Tikam Samurai (Bagian 70)

Dia berhenti bicara. Menatap keenam lelaki itu dengan tajam. Sejak mereka mengata-ngatai Datuk Penghulu tadi dia sudah merasa mual. Karenanya dia merasa lebih baik berada di luar ruangan itu daripada mendengar pembicaraan yang menyesakkan dadanya ini. Lelaki yang berbaju kuning berdiri.

“Kau tak bisa berbuat sekehendakmu buyung. Daerah ini daerah perjuangan. Kami telah membaginya dalam sektor-sektor. Tiap sekt or berada dalam satu tangan komando. Dan kau berada di dalam sektorku. Karenanya engkau harus tunduk di bawah perintahku.”

“Baik. Apa perintah Tuan pada saya. . .?.”

“Buat sementara, untuk menghindarkan kekacauan pada rencana induk yang telah disusun, kau serahkan samuraimu. Ini hanya untuk sementara. Sampai saat yang memungkinkan. Harap dimengerti. . .”

Datuk Penghulu sampai tegak mendengar kata-kata ini. Tapi sebelum dia buka suara, si Bungsu telah menyahut,

“Baik. Datanglah kemari, dan ambil sendiri samurai ini….”

Dia mengulurkan tangan kirinya yang memegang samurai. Sikapnya menentang sekali. Semua orang yang ada di sana pada tertegun.

“Ambillah. Tapi untuk tuan mengerti, sebelum tuan, sudah ada lebih dari empat puluh Jepang yang ingin mengambilnya dari saya. Dan saya telah bersumpah, jika ada yang berniat mengambil samurai ini, maka hanya satu di antara dua pilihan. Saya atau orang itu yang mati. Dan selama ini, saya masih bisa bertahan hidup, Barangkali hari ini keadaanjadi lain, silahkan saja Tuan coba mengambilnya. . ..”

Keenam lelaki itu mengerti, ucapan anak muda ini tidak hanya sekedar gertak sambal. Dari beberapa orang, mereka sudah mendengar kehebatan anak muda tersebut. Namun beberapa orang diantara mereka memang belum pernah tahu tentang si Bungsu. Kini mendengar betapa dalam rapat khusus ini ada anak muda yang seperti takabur dan menantang pimpinan gerilya, salah seorang di antara mereka tegak.

“Baik, saya ingin mencoba mengambil samuraimu buyung. Dan jangan menangis kalau dapat merampasnya. . .”

Sehabis berkata ini lelaki itu meninggalkan tempat duduknya. Namun dia di cegat oleh Datuk Penghulu.

“Sabarlah. Sebagai pimpinan saudara harus banyak sabar. Anak muda itu tak bergurau dengan menyebutkan bahwa sudah puluhan Jepang mati di mata samurainya. Kau akan sia-sia merebut samurainya itu. .”

Datuk Penghulu sebenarnya bermaksud baik. Ingin menyabarkan dan menghindarkan pertumpahan darah di antara sesama awak. Tapi larangannya itu justru dianggap sebagai gertak oleh lelaki itu. Dia menyentakkan tangannya yang tengah dipegang oleh Datuk Penghulu. Datuk Penghulu tahu, demikian juga lelaki yang lain dalam ruangan itu, bahwa lelaki yang satu ini cukup berisi. Dia juga seorang guru silat dan guru ilmu batin. Kini dia tegak dua depa di depan si Bungsu.

“Nah buyung, kau serahkan baik-baik samurai celakamu itu atau kurampas dari tanganmu. Mana yang kau pilih. . .?”

Semua yang hadir menatap dengan tegang. Datuk Penghulu sendiri jadi serba salah. Dia menatap saja tepat-tepat pada si Bungsu.

“Saya rasa tak ada salahnya Tuan mengambil samurai celaka ini . .” si Bungsu berkata sambil tanganya bergerak. Suatu gerakan yang alangkah cepatnya. Lelaki itu, dan lelaki-lelaki yang ada dalam ruangan rapat khusus itu, hanya melihat secarik cahaya putih. Muncul dari dalam sarung samurai dan masuk lagi ke sarung samurai itu. Lamanya hanya sekitar empat detik. Ketika terdengar bunyi ‘trak’ maka samurai itu sudah masuk lagi ke sarungnya.

“Ambillah. . .,” kata si Bungsu menyambung ucapannya.

Tapi lelaki itu tegak dengan kaget. Mukanya berobah jadi pucat pasi. Dia memakai baju kemeja. Empat buah kancing baju kemeja itu sudah putus dan jatuh ke lantai. Tidak hanya sampai disitu, persis tentang jantungnya kemeja itu potong dua dari kanan ke kiri dan dua dari kiri ke kanan. Namun tak segorespun kulitnya tersentuh oleh ujung samurai. Demikian cepatnya, demikian telitinya, dan demikian terlatihnya gerakan anak muda itu.

Lelaki itu jadi pucat pasi. Karena kalau saja anak muda itu mau, maka tubuhnya pasti sudah putus beberapa potong. Dia menjilat bibirnya yang serta merta jadi kering. Si Bungsu tersenyum tipis. Wajahnya jadi keras. Matanya berkilat.

“Sudah kukatakan, kita tak punya sangkut paut. Ingatlah itu baik-baik. Saya tak mencampuri urusan perjuangan kalian. Karena itu jangan campuri urusan pribadi saya. . . .” Ujar si Bungsu perlahan. Kemudian dia menoleh pada Datuk Penghulu.

“Saya tunggu Pak Datuk di luar. Saya rasa rapat ini bukan untuk orang seperti saya,”

4 Comments

  1. Yo bana mantap carito di bungsu ko,klu ado nan punyo buku carito tikam samurai ko lengkap amuah wak mambaia mah,atau ado sanak nan tau ndk dima tampaik mambali buku nyo edisi lengkap,tolong lah info nyo untuak saudara2 sadonyo,tarimo kasi banyak sabalumnyo

    • Di pakan baru ado manjua nyo…cubo cari di info jual buku di internet..

  2. Toko buku sari anggrek padang ado tu sanak

  3. Tarimokasi sanak atas informasinyo


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s