Teh Kerinci Vs Kopi Luwak

Cerita ini berawal ketika kami mendaki Gunung Tujuh di Kerinci sekitar pertengahan tahun 2003. Menjelang memasuki kembali gerbang pendakian ketika kami menyelesaikan pendakian, kami melihat sekumpulan gajah yang sedang merumput. Ternyata gajah-gajah tersebut adalah gajah penangkaran. Dengan rasa penasaran yang cukup tinggi kami mendekati gajah-gajah tersebut, maklum ini adalah pengalaman pertama saya melihat gajah langsung di habitatnya. Setelah memuaskan keingintahuan kami, kami beranjak pulang untuk melepaskan lelah. Baru beberapa langkah dari tempat gajah tadi merumput kami melihat setumpukan benda “aneh”, ternyata benda tersebut adalah tahi gajah. Ketika saya dekati ternyata tahi tersebut masih “hangat”, mungkin belum beberapa menit yang lalu ditumpahkan oleh empunyanya. Tahi gajah tersebut berbentuk seperti onggokan jerami  yang dihaluskan. Tanpa pikir panjang, saya mengambil kantong kresek dan sesaat setelah itu tahi tersebut telah ada dalam ranselku. Teman-teman yang lain melihatku dengan keheran-heranan, tapi tak satupun yang protes saya membawa tahi tersebut pulang.

Sesampai dirumah dan setelah melepas lelah, oleh-oleh yang kubawa dari Kerinci kembali kulihat. Setelah dikeluarkan dari kantong kresek, tahi gajah tersebut sudah semakin lembek dan baunya sangat menyengat. Untuk menghilangkan bau, tahi tersebut kujemur sampai kering sekitar satu hari. Setelah kering ternyata bentuk tahi gajah tersebut berubah seperti teh, warnanyapun kehitam-hitaman. Sesaat tahi gajah itu kurubah namanya menjadi Teh Kerinci. Pikiran jahilku langsung bekerja dan tak berapa lama aku telah menyiapkan bahan-bahan penunjang untuk mempercantik penampilan teh kerinci ini. Saya menyiapkan beberapa helai daun jeruk purut, buah selasih dan beberapa rempah-rempah lainnya. Dikotaku ada obat tradisional untuk mengobati panas dalam yang disebut “Sampayang” yang salah satu bahan bakunya terdiri dari tempayang. Teh Kerinci ini kebentuk juga mirip dengan sampayang dengan tambahan rempah-rempah yang telah kusiapkan sebelumnya. Tak berapa lama jadilah teh kerinciku sebanyak 20 kantong dan siap untuk diuji.

Teh kerinci ku telah jadi, dan telah kutawarkan ke beberapa teman. Diantaranya adalah penjaga kafe kampus dan seorang dosen yang berminat. Hanya beberapa saat teh kerinci tersebut ludes dan selanjutnya kita tungu hasilnya.

Keesokan harinya kutanyakan manfaat teh kerinci ini kepada orang-orang yang telah mengkomsumsinya. Hampir semua berpendapat bahwa teh kerinci tersebut memang ampuh. Malahan ada yang bilang panas dalamya hilang setelah mengkomsumsi teh kerinci tersebut. Dengan perasaan heran, takjub dan lain sebagainya, kepada salah seorang konsumen keberitahu rahasia teh kerinci ini. Seketika itu juga konsumen tersebut muntah-muntah.

Begitulah sedikit cerita yang masih kuingat mengenai teh kerinci buatanku. Lalu apa hubungannya dengan kopi luwak. Mungkin secara langsung tak ada hubungannya, tapi yang pasti esensi teh kerinci dan kopi luwak ini sama-sama berasal dari tahi hewan. Selanjutnya seandainya anda tahu proses pembuatan kopi luwak secara utuh, maka apakah anda yang telah mengkonsumsi kopi luwak akan berprilaku sama dengan konsumen teh kerinci yang keberitahu rahasia pembuatannya tersebut?…

3 Comments

  1. masih ada ndak kopi kerincinya, da? saya mau juga tuh. namun saya lebih mau dengan si bungsu tuh. dah lama ndak dimunculkan. kenapa ya?

    • teh kerinci cuma tinggal cerita. si bungsu, masih keterbasan sumber. belum dapat kelanjutannya.

  2. Tolong di sambuang carito tikam samurai nyo ka bagian 86 dan sataruih nyo.tarimo kasiah.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s