Cuaca ekstrem melanda kota Padang

Curah hujan di kota Padang pada kamis 16 Juni 2016/11 ramadhan 1437H merupakan curah hujan yang tergolong ekstrem. Menurut data synop ogimet.com, tercatat intensitas curah hujannya adalah 384 mm. Pola curah hujan di wilayah kota Padang merupakan pola ekuatorial, dimana sepanjang tahun mempunyai dua puncak tertinggi, yakni pada bulan Maret/April dan bulan November. Kota Padang termasuk salah satu daerah yang mendapatkan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Curah hujan rata-rata tahunan untuk stasiun Tabing pada periode 1980-2010 adalah 314 mm. Rata-rata curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan November yakni 471 mm dan terendahnya pada bulan Juni yakni 225 mm. Dari paparan data tersebut terlihat bahwa kota Padang sepanjang tahun memang mendapatkan curah hujan yang tinggi terbukti bahwa di musim kemaraupun rata-rata curah hujan bulanannya tidak ada di bawah 200 mm.
Berdasarkan paparan data tersebut bisa kita golongkan curah hujan yang terjadi kemarin merupakan kejadian hujan ekstrem, karena intensitas hujan dalam 24 jam hampir sama dengan curah hujan rata-rata bulanan dan malah melebihi rata-rata hujan bulanan dimusim kemarau.
Untuk periode 1980-2010 kota Padang memang pernah dilanda hujan dengan intensitas diatas 300 mm yang tercatat di beberapa stasiun panakar hujan, antara lain:
1. Stasiun Tabing dengan intensitas 387 mm pada tanggal 1 November 1986
2. Stasiun Gunung Nago dengan intensitas 362 mm pada tanggal 22 November 2000
3. Stasiun Simpang Alai dengan intensitas 315 mm pada tanggal 23 Maret 1999
Dari tiga kejadian tersebut, semuanya terjadi pada bulan-bulan puncak intensitas hujan sepanjang tahun di kota Padang. Curah hujan yang terjadi kali ini justru terjadi di musim kemarau atau JJA (Juni Juli Agustus) yang notabene intensitas hujan bulanannya tidak lebih dari 300 mm.
Menurut informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, kejadian cuaca ekstrem kali ini disebabkan oleh kondisi masih hangatnya suhu permukaan laut di atas normal pada perairan Indonesia barat sehingga menyebabkan masuknya aliran udara basah dari Samudera Hindia ke wilayah Sumatera. Selain itu juga terjadi perlambatan, pertemuan dan belokan angin di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan kondisi atmosfer menjadi tidak stabil. Kondisi ini akan menyebabkan peningkatan curah hujan di beberapa wilayah pantai barat Sumatera. Potensi intensitas curah hujan tinggi ini diperkirakan akan berlangsung sampai tanggal 20 juni 2016.
Secara normal, pada musim JJA udara yang masuk ke wilayah benua maritim adalah udara kering yang berasal dari Australia sehingga jarang terjadi hujan. Malahan untuk wilayah dengan pola hujan monsun mengalami kekeringan yang panjang. Namun, kali ini sebaliknya, dan malah intensitas hujannya tergolong ekstrem. Apakah ini dampak dari peningkatan suhu global, sehingga pola hujan pun menjadi kacau? Tidak segampang itu bisa kita simpulkan semuanya. Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s