Tikam Samurai (Bagian 67)

Pada saat Datuk itu menjebol jendela, saat itu pula si Bungsu membuka pintu depan. Kemudian dia berdiri dua depa dari ketiga Jepang yang mengawasi imam dan istrinya itu. Semula mereka tak acuh. Menyangka bahwa yang hadir itu adalah temannya yang tadi keluar. Tapi begitu mendengar jendela dijebol, mereka terkejut. Dan ketika diperhatikan, ternyata yang tegak dekat pintu adalah pemuda yang mereka cari-cari.

“Bagero ini dia. Dia iniiiiii..!!” yang seorang memekik saking kagetnya.

Serentak mereka mengangkat bedil. Tiga letusan bergema mengoyak kesunyian. Tapi saat si Bungsu sudah mempergunakan loncat tupainya yang tangguh itu. Tubuhnya bergulingan ke depan sesaat sebelum ketiga bedil itu menyalak. Dalam saat seperti itu, tak ada kalimat yang bisa menggambarkan kecepatan anak muda itu mempergunakan samurainya yang tangguh itu. Dia mempergunakannya tak tanggung-tanggung. Dia baru saja kematian kekasih. Gadis cina yang dicintainya sepenuh hati. Mati karena ditembak dan diperkosa Jepang malam kemaren. Gadis itu meninggal di depannya hanya beberapa detik sebelum mereka mengucapkan ijab kabul di depan kadi Karenanya, dalam berang dan dendamnya yang amat sangat menyala-nyala, dia menebaskan samurai di tangannya dengan tak tanggung-tanggung pula. Hanya sekali tabas, ketiga kepala Kempetai itu putus Sebelum ketiga tubuh mereka jatuh memecah lantai, sekali lagi samurai di tangan anak muda itu bekerja. Tubuh mereka terpotong dua persis di tentang dada.

“Bungsu Jangan menganiaya mayat”

Suara Datuk Penghulu yang telah tegak di pintu bilik menyadarkan anak muda ini dari gejolak dendam dan amarahnya. Dia tertegun, wajahnya yang semula tegang menakutkan dengan sinar mata berkilat, lambat-lambat biasa kembali. Dia menatap kepala dan potongan tubuh serta darah yang berceceran di lantai. Kemudian menunduk. Kemudian lambat-lambat menyarungkan kembali samurainya.

Istri imam itu dan anak gadisnya yang kecil terdiam. imam itu yang lambat-lambat menyadari apa yang terjadi, juga tak bisa bicara. Mereka sudah lama mengenal anak muda ini. Karena dia selalu bepergian dengan Datuk Penghulu. Ada orang yang berbisik-bisik, bahwa anak muda ini sangat mahir memakai samurai. Dan konon kabarnya sudah puluhan Jepang dia bunuh ketika masih di Payakumbuh.

Namun itu hanya mereka dengar dari bisik-bisik. Bahkan ketika malam tadi banyak Jepang yang mati di bekas rumah Datuk Penghulu, kemudian ditemukan pula mayat yang berkeping-keping bersama ledakan di truk dekat jalan, banyak orang yang menduga itu adalah pembalasan Datuk Penghulu dan si Bungsu. Tapi mereka belum juga percaya, bahwa anak muda yang pendiam dengan wajah dan sinar mata murung ini adalah seorang perkasa begini.

Kini, ketika hal itu berlangsung di hadapan mereka, mereka bukan hanya ternganga tak percaya. Tapi lebih dari itu, mereka merasa kejadian ini terlalu hebat dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang amat luar biasa. Sesuatu yang tak pernah mereka impikan akan bertemu dalam kehidupan mereka. Seorang anak minang, pribumi yang terjajah, yang selalu ditekan dan dianggap sampah, kini di hadapan mereka menghajar Jepang- Jepang yang laknat itu. Tidak hanya sekedar menghajar. Melainkan melakukan pembalasan yang luar biasa.

Tak pernah terbayangkan. Tak pernah terfikirkan. Istri imam itu bangkit menuju kamar, melihat anak gadisnya yang sudah diselimuti dengan kain panjang. Sementara di lantai terbujur mayat Letnan yang tadi akan melaknati tubuh anaknya itu.

“Anakmu selamat pak imam. . . .” Datuk Penghulu berkata perlahan. imam itu tiba-tiba bangkit. Dia teringat sesuatu.

“Di luar masih ada tiga orang Kempetai lagi. . . . ,”

katanya perlahan dengan wajah cemas.

“Jangan khawatir, mereka telah diselesaikan. . .” Imam itu menarik nafas. Kemudian perlahan dia berkata.

“Maafkan saya Datuk. Bungsu. Saya telah mengkhianati kalian, sayalah yang mengatakan pada mereka tempat persembunyian kalian ……”

“Jangan dipikirkan pak Imam. Pak Imam tak pernah mengkhianati kami. Kami dapat menerka apa yang terjadi. Mereka pasti sudah di rumah ini ketika pak Imam baru keluar dari surau itu. Dan peristiwa selanjutnya dapat diterka. Mereka memaksa Pak Imam untuk membuka rahasia, kalau tidak anak istri pak Imam akan mereka nodai. Kami bisa menerka hal itu, karena memang demikian watak tentara pendudukan, dimanapun. Nah, kini kami harus pergi. Saya rasa pak Imam tak usah takut, nantikan saja Kempetai yang ke surau itu disini. Kalau mereka kembali, katakan kami yang membantai teman-teman mereka. Dan katakan bahwa kami juga mencari mereka. . . ..”

“Tapi . . . .apakah mereka takkan mempersusah kami.. . .?”

“Mereka akan sibuk mencari yang membunuh tentara mereka daripada sekedar mempersusah Bapak..”

Ujar si Bungsu sambil mengangguk pada imam itu, kemudian pada istrinya. Dan ketika akan melangkah dia teringat sesuatu.

“Pak imam, mayat Mei-mei kami tinggalkan di surau. Kalau tidak akan menyusahkan Bapak. mohon Bapak selenggarakan mayat itu. Kami harus segera berlalu dari sini. . . .”

“Saya akan mengurusnya Bungsu. Saya akan mengurusnya. Percayalah. Terima kasih atas bantuanmu menyelamatkan keluarga saya. . ..”

5 Comments

  1. gantuang carito nyo baliak

    • indak bamukasuik manggantuang carito doh sanak. tapi akhir2 ko, dek banyak kesibukan, jadi dak sempat manaruihan kelanjutan si bungsu.

  2. Akhirnyo ado sambungan nya lagi……makasi gan

  3. mokasi da lai dilanjuikan caritonyo……

  4. Bgian 68 xo dma?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s