Parang Pariaman (bagian 13)

Dendam itulah hari ini yang dibalaskan oleh pimpinan perguruan Harimau Kumbang itu pada perguruan Ulakan. Kini kedua mereka, yang sepuluh tahun lalu hanya sebagai orang kedua di masing-masing perguruan, telah jadi orang pertama. Dalam waktu sepuluh tahun, Uwak Sanga telah jadi pimpinan perguruan di Harimau Kumbang.
Dia telah menghimpun banyak pendekar-pendekar yang dikenal sebagai “golongan hitam”. Sebaliknya, Malik Ibrahim kini juga telah menjadi pimpinan perguruan Tinggi Islam Ulakan dan sekaligus memimpin perguruan silat di Sunua.
Siapa sangka, sepuluh tahun kemudian, dendam itu dibalaskan oleh Uwak Sanga lewat tangan Inggeris. Dialah yang mencium bahwa ada usaha melarikan diri di pihak perguruan Ulakan. Sudah tiga malam ini dia bermalam di Loji Inggeris itu. Setiap malam, dengan ilmunya yang juga tak dapat dikatakan rendah, bahkan belum diketahui siapa di antara mereka berdua yang lebih unggul, pimpinan Harimau Kumbang itu mengadakan semedi pula.
Malam kedua, dalam semedinya, tiba-tiba dia “menangkap” hubungan yang diadakan oleh Malik Ibrahim dengan muridnya Sidi Buang. Seperti diketahui, Uwak Sanga adalah salah seorang murid dari Aceh. Dan Aceh juga terkenal sebagai penganut faham Tarikat yang terkenal itu. Yaitu salah satu tingkatan dalam Islam Syiah dimana zaman itu para pengikutnya diajarkan ilmu bathin.
Itulah pula sebabnya, hubungan batin lewat semedi yang dilakukan oleh orang Ulakan itu tertangkap oleh Uwak Sanga. Dia melaporkan hal itu pada Kapten Calaghan. Kapten ini segera mengatur perangkap. Di malam ke tiga, ternyata Sudi Buang dan Gindo Fuad masuk ke perangkap yang dipasang itu.
Malam itu sebenarnya sejak senja mereka telah mengatur siasat tersebut. Begitu malam datang, Uwak Sanga segera menempati rumah penjagaan dan lampu sorot itu, berhada-hadapanpan dengan kamar tahanan Sidi Buang.
Ketika Sidi Buang melempar kening tentara Inggeris dengan cangkir alumanium, Sidi tersebut sangat hati-hati. Dia tahu, kalau dia sampai membunuh tentara Inggeris itu, maka itu berarti ancaman yang sangat besar bagi gurunya dan teman-temannya yang ada di penjara itu.
Karenanya dia…

“Tapi Sidi dan Gindo itu akan ditembak atau digantung pagi ini. Waktu untuk berfikir tak ada lagi. Kini sudah hampir subuh…..” “Ya. Kita harus memilih, melarikan diri dan menimbulkan puluhan korban, atau tetap bersabar dengan merelakan dua korban itu saja….”
“Saya tak sampai hati membiarkan mereka. Mereka tertangkap karena suruhan kita……”
“Betapapun dalam setiap perjuangan akan ada korban dan resiko, Angku….”
“Saya tahu itu, Sanga. Saya tahu itu…..tapi bagaimana dengan Sidi dan Gindo….”
“Kita hanya dapat berdoa. Semoga terjadi keajaiban dan mereka tertolong. Atau kalau tidak semoga Tuhan menerima mereka sebagai syuhada…..”
Kamar tahanan itu kembali sepi. Sepi yang mencekam. Haripun pagi. Persiapan untuk menghukum mati kedua murid Ulakan itupun dipersiapkan. Ternyata kedua mereka tak dapat memilih hukuman mana yang akan mereka tempuh.
Apakah hukuman tembak atau hukuman gantung. Mereka tak dapat memilih karena mereka masih pingsan! Pingsan akibat pukulan Uwak Sanga! Karenanya Kapten Calaghan menetapkan saja agar mereka dihukum gantung.
Itu lebih memudahkan bagi tentara Inggeris. Artinya, menggantung orang pingsan lebih mudah daripada harus menembaknya. Hukuman tembak, menurut tata cara militer, yang dianut oleh kalangan militer sedunia, haruslah dilakukan dalam keadaan si terhukum tegak lurus.
Ini menyulitkan. Bagaimana mereka harus tegak, sementara mereka belum sadar. Karena di halaman loji itu ada tiang yang cukup tinggi, bekas menggantung karung-karung untuk latihan menusuk dengan bayonet oleh para tentara, maka diputuskan saja mengambil jalan mudah. Menggantung kedua tahanan itu!
Namun Inggeris tetaplah Inggeris. Meskipun dia berada di negeri jajahan, mereka tetap saja mengumumkan hukuman secara terbuka tersebut. Begitu dicantumkan dalam kitab hukum mereka. Maka pagi-pagi sekali, enam puluh pasukan berkuda berlari kencang ke sepuluh tempat di Pariaman dan sekitarnya.
Masing-masing bahagian terdiri dari enam orang. Yang seorang membacakan putusan Komandan loji atas nama Kerajaan Inggeris, dan yang lima lagi menjaga kalau-kalau ada rakyat yang berbuat onar tatkala putusan dibacakan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s