Tikam Samurai (Bagian 66)

Datuk itu memang mulai membenamkan diri. Saat itu seorang Kempetai telah sampai ke loteng dan berteriak pada temannya di bawah. Jepang-Jepang itu mulai mencari ke belakang surau. Sesaat sebelum mereka muncul, si Bungsu telah membenamkan diri dan mulai menuju terowongan yang di maksud Datuk Penghulu.

Terowongan air itu melintasi sebuah tanggul sebelum sampai ke sebuah sungai kecil. cukup lama si Bungsu menahan nafas dan berenang mengikuti arus air, kemudian dia merasa melayang-layang. Dia menjangkau tangannya ke atas. Ketika dirasanya tak ada langit-langit yang menghalangi, dia lalu muncul.

“Lekaslah ….” Ujar Datuk Penghulu yang telah tegak di tebing, dan mulai melangkah.

“Yang kelihatan lampu sedikit itu rumah Imam tadi,”

Datuk Penghulu berkata sambil menunjuk ke belakang. Di rumah Imam itu Letnan yang tadi memegang anak gadis si Imam masih duduk di kursi. Sementara di lantai, duduk Imam yang berlumuran darah itu bersama-sama istrinya. Di luar hujan gerimisan turun. Mata Letnan itu menyambar dengan kilatan birahi ke tubuh anak Imam itu. Gadis itu punggungnya kelihatan jelas karena bajunya robek. Letnan itu beberapa kali menelan ludahnya. Pinggul gadis itu merangsang birahinya. Dan tiba-tiba dia memberi isyarat pada seorang prajurit yang menjaga. Prajurit itu mendekat. Mereka berbisik. Kemudian si Letnan bangkit. Dan menyambar tangan gadis itu.

“Tuan telah berjanji tidak mengganggu kami. . . . “, Imam itu berkata.

Tapi Letnan itu nyengir seperti iblis. Dia tetap menarik tangan gadis yang meronta-ront a itu. Tapi apalah dayanya. Letnan itu terlalu kuat baginya. Dalam dua kali renggut dia sudah sampai ke pintu bilik. Gadis ini berteriak. Ayahnya bangkit akan menolong anaknya. Tapi ketiga prajurit lainnya sudah siap sejak tadi. Dengan sebuah pukulan popor bedil Imam itu terkulai. Istrinya terpekik memeluknya. Sementara gadis itu dengan masih memekik-mekik di seret ke bilik orang tuanya. Dua puluh depa dari rumah itu, si Bungsu dan datuk Penghulu yang baru saja keluar dari sungai, telah melangkahkan kaki untuk memulai pelarian mereka, jadi tertegun. Mereka seperti mendengar pekik perempuan.

Pekik itu juga terdengar oleh beberapa penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah Datuk Penghulu. Namun tak seorang pun diantara para lelaki yang ada disekitar itu yang berani memberikan pertolongan. Mereka semua mengetahui bahwa di rumah Datuk itu ada Kempetai. Dan bila ada perempuan memekik, itu bisa disadari apa artinya.

Tak ada yang berani menolong. Sebab pertolonganberarti melawan Jepang. Dan melawan Jepang artinya cabut kuku atau dibunuh. Nah, dari pada mencari susah lebih baik diam di rumah. Itu lebih selamat. ‘Bikin apa cari penyakit,’ pikir mereka.

Tapi tak demikian halnya dengan si Bungsu dan Datuk Penghulu. Hampir bersamaan, mereka yang sedianya akan melarikan diri itu, pada mengayunkan langkah panjang ke ruamh Imam tersebut. Mereka sadar, jika mereka kelihatan oleh Jepang, itu artinya maut mengintai. Tapi menyadari bahwa ada orang lain yang butuh pertolongan, mereka melupakan bahaya yang mengancam diri mereka sendiri. Mereka segera mancapai belukar di pinggir rumah itu. Pekik dan tangis masih terdengar dari dalam.

“Ada tiga orang diluar” si Bungsu berbisik.

Lalu seperti sudah bermufakat, tiba-tiba saja mereka meloncat ke depan. Ketiga Serdadu Jepang yang tegak di bawah cucuran atap itu, yang berteduh dari gerimis, terkejut melihat kehadiran mereka yang amat tiba-tiba. Yang seorang berniat membentak, tapi suaranya hanya sampai di tenggorokan. Kerampangnya kena tendang Datuk Penghulu. Kemudian sebuah tinju mendarat di jantungnya. Dia terjajar, mati.

Yang dua lagi mengangkat bedil. Namun bedil itu tak pernah meletus. Sebuah sinar halus melesat amat cepat. Dan tahu-tahu yang satu lehernya hampir putus, yang satu lagi dadanya terburai. Mereka mati tanpa sempat mengeluh. Dan tak sempat pula mengetahui, apa yang menjadi malaikat maut yang merenggut nyawa mereka demikian cepatnya. Dan si Bungsu menyisipkan kembali samurainya.

Datuk Penghulu memberi isyarat. Si Bungsu mengangguk. Di dalam bilik si Letnan tadi sudah merenggut seluruh pakaian anak gadis Imam itu. Gadis malang itu tegak di sudut ruangan dengan tubuh menggigil tanpa pakaian secabikpun. Kempetai itu menjilat bibir dan meneguk liurnya beberapa kali melihat tubuh montok gadis itu.

“Hhhhh, bagusy badan . . .bagusy badaaaan . . . .,” katanya seperti orang menggigil.

Dan dalam gigilannya itu dia membuka pula pakaiannya sendiri. Kemudian mendekat pada si gadis. Gadis itu tak kuasa lagi memekik. Dia menutupi wajahnya. Dan tiba-tiba dia terkulai pingsan saking ngeri dan malunya. Tubuhnya yang terkulai cepat disambut oleh Jepang itu. Kemudian menghempaskannya ke pembaringan. Saat itulah jendela kamar itu pecah di hantam dari luar. Seiring dengan masuknya papan pecahan jendela, sesosok tubuh berpakaian serba hitam tiba-tiba saja sudah tegak dalam kamar itu. Dia adalah Datuk Penghulu yang masuk dengan meloncat menerjang jendela kamar Kempetai itu tertegun. Tapi itulah tegunnya yang terakhir. Itulah kesempatan baginya untuk tertegun semasa hidupnya, sebab setelah itu dengan penuh kebencian pukulan Datuk Penghulu menghujam ke arah jantungnya. Dia berusaha untuk mengelak dengan mempergunakan tangkisan karate. Namun Datuk itu sudah sampai ke puncak berangnya. Begitu tangannya ditangkis, tangan yang menangkis itu dia tangkap.

Kemudian dengan sebuah pelintiran yang telak, tubuh Jepang itu terjerembab ke tanah. Saat berikutnya, dengan masih memegang tangan kanan Jepang itu, kaki Datuk Penghulu menghujam ke bawah. Hujaman pertama membuat tulang leher Jepang itu berderak. Kemudian hentakkan kedua adalah hentakkan tumit ke hulu hati. Jantung dan hati Jepang itu pecah oleh jurus Hentak Alu yang dipergunakan oleh Datuk tadi.

3 Comments

  1. Ba’a kok sandek lo sambungan nyo baliak da??

  2. sdg sibuk bana daa……?
    dek alun juo sambungannyo…

  3. Mana lanjutannya..dah brbulan2 penasaran..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s