Tikam Samurai (Bagian 82)

Tapi di wajah Kari Basa hanya tergurat kebencian, dan tangan Letnan itupun bergerak. Sebuah pukulan karate jarak dekat menghajar mulut Kari Basa. Terdengar bunyi tak sedap ketika pukulannya beradu dengan bibir Kari Basa.

“Nah, bicaralah syetan” Letnan itu berkata lagi sambil menegakkan kepala Kari Basa. Dan tiba-tiba…Tuih!!!! Kari Basa meludahi muka Letnan yang berjarak sejengkal di hadapannya itu. Ludahnya bercampur darah dan gigi. Ya, pukulan tidak hanya memecahkan bibirnya. Tapi juga merontokkan empat buah gigi depannya. Letnan itu menyumpah-nyumpah dan muntah kena ludahnya. Dan tiba-tiba dia berbalik.

Menghantam Kari Basa dengan tendangan, pukulan-Tendangan-Pukul Tendang Pukul Lalu terhenti terengah-engah. Tubuh Kari Basa tergantung tak bergerak. Dan mata si Bungsu berkunang-kunang. Tubuhnya basah oleh peluh. Dia jadi malu pada dirinya. Teringat olehnya betapa cepatnya dia menyerah ketika di Koto Baru itu. Kenapa dia turuti perintah Mayor itu untuk menyerah membuang samurai? Kenapa ? Bukankah dia bisa melawan? Secepat itukah dia harus menyerah? Kini lihatlah Kari Basa ini. Tak segeming pun dia beranjak dari pendiriannya.

Dia jadi malu pada dirinya sendiri. Dan dia mengagumi lelaki yang barangkali usianya telah melampaui empat puluh lima ini. Dia t atap tubuh lelaki yang terkulai dalam ikatannya itu. Kelihatannya lemah dan tak berdaya. Tapi di dalam tubuhnya yang kini tak berdaya itu, alangkah besarnya kehormatan yang dia miliki. Alangkah mulia pribadinya. Alangkah banyaknya. pejuang-pejuang lainnya berhutang nyawa padanya. Sekali saja d ia buka mulut, mengatakan salah seorang di antara Gyugun itu ikut dalam gerakkan mereka, bisa dipastikan bahwa Gyugun yang lain akan bisa digulung dan dihukum tembak Si Bungsu berani bertaruh, jarang satu diantara seratus ribu bangsanya yang akan tahan menutup rahasia jika telah disiksa seperti Kari Basa ini. Kini dia melihat betapa teguhnya lelaki tua ini memegang rahasia. Betapa teguhnya. Tak tergoyahkan oleh pukulan kayu. Tak tercabikkan meski oleh cabutan kuku. Dan tak beranjak meski bibir dan giginya rontok.

“Hari sudah pagi. Mari kita tinggalkan dia …..” letnan itu berkata. Mereka bersiap untuk pergi. Letnan itu berhenti, kemudian menoleh pada si Bungsu.

“Beberapa saat lagi giliranmu Bungsu. Engkau telah banyak menimbulkan korban diantara balatentara Tenno Heika. Apa yang akan kau terima jauh lebih nikmat daripada yang diterima Kari Basa. Nah, bersiaplah menjelang kami datang. . . he . .he. . .he”

Dan Kempetai itu kembali lenyap di balik pintu kayu betulang besi dan berbingkai beton diujung kamar tersebut. Tinggallah kini si Bungsu dan Kari Basa Sunyi cahaya lampu listrik yang menggantung tinggi di langit-langit terowongan bersinar suram. Menerangi kamar tahanan mereka yang berukuran empat kali meter tersebut. Si Bungsu meneliti ruangan itu. Meneliti kalau-kalau dia bisa menyelamatkan diri. Ya, inilah saatnya untuk berusaha lepas. Sementara Kempetai-kempetai keparat itu pergi. Kalau saja dia lepas, dan di dinding sana ada dua bilah samurai, oh alangkah akan jahanamnya Jepang-Jepang itu dia perbuat. Dan matanya meneliti.

Kamar itu sengaja dibuat untuk kamar penyiksaan tawanan itu terlihat dari gelang-gelang perantai kaki dan perantai tangan yang tersebar di lantai dan di langit-langit. Kemudian perkakas penyiksaan. Bau ruangan ini juga pengap. amis. Tak syak lagi, disini telah cukup banyak darah tertumpah. Telah cukup banyak nyawa direnggutkan. Kini bagaimana dia harus membebaskan diri ? Dia tengok tangannya. Keduanya terantai ke atas.

Dia coba merenggut rantai itu. Tapi terlalu kukuh. Nampaknya rantai itu ditanamkan dan dicor dengan semen ke loteng Goa yang terbuat dari batu itu. Tangannya tak mungkin lepas. Kecuali kalau dipotong sebatas pergelangan. Dia mau saja memotongnya sebatas pergelangan asal bebas. Tapi tanpa jari-jemari, apakah artinya lagi? Dan kalau dia ingin bebas, dia harus memotong kedua pergelangan tangannya. Lantas dengan apa lagi dia harus membalas ? Dia teringat pada bayangan tatkala Datuk Penghulu akan rubuh. Ya, dia ingat kini. Ekspresi dan sinar mata orang tua itu seakanakan berkata :

“Jaga dirimu baik-baik nak. Tetaplah bertahan untuk hidup.Jangan menyerah pada penjajah. Tuhan bersamamu. . .”

3 Comments

  1. Mana sambunganya Uda…baa ndak di download

  2. kenapa tak ada cerita yg selesai

  3. harapan saya sih bisa liat semua nya dari tikam samurai koleksi anda klo sampai segini mah masih jauh……tapi terima kasih salam makmur”s fans


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s