Parang Pariaman (bagian 11)

Tidak hanya sampai di sana. Dari pihak Ulakan tidak hanya berempat yang ditangkapi, ada dua puluh orang jumlah mereka. Semuanya dilakukan Inggeris demi keamanan. Dikhawatirkan, kalau murid-murid senior Ulakan itu berada di luar Loji, bisa berbahaya. Mereka bisa menyusun kekuatan. Oleh karena itu Kapten Calaghan berpendirian, semua mereka harus ditangkap. Demi keamanan!
Malam itu juga, semua mereka dibawa ke loji Inggeris di Pariaman. Perguruan Islam itu, Ulakan dan Sunua, tiba-tiba dicekam rasa lengang.
Kapten Calaghan memang telah memper timbangkan setiap langkah yang dia ambil. Dengan menangnkap dan menahan sebahagian besar orang-orang perguruan Islam Ulakan di lojinya.
Itu sama dngnan menahan dan menyimpan dinamit yang setiap saat meledak dan menghancurkan lojinya berikut mereka, semua isinya.
Kapten Calaghan bukannya tak tahu akan hal itu. Namun sebagai perwira Inggeris yang menang dari perang dengan Napoleon, dia punya pikiran yang cerdik. Malam itu Syekh Malik Muhammad dan kawan-kawannya mereka tahan. Esok siangnya, lima puluh tentara berkuda di bawah pimpinan seorang Letnan tiba dari Padang.
Tentara berkuda ini datang sebagai peng-ganti mereka yang ada di pos. Sekali lima bulan selalu ada aplusan. Yang di Padang datang ke Pariaman dan Tiku. Menggantikan mereka yang sudah lama di pos.
Tapi karena keadaan yang darurat, Kapten Calaghan tak membiarkan ada anak buahnya yang ditukar untuk cuti pulang ke Padang. Dia malah tetap menahan kekuatan yang 50 orang itu di Pariaman.
Malah siang itu juga, dia mengirim tiga orang kurir ke Padang mengatakan bahwa keadaan darurat. Di Padang yang menjadi pimpinan tertinggi tentara pendudukan Inggeris di Sumatera Barat adalah kolonel Dundee Yr.

Seorang kolonel angkatan laut yang mata sebelah kanannya buta karena pecahan meriam kapal. Cacat di matanya itu dia alami ketika perang selat Bosporus yang terkenal itu. Yaitu ketika dia memimpin satu skwadron kapal Inggeris melawan kapal-kapal perang Perancis. Dia luka parah, sebelah matanya jadi buta. Namun perang itu dimenangkannya dengan gemilang.
Kapten itu terkenal kejam kepada musuh-musuhnya. Begitu dia menerima laporan dari kapten Calaghan bahwa di Pariaman ada sekelompok orang Islam yang tengah menyusun kekuatan untuk memberontak pada Inggeris, dia lalu menambah pasukan berkuda 50 orang lagi. Kemudian mengirimkan dua buah kapal perang ke sana untuk mengangkuti kaum pemberontak yang tertangkap itu.
Kapal yangt dikirim itu adalah kapal perang THE KING dengan 12 meriam dan sebuah kapal THE LORD dengan ukuran lebih kecil. Yaitu hanya memiliki 6 meriam.
Kapal itu segera bertolak ke Pariaman. Hanya dua hari kemudian sejak tertangkapnya Syekh Ulakan itu bersama pengikutnya, kapal perang itupun sampai di sana. Begitu berada di laut Pariaman, mereka melepaskan temsbakan salvo dua puluh dua kali ke udara.
Semacam perang urat syaraf. Penduduk Pariaman memang dibuat kecut dengan pemusatan kekuatan Inggeris di kota kecil itu. Dalam waktu hanya dua hari, selain 50 pasukan berkuda yang datang pertama, datang lagi 50 pasukan berkuda tambahan. Kemudian dua buah kapal perang dengan pasukan sekitar enam puluh orang! Total, di Pariaman saat itu ada 260 orang pasukan Inggeris. Mobilisasi kekuatan yang luar biasa.
Perguruan Islam Ulakan dan Sunua ditutup. Pintunya digerendel dengan kunci besi oleh Inggeris. Beberapa orang muridnya yang tak ditangkap karena dianggap tak berbahaya, disuruh pulang ke tempat asal 50 Kota, Agam, Tanah Datar, Jambi, Palembang dan Tapanuli.
“Jika kalian tak pulang, dan masih berada di sini dalam tempo 2 x 24 jam, maka kalian akan ditangkapi”, demikian perintah Inggeris.

