Tikam Samurai (Bagian 74)

Satu demi satu anak buahnya melemparkan senjata. Si Bungsu menyeret tubuh mayor itu hingga tersandar ke dinding rumah yang tadi hampir saja diledakkan dengan dinamit. Dengan meletakkan tubuh mayor itu tetap di depannya, maka si Bungsu dapat mengawasi seluruh pasukan Jepang itu.

“Suruh mereka berkumpul di dekat truk. Semuanya ..”

Anak muda itu berkata lagi sambil memberi isyarat pada Datuk Penghulu dan kawan-kawannya yang berada di atas truk untuk turun. Mereka segera turun dan bergabung dengan di Bungsu di tepi dinding rumah.

“Cepat suruh mereka berkumpul dekat truk itu mayor….” si Bungsu kembali mengancam.

“Syo-i Atto. Perintahkan semuanya berbaring dekat truk. Lekasss..!!”

Mayor itu berteriak lagi dengan suara seraknya. Syo- I (Letnan dua ) itu segera melaksanakan perintah mayor tersebut. Sebaliknya tubuh si Bungsu menegang tiba-tiba begitu mendengar nama Atto disebut si Mayor. Demikian juga halnya dengan Datuk Penghulu. Mereka saling tatap. Mata si Bungsu menatap tajam dan membersitkan amarah yang hebat.

Atto Nama itu mengiang di telinganya. Dia teringat pada saat-saat menjelang kematian Mei-mei. Gadis itu mengatakan bahwa dia diperkosa oleh satu regu Kempetai. Yang memulai perkosaan itu adalah komandan mereka. Gadis itu mendengar namanya disebut dengan Atto. Dan kini Letnan dua yang bernama Atto itu siap melaksanakan tugasnya. Dia tegak di depan prajurit-prajurit Jepang yang jumlahnya sekitar delapan belas orang itu.

Seluruh senjata mereka seperti karabin, pistol dan samurai, bergelatakan di tanah. Si Bungsu segera tersadar dari lamunannya pada Mei-mei. Lamunannya dan kebenciannya membuat tangannya tak terkontrol Dan mata samuarinya amat tajam itu melukai leher si Mayor. Darah mengalir kebawah, tapi untunglah lukanya hanya luka luar saja. Tentara Jepang yang lain pada merinding.

Mereka menyangka anak muda ini sudah menyembelih pimpinan mereka. Si Bungsu menoleh pada Datuk Penghulu.

“Ambillah bedil yang ada di tanah itu. Dan juga pistol mayor ini. Awasi dia. Saya akan buat perhitungan . .”

Datuk Penghulu segera mengetahui maksud anak muda itu. Dia mengambil pistol mayor itu dari pinggangnya. Yang lain pada memungut bedil di tanah. Kemudian mereka ganti menodong Jepang-Jepang itu. Dari balik pintu, dari balik jendela, penduduk tetap mengintai dengan diam. Mengintai dengan takut.

Barangkali ada rasa gembira dan bangga di hati mereka melihat betapa pejuang-pejuang itu berbalik menguasai tentara Jepang yang mereka benci. Namun sebagaimana umumnya rakyat sipil dari sebuah negara yang sedang dilanda perang, dimanapun negara itu berada, bangsa manapun dia, ketakutan terhadap militer selalu saja menghantui mereka. Di setiap negara yang dilanda perang, apalagi negara yang dijajah, maka penduduk sipil selalu saja menjadi korban tak berdosa dari keganasan militer. Saat itupun, penduduk di Birugo itu selain merasa bangga, sekaligus juga merasa takut. Bangga karena bangsa mereka ternyata sudah mulai unjuk gigi dalam melawan penjajah. Ngeri karena mengingat pembalasan yang akan datang dari Jepang.

Karena betapapun jua, pejuang Indonesia itu pastilah sebentar berada di kota. Setelah itu mereka akan lenyap bersembunyi. Karena seluruh jengkal tanah di bumi Indonesia saat itu dikuasai o leh Jepang. Penduduk dapat membayangkah setelah sore hari ini, maka akan ada ratusan tentara jepang yang akan memeriksa seluruh rumah di Birugo ini. Dan mereka ada yang akan ditangkap. Ada yang diperkosa. Begitu selalu. Dan dari balik p intu, dari balik jendela, mereka melihat anak muda yang tadi meringkus mayor itu berjalan ke depan.

Mayor itu kini berada d i bawah ancaman senjata yang dipegang oleh Datuk Penghulu. Si Bungsu melangkah ke dekat truk. Sepuluh langkah di depan Letnan dua yang bernama Atto itu dia berhenti. Samurai sudah berada dalam sarangnya. Dia pegang dengan tangan kiri. Dia menatap tajam pada atto yang sama sekali tak mengenal anak muda ini. Tapi ditatap begitu, bulu tengkuknya merinding.

“Ambil samuraimu yang tergelak di tanah itu Atto . . .” Tiba-tiba dia dengar anak muda ini bersuara. Dia tertegun. Kaget dan tak percaya pada pendengarannya.

“Ambillah samuraimu. Engkau yang bernama Atto, yang memimpim penangkapan dan pembakaran rumah di Tarok dua puluh hari yang lalu bukan ?”

Tanpa dia sadari, letnan itu mengangguk.

“Nah, sayalah suami dari gadis yang bernama Mei-mei yang engkau perkosa ketika dia dalam luka parah di pondok dalam hutan bambu di Tarok malam itu, masih ingat?” Seperti orang dungu, letnan itu kembali mengangguk.

“Dia sudah mati. Mati karena menderita. Menderita kalian perkosa bersama-sama. Namun sebelum dia meninggal, saya telah bersumpah untuk membunuhmu. Kini ambillah samurai itu. Atau kau akan saya bantai tanpa membela diri. Bagi saya sama saja. Saya hitung sampai tiga. Kalau kau tetap tak mau mengambil samuraimu, kau akan saya bunuh seperti membunuh seekor anjing. Satu…..!”

Tikam Samurai (Bagian 73)

Semua mereka sudah dinaikkan ke atas truk. Syo Sha itu melangkah mendekati jipnya yang terletak tak jauh dari truk itu. Dia melangkah dengan wajah angkuh dan lewat di depan kedai kopi dimana beberapa lelaki sedang terdiam. Syo Sha itu seorang perwira yang punya ftrasat tajam. Ketika lewat kedai kopi itu dia menyadari membuat Suatu kekeliruan kecil. Yaitu tidak memeriksa dan menangkapi lelaki yang ada dalam kedai kopi itu.

Siapa tahu di antara mereka ada pejuang-pejuang bawah tanah Indonesia. Siapa tahu di dalam kedai ada penembak tersembunyi. Menyadari kekeliruan kecil ini. Mayor itu segera menoleh ke belakang untuk memerintahkan pada bawahannya guna memeriksa lelaki yang ada dalam kedai tersebut. Namun instingnya terlambat. Firasatnya sebagai perwira intelejen ternyata tak menolong. Karena begitu dia berhenti untuk menoleh ke belakang, seorang lelaki tiba-tiba muncul di dekat jip yang dia naiki. Tak jauh dari sana, seorang kempetai yang tegak dengan bedil terhunus segera mengenali lelaki yang muncul itu adalah si Bungsu.

Kempetai itu mengangkat bedilnya dan menembak. Sebab sudah sejak sepekan yang lalu anak muda itu dicari dengan perintah Tangkap hidup atau mati. Kini dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Bukankah pangkatnya akan naik kalau d ia berhasil menembak mati anak muda yang telah membunuh banyak tentara Jepang itu? Dan impiannya itu sebenarnya bisa terwujud, yaitu kalau saja anak muda itu bukan si Bungsu Begitu mengangkat bedil, naluri si Bungsu yang amat tajam itu segera menyadari bahaya mengancamnya.

