Tikam Samurai (Bagian 77)

Beberapa orang ditangkap. Jepang tak peduli, bahwa rumah yang dipergunakan untuk rapat itu sebenarnya rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Pemiliknya sudah pindah ke Bandung sejak lima tahun yang lalu. Jepang tak perduli itu. Yang jelas perusuh-perusuh itu rapat di wilayah Birugo Puhun. Tentu penduduk kampung itu merestui pertemuan itu. Maka penghuni lima buah rumah yang berdekatan dengan rumah tempat rapat itu ditangkap.

Diinterogasi di markas besar. Begitu selalu nasib penduduk sipil. Namun bagi penduduk. nasib demikian nampaknya sudah mereka terima dengan tabah. Keganasan suatu rezim justru menimbulkan kebencian pada rezim itu. Tak ada yang bisa dicapai dengan kekerasan. Penduduk justru makin mengharapkan agar pejuang-pejuang itu makin kuat.

Meski dari luar mereka terlihat pasrah menerima nasib atas perlakuan rezim yang menjajah negeri mereka. Sebab, apakah lagi yang bisa mereka perbuat, jika kepada mereka yamg lemah ditodongkan ujung sangkur dan moncong bedil. Apalagi bisa diperbuat selain dari pasrah. Namun, dari dalam tahanan para penduduk tetap berdoa semoga perang segera meletus. Mereka berdoa dan berharap. agar kemerdekaan segera tercipta bagi negara mereka.

Siang itu si Bungsu sedang berada di rumah seorang tabib, untuk mengobati luka di bahunya akibat perkelahian dengan Syo-I Atto di Birugo tempo hari. Saat menunggu tabib meramu obat itulah tiba-tiba saja rumah itu telah dikepung oleh dua puluh tentara Jepang. Dia sudah dianggap demikian berbahayanya. Sehingga Jepang mengerahkan hampir seluruh intelejennya yang ada di Sumatera Barat untuk mencium jejak pelariannya.

Tiga hari sebelumnya, mata-mata mereka mengetahui bahwa si Bungsu bersembunyi di sebuah rumah di kaki gunung Merapi. Diketahui pula bahwa lukanya akan diobati di rumah seorang tabib obat di Koto Baru. Begitulah, saat dia tengah menanti obat diramu, satuan-satuan tentara Jepang yang telah disiapkan segera mengepung tempat tersebut. Dan yang memimpin penangkapan itu tak lain adalah Mayor yang dia suruh berendam ke dalam tebat dalam keadaan telanjang di Birugo dulu. Si Mayor yang telah tegak di depan rumah tabib tersebut terdengar berseru:

“Bungsu, keluarlah. Rumah ini telah dikepung. Kalau kalian tak keluar dalam lima hitungan, rumah ini akan saya ledakkan dengan dinamit”

Dia seperti mengulangi lagi kalimat berbentuk ancaman yang dia ucapkan saat dia dan pasukannya mengepung rumah tempat para pejuang rapat di Birugo Puhun, sepekan yang lalu. Kali ini kemujuran serta nasib baik nampaknya tidak berpihak pada si Bungsu. Luka di dadanya mengalami infeksi. Ramuan obat yang dia ramu saat di Gunung Sago dan selalu dia bawa kemanapun pergi, telah habis.

Ketika dia ingin kembali meramu obat-obatan itu, dia terbentur pada ketiadaan beberapa jenis tumbuhan untuk bahan pembuatnya. Ada empat macam jenis akar, kulit, daun dan bunga kayu yang mengandung bisa dan tiga jenis rerumputan menjalar yang bergetah yang dia pakai sebagai ramuan. Di kaki gunung Merapi, dimana dia bersembunyi, tak semua jenis kayu dan rerumputan itu dia peroleh. Kendati sudah empat lima orang mencarinya selama beberapa hari. Karena lukanya semakin berinfeksi, akhirnya dia menurut ketika disarankan berobat ke seorang tabib di Koto Baru.

Mereka sebelumnya memang telah khawatir bahwa akan diketahui intelijen Jepang. Kini kekhawatiran itu terbukti. Datuk Penghulu yang selalui berada bersama si Bungsu tertegun. Dia menatap pada si tabib. Si Bungsu perlahan duduk dari pembaringannya. Tabhnya amat lemah, wajahnya pucat karen sudah dua hari demam dengan panas amat tinggi. Di luar sana terdengan suara si mayor mulai menghitung. Tabib yang ditatap Datuk Penghulu itu sendiri jadi pucat.

“Saya tidak mengkhinati tuan-tuan. Demi Allah, saya tidak mengkhianati tuan-tuan” ujarnya tabib itu. Datuk Penghulu masih menatapnya. Demikian pula si Bungsu.

“Tidak. Kami tahu bapak tidak mengkhianati kami. Mereka memang telah menyebar ratusan intelejen. . .jangan takut ….” si Bungsu berkata sambil melangkah turun.

Bersama Datuk Penghulu dia membuka pintu tatkala hitungan mencapai empat. Semua tentara Jepang yang mengepung rumah itu mengacungkan bedil mereka. Mayor itu sendiri tegak dengan pistol di tangan. Nampaknya dia tak mau menanggung resiko. Pengalaman di Birugo Puhun dulu menyebabkan dia amat berhati-hati.

“Lemparkan samuraimu Bungsu. Lemparkan ke tanah. Kemudian kalian berdua berjalan kemari dengan tangan ke atas dan bergerak mundur. cepat. . . .”

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s