WASPADA BENCANA ALAM AKIBAT CURAH HUJAN TINGGI

Tingginya intensitas curah hujan selama bulan Agustus 2013 telah membuat beberapa daerah di Sumatera Barat umumnya dan kota Padang khususnya mengalami banjir. Dari pantauan data curah hujan harian stasiun Tabing tercatat intensitas maksimum terjadi pada tanggal 8 Agustus 2013 atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri yaitu 129 mm. Karakteristik curah hujan dengan intensitas diatas 100 mm dalam 24 jam digolongkan pada keadaan hujan sangat lebat. Di hari yang fitri tersebut ratusan rumah di kota Padang terendam banjir seperti daerah Maransi Aie Pacah, RSUD Sei Sapiah dan lain sebagainya. Banjir yang terjadi di beberapa daerah kali ini memang disebabkan oleh sangat tingginya intensitas curah hujan, meskipun ada faktor lain yang menjadi penyebabnya seperti pengalihan tata guna lahan dan penebangan hutan secara liar. Tidak terhitung kerugian yang disebabkan oleh bencana alam seperti banjir ini baik moril maupun materil.

Jumlah intensitas curah hujan selama bulan Agustus ini adalah 424 mm dengan jumlah hari hujannya selama 14 hari. Rata-rata jumlah curah hujan bulanan untuk stasiun Tabing selama periode 1980-2010 adalah 314,7 mm dan untuk bulan Agustus rata-rata jumlah curah hujannya adalah 247 mm. Jika kita bandingkan dengan pola iklim selama 31 tahun (periode 1980-2010), intensitas curah hujan bulan Agustus 2013 ini memang sangat besar. Jumlah intensitas yang terpantau meningkat hampir 2 kali lipat dari pola normalnya. Diduga cuaca ekstrim ini disebabkan oleh periode ulang 11 tahunan siklus matahari, dimana siklus ini dapat merusak pola iklim di seluruh dunia.

Menurut BMKG periode Juni-Juli-Agustus (JJA) untuk wilayah Indonesia adalah musim kemarau, periode September-Oktober-November (SON) adalah musim Pancaroba dan Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan. Ini berarti musim hujan belum masuk (secara normal) dan bencana alam yang diakibatkan oleh curah hujan sangat tinggi seperti longsor dan banjir kemungkinan besar di depan mata kita semua. Bulan Agustus yang masuk dalam periode musim kemarau mempunyai jumlah curah hujan yang besar, ini menunjukkan pola iklim di tahun 2013 ini tidak teratur lagi.

Untuk kota Padang puncak curah hujan akan terjadi pada bulan November karena pola curah hujannya adalah pola ekuatorial yang mempunyai dua puncak  curah hujan dalam setahun yaitu Maret dan November (gambar 1). Jumlah curah hujan maksimum pada stasiun Tabing terjadi pada bulan November yaitu 471,3 mm. Hanya dalam hitungan minggu musim hujan akan memasuki wilayah Padang dan sekitarnya.

Dari uraian data di atas, faktor curah hujan memang menjadi penyebab utama banjir kali ini karena tingginya intensitas curah hujan yang tergolong sangat ekstrim. Selain itu ada faktor lain yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS ini didefinisiakan sebagai suatu kawasan dimana air hujan yang jatuh akan menuju suatu titik yang sama, apakah itu sungai, danau atau laut. Jika air hujan yang jatuh di halaman kita mangalir menuju selokan dan air selokan itu mengalir ke sungai terdekat dengan wilayah tempat tinggal kita, ini berarti kita adalah warga DAS. Seandainya selokan di depan rumah kita tersumbat yang mengakibatkan tidak lancarnya aliran air hujan ke sungai, artinya kita mempunyai kontribusi terhadap terjadinya banjir.

Wajar kiranya kewaspadaan terhadap bencana alam seperti langsor dan banjir lebih kita tingkatkan. Hal ini dikarenakan banyaknya prilaku yang tanpa kita sadari telah menjadi kebiasaan buruk yang berakibat terjadinya banjir, seperti buang sampah sembarangan. Ditambah lagi adanya oknum-oknum yang masih leluasa melakukan penebangan hutan dan pengalihfusian hutan sebagai wilayah serapan air menjadi kawasan komersialisasi. Dengan dibiarkannya pengurangan vegetasi di hulu seperti penggundulan hutan akan berdampak berkurangnya kawasan serapan air yang berfungsi menyerap air hujan, sehingga ketika hujan lebat terjadi akan menimbulkan erosi yang membawa banyak sedimen dari hulu ke hilir dan bukan tidak mungkin akan terjadi banjir bandang seperti kejadian pada bulan Juli 2012 lalu di kawasan Kuranji.

Pemerintah daerah dalam hal ini Pemko Padang harus tanggap melihat fenomena ini, karena solusi untuk mengatasi banjir adalah memperluas daerah serapan air dan mengendalikan run off (limpasan).

tabing

Gambar 1. Curah hujan rata-rata bulanan stasiun Tabing periode 1980-2010.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s