Lompat Tapai Tabuhnya segera berguling ke depan dengan kecepatan yang sukar diikuti mata. Dan letusan itu mengejutkan si Mayor. Begitu dia menoleh, begitu sesosok bayangan tegak di depannya. Mayor ini secara naluriah mengetahui bahaya yang mengancam. Dia segera mencabut samurai dengan tangan kiri. Tapi begitu samurai itu keluar dari sarungnya, begitu sebuah babatan menghantam samurainya tersebut.

Tangannya rasa kesemutan. Begitu kuat hantaman samurai itu. Tanpa dapat dia tahan samuarainya terpenta. Jatuh ke tanah. Dan saat itulah orang yang belum dia lihat wajahnya itu berputar ke belakang dan sebuah benda dingin, tajam, tipis dan menakutkan, menempel di lehernya. Anak muda itu tegak di belakangnya sambil memegang kepala si Mayor. Kepala Mayor itu dia buat tertengadah dan mata samurainya itu dia tekankan ke lehernya.

“Perintahkan semua anak buahmu melemparkan senjata mereka ke tanah, Mayor” Suara si Bungsu mendesis tajam. Bukan main cepatnya kejadian itu berlangsung. Sebahagian besar Serdadu Jepang itu masih tegak terpana. Dan kini menatap dengan mulut ternganga pada komandan mereka yang terancam itu.

Mayor itu sendiri hampir-hampir tak percaya kejadian yang dia alami ini. Dia tak yakin ada manusia yang dapat bergerak demikian cepatnya. cepat dalam bergerak. Dan cepat dalam memainkan samurainya.

“Si Bungsu . . .” akhirnya mayor itu bersuara perlahan.

Nama anak muda itu sudah menjadi buah bibir di antara para perwira di Markas besar mereka. Anak muda yang mahir dengan samurai.

“Ya. Sayalah si Bungsu Mayor. Dan saya tidak main-main dengan samurai saya ini. Sudah banyak bangsa saya yang terbunuh oleh samurai kalian ini. Dan dengan samurai ini pula, sudah puluhan Jepang yang saya bunuh. Dengan segala senang hati hari ini saya akan menambah jumlah itu dengan diri tuan. Yaitu kalau tuan tidak memerintahkan anak buah tuan melemparkan senjata mereka. . .”

Tanpa dapat ditahan Mayor itu merasakan seluruh bulu di tubuhnya pada merinding. Dia sudah berperang selam puluhan tahun. Mulai dari daratan Mongolia sampai ke daratan cina. Menembus rawa-rawa maut di sungai Yang Tse Kiang. Dia sudah menghadapi berbagai macam bentuk manusia yang siap merenggut nyawanya.

Dia sudah berhadapan dengan tentara Belanda, Amerika dan lain-lain. Namun dia tak pernah merasa gentar. Tapi sore ini, di bawah ancaman anak muda ini, tubuhnya tiba-tiba terasa mendingin. Tak hanya mendingin, buat pertama kali dalam hidupnya sebagai militer, tubuhnya tiba-tiba menggigil.

“Perintahkan Mayor Atau perlu kuhitung sampai sepuluh seperti engkau menghitung tadi ?”

Bulu tengkuk mayor ini tambah merinding. Dia sudah banyak mendengar, bahkan melihat sendiri betapa mayat-mayat tentara Jepang ketika akan menangkap anak muda ini di Tarok, terputus-putus seperti dijagai kena samurai.

“Lemparkan seluruh senjata kalian ke tanah . .” suara mayor itu terdengar serak.

Tikam Samurai (Bagian 72)

Dari caranya menggantungkan kedua senjata ini, orang segera dapat menebak, bahwa Kapten ini mahir bermain samurai dengan tangan kiri. Sementara pistol dipergunakan dengan tangan kanan. Hanya saja letak pistol itu terbalik dari umumnya orang-orang yang kidal. Di belakang syo-Sha itu tegak seorang ajudan yang berpangkat Letnan. Mayor itu lalu berseru dengan suara lantang.

“Datuk Penghulu, Datuk Putih NanSati, Sutan Baheramsyah, atas nama Kaisar Tenno Heika, kalian saya perintahkan untuk menyerahkan diri. Kalian kami tangkap dengan tuduhan berkomplot ingin mencuri senjata, meledakkan rumah-rumah perwira, menculik dan membunuh perwira-perwira Jepang. Dokumen kalian telah kami temukan. Kini menyerahlah. . .”

Tak ada sahutan. Rumah itu tiba-tiba jadi sepi. Suara Mayor itu bergema jelas. Bahkan dapat didengar oleh penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah dimana rapat itu sedang berlangsung. Angin bertiup perlahan. Semua menanti dengan tegang.

“Saya hitung sampai sepuluh Jika kalian tak menyerah, kami akan meledakkan rumah ini dengan dinamit. Kalian boleh pilih, menyerah untuk diadili, atau mati berkepingkeping dalam rumah ini….””

Syo sha itu mulai menghitung. Di dalam rumah, Datuk Penghulu dan semua lelaki yang tadi namanya disebutkan oleh Syo Sha tersebut pada tertegak diam. Mereka memang tak membawa senjata apapun. Meski mereka pimpinan gerilya, namun membawa senjata siang hari sangat berbahaya. Tapi mereka tak menyangka sedikitpun akan terperangkap hari ini.

“Pasti ada yang berkhianat.” Datuk Penghulu berkata.

Pejuang yang lain masih terdiam. Hitungan di luar sudah mencapai angka empat. Lelaki yang tadi punah buah bajunya dimakan samurai si Bungsu, perlahanlahan bergerak ke tepi dinding. Dari sebuah lubang kecil dia mengintai. Kemudian menghadap kepada teman-temannya yang memandang kepadanya dengan tegang.

“Semua petugas yang ada di luar sudah diringkus. Ada seorang nampaknya terluka. Kini dia terbaring di atas truk berlumur darah. . . Mana anak muda tadi?”

Tiba-tiba yang buah bajunya putus itu, yang rupanya bernama Datuk Putih Nan Sati yang dipanggil Syo sha tadi bertanya. Sebagai jawabannya dia mengintip lagi dari lubang kecil itu. Matanya coba mengintip ke luar. Menatap apakah di antara petugas yang tertangkap dan kini ditegakkan dekat truk itu ada si Bungsu atau tidak. Letih dia mencari anak muda itu tetap tak kelihatan.

“Dia tidak termasuk di antara yang ditangkap” katanya

“Apakah. . apakah tidak mungkin dia yang memberitahukan pada Jepang bahwa kita rapat disini,” salah seorang bertanya. Mereka saling pandang.

“Tak mungkin. Saya berani mempertaruhkan nyawa saya untuk itu . . .” Datuk Penghulu membantah, lalu mereka sama-sama terdiam.

Di luar hitungan sudah mencapai delapan Akhirnya si lelaki yang berbaju kuning, yang tak lain dari Sutan Baheramsyah yang menjadi pimpinan di antara seluruh mereka yang ada di rumah itu, tegak. Melangkah ke tengah ruangan.

“Apakah mereka memang bermaksud meledakkan kita dengan dinamit ?” tanyanya.

“Saya lihat memang begitu. …..” Datuk Putih Nan Sati yang kembali mengintai dari lobang kecil itu menyahut.

“Nah, kita kali ini kebobolan. Tapi daripada mati percuma, lebih baik menyerah. Saya yakin, dipenjara masih ada kesempatan untuk melarikan diri. Kalau kita menyerah, ada kesempatan bagi teman-teman yang lain untuk membebaskan kita. Mari kita keluar. .”

