi yang jadi kadinya secara hakikat adalah Tuhan”

Si Bungsu masih tetap diam mendengar ucapan Datuk Penghulu ini. Sementara itu, di luar hari merangkak memasuki malam. Di langit guruh terdengar menderam-deram. Angin bersuit-suit. Tanpa mereka sadari, Imam yang tadi akan menikahkan si Bungsu dan Mei-mei sudah cukup lama berlalu.

Adalah si Bungsu yang pertama menegakkan kepala. Dalam geram guruh dan suitan angin di luar surau, dalam kesepian yang kelam itu, dia merasakan sesuatu yang ganjil. Mereka sebenarnya harus merasa aman dengan guruh dan angin ribut itu. Apalagi kalau hujan sempat turun. Sebab dengan demikian Jepang yang mencari mereka tentunya menarik diri ke posnya dan mereka dengan aman bisa menguburkan jenazah Meimei.

Kemudian dengan aman pula bisa melarikan diri dari kepungan tentara-tentara Jepang itu. Namun tidak demikian halnya dengan si Bungsu. Ada firasat lain yang membuat hatinya tak enak dalam kesunyian di lot eng surau kecil itu. Nalurinya yang tajam, yang terbiasa mencium marabahaya, yang telah terlatih ketika hidup lebih dari setahun bersama binatang-binatang buas di belantara Gunung Sago, kini mencium bahaya adanya yang tersembunyi.

“Ada apa?” Datuk Penghulu bertanya melihat perobahan air muka anak muda itu.

Si Bungsu tak segera menjawab. Dia masih tetap duduk di dekat mayat Mei-mei. Namun matanya berkilat aneh. Wajahnya jadi tegang.

“Kita terperangkap. . . .,” katanya perlahan.

Datuk Penghulu menegakkan kepala.

“Perangkap ?” desisnya sambil coba menangkap suara-suara yang menyelingi suitan angin dan gemuruh guruh di luar surau.

Namun dia tak menangkap suara apa-apa. Tapi dia percaya pada anak muda ini. Dia sudah beberapa kali membuktikan bahwa indera dan naluri anak muda didepannya itu amat tajam. Datuk itu segera teringat pada Imam yang turun tadi. Apakah Imam itu mengkhianati mereka? Ternyata Jepang itu memang mengetahui persembunyian mereka dari Imam tersebut.

Ketika Datuk Penghulu membawa Imam itu naik sore tadi, seorang penduduk pribumi yang telah lama jadi mata-mata Jepang, melihat mereka. Dia segera saja melaporkannya kepada seorang Letnan yang berada tak jauh dari sana. Dan Letnan itu menanti di rumah si Imam. Begitu Imam itu muncul di rumahnya, dia jadi terkejut. Di ruang depan rumahnya sudah berkumpul dua anak gadisnya dan istrinya. Mereka di kawal oleh enam orang Serdadu Jepang dengan bedil dan bayonet terhunus.

“Nah, kini katakan cepat siapa yang ada di surau itu pak imam.?”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s