Tikam Samurai (Bagian 69)

Tak ada kata yang bisa di ucapkan oleh Syo Sha Akiwara mendengar putusan komandan tertingginya itu. Dia hanya tegak dengan sikap sempurna. Kemudian di akhir perintah komandannya itu dia membungkuk dan berseru “Haik”. Namun akhirnya, Mayor Jenderal Fujiyama itu tersingkir juga dari jabatannya sebagai komandan Tertinggi Balatentara Kekaisaran Jepang di Sumatera.

Disiplin dan Hati Bersih dalam ketentaraan yang dia anut, yaitu sikap yang dia terima tatkala mula pertama balatentara Kekaisaran Tenno Heika didirikan, bersumber pada ajaran-ajaran Budha, dianggap tak cocok untuk tentara pendudukan. Tak cocok bagi kebanyakan perwira-perwira bawahannya.

Memang ada beberapa perwira tinggi yang sependapat dengan dia. Tetapi sebagaimana jamaknya dalam tubuh ketentaraan, perwira-perwira senior selalu dianggap makin lama makin tak mengikuti jaman. Tak mengikuti perkembangan dan tak sesuai lagi untuk hal-hal yang praktis. Dengan segala cara mereka disingkirkan. Dengan halus maupun kasar. Itulah yang dialami olehJenderal Fujiyama. Namun satu hal yang pasti, dia dianggap sebagai prototip tentara sejati. Yang melandaskan set iap tindakan pada sikap satria.

Si Bungsu dan Datuk Penghulu lenyap tak berbekas. Meski Komandan Kempetai untuk Garnizun Bukittinggi ditahan dan dicopot, namun Fujiyama tetap memerintahkan untuk mencari dan menangkap kedua orang pelarian itu. Mata-mata disebar. Tidak hanya mata-mata dari kalangan militer Jepang. juga mata-mata dari kalangan pribumi yang bersedia bekerja untuk fasis tersebut. Perintah itu telah membuat penjagaan diperketat dimana-mana. Dan itu menyebabkan beberapa rencana yang telah disusun oleh para pejuang bawah tanah Indonesia jadi berobah. Dirobah sebab kewaspadaan yang sangat ditingkatkan oleh Jepang.

Hal ini membuat beberapa pemimpin perjuangan bawah tanah Indonesia menjadi tidak senang. Datuk Penghulu dan si Bungsu dipanggil ke sebuah markas yang tersembunyi di Birugo, mereka seperti diadili. Datuk Penghulu duduk bersebelahan dengan si Bungsu. Sementara di depan mereka, duduk enam orang lelaki. Di luar, di tempat yang tak kelihatan tak kurang setengah lusin lelaki saling berjaga-jaga terhadap sergapan serdadu Jepang. sebab yang ada di dalam rumah itu beberapa orang diantaranya adalah pucuk pimpinan pergerakan kemerdekaan Indonesia di sumatera Barat.

“Datuk sengaja kami panggil beserta si Bungsu. . . .” yang duduk di tengah memakai baju putih mulai bicara. Datuk Penghulu hanya diam.

“Adapun yang ingin kami bicarakan adalah sepak terjang Datuk dan si Bungsu bulan ini. Kegaduhan dan pembunuhan yang Datuk lakukan bersama si Bungsu telah menyebabkan rencana kita gagal. Dan itu sangat merugikan perjuangan kita. Kami ingin meminta pertanggungjawaban Datuk. Kenapa Datuk sampai melanggar perjanjian yang telah kita buat.” Semua terdiam menanti jawaban Datuk Penghulu.

“Jawablah Datuk.” Seorang lelaki yang pakai baju kuning bicara. Suara lelaki itu perlahan saja. Tapi di dalamnya jelas tergambar adanya nada tekanan. Datuk Penghulu menatap mereka. “Apa yang harus kujawab untuk kalian . . . ,” katanya datar.

Dengan menyebut kata kalian jelas ada nada menentang dari datuk itu. Hal itu menyebabkan suasana kurang enak diantara yang hadir.

“Yang harus Datuk jawab adalah, kenapa Datuk bertindak sendiri-sendiri. Datuk telah mulai menyerang Jepang sebelum ada perintah. Dan itu mengacaukan rencana yang telah kita susun berbulan-bulan . . ..”

“Saya rasa tak pernah ada larangan atau ketentuan untuk tak melakukan serangan..”

“Secara tertulis memang tidak. Tapi dalam kemiliteran, segala tindakan harus dengan satu komando. Sebagai perwira Intelejen, Datuk telah melanggar ketentuan itu.”

“Apakah saya harus membiarkan anak istri saya diperkosa kemudian dibunuh tanpa membalas?”

“Datuk harus berpikir secara NasionaL Kita berjuang bukan untuk membela kepentingan keluarga atau pribadi. Kita berjuang untuk Negara dan Bangsa.”

“Ya, tuan-tuan bisa berkata begitu karena tuan-tuan belum merasakan apa yang saya rasakan…..” Datuk itu mulai meninggikan suaranya.

“Apakah hanya karena emosi pribadi Datuk bersedia mengorbankan tujuan yang besar?”

“Tuan-tuan harus memisahkan mana yang pribadi, mana yang tujuan bersama. . . .”

“Bukan kami yang harus memisahkan, tapi Datuk”

Suara mereka terputus ketika si Bungsu tiba-tiba tegak. Dia melangkah keluar.

“Bungsu. . .”

Lelaki yang tadi membuka rapat itu memanggil. Si Bungsu membalikkan badan. Dia menunggu orang itu bicara. Tapi karena lelaki itu tak juga bicara, d ia berbalik lagi. Tapi kembali terhenti ketika lelaki itu berkata

“Tunggu.”

“Tuan bicara pada saya?” tanyanya.

“Ya, saya bicara padamu. . . .”

“Nama saya Bungsu. Bukan Tunggu. Ada apa maka saya tuan cegah keluar . . . ?”

“Persoalan ini juga menyangkut diri Saudara. . ..”

“Diri saya?” si Bungsu merasa heran.

“Ya, sepak terjang Saudara merugikan rencana kami…”

“Rencana yang mana?”

“Rencana penyergapan kami terhadap beberapa markas Jepang. . .”

Si Bungsu tersenyum tipis. Kemudian berbalik menghadap tepat-tepat pada keenam lelaki itu. Dan ketika dia bicara, suaranya terdengar mendesis tajam.

“Saya tidak punya sangkut paut dengan rencana tuantuan. Saya tak punya sangkut paut dengan kemerdekaan atau kebebasan yang tuan inginkan. Saya bukan pejuang. Dan saya berhak berbuat sekehendak saya. . .”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s