Sehabis berkata Sutan Baheramsyah melangkah ke depan. Yang lain tak dapat membantah. Sebab hitungan Syo Sha yang di luar sudah menyebutkan angka sepuluh Syo Sha itu sudah akan memberi isyarat untuk membakar sumbu dinamit, ketika pintu rumah itu terbuka. Lalu kelihatan Sutan Baheramsyah, Datuk Penghulu, Datuk Putih Nan Sati melangkah keluar bersama-sama teman-temanya yang lain.

Mereka berhenti dan tegak berjejer di depan rumah itu. Tegak berhadapan dalam jarak sepuluh depa dengan Syo Sha tersebut. Tak sedikitpun di wajah mereka tergambar rasa takut. Mereka menatap kepada Jepang-Jepang itu dengan kepala terangkat dan pandangan yang lurus.

“Silahkan tuan naik ke atas truk. …..” Syo Sha itu berkata. Dari bilik pintu dan jendela penduduk pada mengintip kejadian itu dengan perasaan tegang.

“Kami adalah para perwira. Menurut perjanjian militer kami harus pula diperlakukan seperti perwira ….” Sutan Baheramsyah berkata dengan nada datar.

“Tak ada tanda-tanda kepangkatan yang menandakan tuan seorang perwira, dan kami tak dapat memperlakukan tuan sebagai perwira karena tak ada tanda-tanda tersebut. . . .” Syo sha itu menjawab dengan nada tegas kemudian memberi perintah pada anak buahnya. Keenam lelaki itu digiring dengan bayonet terhunus ke atas truk yang telah menanti. Di atas truk, beberapa orang cepat membantu petugas yang tadi terluka kena tusukan bayonet. Namun dengan terkejut mereka mendapatkan pejuang itu sudah menghembuskan nafas yang terakhir.

“Jahanam. . benar-benar jahannam ..” Datuk Putih Nan Sati memaki.

Tikam Samurai (Bagian 71)

Dia lalu mengangguk memberi hormat pada semua orang. Lalu berbalik dan melangkah dengan tenang keluar. Beberapa lelaki yang masih duduk di kursinya tiba-tiba bernafas lega. Mereka pada mengusap peluh yang entah kenapa mengalir saja di wajah mereka. Luar biasa, benar-benar luar biasa Lelaki yang tadi memimpim rapat berkata perlahan. Akan halnya lelaki yang buah bajunya dan bajunya tercabik-cabik putus itu, lambat-lambat kembali ke tempat duduknya.

“Ya… dia sangat hebat. Saya beruntung dapat mengetahuinya dengan pasti. . .,” katanya sambil duduk.

“Tapi percobaan itu sangat berbahaya. . . .,” yang berbaju kuning berkata.

“Habis yang lain tak ada yang mau melaksanakan rencana itu. . . .,” dia membela diri.

“Saya sendiri yakin anak muda itu akan mampu mengontrol dirinya. Tapi tetap saja peluh membasahi tubuh saya. . . .,” Ujar yang seorang lagi.

Datuk Penghulu terheran-heran mendengar pembicaraan teman-temannya ini. Dan yang memimpin rapat tadi mengetahui keheranannya itu. Dia lantas berkata:

“Ini semua sebuah sandiwara. Datuk dan anak muda itu sengaja kami undang kemari untuk sebuah pembuktian. Sudah tersebar dari mulut ke mulut, dari bisik ke bisik, bahwa ada seorang anak muda yang perkasa, anak Minang yang bangkit menuntut balas kematian keluarganya justru mempergunakan samurai sebagai senjatanya. Pimpinan tertinggi menyuruh kami mencek kebenaran itu. Dan sampailah akhirnya berita bahwa anak dan istri Datuk binasa dilaknati Kempetai.

Kami berduka atas peristiwa itu. Hari ini, kami ingin menyampaikan duka cita itu. Tapi harap maafkan, kami tak bisa menahan hati untuk tak membuktikan sampai dimana kehebatan anak muda itu mempergunakan samurainya. Kami menyangka hebat, sehebat yang diceritakan orang. Ternyata hari ini kami buktikan bahwa kehebatannya jauh melampaui yang diceritakan orang banyak. . . .”

Datuk Penghulu masih saja terheran-heran. Yang berbaju kuning, yaitu yang membawahi sektor Pasaman bicara pula, “Kita semua memerlukan anak muda seperti dia. Coba bayangkan hasil yang akan kita capai kalau ada sepuluh orang seperti dia. Sepuluh orang pemuda dengan kemahiran seperti itu. Ah …” lelaki itu tak menyudahi ucapannya.

“Jadi saya dipanggil kemari hanya untuk memperlihatkan pada tuan-tuan betapa kepandaian anak muda itu mempergunakan samurainya ?”

“Ya. Tapi kalau kami beritahu pada Datuku maka kami yakin dia takkan datang.”

“Kalau begitu, saya menyesal tidak menyuruh dia menyiksa kalian tadi. . . .”

“Apa maksud Datuk. ..”

“Kalau saja saya tahu, saya hasut dia sehingga ada diantara kalian yang akan dia cencang menjadi potongan-potongan sate” Lelaki yang putus buah bajunya itu nyengir mendengar olok-olokan Datuk ini.

“Nah kita tak punya waktu lagi. Mari k ita semua susun rencana berikutnya.” Yang memimpin rapat itu bicara lagi.

“Satuan tugas yang dikirim menyelidiki kegiatan Jepang dalam sebulan ini mendapat informasi, banyak amunisi yang datang dari Medan dan langsung lenyap set ibanya di lapangan Gadut. Setelah diteliti, ternyata dari lapangan itu ada terowongan. Diduga terowongan itu menuju ke bawah kota Bukittinggi. Terowongan-terowongan itu dibuat untuk menyimpan peralatan perang serta sekaligus untuk perlindungan bila mereka nanti terdesak oleh tentara Sekutu. Jepang sudah mensinyalir bahwa ada dua bahaya yang akan mengancam mereka di Indonesia ini. Pertama gerakan Kemerdekaan dari pemuda-pemuda Indonesia dan kedua kembalinya Belanda merebut bekas jajahannya. Belanda diduga akan ikut membonceng bersama tentara Sekutu. Kini tugas kita adalah merebut persenjataan sebanyak mungkin. Atau kalau itu tak bisa, maka kita harus meruntuhkan terowongan yang mereka buat. Dengan demikian kita berarti melumpuhkan jalur suplai mereka….”

Dan rapat itu berlangsung terus. Kontak-kontak telah di buka dan disampaikan melalui radio rahasia antara pejuang-pejuang di Sumatera Utara, Jawa dan Sumatera Barat. Saat peristiwa ini terjadi, hari proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 45 hanya menunggu saatnya saja. Waktu itu tanggal telah memasuki awal Agustus 45.

Di luar, si Bungsu bosan menanti. Dia pergi ke kedai kopi. Memesan secangkir kopi dan memakan ketan dengan pisang goreng. Dia termasuk yang beruntung berada di kedai kopi itu. Sebab tengah ia makan itu, tiba-tiba saja sebuah truk militer berhenti. Delapan orang Kempetai berloncatan turun mengepung rumah tersebut. Demikian cepatnya gerakan mereka. Tak diketahui siapa yang telah membocorkan rahasia rapat itu ke pihak kempetai.

Enam lelaki berpakaian preman yang sebenarnya ditugaskan untuk menjaga keamanan di luar rumah itu, jadi tak berdaya ketika tiba-tiba dari balik beberapa rumah, selusin Kempetai muncul melecuti mereka. Beberapa orang ada juga yang berusaha memberikan perlawanan. Tapi dengan jurus-jurus karate dan judo yang amat mahir, dengan mudah Kempetai kempetai itu melumpuhkan mereka. Seorang lelaki ingin berteriak, tetapi sebuah tusukan bayonet menghentikan suaranya.

