Parang Pariaman (bagian 7)

“Kapiten, saya datang kemari sebagai orang undangan. Saya disuruh menghadap untuk berunding! Beginikah cara orang Inggeris berunding?” suaranya terdengar dingin penuh ancaman. Kapten itu tak segera menjawab. Dia menoleh pada anak buahnya.
“Siapa yang melihat apa yang telah terjadi……?” katanya.
Seorang sersan maju.
“Letnan Sammy melarang orang yang mati itu untuk masuk ke kamarnya. Cukup hanya orang ini……” katanya sambil menunjuk pada Anduang Ijuak, “tapi orang itu mendesak terus, malah ketika dilarang, dia justru memulai menyerang Letnan Sammy. Untuk membela diri, Letnan menembak orang itu. Ya, hanya untuk membela diri, Kapiten! Tapi ternyata itupun terlambat. Dia tela kena hantam duluan. Mereka sama-sama mati!”
Dialog ini dilakukan dalam bahasa Inggeris. Karenanya Anduang Ijuak tak mengerti sedikitpun. Kapten itu menatap pada Anduang Ijuak.
“Lalu, orang ini mengapa saja?” tanyanya sambil memberi isyarat pada Anduang Ijuak. Sersan tadi menjawab lagi dalam bahasa Inggeris.
“Dia….dia, dia hanya berdiri saja Kapiten….”
“Berdiri saja?”
“Ya. Begitu yang saya lihat, Kapiten”
“Kamu harus melihat bahwa orang ini ikut menyerang Letnan Sammy. Mengerti!!”
“Yes, sir!”
Anduang Ijuak yang tak mengerti bahasa itu, hanya tegak menanti. Namun firasatnya mengatakan bahwa orang ini tengah mengatur siasat untuk menjebaknya.

Dia telah mempelajari situasi. Kamar itu telah penuh sesak oleh tentara Inggeris. Satu-satunya yang lowong adalah jendela dekat tubuh Letnan itu. Tapi jendela itu juga tidak menghubungkannya dengan dunia luar. Jendela itu keluar ke pekarangan dalam Loji itu sendiri.
Baragkali dia bisa melarikan diri. Memukul mati seorang atau dua orang dalam ruangan ini. Tapi itu, jelas bahaya besar bagi peguruannya. Perguruannya tengah menghimpun tenaga.
Tenaga setiap orang sangat dibutuhkan. Kini Sidi Marhaban, salah seorang senior di perguruannya telah mati, berarti tenaga sudah berkurang. Kalau dia juga mati, maka tenaga makin berkurang.
Kalau dia meneruskan untuk menghantam orang-orang Inggeris ini, maka efeknya adalah ditangkapinya murid-murid Sunua. Itu jelas akan mematikan perguruan itu. Daripada murid-muridnya ditangkapi, lebih baik dialah yang memikul resiko itu. Demikian Anduang ini mengambil kesimpulan.
Kalau dia harus juga ditahan, maka pimpinan perguruan di Ulakan masih bisa berusaha terus. Dengan harapan demikian dia tetap saja berdiri mendengarkan jebakan yang diatur untuk dirinya dalam bahasa yang tak dia mengerti.
“Tuan, tuan terpaksa saya tangkap. Tuan dan teman tuan ini telah menyerang perwira saya. Menyerang dan membunuhnya,” ujar Kapten itu berkata tegas pada Anduang Ijuak.

Anduang itu menatap si Kapten dengan mata yang disipitkan. Sesaat, hatinya berkata lagi, kalau kubunuh kafir yang satu ini, apakah mereka bisa ditaklukkan semua? Tapi dia kurang yakin.
Sekali tiga hari selalu ada patroli berkuda dengan kekuatan lima puluh orang yang datang dari markas besar Inggeris di Padang.
Kemudian sekali sebulan, ada kapal perangnya berlabuh di laut Pariaman. Barangkali esok atau lusa kapal itu akan berlabuh. Dan biasanya, kapal itu membawa serta dua ratus pasukan angkatan laut. Inilah yang membuat Anduang Ijuak dan pimpinan Ulakan lainnya berpikir masak-masak betul sebelum bertindak.
Dengan pikiran itu pula Anduang ini mengurungkan niatnya untuk membunuh Kapten tersebut.
“Tangkap dan masukkan dia ke penjara. Menjelang dikirim ke Padang untuk diadili!!” perintah Kapten itu menggema.
“Sebentar Kapten…..,” Anduang Ijuak berkata.
Tentara yang mendekatinya dengan borgol di tangan menghentikan langkahnya. Kapten Calaghan menatap sambil mengacungkan pistol.
“Saya harap tuan menyerahkan jenazah teman saya ini ke perguruan kami……”
“Saya akan menyuruh orang ke sana dan menyuruh murid tuan untuk mengambil mayat ini ke mari”.
Sejanak Anduang Ijuak menatap Kapten itu. Ingin sekali dia meremukkan kepala jahanam itu. Namun perbuatan itu pasti takkan menyelesaikan masalah. Patroli Inggeris yang datang dengan pasukan berkuda dan singgahnya kapal perang mereka di perairan ini, menyebabkan dia harus berpikiran panjang.

