Parang Pariaman (bagian 5)

Syekh itu terdiam. Yang lain juga terdiam. Lelaki muda yang sejak tadi terus memperhatikan si Syekh, kini melemparkan pandangannya ke danau jauh di bawah sana. Kemudian dia menunduk. Keheningannya itu dipecahkan oleh kehadiran isteri petani itu. Dia datang membawa air kelapa muda dalam gelas dari alumanium.
“Aha, ini air kelapa muda. Mari silahkan bapak-bapak minum…..” kata lelaki muda itu sambil menolong isterinya membagi-bagikan gelas alumanium tersebut.
“Sekali lagi, mafkan kami mengganngu ketenanganmu nak….” Syekh Malik Muhammad bicara lagi pada isteri lelaki tersebut.
Perempuan cantik itu tersenyum. Setelah gelas itu dia bagikan, dia mengundurkan dirinya ke rumah. Mereka lalu meneguk minuman itu. Kemudian sama-sama terdiam.
“Bagaimana….?” Syekh itu kembali bertanya.
Anak muda itu menarik nafas panjang. Kemudian berkata perlahan :
“Saya benar-benar merasa malu hati atas perhatian tuan Syekh dan tuan-tuan pimpinan Ulakan dan Sunua. Saya tak tahu apa yang harus saya sumbangkan untuk maksud sebesar itu. Saya khawatir saya akan membuat kecewa tuanku Syekh, maafkan saya.”
Dia berhenti. Syekh itu dan teman-temannya terdiam.
“Maafkan jika penilaian saya salah. Setahu saya, di manapun saat ini, apakah di Pariaman atau di Tiku, apakah di Inderapuro atau di Bukittinggi, apakah di Padang Panjang atau di Batusangkar, belum satupun yang tepat saatnya untuk memulai perlawanan kepada Inggeris.

Di Pariaman ini saja misalnya, saya tak sangsi atas ketinggian ilmu perguruan yang tuan Syekh pimpin. Tapi dengan perguruan Syekh saja, tanpa mengikut sertakan perguruan dan rakyat lainnya, perjuangan itu hanya berupa bunuh diri.

Nah, di Pariaman, maafkan saya, saya dengar antara perguruan silat yang satu dengan perguruan silat yang lain terjadi pertentangan-pertentangan yang tajam. Saya justru khawatir, di saat satu pihak menyerang Inggeris, maka pihak lain akan menikam dari belakang. Jumlah seratus pasukan berkuda yang dimiliki Inggeris adalah jumlah yang besar. Besar selain karena mereka memiliki bedil yang tak satupun kita miliki, mereka juga pasukan yang sudah terlatih dari banyak perang di Eropah. Begitu yang saya dengar….”
Syekh itu menarik nafas panjang.
“Memang begitulah yang sebenarnya anak muda. Saya juga sependapat denganmu. Bahwa tanpa mengikutsertakan seluruh lapisan rakyat untuk berjuang, maka perjuangan itu sama dengan bunuh diri. Apa-lagi Inggeris memakai senjata api sesuatu yang sulit kita hadapi. Saya memang sudah menduga, bahwa engkau akan menolak…..”
“Tapi…..” “Saya mengerti maksudmu, kami datang hanya untuk menghilangkan was-was. Inggeris memang terlalu kuat saat ini. Pendapatmu sekaligus berguna bagi kami sebagai saran. Kami akan coba menghimpun sebanyak mungkin tenaga. Dan jika saatnya tiba, saya harap engkau bersedia membantu….”
“Jika saatnya tiba, adalah kewajiban saya sebagai anak Minang untuk berjuang mengusir penjajah. Dengan tulang delapan kerat, saya akan menggabungkan diri dengan Tuan Syekh…”, anak muda itu berkata pasti.

Syekh Malik Muhammad berdiri. Diikuti oleh ketiga rekannya. Dia mengulurkan tangan. Menyalami lelaki muda itu. “Giring-giring Perak. Nama besarmu akan menambah semangat kami. Saya bahagia dapat bertemu dengan tuan….” kata Syekh itu. Petani itu, yang memang si Giring-giring Perak, tersenyum tipis.
“Saya mendapat kehormatan yang besar sekali atas kunjugan tuan Syekh dan para pemimpin perguruan Ulakan ini. Maafkan kami tak dapat menyambut dengan cara yang layak…..”
“Sampaikan pada Siti Nilam, isterimu yang bahagia itu, bahwa kami tak sempat minta diri. Kami bergegas benar…”
Keempat pimpinan perguruan Ulakan itupun menaiki kudanya. Dlam waktu yang singkat ke empatnya lenyap dibalik tikungan.
Giring-giring Perak arif bahwa keempat lelaki yang barusan berkunjung ke rumahnya ini adalah ulama-ulama yang berilmu tinggi. Baik ilmu agamanya, maupun ilmu silat dan ilmu bathinnya. Dan sebentar ini, mereka mempergunakan ilmu “Siringan-ringan” untuk mempercepat jalan mereka. Itulah kenapa dalam waktu yang singkat, mereka telah hilang dari pandangannya.
“Mereka telah pergi….?” tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara isterinya.
Dia menoleh, Siti Nilam kelihatan turun dari tangga rumahnya menuju ke bawah batang jambu di mana dia tegak membawa baki. Dia memperhatikan isterinya. Perempuan cantik itu tetap saja cantik meski dalam pakaian yang amat sederhana.
“Mereka sudah pergi…..?”, kembali perempuan cantik itu bertanya.