Dia terkulai, dan tubuhnya dicampakkan ke atas truk. Penduduk segera berlarian. Menutup pintu dan bersembunyi. Dalam waktu singkat, kampung Birugo Puhun itu seperti dikalahkan garuda. Sepi. Bahkan anjing pun tak ada yang kelihatan di luar. Mereka yang ada di kedai kopi pada terdiam. Dan selama mereka berdiam diri, mereka nampaknya tak digubris oleh Kempetai-kempetai itu. Dalam kedai kopi itu ada empat lelaki.

Keempatnya, termasuk si Bungsu, pada tertegun kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Rumah di mana tengah berlangsung rapat rahasia itu telah dikepung dengan senjata dan bayonet terhunus. Cahaya sore mengirim sinarnya yang panas ke pintu rumah. Seorang Syo Sha (Mayor) maju ke depan. Di antara sekian tentara Jepang yang ada, hanya dia yang tak menghunuskan senjatanya. Sebuah pistol tergantung dipinggangnya sebelah kiri. Hulunya menghadap kedepan. Sedangkan sebuah samurai tergantung di pinggang kanan.

Tikam Samurai (Bagian 70)

Dia berhenti bicara. Menatap keenam lelaki itu dengan tajam. Sejak mereka mengata-ngatai Datuk Penghulu tadi dia sudah merasa mual. Karenanya dia merasa lebih baik berada di luar ruangan itu daripada mendengar pembicaraan yang menyesakkan dadanya ini. Lelaki yang berbaju kuning berdiri.

“Kau tak bisa berbuat sekehendakmu buyung. Daerah ini daerah perjuangan. Kami telah membaginya dalam sektor-sektor. Tiap sekt or berada dalam satu tangan komando. Dan kau berada di dalam sektorku. Karenanya engkau harus tunduk di bawah perintahku.”

“Baik. Apa perintah Tuan pada saya. . .?.”

“Buat sementara, untuk menghindarkan kekacauan pada rencana induk yang telah disusun, kau serahkan samuraimu. Ini hanya untuk sementara. Sampai saat yang memungkinkan. Harap dimengerti. . .”

Datuk Penghulu sampai tegak mendengar kata-kata ini. Tapi sebelum dia buka suara, si Bungsu telah menyahut,

“Baik. Datanglah kemari, dan ambil sendiri samurai ini….”

Dia mengulurkan tangan kirinya yang memegang samurai. Sikapnya menentang sekali. Semua orang yang ada di sana pada tertegun.

“Ambillah. Tapi untuk tuan mengerti, sebelum tuan, sudah ada lebih dari empat puluh Jepang yang ingin mengambilnya dari saya. Dan saya telah bersumpah, jika ada yang berniat mengambil samurai ini, maka hanya satu di antara dua pilihan. Saya atau orang itu yang mati. Dan selama ini, saya masih bisa bertahan hidup, Barangkali hari ini keadaanjadi lain, silahkan saja Tuan coba mengambilnya. . ..”

Keenam lelaki itu mengerti, ucapan anak muda ini tidak hanya sekedar gertak sambal. Dari beberapa orang, mereka sudah mendengar kehebatan anak muda tersebut. Namun beberapa orang diantara mereka memang belum pernah tahu tentang si Bungsu. Kini mendengar betapa dalam rapat khusus ini ada anak muda yang seperti takabur dan menantang pimpinan gerilya, salah seorang di antara mereka tegak.

“Baik, saya ingin mencoba mengambil samuraimu buyung. Dan jangan menangis kalau dapat merampasnya. . .”

Sehabis berkata ini lelaki itu meninggalkan tempat duduknya. Namun dia di cegat oleh Datuk Penghulu.

“Sabarlah. Sebagai pimpinan saudara harus banyak sabar. Anak muda itu tak bergurau dengan menyebutkan bahwa sudah puluhan Jepang mati di mata samurainya. Kau akan sia-sia merebut samurainya itu. .”

Datuk Penghulu sebenarnya bermaksud baik. Ingin menyabarkan dan menghindarkan pertumpahan darah di antara sesama awak. Tapi larangannya itu justru dianggap sebagai gertak oleh lelaki itu. Dia menyentakkan tangannya yang tengah dipegang oleh Datuk Penghulu. Datuk Penghulu tahu, demikian juga lelaki yang lain dalam ruangan itu, bahwa lelaki yang satu ini cukup berisi. Dia juga seorang guru silat dan guru ilmu batin. Kini dia tegak dua depa di depan si Bungsu.

“Nah buyung, kau serahkan baik-baik samurai celakamu itu atau kurampas dari tanganmu. Mana yang kau pilih. . .?”

Semua yang hadir menatap dengan tegang. Datuk Penghulu sendiri jadi serba salah. Dia menatap saja tepat-tepat pada si Bungsu.

“Saya rasa tak ada salahnya Tuan mengambil samurai celaka ini . .” si Bungsu berkata sambil tanganya bergerak. Suatu gerakan yang alangkah cepatnya. Lelaki itu, dan lelaki-lelaki yang ada dalam ruangan rapat khusus itu, hanya melihat secarik cahaya putih. Muncul dari dalam sarung samurai dan masuk lagi ke sarung samurai itu. Lamanya hanya sekitar empat detik. Ketika terdengar bunyi ‘trak’ maka samurai itu sudah masuk lagi ke sarungnya.

“Ambillah. . .,” kata si Bungsu menyambung ucapannya.

Tapi lelaki itu tegak dengan kaget. Mukanya berobah jadi pucat pasi. Dia memakai baju kemeja. Empat buah kancing baju kemeja itu sudah putus dan jatuh ke lantai. Tidak hanya sampai disitu, persis tentang jantungnya kemeja itu potong dua dari kanan ke kiri dan dua dari kiri ke kanan. Namun tak segorespun kulitnya tersentuh oleh ujung samurai. Demikian cepatnya, demikian telitinya, dan demikian terlatihnya gerakan anak muda itu.

Lelaki itu jadi pucat pasi. Karena kalau saja anak muda itu mau, maka tubuhnya pasti sudah putus beberapa potong. Dia menjilat bibirnya yang serta merta jadi kering. Si Bungsu tersenyum tipis. Wajahnya jadi keras. Matanya berkilat.

“Sudah kukatakan, kita tak punya sangkut paut. Ingatlah itu baik-baik. Saya tak mencampuri urusan perjuangan kalian. Karena itu jangan campuri urusan pribadi saya. . . .” Ujar si Bungsu perlahan. Kemudian dia menoleh pada Datuk Penghulu.

“Saya tunggu Pak Datuk di luar. Saya rasa rapat ini bukan untuk orang seperti saya,”

Tikam Samurai (Bagian 69)

Tak ada kata yang bisa di ucapkan oleh Syo Sha Akiwara mendengar putusan komandan tertingginya itu. Dia hanya tegak dengan sikap sempurna. Kemudian di akhir perintah komandannya itu dia membungkuk dan berseru “Haik”. Namun akhirnya, Mayor Jenderal Fujiyama itu tersingkir juga dari jabatannya sebagai komandan Tertinggi Balatentara Kekaisaran Jepang di Sumatera.

Disiplin dan Hati Bersih dalam ketentaraan yang dia anut, yaitu sikap yang dia terima tatkala mula pertama balatentara Kekaisaran Tenno Heika didirikan, bersumber pada ajaran-ajaran Budha, dianggap tak cocok untuk tentara pendudukan. Tak cocok bagi kebanyakan perwira-perwira bawahannya.

