Parang Pariaman (bagian 15)

Dengan tenang Nabi menatap orang itu. Karena dia belum juga menjawab, orang itu membentak dan menanyakan pertanyaan yang sama sekali lagi. Dengan tenang Muhammad pun menjawab.
“Tak ada seorangpun yang akan menyelamatkanku, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa…..”
Dan turunlah keajaiban mengiringi ucapan Muhammad itu. Quraisy itu menggeletar tubuhnya. Pedangnya dia lemparkan. Dia berlutut di depan Nabi.
“Engkau orang mulia Muhammad. Sejak hari ini saya memeluk agama yang engkau peluk. Asyhadualla-ila ha illallah, wa Asyhaduanna Muhammadarrasulullah…..” orang itu megucap syahadat dengan air mata berlinang. Dan Islamlah dia.
Tuhan juga menurunkan keajaiban tatkala menguji iman Nabi Ibrahim. Ibrahhim disuruhnya untuk mengorbankan nyawa anaknya, Ismail. Dan Ibrahim mematuhi suruhan Tuhannya. Ismail anak kesayangannya itu dibawanya ke sebuah batu untuk disembelih. Tapi sesaat sebelum mata pedang melukai leher Ismail, Tuhan menggantinya dengan seekor kibas.
Syekh Malik Ibrahim tahu semua cerita tentang keajaiban yang diturunkan Allah pada para Nabi-Nya itu. Tapi itu khusus untuk para nabi. Apakah Tuhan juga bersedia menurunkan keajaiban untuk menolong manusia biasa yang bukan para Nabi dan Rasul?
Kalaupun Tuhan mau menurunkan keajaiban apakah murid-murid Ulakan cukup berbahagia untuk menerima keajaiban Allah itu? Itulah yang terfikirkan oleh Syekh Malik Ibrahim dalam kamar tahanannya, tatkala suara genderang penggantungan itu berbunyi.
Hatinya memanjatkan doa. Sementara matanya yang terpejam basah. Dia mengutuk dirinya yang lemah, yang tak bisa menolong muridnya yang dihukum. Kini ketiga orang tawanan itu sudah ditegakkan di atas pentas darurat itu.
Letnan Coral Lancashire, yaitu Komandan Loji di Tiku, yang ditarik ke Pariaman untuk menggantikan kedudukan Letnan Sammy yang mati oleh Sidi Marhaban, maju ke depan.
Suara genderang yang menderam itu masih berbunyi. Letnan itu membuka sebuah plakat yang diserahkan oleh seorang prajurit padanya. Semuanya mata dari sekitar enam puluh pasukan berkuda Inggeris yang tegak mengelilingi lapangan tempat eksekusi itu menatap padanya dengan diam.

Plakat itu berisi vonis hukuman mati atas ketiga orang murid Ulakan itu. Letnan Lancashire membacakan vonis itu dengan suara lantang.
—o0o—
Nun jauh dari kota Pariaman, di salah satu sisi Danau Maninjau yang indah, di sebuah rumah kecil dikelilingi sawah dan ladang seorang anak muda kelihatan tengah mencangkul. Dari arah rumah dia lihat isterinya datang bergegas.
“Uda…..” suara perempuan cantik itu bernada amat cemas.
Anak muda itu kaget. Tak biasanya isterinya bersikap demikian. Dia letakkan cangkulnya. Dia berjalan menyonsong isterinya.
“Ada apa, Nilam?”
“Di Pariaman, uda..”
“Ada apa di Pariaman?”
“Tengah terjadi perang antara Inggeris dan orang Pariaman yang dimotori murid Ulakan…”
Anak muda itu tertegak, diam dan kaku.
“Perang..?”
“Begitu yang saya dengar dari cerita orang saat saya membeli minyak goreng di kedai…”
Anak muda itu menoleh ke arah Pariaman. Tatapannya seperti menembus dan melintasi puncak-puncak bukit terjal yang mengepung danau Maninjau.
“Saya berharap ada sesuatu yang bisa uda lakukan untuk menolong mereka….” ujar perempuan cantik itu perlahan.
Anak muda itu, si Giring-Giring Perak, mencium kening isterinya. Kemudian dia berjalan ke kandang kuda disamping rumahnya. Sesaat setelah di punggung kuda, dia menatap isterinya.
Saat itu dua orang perempuan datang dari rumah sebelah. Dia merasa aman meninggalkan isterinya di perkampungan kecil dsengan penduduk yang sudah seperti saudara mereka sendiri.
“Saya titip Nilam pada Uni…” katanya perlahan pada kedua perempuan yang tegak di sisi isterinya.
Kedua perempuan itu menangguk sambil memeluk bahu Siti Nilam. Diapun memacu kudanya. Siti Nilam berdoa, semoga suaminya dapat menolong orang Pariaman dalam peperangan melawan Inggeris. Dia berdoa karena dia juga sadar, bahwa betapapun saktinya seorang manusia, namun nasibnya berada di tangan takdir. Dan takdir ditentukan oleh Yang Satu.

