Tikam Samurai (Bagian 65)

Letnan Jepang itu segera saja buka suara begitu dia masuk. Imam itu jadi pucat. Namun rasa nasionalnya yang tebal menolak untuk membuka rahasia.

“Tak ada siapa-siapa. Di sana hanya seorang perempuan yang akan sembahyang…”

“Apakah tak ada orang lain?”

“Tak ada. Boleh lihat kesana.”

Imam itu berkata pasti. Sebab dia tahu, loteng surau itu dari bawah kelihatannya hanya terbuat dari bambu. Padahal loteng itu berlapis dua. Bahagian atasnya terbuat dari papan. Garin serta penjaga mesjid lainnya tidur disana. Jalan naik ke atas berada di bahagian belakang, tersembunyi dari pandangan orang.

Letnan itu tak mengulangi pertanyaan, tapi tangannya langsung bekerja. Sebuah tamparan mendarat di pipi si Imam. Demikian kuatnya tamparan itu, sehingga Imam itu terpelanting dan mulutnya berdarah. Istri dan anak-anaknya terpekik dan mulai menangis. Imam itu menatap dengan penuh kebencian pada Jepang-Jepang tersebut.

“Jahanam. Kalian takkan selamat di tangan negeri ini . . .” desisnya.

Letnan itu menggerakkan kaki. Ujung sepatunya yang keras mendarat di dagu Imam tersebut. Kembali Imam ini terpelanting. Kali ini giginya copot beberapa buah. Istrinya memburu dan memeluknya. Ketika anak gadisnya juga mendekat. Letnan itu menyambar tangannya. Gadis itu terpekik dan meronta. Tapi Letnan itu merenggut pakaiannya hingga robek.

“Nah, Imam, bicaralah yang sebenarnya. Kalau tidak, anakmu ini akan kubawa ke kamar ..” Ujar Letnan itu menyeringai. Imam itu melompat bangkit ingin menghantam letnan tersebut. Tapi sebuah tendangan kembali membuat dia terjajar.

“Hmm Baik. Kalau kau tak mau buka suara, saya akan menikmati anakmu ini.”

Si Letnan lalu menyeret gadis berusia enam belas tahun itu ke bilik, Akhirnya Imam itu tak bisa berbuat lain dari pada harus mengaku. Dia berharap agar kedua orang yang ada di loteng surau itu menyadari bahwa bahaya mengancam mereka. Dia berharap agar kedua mereka segera turun dan melarikan diri. Dia terpaksa mengakui bahwa kedua buronan yang di cari Jepang itu berada di loteng surau itu. Jalan ini benar-benar dia lakukan dengan sangat terpaksa. Orang tua mana yang tak menginginkan keselamatan anaknya?

Si Letnan memang tak jadi membawa gadis itu ke kamar. Dia memberi instruksi kepada delapan orang Kempetai yang ada diluar untuk mencek kebenaran ucapan si Imam. Dia juga memerintahkan untuk menangkap mereka. Kalau ternyata laporan imam ini tak benar, maka dia akan melanjutkan rencananya menyelesaikan anak gadis Imam yang ada di rumah ini.

Kedelapan Kempetai itu segera menuju ke surau tersebut. Kedatangan mereka inilah yang dapat dirasakan oleh naluri si Bungsu.

“Kita harus meninggalkan surau ini. . . . .,” kata Datuk Penghulu.

“Tapi bagaimana dengan Mei-mei.” ujar si Bungsu. Datuk Penghulu menarik nafas.

“Terpaksa kita tinggalkan nak. Tapi yakinlah Jepang takkan menganiaya mayatnya. Kita hanya sedih tak bisa mengurus mayatnya sebagaimana yang kita kehendaki. Namun mayat akan dikuburkan. Mungkin oleh Jepang, mungkin oleh penduduk yang disuruh Jepang. Percayalah. Kini mari kita menghindar dari surau ini sebelum terlambat. . . .”

Si Bungsu menatap pada mayat Mei-mei. Tanpa dapat dia tahan, air matanya mengenang di pelupuk matanya.

“Semasa hidupmu, kita jarang bersama. Ketika engkau meninggal pun, aku terpaksa meninggalkan jasadmu. Kita memang orang-orang yang bernasib malang Mei-mei. Kudoakan semoga engkau bahagia ditempatmu yang baru. Jika di dunia jasadmu menderita, semoga Tuhan menempatkan rohmu di tempat yang bahagia. Dan aku yakin, Tuhan akan menempatkanmu disana. . . Selamat tinggal sayang. . . .”

Dia menunduk. mencium kening mayat yang mulai mendingin itu. Kemudian dengan mengeraskan hatinya, dia tegak.

“Kita berangkat. . .,” katanya pada Datuk Penghulu. Datuk Penghulu sendiri merasakan matanya basah melihat kedua anak muda ini.

“Mei-mei anakku, maafkan kami tak bisa menyelenggarakan jenazahmu. Hanya Tuhan yang tahu bahwa kami benar-benar menyayangimu. Tinggallah nak. . . ,” Ujarnya perlahan.

Kemudian mereka mulai menuruni jenjang yang menuju ke belakang surau. Gerimis menyambut mereka begitu menjejakkan kaki di tanah.

“Mereka sudah dekat. .” si Bungsu berbisik.

Datuk Penghulu bergegas membawa si Bungsu ke dekat sebuah tebat di belakang surau. Dia hapal betul dengan situasi surau ini. Sebab dia termasuk salah seorang yang membuat surau itu. Derap sepatu Kempetai terdengar memasuki surau ketika Datuk tersebut mulai memasuki tebat.

“Masuklah . . . .”, katanya pada si Bungsu.

Si Bungsu tak banyak tanya. Dia segera masuk. Tebat itu cukup dalam. Mereka bisa menyelam. Di arah batang pisang itu, di bawahnya ada terowongan yang tembus ke sungai kecil di balik hutan bambu sana.

“Kita akan keluar persis di belakang rumah Imam tadi. Kita bisa menyelami terowongan itu. cukup lama, salah-salah bisa kehabisan nafas sebelum sampai ke sungai belakang bambu itu. Dan jika kita sampai kehabisan nafas, maka mayat kita akan tersangkut dalam terowongan. Ayo mulai menyelam. . . .”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s