Pengembangan Wisata Hutan Sebagai Bagian Dari Strategi Perubahan Iklim

Hutan merupakan suatu kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Secara umum hutan berfungsi sebagai habitat hewan, modulator siklus hidrologi, pelestari tanah dan lain sebagainya yang merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Saat ini terjadi pergeseran paradigma bahwa hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumber daya alam sebagai penghasil kayu dan sebagai pemenuhan kebutuhan dasar seperti penyedia sumber air dan penghasil oksigen tapi juga punya potensi non kayu.
Bentuk pengelolaan sumber daya hutan antara lain penghasil kayu atau hasil hutan non kayu (rotan, sutera, madu dan lain-lain), untuk konservasi menjaga keseimbangan alam, jasa lingkungan dan jasa pariwisata. Paradigma baru dalam pemanfaatan hutan sebagai potensi non kayu adalah menjadikan hutan sebagai jasa wisata yang merupakan bagian dari strategi perubahan iklim. Sebagai fungsi ekosistem hutan juga dapat mencegah timbulnya pemanasan global yang berdampak pada perubahan iklim.
Bentuk perubahan iklim yang dirasakan saat ini adalah terjadinya peningkatan temperatur dan curah hujan. Menurut Hulme dan Sheard (1999) di Indonesia temperatur meningkat sebesar 0,030C/tahun dan curah hujan meningkat 2 – 3 % per tahun. Selain siklus harian dan musiman, keragaman iklim di Indonesia juga ditandai dengan siklus beberapa tahun antara lain siklus fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation). Perubahan periode ENSO yang normalnya 3 – 7 tahun, menjadi lebih sering yakni 2 – 5 tahun (Ratag, 2001).
ratag
Gambar 1. Kecenderungan kenaikan suhu tahunan di Jakarta (1956-2001)
Gambar 1 memperlihatkan laju perubahan temperatur di Jakarta dari rentang waktu 1956-2001. Terlihat bahwa selama 45 tahun terjadi peningkatan temperatur sebesar 0,7° per tahun. Laju peningkatan temperatur ini mempunyai dampak pada perubahan iklim, diantaranya adalah dampak perubahan iklim pada hutan seperti:
• Kekeringan yang panjang. Peristiwa El Nino tahun 1997 mengakibatkan kebakaran hutan sekitar 3,500 ha, kebakaran pada lahan gambut. Antara tahun 2003-2006 terjadi kebakaran hutan berkisar 3,300 – 5,500 ha.
• Musim hujan yang tidak dapat diprediksi. Prosentase kematian bibit yg baru ditanam sampai 50%.
• Kenaikan muka laut yang berakibat terjadinya banjir dan intrusi air laut kedarat.

Kawasan hutan yang dapat dijadikan sebagai jasa wisata adalah hutan pelestarian alam terdiri dari : Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Dimana fungsi dari kawasan pelestarian alam antara lain:
1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan
2. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa
3. Pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik didarat maupun diperairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lesatri sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pngetahuan, pendidikan, menunjang budaya, budidaya, pariwisata & rekreasi.
Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
Menurut PP No. 18 Tahun 1994 tentang pengusahaan pariwisata alam di zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, syarat pengusahaan sarana pariwisata alam antara lain:
1. Luas kawasan yang dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata alam maksimum 10% dari luas zona pemanfaatan Taman Nasional, blok pemanfaatan tahura dan blok pemanfaatan wana wisata.
2. Bentuk bangunan bergaya arsitektur setempat
3. Tidak mengubah bentang alam yang ada
Dan menurut PP no. 36 tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam yakni:
1. Pengusahaan pariwisata alam adalah suatu kegiatan untuk mengusahakan usaha pariwisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam berdasarkan rencana pengelolaan.
2. Usaha pariwisata alam adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata alam.
3. Pariwisata alam adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata alam, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik serta usaha yang terkait dengan wisata alam.
4. Wisata alam adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati gejala/keunikan dan keindahan alam di kawasan suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam.

Industri pariwisata yang berkembang pesat saai ini sangat rentan terhadap deforestrasi. Hal ini kalau dibiarkan akan menambah faktor terjadinya peningkatan temperatur. Oleh sebab itu diperlukan pemikiran bahwa indrustri pariwisata ini terutama wisata hutan harus menyumbang sebagai salah satu aspek pencegah pemasanan global. Dalam hal ini pemerintah diharapkan mengintegrasian kebijakan mitigasi dan adaptasi dalam perencanaan pariwisata.
Pohon sebagai bagian dari hutan memainkan peranan penting dalam penciptaan lanskap perkotaan dan budaya yang menarik. Hutan kota atau hutan selain sebagai tempat rekreasi juga memiliki peran dalam penyerapan carbon dioksida.
Dalam hal ini untuk menjadikan kawasan hutan atau hutan kota sebagai jasa wisata, maka dibutuhan penelitian lebih lanjut tentang interaksi pariwisata hutan terutama hutan kota sebagai bagian dari strategi perubahan iklim.

Daftar Pustaka
Hulme, M and N.Sheard. 1999. Climate Change Scenarios for Indonesia. Climatic Research Unit , Norwich, UK.
Ratag, M.A. 2001. Model Iklim Global dan Area Terbatas Serta Aplikasinya di Indonesia. Paper disampaikan pada Seminar Sehari Peningkatan Kesiapan Indonesia dalam Implementasi Kebijakan Perubahan Iklim. Bogor.

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s