Parang Pariaman (bagian 14)

Kapten itu terdiam. Dia tahu, bahwa Anduang Ijuak tidak ikut menyerang Letnan Sammy. Yang menyerang hanyalah Sidi Marhaban. Tapi dialah justru yang memerintahkan pada prajurit yang menyaksikan peristiwa itu agar mengatakan bahwa Anduang Ijuak ikut menyerang.
Dan dengan alasan itu dia bisa menangkapnya.
“Ini suatu kesempatan emas bagi tuan untuk melumpuhkan perlawanan orang Pariaman terhadap kekuasaan Inggeris. Ini kesempatan yang takkan pernah lagi tuan temukan. Pergunakan kesempatan ini. Bukankah kesempatan hanya datang sekali dalam seumur hidup! Coba tuan bayangkan, kalau mereka mengadakan pemberontakan dalam Loji ini, dengan kekuatan utuh seperti sekarang, tuan akan kewalahan. Mereka orang berilmu tinggi. Barangkali tuan bisa membunuh mereka semua. Tapi sebelum itu terjadi, pihak tuan pasti akan jatuh korban puluhan orang.
Nah, kalau mereka telah dikurangi jumlahnya, maka korban dipihak tuan akan makin berkurang. Kalaupun mereka tidak memberontak, tapi lambat laun mereka akan bebas. Dan mereka bisa kembali menyusun kekuatan. Dan itu juga bahaya besar bagi tuan…”
Bukan main berbisanya ucapan dan hasutan Uwak Sanga ini. Kapten Calaghan yang memang khawatir atas pemberontakan para pimpinan Ulakan itu, dapat menerima ucapan Uwak itu sebagai suatu kebenaran.
Untuk memenuhi formalitas hukum, dia menyuruh jemput Anduang Ijuak dari tahanannya. Di tahanan itu, Anduang Ijuak sedang bicara perlahan dengan Syekh Malik Ibrahim. Mereka terhenti bicara begitu pintu dibuka.
Seorang sersan tegak di depan pintu. Sepuluh orang tentara Inggeris tegak empat depa di belakangnya dengan bedil siap ditangan. Sersan itu tak masuk. Dia tetap tegak dua depa di depan pintu. Mereka tahu, yang ada dalam tahanan ini adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Orang yang menurut pandangan orang Barat bisa berbuat banyak keajaiban. Orang yang bisa memukul lawannya dalam jarak beberapa depa sampai mati tanpa menyentuh si lawan. Dari jarak dua depa itu, sersan itu bicara.
“Kapten Calaghan ingin bertemu dengan tuan Anduang Ijuak. Ada sesuatu yang akan ditanyakannya berkenaan dengan kematian Letnan Sammy…..”
Anduang Ijuak bertukar pandangan dengan Syekh Malik Ibrahim. Sebagai orang-orang yang mempunyai kearifan tinggi, kedua pimpinan Sunua dan Ulakan ini merasa ada sesuatu yang tak beres dalam pemanggilan ini.

Namun mereka tak menunjukkan rasa getar. Anduang Ijuak tegak. Menyalami Syekh Malik Ibrahim. Kemudian Anduang itu melangkah keluar. Syekh Malik Ibrahim menatapnya dengan diam. Anduang Ijuak juga melangkah dengan diam menuju gedung utama di mana Kapten Calaghan berkantor.
Anduang Ijuak memang tak terkejut ketika kepadanya dikatakan bahwa dia dijatuhi hukuman mati siang ini. Tak ada kesempatan melawan baginya. Barangkali saja dia punya kesempatan itu. Tapi dia segera ingat puluhan murid dan pimpinan Ulakan yang berada dalam tahanan di loji itu. Kalau dia berbuat sesuatu yang tak diingini, dia khawatir kalau mereka akan ditembak semua.
Berbeda dengan hukuman mati yang dijatuhkan pada kedua murid Ulakan terdahulu, dimana hukuman itu disebarluaskan, maka hukuman mati terhadap Anduang Ijuak didiamkan saja. Kapten Calaghan tak mau mengambil resiko terlalu besar. Kalau hukuman mati terhadap Anduang Ijuak disebarkan secara terbuka, maka keadaan akan benar-benar rawan.
Karena itu, atas desakan Uwak Sanga juga, hukumannya dirahasiakan saja. Hanya pelaksanaannya saja yang bersamaan pagi itu. Setiap sudut loji dijaga dengan ketat sekali. Beberapa meriam yang berasal dari kapal, dipindahkan ke setiap sudut loji.
Moncong meriam itu menganga menghadap ke empat penjuru. Ke arah pasar. Ke arah kampung. Ke arah mesjid dan ke arah balai pertemuan. Setiap sudut di atas pagar loji itu kini, kelihatan lima orang tentara Inggeris dalam pakaian beludrunya yang berwarna merah putih tegak dengan bedil terhunus.
Di luar, ada dua regu yang terdiri sepuluh orang tiap regu, yang meronda keliling loji. Di pintu gerbang, yang merupakan satu-satunya pintu untuk keluar masuk ke loji itu, tegak dengan sikap waspada dua puluh serdadu pasukan berkuda.
Kapten Calaghan tak mau menanggung resiko. Pagi ini akan dilaksanakan hukuman mati terhadap tiga orang murid Ulakan. Bila ada yang ingin yang membebaskannya maka mereka sudah siap dengan pasukan dan meriam.
Di dalam loji ketegangan benar-benar memuncak. Syekh Malik Ibrahim sudah diberitahu bahwa Anduang Ijuak juga dijatuhi hukuman mati. Syekh itu menyebut nama Allah berkali-kali. Namun seperti halnya Anduang Ijuak yang khawatir akan nasib para murid senior Ulakan yang tertahan di loji ini, Syekh itu juga demikian.

