Tikam Samurai (Bagian 72)

Dari caranya menggantungkan kedua senjata ini, orang segera dapat menebak, bahwa Kapten ini mahir bermain samurai dengan tangan kiri. Sementara pistol dipergunakan dengan tangan kanan. Hanya saja letak pistol itu terbalik dari umumnya orang-orang yang kidal. Di belakang syo-Sha itu tegak seorang ajudan yang berpangkat Letnan. Mayor itu lalu berseru dengan suara lantang.

“Datuk Penghulu, Datuk Putih NanSati, Sutan Baheramsyah, atas nama Kaisar Tenno Heika, kalian saya perintahkan untuk menyerahkan diri. Kalian kami tangkap dengan tuduhan berkomplot ingin mencuri senjata, meledakkan rumah-rumah perwira, menculik dan membunuh perwira-perwira Jepang. Dokumen kalian telah kami temukan. Kini menyerahlah. . .”

Tak ada sahutan. Rumah itu tiba-tiba jadi sepi. Suara Mayor itu bergema jelas. Bahkan dapat didengar oleh penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah dimana rapat itu sedang berlangsung. Angin bertiup perlahan. Semua menanti dengan tegang.

“Saya hitung sampai sepuluh Jika kalian tak menyerah, kami akan meledakkan rumah ini dengan dinamit. Kalian boleh pilih, menyerah untuk diadili, atau mati berkepingkeping dalam rumah ini….””

Syo sha itu mulai menghitung. Di dalam rumah, Datuk Penghulu dan semua lelaki yang tadi namanya disebutkan oleh Syo Sha tersebut pada tertegak diam. Mereka memang tak membawa senjata apapun. Meski mereka pimpinan gerilya, namun membawa senjata siang hari sangat berbahaya. Tapi mereka tak menyangka sedikitpun akan terperangkap hari ini.

“Pasti ada yang berkhianat.” Datuk Penghulu berkata.

Pejuang yang lain masih terdiam. Hitungan di luar sudah mencapai angka empat. Lelaki yang tadi punah buah bajunya dimakan samurai si Bungsu, perlahanlahan bergerak ke tepi dinding. Dari sebuah lubang kecil dia mengintai. Kemudian menghadap kepada teman-temannya yang memandang kepadanya dengan tegang.

“Semua petugas yang ada di luar sudah diringkus. Ada seorang nampaknya terluka. Kini dia terbaring di atas truk berlumur darah. . . Mana anak muda tadi?”

Tiba-tiba yang buah bajunya putus itu, yang rupanya bernama Datuk Putih Nan Sati yang dipanggil Syo sha tadi bertanya. Sebagai jawabannya dia mengintip lagi dari lubang kecil itu. Matanya coba mengintip ke luar. Menatap apakah di antara petugas yang tertangkap dan kini ditegakkan dekat truk itu ada si Bungsu atau tidak. Letih dia mencari anak muda itu tetap tak kelihatan.

“Dia tidak termasuk di antara yang ditangkap” katanya

“Apakah. . apakah tidak mungkin dia yang memberitahukan pada Jepang bahwa kita rapat disini,” salah seorang bertanya. Mereka saling pandang.

“Tak mungkin. Saya berani mempertaruhkan nyawa saya untuk itu . . .” Datuk Penghulu membantah, lalu mereka sama-sama terdiam.

Di luar hitungan sudah mencapai delapan Akhirnya si lelaki yang berbaju kuning, yang tak lain dari Sutan Baheramsyah yang menjadi pimpinan di antara seluruh mereka yang ada di rumah itu, tegak. Melangkah ke tengah ruangan.

“Apakah mereka memang bermaksud meledakkan kita dengan dinamit ?” tanyanya.

“Saya lihat memang begitu. …..” Datuk Putih Nan Sati yang kembali mengintai dari lobang kecil itu menyahut.

“Nah, kita kali ini kebobolan. Tapi daripada mati percuma, lebih baik menyerah. Saya yakin, dipenjara masih ada kesempatan untuk melarikan diri. Kalau kita menyerah, ada kesempatan bagi teman-teman yang lain untuk membebaskan kita. Mari kita keluar. .”

Sehabis berkata Sutan Baheramsyah melangkah ke depan. Yang lain tak dapat membantah. Sebab hitungan Syo Sha yang di luar sudah menyebutkan angka sepuluh Syo Sha itu sudah akan memberi isyarat untuk membakar sumbu dinamit, ketika pintu rumah itu terbuka. Lalu kelihatan Sutan Baheramsyah, Datuk Penghulu, Datuk Putih Nan Sati melangkah keluar bersama-sama teman-temanya yang lain.

Mereka berhenti dan tegak berjejer di depan rumah itu. Tegak berhadapan dalam jarak sepuluh depa dengan Syo Sha tersebut. Tak sedikitpun di wajah mereka tergambar rasa takut. Mereka menatap kepada Jepang-Jepang itu dengan kepala terangkat dan pandangan yang lurus.

“Silahkan tuan naik ke atas truk. …..” Syo Sha itu berkata. Dari bilik pintu dan jendela penduduk pada mengintip kejadian itu dengan perasaan tegang.

“Kami adalah para perwira. Menurut perjanjian militer kami harus pula diperlakukan seperti perwira ….” Sutan Baheramsyah berkata dengan nada datar.

“Tak ada tanda-tanda kepangkatan yang menandakan tuan seorang perwira, dan kami tak dapat memperlakukan tuan sebagai perwira karena tak ada tanda-tanda tersebut. . . .” Syo sha itu menjawab dengan nada tegas kemudian memberi perintah pada anak buahnya. Keenam lelaki itu digiring dengan bayonet terhunus ke atas truk yang telah menanti. Di atas truk, beberapa orang cepat membantu petugas yang tadi terluka kena tusukan bayonet. Namun dengan terkejut mereka mendapatkan pejuang itu sudah menghembuskan nafas yang terakhir.

“Jahanam. . benar-benar jahannam ..” Datuk Putih Nan Sati memaki.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s