Memang ada beberapa perwira tinggi yang sependapat dengan dia. Tetapi sebagaimana jamaknya dalam tubuh ketentaraan, perwira-perwira senior selalu dianggap makin lama makin tak mengikuti jaman. Tak mengikuti perkembangan dan tak sesuai lagi untuk hal-hal yang praktis. Dengan segala cara mereka disingkirkan. Dengan halus maupun kasar. Itulah yang dialami olehJenderal Fujiyama. Namun satu hal yang pasti, dia dianggap sebagai prototip tentara sejati. Yang melandaskan set iap tindakan pada sikap satria.

Si Bungsu dan Datuk Penghulu lenyap tak berbekas. Meski Komandan Kempetai untuk Garnizun Bukittinggi ditahan dan dicopot, namun Fujiyama tetap memerintahkan untuk mencari dan menangkap kedua orang pelarian itu. Mata-mata disebar. Tidak hanya mata-mata dari kalangan militer Jepang. juga mata-mata dari kalangan pribumi yang bersedia bekerja untuk fasis tersebut. Perintah itu telah membuat penjagaan diperketat dimana-mana. Dan itu menyebabkan beberapa rencana yang telah disusun oleh para pejuang bawah tanah Indonesia jadi berobah. Dirobah sebab kewaspadaan yang sangat ditingkatkan oleh Jepang.

Hal ini membuat beberapa pemimpin perjuangan bawah tanah Indonesia menjadi tidak senang. Datuk Penghulu dan si Bungsu dipanggil ke sebuah markas yang tersembunyi di Birugo, mereka seperti diadili. Datuk Penghulu duduk bersebelahan dengan si Bungsu. Sementara di depan mereka, duduk enam orang lelaki. Di luar, di tempat yang tak kelihatan tak kurang setengah lusin lelaki saling berjaga-jaga terhadap sergapan serdadu Jepang. sebab yang ada di dalam rumah itu beberapa orang diantaranya adalah pucuk pimpinan pergerakan kemerdekaan Indonesia di sumatera Barat.

“Datuk sengaja kami panggil beserta si Bungsu. . . .” yang duduk di tengah memakai baju putih mulai bicara. Datuk Penghulu hanya diam.

“Adapun yang ingin kami bicarakan adalah sepak terjang Datuk dan si Bungsu bulan ini. Kegaduhan dan pembunuhan yang Datuk lakukan bersama si Bungsu telah menyebabkan rencana kita gagal. Dan itu sangat merugikan perjuangan kita. Kami ingin meminta pertanggungjawaban Datuk. Kenapa Datuk sampai melanggar perjanjian yang telah kita buat.” Semua terdiam menanti jawaban Datuk Penghulu.

“Jawablah Datuk.” Seorang lelaki yang pakai baju kuning bicara. Suara lelaki itu perlahan saja. Tapi di dalamnya jelas tergambar adanya nada tekanan. Datuk Penghulu menatap mereka. “Apa yang harus kujawab untuk kalian . . . ,” katanya datar.

Dengan menyebut kata kalian jelas ada nada menentang dari datuk itu. Hal itu menyebabkan suasana kurang enak diantara yang hadir.

“Yang harus Datuk jawab adalah, kenapa Datuk bertindak sendiri-sendiri. Datuk telah mulai menyerang Jepang sebelum ada perintah. Dan itu mengacaukan rencana yang telah kita susun berbulan-bulan . . ..”

“Saya rasa tak pernah ada larangan atau ketentuan untuk tak melakukan serangan..”

“Secara tertulis memang tidak. Tapi dalam kemiliteran, segala tindakan harus dengan satu komando. Sebagai perwira Intelejen, Datuk telah melanggar ketentuan itu.”

“Apakah saya harus membiarkan anak istri saya diperkosa kemudian dibunuh tanpa membalas?”

“Datuk harus berpikir secara NasionaL Kita berjuang bukan untuk membela kepentingan keluarga atau pribadi. Kita berjuang untuk Negara dan Bangsa.”

“Ya, tuan-tuan bisa berkata begitu karena tuan-tuan belum merasakan apa yang saya rasakan…..” Datuk itu mulai meninggikan suaranya.

“Apakah hanya karena emosi pribadi Datuk bersedia mengorbankan tujuan yang besar?”

“Tuan-tuan harus memisahkan mana yang pribadi, mana yang tujuan bersama. . . .”

“Bukan kami yang harus memisahkan, tapi Datuk”

Suara mereka terputus ketika si Bungsu tiba-tiba tegak. Dia melangkah keluar.

“Bungsu. . .”

Lelaki yang tadi membuka rapat itu memanggil. Si Bungsu membalikkan badan. Dia menunggu orang itu bicara. Tapi karena lelaki itu tak juga bicara, d ia berbalik lagi. Tapi kembali terhenti ketika lelaki itu berkata

“Tunggu.”

“Tuan bicara pada saya?” tanyanya.

“Ya, saya bicara padamu. . . .”

“Nama saya Bungsu. Bukan Tunggu. Ada apa maka saya tuan cegah keluar . . . ?”

“Persoalan ini juga menyangkut diri Saudara. . ..”

“Diri saya?” si Bungsu merasa heran.

“Ya, sepak terjang Saudara merugikan rencana kami…”

“Rencana yang mana?”

“Rencana penyergapan kami terhadap beberapa markas Jepang. . .”

Si Bungsu tersenyum tipis. Kemudian berbalik menghadap tepat-tepat pada keenam lelaki itu. Dan ketika dia bicara, suaranya terdengar mendesis tajam.

“Saya tidak punya sangkut paut dengan rencana tuantuan. Saya tak punya sangkut paut dengan kemerdekaan atau kebebasan yang tuan inginkan. Saya bukan pejuang. Dan saya berhak berbuat sekehendak saya. . .”

Tikam Samurai (Bagian 68)

Kedua orang itu segera lenyap ke dalam hujan yang telah menggantikan gerimis. Tak lama setelah mereka pergi, kedelapan Serdadu Jepang yang dikirim untuk menangkap mereka di surau itu juga tiba di sana. Mereka menjadi menggigil melihat tubuh teman-teman mereka kena cencang. Mereka segera melaporkan ke markas. Kemudian imam itu serta anak istrinya juga di bawa ke markas besar Jepang di Panorama. Untung bagi imam ini, di markas itu dia ditanya langsung oleh syo-sho (Mayor Jenderal) Fujiyama Tai cho (Komandan Divisi) dan Panglima Tertinggi pasukan Jepang di sumatera. Dia baru saja naik pangkat dari Tai Sha (Kolonel) ke Mayor Jenderal.

Imam itu beruntung karena Fujiyama terkenal sebagai tentara sejati. Dialah yang telah menekan Syo Sha (Mayor) Saburo Matsuyama untuk pensiun karena telah membunuh banyak pribumi di Situjuh Ladang Laweh, diantaranya orang tua si Bungsu. Dan setelah Saburo meminta pensiun dalam usia yang belum pantas untuk pensiun, Fujiyama kembali menekannya untuk kembali ke Jepang. Fujiyama tak senang pada tentara yang menindas rakyat. Dia datang memang untuk menjajah. Tetapi penajajahan dalam arti kemiliteran yang dianut Fujiyama adalah penjajahan di bidang politik, ekonomi dan pertahanan. Menurut doktrin tentara, rakyat negara yang terjajah, tetap saja sebagai manusia yang harus dihormati. Kalau ada permusuhan, maka yang bermusuhan adalah tentara dan pemimpin kedua negara. Bukan tentara dengan rakyat. Kecuali rakyat yang mengorganisir perlawanan. Kalau hanya rakyat biasa, maka hak mereka harus dihormati. Inilah perbedaan yang sangat menyolok antara komandan divisi yang berkedudukan di Bukitinggi ini dengan sebagian besar perwiranya.