Dia ingin dan bisa melarikan diri dengan membunuh beberapa orang pasukan Inggeris. Tapi bagaimana dengan murid-muridnya? Akhirnya pimpinan Ulakan itu hanya bisa berdoa. Tanpa dapat dia tahan, matanya jadi basah tatkala dia dengar suara genderang berderam perlahan. Suara genderang berderam perlahan itu adalah genderang yang ditabuh untuk upacara penggantungan.
Deram genderang itu menembus dinding loji yang dibangun sekaligus untuk benteng pertahanan itu. Sayup-sayup suaranya sampai ke telinga orang yang berada di pasar. Di rumah penduduk, di mesjid, di tepi pantai. Semua yang mendengar pada tertegun. Tegak dan mengarahkan pandangan mereka ke loji. Semua mereka tertegak diam.
Kanak-kanak merapatkan tubuhnya pada ayah atau ibu mereka. Mereka ikut dicekam rasa takut melihat sikap takut orang tua mereka.
“Suara apa itu, ayah?”
“Sssst. Diamlah….”
“Suara apa itu, mak?”
“Sssst. Diamlah….”
“Tapi suara apa itu? Kedengarannya seperti suara genderang….”
“Ya. Suara genderag. Ada orang kampung kita yang dihukum gantung di dalam loji sana…..”
“Dihukum gantung?”
“Ya…..”
“Apakah mereka mencuri?”
“Tidak. Mereka membunuh orang Inggeris”
“Membunuh orang Inggeris?”
“Ya…”
“Kalau begitu mereka orang baik. Bukankah begitu ayah berkata dahulu? Bahwa orang Inggeris itu adalah orang jahat, dan siapa yang melawan dan membunuhnya adalah orang baik?”
“Ya….”
“Kalau begitu kenapa tak ayah tolong?”
Lelaki itu diam.
“Kenapa ayah biarkan saja orang itu di gantung Inggeris?”
“Karena…..karena ayahmu juga orang tak baik” ujar lelaki itu dengan nada yang pahit.
“Tapi, bukankah ayah juga belajar silat malam-malam bersama mak Kudun?”
“Ayah memang belajar. Tapi tak pernah mendapatkan apa-apa….”
“Tapi, ketika ayah berkelahi bersama-sama mengeroyok pak Bidin dari Tiagan dulu, bukankah…”
“Diamlah, nak……” lelaki itu berkata dengan gelisah.

Anak itu memang diam. Telinganya mendengarkan deram genderang itu. Matanya menatap ayahnya yang menunduk dan gelisah. Dan pikirannya yang masih kecil terheran-heran, kenapa ayah tak mau mengeroyok Inggeris seperti ayahnya dulu mengeroyok seorang pedagang dari Tiagan itu.
Waktu itu tubuh pedagang itu hampir luluh lantak. Ayahnya bersama sebelas orang dari kampung mereka ini menegeroyok pedagang keliling itu habis-habisan. Kini ada orang baik yang digantung Inggeris. Ayahnya diam saja. Pikiran kanak-kanaknya yang lugu tak mengerti, mengapa ayahnya tak berani menghimpun orang kampungnya untuk mengeroyok Inggeris, sebagaimana dulu ayahnya mengeroyok pedang dari Tiagan itu.
Pikiran lugunya menyimpulkan, ayah dan orang kampungnya hanya bagak melawan sesama orang awak. Tapi gacar ketikan berhadapan dengan penjajah yang benar-benar induk bagak.

—o0o—
Orang pertama yang dibawa ke tiang gantungan adalah Anduang Ijuak. Baru kemudian Sidi Buang dan Gindo Fuad.
Tiang gantungan itu terletak persis di tengah lapangan yang berada dalam areal Loji yang luas tersebut.
Sebuah kayu sebesar betis melintang dengan dua buah tongkat sebesar paha menyangga di kedua ujungnya. Tinggi tiang itu sekitar tiga meter dari tanah. Di sanalah ketiga orang itu akan digantung.
Di bawahnya, dibuat secara darurat sebuah panggung kecil. Yaitu tempat ketiga tawanan itu dinaikkan. Menurut urutannya, ketiga tawanan itu ditegakkan di atas panggung atau pentas itu. Kemudian jerat tali yang telah disiapkan dikalungkan ke laher mereka.
Dengan sebuah sistem yang telah diatur, enam buah kaki panggung dimana ketiga tawanan itu tegak, akan di sentakkan hingga copot, dengan demikian lantainya akan jatuh ke bawah. Akibatnya, tawanan akan tergantung-gantung di tali. Jarak kaki mereka dari tanah sekitar setengah meter.
Kini ketiga orang tawanan itu sudah ditegakkan di pentas darurat itu. Sekitar dua puluh orang murid Ulakan yang berada dalam tahanan di Loji itu, tegak dalam kamar mereka masing-masing.
Mereka tak bisa melihat ke luar. Sebab seluruh pintu tahanan itu selain berjerajak besi, di sebelah luarnya dilapisi pintu dari papan tebal. Meski tak dapat melihat, mereka tegak dengan diam mendengarkan suara genderang itu.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s