Dan suaminya seperti terjaga dari sebuah lamunan. “Ya, mereka telah pergi……”, katanya perlahan. “Mengajak berperang?”
Giring-giring Perak tertegun. Dia tatap isterinya. “Engkau tahu?”  Siti Nilam tersenyum.
“Bagaimana saya takkan tahu, kalau melihat orang-orang yang datang adalah para pendekar, dan kedatangan mereka nampaknya amat rahasia? Lagi pula, setiap isteri, pasti dapat merasakan apa yang tengah dipikirkan suaminya….Mereka adalah pimpinan perguruan Ulakan, bukan?”
“Ya, mereka pimpinan Ulakan. Engkau cukup arif dan berpengamatan tajam, Nilam….Dan mereka memang mengajak untuk bersatu melawan Inggeris….” “Inggeris?”

“Ya, melawan Inggeris. Mereka merasa sudah tiba waktunya untuk berbuat demikian……”
“Melawan Inggeris yang punya lebih dari delapan puluh pasukan berkuda?”
“Tepatnya sekitar seratus pasukan berkuda….”
“Dan lengkap dengan senjata api”.
“Ya. Lengkap dengan senjata api”.
“Apakah itu mungkin?”
“Penyerangan itu bisa saja mungkin….”
“Ya. Serangannya pasti mungkin. Tapi bagaimana dengan hasilnya?”
“Itulah yang saya lihat tak mungkin. Tak mungkin untuk menang…….”
Siti Nilam menarik nafas panjang. Dia duduk di depan suaminya. Dia adalah wanita yang selain amat mencintai suaminya, juga amat mengaguminya.
“Lalu bagaimana putusan uda tadi?”
“Saya rasa belum saatnya saya untuk ikut. Karenanya saya kembalikan saja persoalan itu pada mereka. Saya janjikan bahwa saya akan ikut kalau telah tersusun kekuatan dari berbagai lapisan penduduk Pariaman.”
—o0o—
Anduang Ijuak, salah seorang pimpinan Ulakan yang datang ke rumah si Giring-giring Perak itu bersama Syekh Malik Muhammad, kini tertegak di depan rumahnya dalam komplek perguruan Silat Sunua yang dia pimpin.
Melihat plakat yang ditempelkan oleh pasukan Inggeris ketika dia tengah mengadakan pertemuan di Ulakan. Dia menghela nafas. Kemudian berbalik akan melangkah ke rumah. Namun langkahnya terhenti. Dia menatap keliling. Dan di sekelilingnya, telah berdiri murid-muridnya yang lelaki. Tegak dengan diam. Mereka membentuk setengah ligkaran. Jumlah mereka sekitar 20 orang.
“Jumlah kita terlalu sedikit dibanding dengan pasukan Inggeris….” masih terngiang olehnya ucapan si Giring-giring Perak tiga hari yang lalu ketika mereka datang ke rumah anak muda itu.
Dan kini dia tatap murid-murid persilatan Sunua yang dia pimpin itu. Hanya sekitar 20 orang. Berdatangan dari berbagai daerah. Mulai dari Luhak Nan Tigo, yaitu Tanah Datar, Agam dan 50 Kota. Sampai dari Riau dan jambi. Bahkan ada yang datang dari Aceh.
Hanya dua puluh. Dan dari jumlah itu, hanya empat atau lima orang saja yang memiliki silat Ulu Ambek. Silat yang paling atas dalam perguruan mereka. Selebihnya hanyalah silat Jantan dan Betina. Ya, kita terlalu sedikit, kata guru Gadang ini dalam hatinya sambil menarik nafas panjang.