“Saya harap tuan menepati janji tuan, kapiten. Saya tak ingin mayat ini teraniaya….”. “Tuan mengancam saya?”. “Tidak, tapi tuan telah berjanji”. “Bawa dia ke sel bawah tanah!”
Dan guru persilatan Sunua itupun diborgol di tangannya. Kemudian dengan menempuh jalan berbelit, dia dibawa ke sebuah kurungan bawah tanah. Kurungan khusus untuk orang yang berbahaya.
Bunyi pintu besi yang telah berkarat terdengar menegakkan bulu roma ketika pintu tahanan itu dibuka. Beberapa ekor tikus berlompatan keluar tatkala Anduang itu didorong dengan kasar ke dalam.
Kemudian pintu berdentang ketika ditutupkan. Lalu pintu papan di bahagian luarpun ditutupkan pula. Dan….gelap! Bau yang pengap. Udara yang sumpek. Dan …… di kakinya yang telanjang, beberapa ekor tikus berkeliaran. Cukup besar-besar.
Dia tak bisa melihat apa-apa dalam kurungan ini. Bahkan tak bisa melihat dinding. Buat sesaat dia memejamkan mata. Mengatur pernafasan. Empat kali bernafas, dari getar udara yang ditimbulkan amat perlahan oleh nafasnya, berdasar pembalikan udara, dia dapat mengetahui, bahwa dinding penjara itu hanya tiga langkah ke kanan. Dan tiga langkah ke kiri. Ke belakang hanya selangkah. Yaitu dimana pintu besi tadi ditutupkan. Ke depannya hanya tiga langkah. Segitulah luas kamar itu.
Ke atas, hanya ada jarak sehasta antara loteng dengan ubun-ubunnya. Kamar itu segera saja jadi panas karena tak ada pentilasi.
Dia masih tegak di sana dengan diam. Pikirannya segera ke perguruannya.
Banyak di antara teman dan murid-muridnya menyaran kan agar tidak memenuhi panggilan Letnan itu ke Loji.

Tapi ketika dia meminta pendapat Syekh Malik Muhammad, maka pimpinan perguruan itnggi Islam Ulakan itu menyuruhnya untuk pergi.
“Pergilah. Supaya jangan ada alasan bagi mereka untuk menangkapi kita……”
“Tapi bagaimana kalau Inggeris memasang perangkap. Sehingga kami terjebak di sana. Dihadapkan pada situasi yang sulit sekali. Kemungkinan itu bukannya hal yang mustahil. Mengingat sifat penjajah sama saja. Apakah dia bernama Inggeris, Belanda atau Portugis sekalipun….”
“Ya. Saya rasa, hal itu mungkin saja terjadi. Hanya saja harap Anduang hati-hati….” begitu ucapan Syekh Malik Muhammad yang menjadi pimpinan tertinggi di antara mereka.
Apa yang mereka duga tentang jebakan dan akal licik Inggeris itu, kini sudah jadi kenyataan. Dia hanya berharap agar Syekh malik Muhammad cepat bertindak. Dalam sejarahnya, perguruan tinggi Islam di Ulakan itu, dimana guru atau murid banyak orang-orang dari Aceh, Gujarat dan India, perguruan itu sudah beberapa kali ditutup.
Ditutup karena sifat ekstrimnya terhadap penjajah yang berkuasa. Tapi perguruan itu senantiasa bisa bangkit kembali. Yaitu disaat-saat chaos. Disaat-saat ketidakpastian penjajahan. Disaat kekacauan. Adakalanya pesisir Barat Sumatera itu ditinggalkan oleh penjajah. Meskipun berada di bawah kekuasaan mereka. Tapi karena kekurangan personil, maka negeri itu dibiarkan saja. Ini terjadi ketika tahun-tahun 1400, 1500 dan 1600 dimana secaara berurutan Portugis, Spanyol dan Belanda berkuasa.
Dalam jil di bawah tanah itu kini keadaan sepi. Untuk pertama kalinya Anduang Ijuak melihat setitik cahaya merembes masuk, cahaya yang lemah yang masuk ke bilik tahanannya itu adalah cahaya yang menerobos celah kecil di pintu di balik pintu besi yang tadi ditutupkan di belakangnya.

Anduang Ijuak meraba-raba dalam kegelapan itu. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah balai-balai di sebelah kanan. Balai-balai dari beton. Tangannya terpegang beberapa ekor tikus. Yang tampaknya telah mendaulat tempat itu sebagai tempat mereka.
Tikus-tikus itu bertemperasan. Lari dengan suara mencericit. Dia lalu menanggalkan jubahnya yang berwarna merah. Mengibaskannya ke atas balai-balai itu. Kemudian perlahan dia duduk. Terasa dingin.
Pikirannya melayang pada temannya. Sidi Marhaban yang tewas. Tapi dia agak puas juga. Sebab Sidi itu juga telah membunuh letnan pongah itu.
—-o0o—
Di Loji Inggeris itu suasana jadi sibuk luar biasa. Sibuk dan tegang. Terbunuhnya Letnan Sammy menimbulkan kegoncangan dan amarah di kalangan pasukan berkuda Inggeris yang sengaja di tempatkan di Loji itu.
Kapten Calaghan sendiri mengadakan rapat darurat. Tamu-tamu yang datang ke Loji itu, para pedagang dari Aceh, india dan Gujarat, segera diminta untuk meninggalkan Loji.
Bendera Inggeris yang terpancang tinggi di sudut Utara Loji, segera di kerek turun setengah tiang diiringi bunyi terompet yang menegakkan bulu roma.
Penduduk Pariaman yang berada di sekitar Loji itu menjadi terkejut. Keterkejutan mereka bermula dari suara-suara letusan dari dalam Loji tadi. Banyak di antara mereka yang melihat Anduang Ijuak dan Sidi Marhaban memasuki Loji Inggeris itu.
Berita kedatangan pasukan berkuda ke perguruan Sunua telah tersebar ke seluruh pelosok. Dalam sehari semalam saja, berita itu telah menjalar ke mana-mana.

2 Comments

  1. cerita makmur hendrik sangat menarik gimana download versi lengkap cerita tikam samurai…terima kasih


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s