Kini dialah yang menanyai langsung Imam itu. Imam itu menceritakan seluruh peristiwa itu. Dimulai dari dimintanya dia untuk menikahkan Mei-mei dengan si Bungsu. Kemudian diceritakannya pula bahwa gadis itu meninggal sesaat sebelum membacakan ijab kabul.

“Kenapa dia meninggal. . . ?” Fujiyama memotong.

“Ditembak dan diperkosa bergantian oleh…” Ucapan Imam itu berhenti, dia tak berani melanjutkan bicaranya.

“Siapa yang menembak dan memperkosanya. Katakan, jangan takut. . . .”

“Kabarnya. . . .kabarnya anggota pasukan tuan yang datang ke rumah Datuk Penghulu itu untuk menangkap Datuk itu. Tapi yang mereka temui hanyalah isteri Datuk itu, si Upik anaknya dan Mei-mei. . ..”

“Siapa itu Mei-mei . . . ?”

“Gadis yang akan menikah dengan si Bungsu itu. . .”

“Namanya seperti nama cina. ..”

“Benar. Dia memang anak cina. Tapi dia telah masuk Islam. Hidupnya penuh penderitaan. Dia ditolong oleh si Bungsu dan diakui anak oleh Datuk Penghulu….”

Fujiyama mengangguk-angguk. “Teruskan ceritamu pak Imam. . ..”

“Setelah Mei-mei meninggal, saya diminta Datuk mencari orang untuk menguburkannya. Tapi di rumah saya, telah menanti enam orang serdadu tuan. Saya disiksa untuk mengatakan dimana kedua orang itu bersembunyi. Ketika saya tak mau mengatakan, anak saya akan diperkosa. Akhirnya saya katakan juga bahwa kedua orang itu bersembunyi di loteng surau. Saya katakan setelah Letnan itu berjanji takkan mengganggu anak dan isteri saya. Tapi begitu anak buahnya pergi ke surau itu, dia menendang saya hingga rubuh kemudian menyeret anak saya ke kamar. Dan . . .saya tak tahu lagi sampai si Bungsu dan Datuk itu membunuh mereka semua. . . .”

Komandan tertinggi balatentara Jepang itu menjadi merah mukanya. Dia memanggil komandan Intelejen. Kemudian memerintahkan untuk membebaskan Imam anak beranak. Diiring i dengan perintah untuk jangan mengganggu Imam itu. Dan dengan marah pula dia memerintahkan untuk menangkap komandan Kempetai

kota itu. Komandan Kempetai itu berpangkat syo sha (Mayor) bernama Akiwara.

“Telah saya katakan bahwa engkau harus mengawasi dengan ketat tingkah laku tentara Jepang yang ada di kota ini. Tentara tidak untuk ditakuti rakyat. Tentara harus dihormati dan disegani. Dan rakyat tak akan menyegani dan menghormati tentara kalau tentara itu sendiri kelakuannya tidak terhormat. Saya sudah mendapat laporan tentang banyak perbuatan jahanam yang dilakukan oleh tentara dalam wilayah Garnizun yang engkau bawahi. Bahkan Kempetai sendiri yang seharusnya menjaga disiplin itu, berkelakuan demikian pula. Dan saya mendengar pula tentang banyaknya korban jatuh dipihak tentara Jepang karena tak mampu menangkap hanya dua orang penduduk pribumi. Untuk itu semua, engkau saya penjarakan enam bulan, dan kedudukanmu digantikan oleh Tai-i (Kapten) Imamura dari Padang Panjang”

Tikam Samurai (Bagian 67)

Pada saat Datuk itu menjebol jendela, saat itu pula si Bungsu membuka pintu depan. Kemudian dia berdiri dua depa dari ketiga Jepang yang mengawasi imam dan istrinya itu. Semula mereka tak acuh. Menyangka bahwa yang hadir itu adalah temannya yang tadi keluar. Tapi begitu mendengar jendela dijebol, mereka terkejut. Dan ketika diperhatikan, ternyata yang tegak dekat pintu adalah pemuda yang mereka cari-cari.

“Bagero ini dia. Dia iniiiiii..!!” yang seorang memekik saking kagetnya.

Serentak mereka mengangkat bedil. Tiga letusan bergema mengoyak kesunyian. Tapi saat si Bungsu sudah mempergunakan loncat tupainya yang tangguh itu. Tubuhnya bergulingan ke depan sesaat sebelum ketiga bedil itu menyalak. Dalam saat seperti itu, tak ada kalimat yang bisa menggambarkan kecepatan anak muda itu mempergunakan samurainya yang tangguh itu. Dia mempergunakannya tak tanggung-tanggung. Dia baru saja kematian kekasih. Gadis cina yang dicintainya sepenuh hati. Mati karena ditembak dan diperkosa Jepang malam kemaren. Gadis itu meninggal di depannya hanya beberapa detik sebelum mereka mengucapkan ijab kabul di depan kadi Karenanya, dalam berang dan dendamnya yang amat sangat menyala-nyala, dia menebaskan samurai di tangannya dengan tak tanggung-tanggung pula. Hanya sekali tabas, ketiga kepala Kempetai itu putus Sebelum ketiga tubuh mereka jatuh memecah lantai, sekali lagi samurai di tangan anak muda itu bekerja. Tubuh mereka terpotong dua persis di tentang dada.

“Bungsu Jangan menganiaya mayat”

Suara Datuk Penghulu yang telah tegak di pintu bilik menyadarkan anak muda ini dari gejolak dendam dan amarahnya. Dia tertegun, wajahnya yang semula tegang menakutkan dengan sinar mata berkilat, lambat-lambat biasa kembali. Dia menatap kepala dan potongan tubuh serta darah yang berceceran di lantai. Kemudian menunduk. Kemudian lambat-lambat menyarungkan kembali samurainya.

Istri imam itu dan anak gadisnya yang kecil terdiam. imam itu yang lambat-lambat menyadari apa yang terjadi, juga tak bisa bicara. Mereka sudah lama mengenal anak muda ini. Karena dia selalu bepergian dengan Datuk Penghulu. Ada orang yang berbisik-bisik, bahwa anak muda ini sangat mahir memakai samurai. Dan konon kabarnya sudah puluhan Jepang dia bunuh ketika masih di Payakumbuh.

Namun itu hanya mereka dengar dari bisik-bisik. Bahkan ketika malam tadi banyak Jepang yang mati di bekas rumah Datuk Penghulu, kemudian ditemukan pula mayat yang berkeping-keping bersama ledakan di truk dekat jalan, banyak orang yang menduga itu adalah pembalasan Datuk Penghulu dan si Bungsu. Tapi mereka belum juga percaya, bahwa anak muda yang pendiam dengan wajah dan sinar mata murung ini adalah seorang perkasa begini.

Kini, ketika hal itu berlangsung di hadapan mereka, mereka bukan hanya ternganga tak percaya. Tapi lebih dari itu, mereka merasa kejadian ini terlalu hebat dalam kehidupan mereka. Sesuatu yang amat luar biasa. Sesuatu yang tak pernah mereka impikan akan bertemu dalam kehidupan mereka. Seorang anak minang, pribumi yang terjajah, yang selalu ditekan dan dianggap sampah, kini di hadapan mereka menghajar Jepang- Jepang yang laknat itu. Tidak hanya sekedar menghajar. Melainkan melakukan pembalasan yang luar biasa.

Tak pernah terbayangkan. Tak pernah terfikirkan. Istri imam itu bangkit menuju kamar, melihat anak gadisnya yang sudah diselimuti dengan kain panjang. Sementara di lantai terbujur mayat Letnan yang tadi akan melaknati tubuh anaknya itu.