“Anduang……” salah seorang muridnya buka suara. Anduang Ijuak mengangkat kepala. Meski hatinya gundah namun dia tersenyum.
“Kalian sudah sholat?” “Sudah, Anduang” kata mereka serentak. “Syukurlah….” “Ada yang akan kami sampaikan pada Anduang” “Apakah saya kalian izinkan sembahyang dahulu? Saya belum sholat Asyar….”
“Maafkan kami. Silahkan Anduang sholat….”
Anduang Ijuak, lelaki bertubuh kekar dengan rambut kasar dan kulit berwarna hitam itu, tersenyum. Secara keseluruhan lelaki ini adalah orang perkasa. Dengan tubuhnya yang besar itu, dia patut untuk ditakuti.
Namun siapapun yang melihat wajahnya, takkan ada kesan menyeramkan dari wajahnya. Wajahnya bersih. Selalu tersenyum lembut.
Dia melangkah menuju langgar kecil dalam pekarangan sasaran Sunua itu. Dia memang berusaha untuk tak segera berdiskusi dengan murid-muridnya ini. Bukan rahasia lagi baginya, para murid ini ingin segera menyerang Loji Inggeris di Pariaman dan Tiku. Dan bukan jadi rahasia pula, bahwa sejak lama ada permusuhan antara perguruannya di Sunua ini dengan perguruan silat Harimau Kumbang di Pariaman.
Perkumpulan silat Harimau Kumbang itu mempunyai murid lebih dari 30 orang. Bermacam-macam golongan kumpul di sana. Ada penghulu, ada ninik mamak, ada pemuda, ada nelayan, ada perampok. Ada yang Islam, ada yang tidak.

Dan bukannya rahasia lagi, perguruan itu selalu menimbulkan huru-hara di daerah Tiku sampai ke Pariaman. Pimpinan perguruan itu adalah seorang lelaki gemuk, tinggi besar dan selalu memakai gelang akar bahar di lengannya, bernama Uwak Sanga.
Dia dinamakan Uwak Sanga karena memang tak ada soal yang beres baginya. Setiap soal, jika dihadapkan padanya ujungnya pasti tak beres. Dan ujung ketidakberesan itu adalah bicaranya kaki dan tangannya.
Sikapnya yang kasar dan mudah naik darah, membuat orang menggelarinya Uwak Sanga. Dan meski demikian dia cukup ditakuti. Baik oleh kawan maupun lawan. Dan terus terang saja perguruan Syekh Burhanuddin yang kini dipimpin oleh Syekh Malik Muhammad merasa “segan” pada Uwak ini.
Uwak itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Kabarnya dia pernah menuntut di Pagaruyung dan ke Aceh. Ilmu silatnya mirip ilmu silat harimau di darat sana. Tak diketahui dengan pasti, apakah karena itu makanya perguruannya di namakan dengan Harimau Kumbang.
Uwak ini beragama islam. Itu pasti. Sebab tak seorangpun di antara murid-murid yang pernah belajar ke Aceh yang tak beragama Islam. Namun, sudah puluhan tahun lamanya Uwak itu tak kelihatan sembahyang. Dan dia membiarkan pula murid-muridnya berjudi, menyabung, mabuk-mabuk dan menodai anak isteri orang.
Sejak lama, perguruan itu saling intai mengintai langkah dengan perguruan Ulakan. Pihak Ulakan tak pernah mau memulai pertikaian. Sebab mereka memang dididik dengan aturan-aturan agama yang keras.

Sementara perguruan Harimau Kumbang juga tak berani secara terang-terangan memusuhi perguruan Ulakan. Kendati demikian, perkelahian antara murid-murid Ulakan dengan murid-murid Harimau Kumbang sudah beberapa kali terjadi.

Meski tidak sempat melibatkan perguruan secara menyeluruh, namun sudah ada tanda-tanda bakal terjadinya “kebakaran” antara kedua perguruan tersebut. Pihak Harimau Kumbang juga menaruh segan pada Ulakan. Bukan rahasia lagi, bahwa perguruan itu memiliki pendekar-pendekar aliran Ulu Ambek yang tangguh.
Bagi pihak Ulakan sendiri, ada hal yang membuat mereka menaruh perasaan tak sedap pada perguruan Harimau Kumbang. Perguruan yang dipimpin Uwak Sanga itu diketahui sangat rapat dengan Inggeris. Dulu dia rapat dengan Belanda. Kini ketika Inggeris menggantikan Belanda, dia rapat dengan Inggeris. Itulah soalnya.
Dan esoknya, Anduang Ijuak memang datang ke Loji Ingeris yang terletak dekat lapangan lebar di pusat kota. Dia datang ke sana setelah bermufakat dengan Syekh Malik Muhammad di Ulakan.
Datang bersama seorang wakilnya bernama Sidi Marhaban. Kedatangannya disambut oleh Letnan yang kemaren datang memimpin pasukan berkuda ke sasarannya.
“Aha….akhirnya tuan datang Anduang Ijuak! Mari, silahkan masuk…..” ujar letnan itu meramah-ramahkan diri. Tapi Anduang Ijuak tak beranjak dari tempatnya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s