Namun murid Ulakan dan Sunua itu terkenal punya rasa setia kawan yang amat tebal terhadap perguruan mereka. Beberapa orang justru minta ditangkap saat itu juga. Beberapa orang menghindar. Namun mereka tak pulang seperti yang diancamkan pada mereka.
Mereka justru membuka pakaian perguruan Islam mereka. Berganti pakaian seperti rakyat Pariaman pada umumnya. Kemudian berbaur dengan masyarakat. Mereka masih punya harapan, bahwa mereka akan dapat bertemu dengan Syekh Malik Muhammad dan teman-temannya yang dikurung di loji.
Mereka masih berharap, bahwa suatu saat akan ada kekuatan yang tersusun untuk membebaskan dan mengusir Inggeris dari tanah Pariaman. Mereka juga masih punya harapan, bahwa mereka masih akan memiliki perguruan Islam Ulakan. Dalam sejarahnya, ini adalah kali yang keempat perguruan itu ditutup dan dilarang oleh penguasa penjajahan.
Semua alasan penutupan itu hanya satu, takut pada pemberontakan. Ya, Islam oleh kaum penjajah saat itu dianggap sebagai suatu bahaya dimana pemberontakan akan dipersiapkan. Islam dianggap sebuah momok dan dimusuhi. Karena Islam ditakuti dan dimusuhi, karena mereka orang yag dicurigai akan memberontak, maka penjajahpun berusaha memecah kelompok ini. Caranya mudah saja.
Di Pariaman ada sebuah perguruan Silat yang menampung banyak orang. Yaitu perguruan Harimau Kumbang. Inggeris tahu bahwa antara perguruan ini dengan perguruan silat di Sunua terdapat permusuhan tajam, tapi secara diam-diam. Pimpinan perguruan Harimau Kumbang itu, seorang lelaki beragama Islam bernama Uwak Sanga, diketahui suka pada perempuan dan uang.
Inggeris mempergunakannya. Dia diberi upeti berupa gadis cantik dan penghargaan berupa uang. Tak begitu sulit dizaman itu untuk mencari dan menghadiahkan kedua macam barang ini pada seseorang.

Yang diminta oleh Inggeris kepada Uwak Sanga tak pula banyak. Hanya memata-matai dan melaporkan pada Inggeris kalau-kalau ada murid Ulakan dan Sunua yang masih berkeliaran di Pariaman atau di mana saja. Uwak Sanga yang mabuk kepayang karena hadiah gadis cantik dan uang segera menyebar anak buahnya ke desa dan berbagai tempat di Pariaman.
Mereka tentu saja segera mengetahui beberapa orang murid Ulakan. Murid Ulakan ini segera diketahui, karena kebanyakan mereka bukan orang Pariaman asli. Yang orang Pariaman segera saja bisa diketahui mana yang murid dan mana yang tidak.
Dengan laporan dari murid-murid Harimau Kumbang ini, beberapa orang murid Ulakan segera pula ditangkapi dengan alasan tak me matuhi perintah. Loji itu makin hari makin pe nuh oleh tahanan. Suatu hari dalam penjara di Loji, Syekh Malik Muhamad bertanya pada se orang muridnya yang dijebloskan ke penjara itu.
“Kenapa kalian ditahan?”
“Inggeris menyuruh kami pulang ke kampung masing-masing setelah menutup perguruan. Tapi kami yang tinggal dua puluh orang, tak segera pulang. Kami menyebar di tengah rakyat. Ada yang di Pariaman, di Sunua, di Ulakan, di Toboh, di Petak, di Ketaping, kami ingin menyusun kekuatan, atau menunggu saat yang tepat untuk membebaskan angku syekh….” jawabnya perlahan.
Dua orang tentara Inggeris lewat. Kesempatan makan seperti ini, dimana mereka agak diberi kebebasan di halaman dalam Loji, adalah kesempatan yang jarang tersua.
“Lalu kenapa kalian masih ditangkapi?”
“Inggeris menyebar mata-mata. Dan mereka mempergunakan murid-murid perguruan Harimau Kumbang!”
Syekh Ulakan menatapnya tak percaya.
“Memang benar angku. Mereka tentu saja dengan mudah mengenal kami. Dan kamipun ditangkapi. Namun tak semua berhasil mereka ketahui. Sebahagian dari kami kini masih berada di luar. Menanti perintah dari angku….”
Pembicaraanmereka terputus. Pengumuman terdengar dari pengawal untuk segera masuk kembali ke sel masing-masing. Sambil meletakkan piringnya Syekh itu berbisik.
“Nanti malam akan ada yang keluar. Engkau mau ikut?”
“Saya ikut, angku…”
“Baik, di kamar berapa engkau ditahan?”
“Dikamar enam dekat penjagaan angku, kemana saja kami harus pergi, angku?”
“Sudah diatur. Engkau akan mendapat penjelesan dari Sidi Buang, yang juga akan melarikan diri malam nanti….” dan pembicaraan itu putus sampai disana.
Syekh Malik Muhammad telah turun ke selnya di bawah tanah.

