Parang Pariaman (bagian 4)

Letnan itu mulai memperlihatkan watak penjajah aslinya. Dia tertawa. Mula-mula hanya tertawa bergumam. Kemudian mulai terkekeh. Dan tiba-tiba dengan sebuah teriakan panjang, dia memacu kudanya. Kuda itu melejit ke depan. Menerjang keenam lelaki murid perguruan Sunua itu.
Dan sepuluh orang diantara anak buahnya masuk pula dengan suara gemuruh. Keenam murid perguruan itu hanya memerlukan sedikit gerakan untuk menghindar dari kuda-kuda yang melejit di depan mereka. Pasukan berkuda Inggeris yang sepuluh lagi tetap berada di luar dinding perguruan itu. Duduk di atas punggung kudanya dengan bedil terhunus. Menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tak dingini.
Dan penduduk yang berada di luar areal perguruan itu menatap dan menanti perkembangan dari kejauhan dengan diam. Kesebelas pasukan berkuda Inggeris itu segera berada dalam areal perguruan. Dan mereka segera terhenti. Di dalam areal itu, ada sekitar tiga puluh orang, lelaki dan perempuan, yang tengah berlatih silat.
Ada yang latihan tangan kosong. Ada yang latihan mempergunakan keris, tombak dan panah. Semua mereka terhenti berlatih. Letnan Inggeris itu menatap mereka dengan diam. Kemudian menjalankan kudanya ke arah sebuah rumah sederhana tak jauh dari tempat latihan itu.
“Ada pimpinan kalian di sini?” kembali dia bertanya.
“Kalau yang tuan maksudkan Anduang Ijuak, dia tak ada di sini.”
Sebuah suara memecah dari antara orang banyak yang berhenti latihan itu.
Letnan itu…

Perguruan itu kini sepi. Tak seorangpun yang bergerak dari tempatnya. Beberapa orang di antara mereka melirik pada plakat yang tadi ditempelkan di dinding rumah Anduang Ijuak. Mereka hanya melirik dari kejauhan. Tak seorangpun yang berminat untuk mendekat mem bacanya. Sebab bagi mereka sudah jelas maksud plakat itu.
“Asyar….” salah seorang di antara mereka bergumam perlahan.
Yang lain seperti diingatkan pada waktu solat yang telah tiba. Mereka segera bersibak. Lelaki pergi ke barak lelaki, yang perempuan kembali ke baraknya pula. Barak mereka dipisahkan oleh pagar. Hanya waktu berlatih saja mereka bergabung di sasaran ini. Sebuah sasaran lebar berlantai pasir putih di bawah batang-batang kelapa dan pohon asam jawa.
Mereka mengambil udhuk. Kemudian sembahyang berjamaah. Dan saat itulah, lelaki yang bernama Anduang Ijuak itu memasuki perguruannya.
Lelaki ini berambut kasar dan lurus. Berkumis tebal kasar. Tak diketahui dengan pasti apakah karena rambut dan kumisnya yang kasar seperti ijuk itu makanya dia dinamakan Anduang Ijuak. Dan dia segera melihat plakat yang ditempelkan di dinding rumahnya.
Ketika berada di Ulakan tadi, hatinya memang sudah berdetak bahwa ada apa-apa di perguruannya ini. Mereka, para pimpinan dalam perguruan Ulakan dan Sunua yang berada di bawah pimpinan Syekh Malik Muhammad, yaitu murid kesekian di bawah Syekh Burhanuddin yang telah almarhum itu, memang sudah dua kali mendapat peringatan dari Inggeris untuk menghentikan latihan silat.