“Anakmu selamat pak imam. . . .” Datuk Penghulu berkata perlahan. imam itu tiba-tiba bangkit. Dia teringat sesuatu.

“Di luar masih ada tiga orang Kempetai lagi. . . . ,”

katanya perlahan dengan wajah cemas.

“Jangan khawatir, mereka telah diselesaikan. . .” Imam itu menarik nafas. Kemudian perlahan dia berkata.

“Maafkan saya Datuk. Bungsu. Saya telah mengkhianati kalian, sayalah yang mengatakan pada mereka tempat persembunyian kalian ……”

“Jangan dipikirkan pak Imam. Pak Imam tak pernah mengkhianati kami. Kami dapat menerka apa yang terjadi. Mereka pasti sudah di rumah ini ketika pak Imam baru keluar dari surau itu. Dan peristiwa selanjutnya dapat diterka. Mereka memaksa Pak Imam untuk membuka rahasia, kalau tidak anak istri pak Imam akan mereka nodai. Kami bisa menerka hal itu, karena memang demikian watak tentara pendudukan, dimanapun. Nah, kini kami harus pergi. Saya rasa pak Imam tak usah takut, nantikan saja Kempetai yang ke surau itu disini. Kalau mereka kembali, katakan kami yang membantai teman-teman mereka. Dan katakan bahwa kami juga mencari mereka. . . ..”

“Tapi . . . .apakah mereka takkan mempersusah kami.. . .?”

“Mereka akan sibuk mencari yang membunuh tentara mereka daripada sekedar mempersusah Bapak..”

Ujar si Bungsu sambil mengangguk pada imam itu, kemudian pada istrinya. Dan ketika akan melangkah dia teringat sesuatu.

“Pak imam, mayat Mei-mei kami tinggalkan di surau. Kalau tidak akan menyusahkan Bapak. mohon Bapak selenggarakan mayat itu. Kami harus segera berlalu dari sini. . . .”

“Saya akan mengurusnya Bungsu. Saya akan mengurusnya. Percayalah. Terima kasih atas bantuanmu menyelamatkan keluarga saya. . ..”

Tikam Samurai (Bagian 66)

Datuk itu memang mulai membenamkan diri. Saat itu seorang Kempetai telah sampai ke loteng dan berteriak pada temannya di bawah. Jepang-Jepang itu mulai mencari ke belakang surau. Sesaat sebelum mereka muncul, si Bungsu telah membenamkan diri dan mulai menuju terowongan yang di maksud Datuk Penghulu.

Terowongan air itu melintasi sebuah tanggul sebelum sampai ke sebuah sungai kecil. cukup lama si Bungsu menahan nafas dan berenang mengikuti arus air, kemudian dia merasa melayang-layang. Dia menjangkau tangannya ke atas. Ketika dirasanya tak ada langit-langit yang menghalangi, dia lalu muncul.

“Lekaslah ….” Ujar Datuk Penghulu yang telah tegak di tebing, dan mulai melangkah.

“Yang kelihatan lampu sedikit itu rumah Imam tadi,”

Datuk Penghulu berkata sambil menunjuk ke belakang. Di rumah Imam itu Letnan yang tadi memegang anak gadis si Imam masih duduk di kursi. Sementara di lantai, duduk Imam yang berlumuran darah itu bersama-sama istrinya. Di luar hujan gerimisan turun. Mata Letnan itu menyambar dengan kilatan birahi ke tubuh anak Imam itu. Gadis itu punggungnya kelihatan jelas karena bajunya robek. Letnan itu beberapa kali menelan ludahnya. Pinggul gadis itu merangsang birahinya. Dan tiba-tiba dia memberi isyarat pada seorang prajurit yang menjaga. Prajurit itu mendekat. Mereka berbisik. Kemudian si Letnan bangkit. Dan menyambar tangan gadis itu.

“Tuan telah berjanji tidak mengganggu kami. . . . “, Imam itu berkata.

Tapi Letnan itu nyengir seperti iblis. Dia tetap menarik tangan gadis yang meronta-ront a itu. Tapi apalah dayanya. Letnan itu terlalu kuat baginya. Dalam dua kali renggut dia sudah sampai ke pintu bilik. Gadis ini berteriak. Ayahnya bangkit akan menolong anaknya. Tapi ketiga prajurit lainnya sudah siap sejak tadi. Dengan sebuah pukulan popor bedil Imam itu terkulai. Istrinya terpekik memeluknya. Sementara gadis itu dengan masih memekik-mekik di seret ke bilik orang tuanya. Dua puluh depa dari rumah itu, si Bungsu dan datuk Penghulu yang baru saja keluar dari sungai, telah melangkahkan kaki untuk memulai pelarian mereka, jadi tertegun. Mereka seperti mendengar pekik perempuan.

Pekik itu juga terdengar oleh beberapa penduduk yang rumahnya berdekatan dengan rumah Datuk Penghulu. Namun tak seorang pun diantara para lelaki yang ada disekitar itu yang berani memberikan pertolongan. Mereka semua mengetahui bahwa di rumah Datuk itu ada Kempetai. Dan bila ada perempuan memekik, itu bisa disadari apa artinya.

Tak ada yang berani menolong. Sebab pertolonganberarti melawan Jepang. Dan melawan Jepang artinya cabut kuku atau dibunuh. Nah, dari pada mencari susah lebih baik diam di rumah. Itu lebih selamat. ‘Bikin apa cari penyakit,’ pikir mereka.

Tapi tak demikian halnya dengan si Bungsu dan Datuk Penghulu. Hampir bersamaan, mereka yang sedianya akan melarikan diri itu, pada mengayunkan langkah panjang ke ruamh Imam tersebut. Mereka sadar, jika mereka kelihatan oleh Jepang, itu artinya maut mengintai. Tapi menyadari bahwa ada orang lain yang butuh pertolongan, mereka melupakan bahaya yang mengancam diri mereka sendiri. Mereka segera mancapai belukar di pinggir rumah itu. Pekik dan tangis masih terdengar dari dalam.

“Ada tiga orang diluar” si Bungsu berbisik.

Lalu seperti sudah bermufakat, tiba-tiba saja mereka meloncat ke depan. Ketiga Serdadu Jepang yang tegak di bawah cucuran atap itu, yang berteduh dari gerimis, terkejut melihat kehadiran mereka yang amat tiba-tiba. Yang seorang berniat membentak, tapi suaranya hanya sampai di tenggorokan. Kerampangnya kena tendang Datuk Penghulu. Kemudian sebuah tinju mendarat di jantungnya. Dia terjajar, mati.

Yang dua lagi mengangkat bedil. Namun bedil itu tak pernah meletus. Sebuah sinar halus melesat amat cepat. Dan tahu-tahu yang satu lehernya hampir putus, yang satu lagi dadanya terburai. Mereka mati tanpa sempat mengeluh. Dan tak sempat pula mengetahui, apa yang menjadi malaikat maut yang merenggut nyawa mereka demikian cepatnya. Dan si Bungsu menyisipkan kembali samurainya.

Datuk Penghulu memberi isyarat. Si Bungsu mengangguk. Di dalam bilik si Letnan tadi sudah merenggut seluruh pakaian anak gadis Imam itu. Gadis malang itu tegak di sudut ruangan dengan tubuh menggigil tanpa pakaian secabikpun. Kempetai itu menjilat bibir dan meneguk liurnya beberapa kali melihat tubuh montok gadis itu.

“Hhhhh, bagusy badan . . .bagusy badaaaan . . . .,” katanya seperti orang menggigil.

