Tikam Samurai (Bagian 75)

Suara si Bungsu bergema. Dia sudah mulai menghitung. Tidak hanya Atto dan prajurit-prajurit Jepang yang banyak itu, Datuk-Datuk yang berada di pihak si Bungsu yang kini tegak dekat Datuk Penghulu, juga merasa ngeri mendengar ancaman anak muda itu. Dan Atto, sebagaimana jamaknya samurai-samurai dari Jepang, merasa harga dirinya di injak-injak mendengar penghinaan anak muda itu. Dia segera memungut samurainya.

Dengan sikap seorang samurai sejati, dia mulai melangkah mendekati anak muda itu. Si Bungsu tegak dengan kaki terpentang selebar bahu. Tegak dengan diam. Menatap tepat-tepat ke mata si Atto. Wajahnya membersitkan rasa benci yang sangat dalam. Terbayang di matanya betapa Atto yang bertubuh kekar ini merenggut pakaian Mei-mei. Kemudian setelah nafsu setannya puas, dia menyuruh anak buahnya untuk meneruskan perbuatannya.

Saat itulah Atto membuka serangan. Sebuah sabetan yang amat cepat. Si Bungsu kaget, khayalannya tengah menerawang ketika serangan itu datang. Tak ampun lagi, bahunya terbabat menganga lebar. Darah menyembur, Datuk Penghulu terpekik. Hampir saja dia menembak Atto dengan pistol di tangannya. Tapi dia segera ingat. Si Bungsu berniat membunuh letnan dengan tangannya sendiri.

Kini dengan bahu kiri luka lebar, darah membanjir, si Bungsu tegak dengan waspada empat depa di depan Atto. Si Bungsu yakin, jika lama dia tegak begini tubuhnya akan jatuh sendiri karena kehabisan darah Maka dia segera memancing agar Atto menyerang. Tubuhnya sempoyongan. Meliuk ke kiri. Ke kanan. Dan saat itu dengan cepat sekali Atto menyerang dengan tiga kali bacokan cepat terarah.

Datuk Penghulu sudah bertekad untuk menembak saja Jepang laknat itu. Tapi maksudnya belum kesampaian, ketika tiba-tiba tubuh si Bungsu jatuh ke tanah di atas lututnya. Dan tahu-tahu sebuah sinar yang amat cepat berkelebat. Pada sabetan yang pertama samurai di tangan Atto seperti dihantam martil besar. Samurainya terpental. Pada bacokan kedua, tangan perwira muda itu putus di atas bahu. Dia memekik. samurai di tangan si Bungsu bekerja lagi. Kedua lutut letnan itu putus.

Tubuhnya tersungkur ke tanah tanpa lengan tanpa kaki. Persis seperti nasib penyamun yang kena babat di penginapan kecil ketika mula-mula dia datang ke kota ini bersama Mei-mei.

Tapi Atto masih beruntung. Dia tak sempat hidup merana tanpa kaki tanpa tangan seperti Datuk Penyamun itu. Karena begitu tubuhnya tergolek di tanah, samurai di tangan si Bungsu bekerja lagi. Dadanya terbelah dua.

Dan kali terakhir kepalanya putus Semua yang hadir di sana memalingkan kepala .Tak sanggup melihat kejadian itu. Si Bungsu benar-benar menjadi amat buas. Dia seperti bukan manusia lagi. Dia seperti sudah menjelma menjadi tukang jagal yang tidak punya perikemanusiaan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s