“Tuan-tuan boleh melanjutkan perguruan agama tuan-tuan di Ulakan. Tapi tidak perguruan silat di Sunua.” Begitu dua kali peringatan yang pernah disampaikan Kapten Calaghan pada Syekh Malik Muhammad tiga bulan yang lalu. Mereka mengetahui dengan pasti apa alasan larangan itu.
Mereka memang melatih silat untuk menghimpun kekuatan. Ada dua maksud utama yang ingin mereka capai dengan latihan silat itu. Pertama mereka akan menghimpun tenaga untuk mengusir penjajah dari Minangkabau. Untuk itu dibutuhkan ilmu perang dan ilmu beladiri.
Kedua, mereka memang tak mudah menyebarkan Agama Islam di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan berbagai perbuatan maksiat. Makanya mereka lalu mempersiapkan diri dengan ilmu silat.
Ada beberapa tingkat pelajaran yang harus dilalui oleh murid-murid perguruan di Ulakan. Pada tingkat pertama mereka harus menuntut ilmu agama. Setelah mencapai tingkat tertentu, baru masuk ke Sunua untuk belajar dasar-dasar silat.
Kemudian kembali ke Ulakan untuk memperdalam agama. Dan kembali lagi ke Sunua untuk memasuki taraf lebih lanjut dari silat. Jika lolos, maka kembali lagi ke Ulakan. Di sini mereka belajar Tarikat. Dan jika lulus dari sini, untuk kali ketiga kembali lagi ke Sunua menjadi murid-murid senior yang diberi pelajaran silat Ulu Ambek yang terkenal itu.
Sejenis silat yang mempergunakan tenaga batin. Silat yang tak memerlukan saling bersentuhan fisik untuk membunuh.

Mulai dari Portugis, Belanda dan kini Inggeris, mencium bahaya yang tersimpan di balik perguruan ini. Jika dibiarkan orang-orang ini bisa menjadi pasukan yang tangguh. Dan itu sudah pasti berbahaya bagi yang menjajah.
Dalam sejarah, perguruan ini sejak seratus tahun terakhir memang menjadi pusat pergerakan menentang kaum penjajah. Itulah sebabnya Inggeris melarang mereka melanjutkan latihannya.
Anduang Ijuak masih tertegak di luar rumahnya. Membaca maklumat yang ditempelkan oleh tentara Inggeris tadi. Kemudian dia menoleh ke lapangan pasir di bawah pohon kelapa dan pohon asam di mana murid-muridnya selama ini berlatih.
Ada jejak telapak kuda mencekam pasir lembut itu. Dia segera tahu, pasukan berkuda itu telah menerobos kemari. Dan dia bersyukur, murid-muridnya dapat menahan emosi untuk tidak melibatkan diri dalam perkelahian dengan pasukan itu. Sebab dalam perundingannya dengan Syekh Malik Muhammmad, pimpinan tertinggi perguruan Ulakan dan Sunua saat itu, didapat kesimpulan bahwa mereka belum saatnya untuk mulai menyerang Inggeris.
Belum saatnya, karena mereka belum terkoordinir. Kekalahan yang dialami ketika berperang dengan Belanda beberapa tahun dahulu masih berbekas. Banyak anggota dan pendekar-pendekar Ulakan yang gugur.
Mereka, pimpinan perguruan di Ulakan dan Sunua itu, juga telah menghubungi seorang lelaki yang tinggal di kampung kecil bernama Ambun Pagi di Puncak Lawang. Sebuah kampung yasng berada di pucuk bukit terjal yang mengelilingi danau Maninjau.

Dari tempat tinggalnya, juga dari sawah dan ladangnya, pemandangan ke danau Maninjau luar biasa indahnya. Amat luar biasa indah. Pagi maupun sore, kabut dan embun seperti mengapung di desa berudara sejuk itu. Dari celah-celah embun dan kabut itu danau Maninjau kelihatan seperti beludru. Kicau burung dan elang seperti suara salung dan bansi. Di tebing-tebing kelok terjal menuju Maninjau kelihatan pucuk-pucuk cengkeh seperti permadani ke merah-merahan.
Mereka datang kerumah lelaki muda yang memiliki isteri amat cantik itu bersama Syekh Malik Muhammad, Anduang Ijuak dan dua orang pemuka Pariaman Lainnya. Saat merke datang kedua suami isteri itu tengah menanam jagung tak jauh dari rumahnya. Mereka berhenti bekerja begitu melihat ada serombongan orang menunggang kuda yang datang.
“Assalamualaikum…..” Syekh Malik Muhammad membuka perjumpaan itu, sesaat setelah mereka menambatlan kudanya di depan rumah.
“Waalaikum salam…” jawab lelaki muda tersebut sambil meletakkan tajaknya.
Lelaki muda itu agak terkejut melihat kehadiran orang-orang perguruan Ulakan dan Sunua ini. Dia sudah akan melangkah dan menyilahkan tamunya ke rumah, tapi Syekh Malik Muhammad mencegahnya.
“Tak usah merepotkan anda. Kami ingin bertemu sebentar saja….”
“Ya, tapi mari naik…..” kata lelaki muda itu.
“Apakah tuan keberatan kita bicara di bawah pohon itu?” Syekh itu menunjuk ke pohon jambu yang rindang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s