Dan dalam gigilannya itu dia membuka pula pakaiannya sendiri. Kemudian mendekat pada si gadis. Gadis itu tak kuasa lagi memekik. Dia menutupi wajahnya. Dan tiba-tiba dia terkulai pingsan saking ngeri dan malunya. Tubuhnya yang terkulai cepat disambut oleh Jepang itu. Kemudian menghempaskannya ke pembaringan. Saat itulah jendela kamar itu pecah di hantam dari luar. Seiring dengan masuknya papan pecahan jendela, sesosok tubuh berpakaian serba hitam tiba-tiba saja sudah tegak dalam kamar itu. Dia adalah Datuk Penghulu yang masuk dengan meloncat menerjang jendela kamar Kempetai itu tertegun. Tapi itulah tegunnya yang terakhir. Itulah kesempatan baginya untuk tertegun semasa hidupnya, sebab setelah itu dengan penuh kebencian pukulan Datuk Penghulu menghujam ke arah jantungnya. Dia berusaha untuk mengelak dengan mempergunakan tangkisan karate. Namun Datuk itu sudah sampai ke puncak berangnya. Begitu tangannya ditangkis, tangan yang menangkis itu dia tangkap.

Kemudian dengan sebuah pelintiran yang telak, tubuh Jepang itu terjerembab ke tanah. Saat berikutnya, dengan masih memegang tangan kanan Jepang itu, kaki Datuk Penghulu menghujam ke bawah. Hujaman pertama membuat tulang leher Jepang itu berderak. Kemudian hentakkan kedua adalah hentakkan tumit ke hulu hati. Jantung dan hati Jepang itu pecah oleh jurus Hentak Alu yang dipergunakan oleh Datuk tadi.

Tikam Samurai (Bagian 65)

Letnan Jepang itu segera saja buka suara begitu dia masuk. Imam itu jadi pucat. Namun rasa nasionalnya yang tebal menolak untuk membuka rahasia.

“Tak ada siapa-siapa. Di sana hanya seorang perempuan yang akan sembahyang…”

“Apakah tak ada orang lain?”

“Tak ada. Boleh lihat kesana.”

Imam itu berkata pasti. Sebab dia tahu, loteng surau itu dari bawah kelihatannya hanya terbuat dari bambu. Padahal loteng itu berlapis dua. Bahagian atasnya terbuat dari papan. Garin serta penjaga mesjid lainnya tidur disana. Jalan naik ke atas berada di bahagian belakang, tersembunyi dari pandangan orang.

Letnan itu tak mengulangi pertanyaan, tapi tangannya langsung bekerja. Sebuah tamparan mendarat di pipi si Imam. Demikian kuatnya tamparan itu, sehingga Imam itu terpelanting dan mulutnya berdarah. Istri dan anak-anaknya terpekik dan mulai menangis. Imam itu menatap dengan penuh kebencian pada Jepang-Jepang tersebut.

“Jahanam. Kalian takkan selamat di tangan negeri ini . . .” desisnya.

Letnan itu menggerakkan kaki. Ujung sepatunya yang keras mendarat di dagu Imam tersebut. Kembali Imam ini terpelanting. Kali ini giginya copot beberapa buah. Istrinya memburu dan memeluknya. Ketika anak gadisnya juga mendekat. Letnan itu menyambar tangannya. Gadis itu terpekik dan meronta. Tapi Letnan itu merenggut pakaiannya hingga robek.

“Nah, Imam, bicaralah yang sebenarnya. Kalau tidak, anakmu ini akan kubawa ke kamar ..” Ujar Letnan itu menyeringai. Imam itu melompat bangkit ingin menghantam letnan tersebut. Tapi sebuah tendangan kembali membuat dia terjajar.

“Hmm Baik. Kalau kau tak mau buka suara, saya akan menikmati anakmu ini.”

Si Letnan lalu menyeret gadis berusia enam belas tahun itu ke bilik, Akhirnya Imam itu tak bisa berbuat lain dari pada harus mengaku. Dia berharap agar kedua orang yang ada di loteng surau itu menyadari bahwa bahaya mengancam mereka. Dia berharap agar kedua mereka segera turun dan melarikan diri. Dia terpaksa mengakui bahwa kedua buronan yang di cari Jepang itu berada di loteng surau itu. Jalan ini benar-benar dia lakukan dengan sangat terpaksa. Orang tua mana yang tak menginginkan keselamatan anaknya?

Si Letnan memang tak jadi membawa gadis itu ke kamar. Dia memberi instruksi kepada delapan orang Kempetai yang ada diluar untuk mencek kebenaran ucapan si Imam. Dia juga memerintahkan untuk menangkap mereka. Kalau ternyata laporan imam ini tak benar, maka dia akan melanjutkan rencananya menyelesaikan anak gadis Imam yang ada di rumah ini.

Kedelapan Kempetai itu segera menuju ke surau tersebut. Kedatangan mereka inilah yang dapat dirasakan oleh naluri si Bungsu.

“Kita harus meninggalkan surau ini. . . . .,” kata Datuk Penghulu.

“Tapi bagaimana dengan Mei-mei.” ujar si Bungsu. Datuk Penghulu menarik nafas.

“Terpaksa kita tinggalkan nak. Tapi yakinlah Jepang takkan menganiaya mayatnya. Kita hanya sedih tak bisa mengurus mayatnya sebagaimana yang kita kehendaki. Namun mayat akan dikuburkan. Mungkin oleh Jepang, mungkin oleh penduduk yang disuruh Jepang. Percayalah. Kini mari kita menghindar dari surau ini sebelum terlambat. . . .”

Si Bungsu menatap pada mayat Mei-mei. Tanpa dapat dia tahan, air matanya mengenang di pelupuk matanya.

“Semasa hidupmu, kita jarang bersama. Ketika engkau meninggal pun, aku terpaksa meninggalkan jasadmu. Kita memang orang-orang yang bernasib malang Mei-mei. Kudoakan semoga engkau bahagia ditempatmu yang baru. Jika di dunia jasadmu menderita, semoga Tuhan menempatkan rohmu di tempat yang bahagia. Dan aku yakin, Tuhan akan menempatkanmu disana. . . Selamat tinggal sayang. . . .”

Dia menunduk. mencium kening mayat yang mulai mendingin itu. Kemudian dengan mengeraskan hatinya, dia tegak.

“Kita berangkat. . .,” katanya pada Datuk Penghulu. Datuk Penghulu sendiri merasakan matanya basah melihat kedua anak muda ini.

“Mei-mei anakku, maafkan kami tak bisa menyelenggarakan jenazahmu. Hanya Tuhan yang tahu bahwa kami benar-benar menyayangimu. Tinggallah nak. . . ,” Ujarnya perlahan.

Kemudian mereka mulai menuruni jenjang yang menuju ke belakang surau. Gerimis menyambut mereka begitu menjejakkan kaki di tanah.

“Mereka sudah dekat. .” si Bungsu berbisik.

Datuk Penghulu bergegas membawa si Bungsu ke dekat sebuah tebat di belakang surau. Dia hapal betul dengan situasi surau ini. Sebab dia termasuk salah seorang yang membuat surau itu. Derap sepatu Kempetai terdengar memasuki surau ketika Datuk tersebut mulai memasuki tebat.

“Masuklah . . . .”, katanya pada si Bungsu.

Si Bungsu tak banyak tanya. Dia segera masuk. Tebat itu cukup dalam. Mereka bisa menyelam. Di arah batang pisang itu, di bawahnya ada terowongan yang tembus ke sungai kecil di balik hutan bambu sana.

“Kita akan keluar persis di belakang rumah Imam tadi. Kita bisa menyelami terowongan itu. cukup lama, salah-salah bisa kehabisan nafas sebelum sampai ke sungai belakang bambu itu. Dan jika kita sampai kehabisan nafas, maka mayat kita akan tersangkut dalam terowongan. Ayo mulai menyelam. . . .”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.