Bersama dengan Anduang Ijuak, dan kedua syekh wakilnya. Bagi mereka yang ditahanan di bawah tanah, hanya sekali seminggu dapat menghirup udara luar tahanan. Begitu berada dalam sel, Anduang Ijuak bertanya. “Apakah tak sebaiknya kita lari bersama malam ini, angku Syekh?”
Syekh itu tak segera menjawab. Dalam gelap dia menarik nafas. Sel ini cukup kecil jika ditempati oleh seorang saja. Kini mereka di jejal berdua di dalamnya. Namun itu ada untungnya juga. Selain panasnya tak tertahankan, namun mereka tak merasa begitu kesepian. Mereka malah bisa menyusun rencana.
“Pasukan Inggeris masih sangat kuat. Kapalnya masih berlabuh di laut. Dan pasukan berkudanya yang seratus itu belum ditarik. Kalau kita lari sekarang, maka seluruh pasukan berkuda itu akan memburu kita. Kita tak punya kesempatan.”
“Bagaimana dengan Sidi Buang yang akan melarikan diri malam ini?”
“Rencana itu akan tetap dilaksanakan. Dia akan pergi berdua dengan si Fuad. Melarikan diri sendiri atau berdua paling banyak, lebih menguntungkan daripada lari ramai-ramai.”
“Apakah tak ada akibatnya bagi kita yang di dalam ini bila dia melarikan diri?”
“Asal tidak diketahui bahwa kitalah yang mengaturnya, maka akibat itu takkan muncul.”
Kemudian sepi. Senjapun merangkak perlahan. Alangkah lamanya terasa menunggu malam datang. Ketika akhirnya malam turun juga ke permukaan bumi, mereka menanti dengan tegang.
Sidi Buang adalah salah seorang murid tua di perguruan Islam Ulakan. Dia disegani dan memiliki ilmu tinggi. Dia memang orang Pariaman asli. Dialah yang diserahi tugas malam ini untuk melarikan diri. Malam ini dia telah bersiap untuk melakukan itu.
Ketika dia memperkirakan waktu tengah malam, diapun duduk bersemedi. Di kamar lain, di kamar bawah tanah, Syekh Malik Ibrahim juga bersemedi. Malam yang larut juga merangkak ke hatinya lewat semedinya yang khusuk itu. Lewat semedi itu, kedua orang ini, Syekh Malik Muhammad di kamar tahanan bawah tanah, dan muridnya Sidi Buang di kamar tahanan atas, mengadakan kontak batin.
Getar semedi itu menghubungkan mereka, sulit dipercaya. Namun bagi orang yang pernah belajar ilmu tarikat, yaitu semacam ilmu kebatinan dalam Islam aliran Syiah seperti yang dianut oleh perguruan tinggi Islam Ulakan ini, maka kontak bathin lewat semedi begitu, bukanlah hal yang asing.
Artinya, ilmu begitu adalah suatu yang lumrah dan bisa dilakukan oleh mereka yang ilmunya telah mencapai tingkat tinggi. Di antara sebilangan jari murid-murid Ulakan yang bisa berbuat begitu, termasuklah di dalamnya Sidi Buang. Anak Pariaman itu.

“Saya mohon izin, angku Syekh….dan mohon doa” kata Sidi itu lewat getaran batin yang dia kirimkan. “Engkau tak sendiri, Sidi. Bawa serta Fuad yang kini dikurung dua kamar di sebelah kamarmu……”, Sidi Buang mendapat jawaban dari Syekh Malik Muhammad.
“Apakah tugas Gindo Fuad, Angku?”
“Jika mungkin, suruh dia ke Tilatang Kamang. Hubungi di sana seorang pemuka Islam bernama Tuanku Nan Renceh. Sampaikan salamku, dan permintaanku. Agar dia menolong kita….”
“Tapi….bukankah beliau seorang penganut aliran Wahibi, Angku?”
“Dalam situasi begini, Sidi, tak seorang Islampun yang akan berfikir apakah dia seorang Syiah Karmatiyah seperti kita, atau seorang Wahibi seperti beliau, maupun seorang Syiah Fathimiyah. Kita sedang menghadapi penjajah bangsa kita. Kenapa kita harus pecah dalam kelompok yang tak perlu? Pergilah padanya….dahulu dia pernah menolong kita, dalam perang melawan Belanda bersama anak muda yang akan kau jenguk itu.”
“Si Giring-giring Perak yang Angku maksudkan?”
“Ya. Ceritakan semua rencana padanya. Saya yakin anak muda sakti itu telah mendengar perihal kita. Kini paparkan rencana kita padanya. Nah, selamat jalan Sidi.” Sidi Buang masih duduk sejenak bersemedi. Kemudian melanjutkan dengan sembahyang sunat. Lalu diapun bersiaplah. Ini waktunya. Dalam saat-saat tengah malam begini, seorang penjaga akan lewat memeriksa seluruh kunci kamar. Dia tengah berpikir begitu ketika dia dengar langkah di luar.
Penjaga itu tengah memeriksa kunci kamar tahanannya. Tapi penjaga itu tak kelihatan, sebab di balik jeruji besi di kamarnya ini ada pintu papan tebal. Dia lalu mengetuk pintu papan tebal itu.
“Saya sakit, bisa tuan tolong?” katanya perlahan dengan suara menggigil.
Si penjaga tak sedikitpun curiga. Kalaupun ada maksud lain, maka tahanan tak juga mungkin lolos, sebab ada jerajak besi yang amat tebal. Penjaga itu membuka pintu papan tebal tersebut. Dan tanpa mau mendekatkan tubuhnya ke jerajak besi dia berkata :
“Ada apa?”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s