—o0o—
Di Loji, Letnan Lancashire selesai membacakan surat putusan hukuman mati itu. Kemudian dia berbalik, memberi salut pada Kapten Calaghan. Kapten Calaghan membalas salut itu. Lalu memerintahkan supaya hukuman segera dilaksanakan.
Enam orang tentara Inggeris, yang tegak di atas pentas darurat di bawah tiang gantungan panjang itu, segera menyarungkan lingkaran tali ke leher ketiga tawanan itu.
Sidi Buang, murid senior Ulakan yang malam tadi gagal melarikan diri, dan luka di dalam tubuhnya akibat pukulan jarak jauh Uwak Sanga, menatap pada Uwak yang tegak sekitar sepuluh depa di depannya itu.
“Uwak….” katanya datar, “engkau hianati orang kampungmu. Demi Tuhan, akan tiba saatnya, engkau akan mati secara hina. Aku kutuk engkau, Uwak Sanga! Semoga Tuhan mendengar kutukku ini. Bahwa engkau akan mati secara hina dan amat sengsara, atau pengkhianatanmu ini…”
Uwak Sanga tertawa menggerendeng. Namun diam-diam hatinya jadi tak sedap juga mendengar kutukan itu.
“He Sidi, nama waang Sidi Buang. Angok waang sebentar lagi akan dibuang ke neraka. Mayat waang akan dijadikan makanan kendik. Waang akan mengadakan perjalanan ke akhirat, wsaang akan bertemu dengan Tuhan yang waang sebut-sebut itu. Sampaikan salamku pada Tuhan waang itu he….he….”
Anduang Ijuak yang tegak di tengah, bukan main murkanya mendengar betapa Uwak Sanga memperolok Tuhan itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya telah digari kebelakang. Inilah yang membuat dia tak bisa bergerak. Namun dia bisa bicara, dan diapun bicara.
“Engkau memang seorang dajal, Uwak Sanga! Dajal paling jahanam yang pernah kukenal. Saya ikut menyumpahimu, semoga kau mati dengan cara yang paling hina…”
Kembali Uwak Sanga tertawa menggerendeng.
“Kau Ijuak, juga sampaikan salamku pada Tuhanmu itu. Di neraka banyak perempuan cantik. Tapi kalau kau lewat di sana, pejamkan matamu. Sebab semua mereka telanjang. Saya hawatir engkau akan tergoda oleh paha dan dada yang montok dan ikut terjun ke neraka. Haa…haa…haa…he…hee….!”
-oOo-
Tawa Uwak Sanga terhenti. Dia dan semua yang ada dekat tiang gantungan itu menoleh ke arah laut.

Menoleh karena mendengar suara gemuruh yang sahut menyahut dari tengah laut. Tepatnya dari kapal kerajaan Inggeris yang sejak beberapa hari lalu buang jangkar di sana.
Kapal itu jelas terlihat dari tempat mereka kini berada. Mereka pada terkesiap. Dari sana ledakan dan gemuruh yang tadi mereka dengar berasal. Kini kapal itu sedang dimamah api. Pekik dan teriakan terdengar dari kapal itu.
Lalu, tiba-tiba dari berbagai penjuru terdengar teriakan. Dari berbagai penjuru orang berdatangan ke loji itu. Didahului orang-orang menunggang kuda, kemudian di belakangnya diikuti ratusan orang membawa pedang, tombak, panah, dan alat apa pun yang bisa dipakai untuk membunuh orang.
Letnan Lancashire dan Kapten Galaghan tertegun. Begitu juga Uwak Sanga. Puluhan tentara Inggeris yang ada di Loji itu pada mengangkat bedil. Perangpun pecah dalam hiruk pikuk yang benar-benar tak terkendali dan di luar dugaan semua orang. Tidak pernah ada yang menyangka, Anduang Ijuak sekalipun, bahwa perang terbuka yang amat dahsyat akan pecah hari itu secara tiba-tiba di Pariaman.
Pagi sekali esoknya si Bungsu sampai. Dia mendapati puluhan mayat berserakan di Pariaman, khususnya di sekitar loji. Mayat orang Pariaman berbaur dengan mayat tentara Inggeris. Mayat orang Pariaman tak berbaju, celana hanya selutut. Mereka memakai ikat kepala dari secarik kain yang dililitkan berbuntuk deta. Mayat tentara Inggeris jelas berpakaian amat mewah. Celana putih, bersepatu, berbaju merah ketumba, bertopi lakan.
Mayat itu masih berserakan di sekitar loji, belum ada yang mengumpulkan apalagi menguburkannya. Loji itu sebahagian hangsu dilalap api, namun sebagian lagi masih utuh. Di bagian yang masih utuh itu belasan tentara Inggeris bertahan dengan diam. Kapal Inggeris yang berlabuh tak jauh dari pantai masih belum tenggelam, tapi sudah teleng. Sebahagian sudah hangus dimamah api. Di kapal itu juga belasan tentara Inggeris masih bertahan.
Orang Pariaman tak kelihatan. Mereka berkumpul dan terlindung dalam belukar lebat tak jauh dari loji. Perang memang telah berhenti, namun belum berakhir. Masing-masing pihak menyusun kekuatan dan taktik, dan…menanti. Tak ada yang berani keluar dari “sarang” dimana kini mereka berada. Bahkan untuk mengumpulkan mayat teman-temannyapun mereka belum berani.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s