Tikam Samurai (Bagian 68)

Kedua orang itu segera lenyap ke dalam hujan yang telah menggantikan gerimis. Tak lama setelah mereka pergi, kedelapan Serdadu Jepang yang dikirim untuk menangkap mereka di surau itu juga tiba di sana. Mereka menjadi menggigil melihat tubuh teman-teman mereka kena cencang. Mereka segera melaporkan ke markas. Kemudian imam itu serta anak istrinya juga di bawa ke markas besar Jepang di Panorama. Untung bagi imam ini, di markas itu dia ditanya langsung oleh syo-sho (Mayor Jenderal) Fujiyama Tai cho (Komandan Divisi) dan Panglima Tertinggi pasukan Jepang di sumatera. Dia baru saja naik pangkat dari Tai Sha (Kolonel) ke Mayor Jenderal.

Imam itu beruntung karena Fujiyama terkenal sebagai tentara sejati. Dialah yang telah menekan Syo Sha (Mayor) Saburo Matsuyama untuk pensiun karena telah membunuh banyak pribumi di Situjuh Ladang Laweh, diantaranya orang tua si Bungsu. Dan setelah Saburo meminta pensiun dalam usia yang belum pantas untuk pensiun, Fujiyama kembali menekannya untuk kembali ke Jepang. Fujiyama tak senang pada tentara yang menindas rakyat. Dia datang memang untuk menjajah. Tetapi penajajahan dalam arti kemiliteran yang dianut Fujiyama adalah penjajahan di bidang politik, ekonomi dan pertahanan. Menurut doktrin tentara, rakyat negara yang terjajah, tetap saja sebagai manusia yang harus dihormati. Kalau ada permusuhan, maka yang bermusuhan adalah tentara dan pemimpin kedua negara. Bukan tentara dengan rakyat. Kecuali rakyat yang mengorganisir perlawanan. Kalau hanya rakyat biasa, maka hak mereka harus dihormati. Inilah perbedaan yang sangat menyolok antara komandan divisi yang berkedudukan di Bukitinggi ini dengan sebagian besar perwiranya.

Kini dialah yang menanyai langsung Imam itu. Imam itu menceritakan seluruh peristiwa itu. Dimulai dari dimintanya dia untuk menikahkan Mei-mei dengan si Bungsu. Kemudian diceritakannya pula bahwa gadis itu meninggal sesaat sebelum membacakan ijab kabul.

“Kenapa dia meninggal. . . ?” Fujiyama memotong.

“Ditembak dan diperkosa bergantian oleh…” Ucapan Imam itu berhenti, dia tak berani melanjutkan bicaranya.

“Siapa yang menembak dan memperkosanya. Katakan, jangan takut. . . .”

“Kabarnya. . . .kabarnya anggota pasukan tuan yang datang ke rumah Datuk Penghulu itu untuk menangkap Datuk itu. Tapi yang mereka temui hanyalah isteri Datuk itu, si Upik anaknya dan Mei-mei. . ..”

“Siapa itu Mei-mei . . . ?”

“Gadis yang akan menikah dengan si Bungsu itu. . .”

“Namanya seperti nama cina. ..”

“Benar. Dia memang anak cina. Tapi dia telah masuk Islam. Hidupnya penuh penderitaan. Dia ditolong oleh si Bungsu dan diakui anak oleh Datuk Penghulu….”

Fujiyama mengangguk-angguk. “Teruskan ceritamu pak Imam. . ..”

“Setelah Mei-mei meninggal, saya diminta Datuk mencari orang untuk menguburkannya. Tapi di rumah saya, telah menanti enam orang serdadu tuan. Saya disiksa untuk mengatakan dimana kedua orang itu bersembunyi. Ketika saya tak mau mengatakan, anak saya akan diperkosa. Akhirnya saya katakan juga bahwa kedua orang itu bersembunyi di loteng surau. Saya katakan setelah Letnan itu berjanji takkan mengganggu anak dan isteri saya. Tapi begitu anak buahnya pergi ke surau itu, dia menendang saya hingga rubuh kemudian menyeret anak saya ke kamar. Dan . . .saya tak tahu lagi sampai si Bungsu dan Datuk itu membunuh mereka semua. . . .”

Komandan tertinggi balatentara Jepang itu menjadi merah mukanya. Dia memanggil komandan Intelejen. Kemudian memerintahkan untuk membebaskan Imam anak beranak. Diiring i dengan perintah untuk jangan mengganggu Imam itu. Dan dengan marah pula dia memerintahkan untuk menangkap komandan Kempetai

kota itu. Komandan Kempetai itu berpangkat syo sha (Mayor) bernama Akiwara.

“Telah saya katakan bahwa engkau harus mengawasi dengan ketat tingkah laku tentara Jepang yang ada di kota ini. Tentara tidak untuk ditakuti rakyat. Tentara harus dihormati dan disegani. Dan rakyat tak akan menyegani dan menghormati tentara kalau tentara itu sendiri kelakuannya tidak terhormat. Saya sudah mendapat laporan tentang banyak perbuatan jahanam yang dilakukan oleh tentara dalam wilayah Garnizun yang engkau bawahi. Bahkan Kempetai sendiri yang seharusnya menjaga disiplin itu, berkelakuan demikian pula. Dan saya mendengar pula tentang banyaknya korban jatuh dipihak tentara Jepang karena tak mampu menangkap hanya dua orang penduduk pribumi. Untuk itu semua, engkau saya penjarakan enam bulan, dan kedudukanmu digantikan oleh Tai-i (Kapten) Imamura dari Padang Panjang”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s